Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Saturday, November 11, 2017

467. TAFSIR 2

PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Perkembangan tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga apabila seseorang membenarkan suatu teori ilmiah berdasarkan Al-Quran, maka dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayai teori ilmiah tersebut.
      Para ulama berbeda pendapat tentang “Teori Evolusi Darwin” (Tahun 1804-1872 Masehi), sebagian ulama membenarkan teori tersebut dan sebagian yang lain menyalahkan teori itu, yang mendukung dan yang menolak teori Darwin, semuanya berdasarkan ayat Al-Quran.
      Cendekiawan Islam yang lahir 500 tahun sebelum Charles Darwin, yaitu Abdurrahman Ibn Khaldun (Tahun 1332-1406 Masehi) dalam kitabnya menulis, “Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat menilik dan berpikir."
      Yang dimaksudkan dengan kera oleh Abdurrahman bin Khaldun adalah sejenis makhluk, yang oleh para penganut evolusionisme, disebut “Anthropoides”, dan ketika  Ibnu Khaldun dan cendekiawan lainnya menemukan teori itu bukan merujuk kepada Al-Quran, tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka sendiri.
      Sebagian ulama yang membenarkan Teori Evolusi Darwin menggunakan dalil Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 yang menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.
      Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

      “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.
      Fase-fase penciptaan manusia dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menurut ulama yang mendukung “Teori Evolusi Darwin” adalah sesuai dengan ayat tersebut, bukan dipahami seperti dan yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17.

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

      “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka dia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17 menyatakan bahwa “buih akan lenyap menjadi sesuatu yang tidak bernilai, sedangkan yang berguna bagi manusia tetap tinggal di permukaan bumi” dijadikan alasan oleh sebagian ulama yang membenarkan teori “Struggle for life” yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.
      Para ulama berpendapat sebaiknya umat Islam tidak cepat membenarkan dan menyalahkan suatu teori yang baru ditemukan dan yang belum mapan, sebelum “Teori ilmiah” itu menjadi  “Bukti kenyataan ilmiah” dengan memakai ayat Al-Quran.
     Apabila “Teori ilmiah” yang dibenarkan itu ternyata salah, maka orang yang tidak senang dengan umat Islam mendapatkan “senjata baru” dan kesempatan yang sangat baik untuk menyalahkan Al-Quran sambil mencemooh umat Islam.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 108.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

      “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.
      Ayat Al-Quran ini melarang kita mencemoohkan orang non-Muslim, karena cercaan kita akan menyebabkan mereka mencerca kepada Allah, begitu juga halnya dalam masalah Al-Quran, “Jangan terlalu cepat membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran yang memang pada dasarnya tidak membicarakan masalah tersebut secara mendetail”.
      Al-Quran surah Al-Anbiya, surah ke-21 ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”
     Ayat ini menerangkan bahwa langit dan bumi, tadinya merupakan suatu gumpalan, dan pada suatu saat yang tidak diterangkan oleh Al-Quran, gumpalan itu dipecahkan atau dipisah oleh Allah, hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan umat Islam wajib meyakininya.
     Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran dan memahaminya lebih dari yang tersimpul didalamnya.
      Setiap orang berhak membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah tertentu, tetapi apabila dia menyatakan bahwa pendapatnya sesuai dengan akidah Al-Quran, maka dia harus dapat menunjukkan dalil dalam Al-Quran dengan jelas dan meyakinkan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com onl

467. TAFSIR 2

PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Perkembangan tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga apabila seseorang membenarkan suatu teori ilmiah berdasarkan Al-Quran, maka dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayai teori ilmiah tersebut.
      Para ulama berbeda pendapat tentang “Teori Evolusi Darwin” (Tahun 1804-1872 Masehi), sebagian ulama membenarkan teori tersebut dan sebagian yang lain menyalahkan teori itu, yang mendukung dan yang menolak teori Darwin, semuanya berdasarkan ayat Al-Quran.
      Cendekiawan Islam yang lahir 500 tahun sebelum Charles Darwin, yaitu Abdurrahman Ibn Khaldun (Tahun 1332-1406 Masehi) dalam kitabnya menulis, “Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat menilik dan berpikir."
      Yang dimaksudkan dengan kera oleh Abdurrahman bin Khaldun adalah sejenis makhluk, yang oleh para penganut evolusionisme, disebut “Anthropoides”, dan ketika  Ibnu Khaldun dan cendekiawan lainnya menemukan teori itu bukan merujuk kepada Al-Quran, tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka sendiri.
      Sebagian ulama yang membenarkan Teori Evolusi Darwin menggunakan dalil Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 yang menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.
      Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

      “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.
      Fase-fase penciptaan manusia dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menurut ulama yang mendukung “Teori Evolusi Darwin” adalah sesuai dengan ayat tersebut, bukan dipahami seperti dan yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17.

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

      “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka dia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17 menyatakan bahwa “buih akan lenyap menjadi sesuatu yang tidak bernilai, sedangkan yang berguna bagi manusia tetap tinggal di permukaan bumi” dijadikan alasan oleh sebagian ulama yang membenarkan teori “Struggle for life” yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.
      Para ulama berpendapat sebaiknya umat Islam tidak cepat membenarkan dan menyalahkan suatu teori yang baru ditemukan dan yang belum mapan, sebelum “Teori ilmiah” itu menjadi  “Bukti kenyataan ilmiah” dengan memakai ayat Al-Quran.
     Apabila “Teori ilmiah” yang dibenarkan itu ternyata salah, maka orang yang tidak senang dengan umat Islam mendapatkan “senjata baru” dan kesempatan yang sangat baik untuk menyalahkan Al-Quran sambil mencemooh umat Islam.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 108.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

      “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.
      Ayat Al-Quran ini melarang kita mencemoohkan orang non-Muslim, karena cercaan kita akan menyebabkan mereka mencerca kepada Allah, begitu juga halnya dalam masalah Al-Quran, “Jangan terlalu cepat membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran yang memang pada dasarnya tidak membicarakan masalah tersebut secara mendetail”.
      Al-Quran surah Al-Anbiya, surah ke-21 ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”
     Ayat ini menerangkan bahwa langit dan bumi, tadinya merupakan suatu gumpalan, dan pada suatu saat yang tidak diterangkan oleh Al-Quran, gumpalan itu dipecahkan atau dipisah oleh Allah, hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan umat Islam wajib meyakininya.
     Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran dan memahaminya lebih dari yang tersimpul didalamnya.
      Setiap orang berhak membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah tertentu, tetapi apabila dia menyatakan bahwa pendapatnya sesuai dengan akidah Al-Quran, maka dia harus dapat menunjukkan dalil dalam Al-Quran dengan jelas dan meyakinkan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com onl

467. TAFSIR 2

PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Perkembangan tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga apabila seseorang membenarkan suatu teori ilmiah berdasarkan Al-Quran, maka dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayai teori ilmiah tersebut.
      Para ulama berbeda pendapat tentang “Teori Evolusi Darwin” (Tahun 1804-1872 Masehi), sebagian ulama membenarkan teori tersebut dan sebagian yang lain menyalahkan teori itu, yang mendukung dan yang menolak teori Darwin, semuanya berdasarkan ayat Al-Quran.
      Cendekiawan Islam yang lahir 500 tahun sebelum Charles Darwin, yaitu Abdurrahman Ibn Khaldun (Tahun 1332-1406 Masehi) dalam kitabnya menulis, “Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat menilik dan berpikir."
      Yang dimaksudkan dengan kera oleh Abdurrahman bin Khaldun adalah sejenis makhluk, yang oleh para penganut evolusionisme, disebut “Anthropoides”, dan ketika  Ibnu Khaldun dan cendekiawan lainnya menemukan teori itu bukan merujuk kepada Al-Quran, tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka sendiri.
      Sebagian ulama yang membenarkan Teori Evolusi Darwin menggunakan dalil Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 yang menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.
      Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

      “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.
      Fase-fase penciptaan manusia dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menurut ulama yang mendukung “Teori Evolusi Darwin” adalah sesuai dengan ayat tersebut, bukan dipahami seperti dan yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17.

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

      “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka dia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17 menyatakan bahwa “buih akan lenyap menjadi sesuatu yang tidak bernilai, sedangkan yang berguna bagi manusia tetap tinggal di permukaan bumi” dijadikan alasan oleh sebagian ulama yang membenarkan teori “Struggle for life” yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.
      Para ulama berpendapat sebaiknya umat Islam tidak cepat membenarkan dan menyalahkan suatu teori yang baru ditemukan dan yang belum mapan, sebelum “Teori ilmiah” itu menjadi  “Bukti kenyataan ilmiah” dengan memakai ayat Al-Quran.
     Apabila “Teori ilmiah” yang dibenarkan itu ternyata salah, maka orang yang tidak senang dengan umat Islam mendapatkan “senjata baru” dan kesempatan yang sangat baik untuk menyalahkan Al-Quran sambil mencemooh umat Islam.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 108.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

      “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.
      Ayat Al-Quran ini melarang kita mencemoohkan orang non-Muslim, karena cercaan kita akan menyebabkan mereka mencerca kepada Allah, begitu juga halnya dalam masalah Al-Quran, “Jangan terlalu cepat membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran yang memang pada dasarnya tidak membicarakan masalah tersebut secara mendetail”.
      Al-Quran surah Al-Anbiya, surah ke-21 ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”
     Ayat ini menerangkan bahwa langit dan bumi, tadinya merupakan suatu gumpalan, dan pada suatu saat yang tidak diterangkan oleh Al-Quran, gumpalan itu dipecahkan atau dipisah oleh Allah, hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan umat Islam wajib meyakininya.
     Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran dan memahaminya lebih dari yang tersimpul didalamnya.
      Setiap orang berhak membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah tertentu, tetapi apabila dia menyatakan bahwa pendapatnya sesuai dengan akidah Al-Quran, maka dia harus dapat menunjukkan dalil dalam Al-Quran dengan jelas dan meyakinkan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com onl

467. TAFSIR 2

PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Perkembangan tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga apabila seseorang membenarkan suatu teori ilmiah berdasarkan Al-Quran, maka dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayai teori ilmiah tersebut.
      Para ulama berbeda pendapat tentang “Teori Evolusi Darwin” (Tahun 1804-1872 Masehi), sebagian ulama membenarkan teori tersebut dan sebagian yang lain menyalahkan teori itu, yang mendukung dan yang menolak teori Darwin, semuanya berdasarkan ayat Al-Quran.
      Cendekiawan Islam yang lahir 500 tahun sebelum Charles Darwin, yaitu Abdurrahman Ibn Khaldun (Tahun 1332-1406 Masehi) dalam kitabnya menulis, “Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat menilik dan berpikir."
      Yang dimaksudkan dengan kera oleh Abdurrahman bin Khaldun adalah sejenis makhluk, yang oleh para penganut evolusionisme, disebut “Anthropoides”, dan ketika  Ibnu Khaldun dan cendekiawan lainnya menemukan teori itu bukan merujuk kepada Al-Quran, tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka sendiri.
      Sebagian ulama yang membenarkan Teori Evolusi Darwin menggunakan dalil Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 yang menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.
      Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

      “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.
      Fase-fase penciptaan manusia dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menurut ulama yang mendukung “Teori Evolusi Darwin” adalah sesuai dengan ayat tersebut, bukan dipahami seperti dan yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17.

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

      “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka dia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17 menyatakan bahwa “buih akan lenyap menjadi sesuatu yang tidak bernilai, sedangkan yang berguna bagi manusia tetap tinggal di permukaan bumi” dijadikan alasan oleh sebagian ulama yang membenarkan teori “Struggle for life” yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.
      Para ulama berpendapat sebaiknya umat Islam tidak cepat membenarkan dan menyalahkan suatu teori yang baru ditemukan dan yang belum mapan, sebelum “Teori ilmiah” itu menjadi  “Bukti kenyataan ilmiah” dengan memakai ayat Al-Quran.
     Apabila “Teori ilmiah” yang dibenarkan itu ternyata salah, maka orang yang tidak senang dengan umat Islam mendapatkan “senjata baru” dan kesempatan yang sangat baik untuk menyalahkan Al-Quran sambil mencemooh umat Islam.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 108.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

      “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.
      Ayat Al-Quran ini melarang kita mencemoohkan orang non-Muslim, karena cercaan kita akan menyebabkan mereka mencerca kepada Allah, begitu juga halnya dalam masalah Al-Quran, “Jangan terlalu cepat membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran yang memang pada dasarnya tidak membicarakan masalah tersebut secara mendetail”.
      Al-Quran surah Al-Anbiya, surah ke-21 ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”
     Ayat ini menerangkan bahwa langit dan bumi, tadinya merupakan suatu gumpalan, dan pada suatu saat yang tidak diterangkan oleh Al-Quran, gumpalan itu dipecahkan atau dipisah oleh Allah, hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan umat Islam wajib meyakininya.
     Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran dan memahaminya lebih dari yang tersimpul didalamnya.
      Setiap orang berhak membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah tertentu, tetapi apabila dia menyatakan bahwa pendapatnya sesuai dengan akidah Al-Quran, maka dia harus dapat menunjukkan dalil dalam Al-Quran dengan jelas dan meyakinkan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com onl

467. TAFSIR 2

PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Perkembangan tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga apabila seseorang membenarkan suatu teori ilmiah berdasarkan Al-Quran, maka dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayai teori ilmiah tersebut.
      Para ulama berbeda pendapat tentang “Teori Evolusi Darwin” (Tahun 1804-1872 Masehi), sebagian ulama membenarkan teori tersebut dan sebagian yang lain menyalahkan teori itu, yang mendukung dan yang menolak teori Darwin, semuanya berdasarkan ayat Al-Quran.
      Cendekiawan Islam yang lahir 500 tahun sebelum Charles Darwin, yaitu Abdurrahman Ibn Khaldun (Tahun 1332-1406 Masehi) dalam kitabnya menulis, “Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat menilik dan berpikir."
      Yang dimaksudkan dengan kera oleh Abdurrahman bin Khaldun adalah sejenis makhluk, yang oleh para penganut evolusionisme, disebut “Anthropoides”, dan ketika  Ibnu Khaldun dan cendekiawan lainnya menemukan teori itu bukan merujuk kepada Al-Quran, tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka sendiri.
      Sebagian ulama yang membenarkan Teori Evolusi Darwin menggunakan dalil Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 yang menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.
      Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

      “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.
      Fase-fase penciptaan manusia dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menurut ulama yang mendukung “Teori Evolusi Darwin” adalah sesuai dengan ayat tersebut, bukan dipahami seperti dan yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17.

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

      “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka dia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17 menyatakan bahwa “buih akan lenyap menjadi sesuatu yang tidak bernilai, sedangkan yang berguna bagi manusia tetap tinggal di permukaan bumi” dijadikan alasan oleh sebagian ulama yang membenarkan teori “Struggle for life” yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.
      Para ulama berpendapat sebaiknya umat Islam tidak cepat membenarkan dan menyalahkan suatu teori yang baru ditemukan dan yang belum mapan, sebelum “Teori ilmiah” itu menjadi  “Bukti kenyataan ilmiah” dengan memakai ayat Al-Quran.
     Apabila “Teori ilmiah” yang dibenarkan itu ternyata salah, maka orang yang tidak senang dengan umat Islam mendapatkan “senjata baru” dan kesempatan yang sangat baik untuk menyalahkan Al-Quran sambil mencemooh umat Islam.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 108.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

      “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.
      Ayat Al-Quran ini melarang kita mencemoohkan orang non-Muslim, karena cercaan kita akan menyebabkan mereka mencerca kepada Allah, begitu juga halnya dalam masalah Al-Quran, “Jangan terlalu cepat membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran yang memang pada dasarnya tidak membicarakan masalah tersebut secara mendetail”.
      Al-Quran surah Al-Anbiya, surah ke-21 ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”
     Ayat ini menerangkan bahwa langit dan bumi, tadinya merupakan suatu gumpalan, dan pada suatu saat yang tidak diterangkan oleh Al-Quran, gumpalan itu dipecahkan atau dipisah oleh Allah, hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan umat Islam wajib meyakininya.
     Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran dan memahaminya lebih dari yang tersimpul didalamnya.
      Setiap orang berhak membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah tertentu, tetapi apabila dia menyatakan bahwa pendapatnya sesuai dengan akidah Al-Quran, maka dia harus dapat menunjukkan dalil dalam Al-Quran dengan jelas dan meyakinkan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com onl

467. TAFSIR 2

PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Perkembangan tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga apabila seseorang membenarkan suatu teori ilmiah berdasarkan Al-Quran, maka dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayai teori ilmiah tersebut.
      Para ulama berbeda pendapat tentang “Teori Evolusi Darwin” (Tahun 1804-1872 Masehi), sebagian ulama membenarkan teori tersebut dan sebagian yang lain menyalahkan teori itu, yang mendukung dan yang menolak teori Darwin, semuanya berdasarkan ayat Al-Quran.
      Cendekiawan Islam yang lahir 500 tahun sebelum Charles Darwin, yaitu Abdurrahman Ibn Khaldun (Tahun 1332-1406 Masehi) dalam kitabnya menulis, “Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat menilik dan berpikir."
      Yang dimaksudkan dengan kera oleh Abdurrahman bin Khaldun adalah sejenis makhluk, yang oleh para penganut evolusionisme, disebut “Anthropoides”, dan ketika  Ibnu Khaldun dan cendekiawan lainnya menemukan teori itu bukan merujuk kepada Al-Quran, tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka sendiri.
      Sebagian ulama yang membenarkan Teori Evolusi Darwin menggunakan dalil Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 yang menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.
      Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

      “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.
      Fase-fase penciptaan manusia dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menurut ulama yang mendukung “Teori Evolusi Darwin” adalah sesuai dengan ayat tersebut, bukan dipahami seperti dan yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17.

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

      “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka dia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17 menyatakan bahwa “buih akan lenyap menjadi sesuatu yang tidak bernilai, sedangkan yang berguna bagi manusia tetap tinggal di permukaan bumi” dijadikan alasan oleh sebagian ulama yang membenarkan teori “Struggle for life” yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.
      Para ulama berpendapat sebaiknya umat Islam tidak cepat membenarkan dan menyalahkan suatu teori yang baru ditemukan dan yang belum mapan, sebelum “Teori ilmiah” itu menjadi  “Bukti kenyataan ilmiah” dengan memakai ayat Al-Quran.
     Apabila “Teori ilmiah” yang dibenarkan itu ternyata salah, maka orang yang tidak senang dengan umat Islam mendapatkan “senjata baru” dan kesempatan yang sangat baik untuk menyalahkan Al-Quran sambil mencemooh umat Islam.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 108.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

      “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.
      Ayat Al-Quran ini melarang kita mencemoohkan orang non-Muslim, karena cercaan kita akan menyebabkan mereka mencerca kepada Allah, begitu juga halnya dalam masalah Al-Quran, “Jangan terlalu cepat membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran yang memang pada dasarnya tidak membicarakan masalah tersebut secara mendetail”.
      Al-Quran surah Al-Anbiya, surah ke-21 ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”
     Ayat ini menerangkan bahwa langit dan bumi, tadinya merupakan suatu gumpalan, dan pada suatu saat yang tidak diterangkan oleh Al-Quran, gumpalan itu dipecahkan atau dipisah oleh Allah, hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan umat Islam wajib meyakininya.
     Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran dan memahaminya lebih dari yang tersimpul didalamnya.
      Setiap orang berhak membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah tertentu, tetapi apabila dia menyatakan bahwa pendapatnya sesuai dengan akidah Al-Quran, maka dia harus dapat menunjukkan dalil dalam Al-Quran dengan jelas dan meyakinkan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com onl

467. TAFSIR 2

PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Perkembangan tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Setiap umat Islam wajib meyakini segala sesuatu yang terdapat dalam Al-Quran, sehingga apabila seseorang membenarkan suatu teori ilmiah berdasarkan Al-Quran, maka dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayai teori ilmiah tersebut.
      Para ulama berbeda pendapat tentang “Teori Evolusi Darwin” (Tahun 1804-1872 Masehi), sebagian ulama membenarkan teori tersebut dan sebagian yang lain menyalahkan teori itu, yang mendukung dan yang menolak teori Darwin, semuanya berdasarkan ayat Al-Quran.
      Cendekiawan Islam yang lahir 500 tahun sebelum Charles Darwin, yaitu Abdurrahman Ibn Khaldun (Tahun 1332-1406 Masehi) dalam kitabnya menulis, “Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat menilik dan berpikir."
      Yang dimaksudkan dengan kera oleh Abdurrahman bin Khaldun adalah sejenis makhluk, yang oleh para penganut evolusionisme, disebut “Anthropoides”, dan ketika  Ibnu Khaldun dan cendekiawan lainnya menemukan teori itu bukan merujuk kepada Al-Quran, tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka sendiri.
      Sebagian ulama yang membenarkan Teori Evolusi Darwin menggunakan dalil Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 yang menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.
      Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menyatakan Allah menciptakan manusia berdasarkan fase-fase.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

      “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.
      Fase-fase penciptaan manusia dalam Al-Quran surah Nuh, surah ke-71 ayat 13-14 menurut ulama yang mendukung “Teori Evolusi Darwin” adalah sesuai dengan ayat tersebut, bukan dipahami seperti dan yang diterangkan dalam Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-14.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17.

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

      “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka dia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
      Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 17 menyatakan bahwa “buih akan lenyap menjadi sesuatu yang tidak bernilai, sedangkan yang berguna bagi manusia tetap tinggal di permukaan bumi” dijadikan alasan oleh sebagian ulama yang membenarkan teori “Struggle for life” yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.
      Para ulama berpendapat sebaiknya umat Islam tidak cepat membenarkan dan menyalahkan suatu teori yang baru ditemukan dan yang belum mapan, sebelum “Teori ilmiah” itu menjadi  “Bukti kenyataan ilmiah” dengan memakai ayat Al-Quran.
     Apabila “Teori ilmiah” yang dibenarkan itu ternyata salah, maka orang yang tidak senang dengan umat Islam mendapatkan “senjata baru” dan kesempatan yang sangat baik untuk menyalahkan Al-Quran sambil mencemooh umat Islam.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 108.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

      “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.
      Ayat Al-Quran ini melarang kita mencemoohkan orang non-Muslim, karena cercaan kita akan menyebabkan mereka mencerca kepada Allah, begitu juga halnya dalam masalah Al-Quran, “Jangan terlalu cepat membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah dengan ayat-ayat Al-Quran yang memang pada dasarnya tidak membicarakan masalah tersebut secara mendetail”.
      Al-Quran surah Al-Anbiya, surah ke-21 ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”
     Ayat ini menerangkan bahwa langit dan bumi, tadinya merupakan suatu gumpalan, dan pada suatu saat yang tidak diterangkan oleh Al-Quran, gumpalan itu dipecahkan atau dipisah oleh Allah, hanya ini yang dipahami dari ayat tersebut dan umat Islam wajib meyakininya.
     Setiap orang bebas untuk menyatakan pendapatnya yang dianggapnya benar, tetapi dia tidak berhak untuk menguatkan pendapatnya dengan ayat Al-Quran dan memahaminya lebih dari yang tersimpul didalamnya.
      Setiap orang berhak membenarkan atau menyalahkan suatu teori ilmiah tertentu, tetapi apabila dia menyatakan bahwa pendapatnya sesuai dengan akidah Al-Quran, maka dia harus dapat menunjukkan dalil dalam Al-Quran dengan jelas dan meyakinkan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com onl

Friday, November 10, 2017

466. TAFSIR 1

PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Perkembangan tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

      Perkembangan hidup manusia berpengaruh yang sangat mendalam terhadap perkembangan akal dan pikirannya, yang akan berpengaruh dalam pemahaman  manusia terhadap ayat Al-Quran.
      Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat Al-Quran, karena seseorang pernah bertanya kepada Abu Bakar, “Apakah arti kalimat “abba” dalam ayat Al-Quran, “wa fakihah wa abba”.
      Abu Bakar menjawab,”Di bumi apakah aku berpijak, dengan langit apakah aku berteduh, apabila aku mengatakan sesuatu dalam Al-Quran menurut pendapatku”.
      Bahkan, sebagian para ulama, apabila ditanya mengenai pengertian suatu ayat, mereka tidak memberikan jawaban apa pun, sehingga para sahabat berkata, “Kami tidak berbicara mengenai Al-Quran sedikit pun”.
     Pada abad berikutnya, sebagian besar ulama berpendapat bahwa setiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran, asalkan mempunyai syarat tertentu, yaitu pengetahuan ilmu bahasa yang cukup, misalnya, “nahwu”, “sharaf”, “balaghah”,  “isytiqaq”, “ilmu Ushuluddin”,”ilmu Qira'ah”, “asbabun nuzul”, “nasikh dan mansukh”, dan sebagainya.
     Sejarah penafsiran Al-Quran dimulai dengan menafsirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan hadis Nabi, dan pendapat para sahabat Nabi.
     Penafsiran kemudian berkembang, sehingga dengan tidak disadari, bercampur “hadis Sahih” dengan “hadis Isra'iliyat” (kisah-kisah yang bersumber dari Ahli Kitab yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama dan pikiran yang sehat).
     Hal ini mengakibatkan sebagian ulama menolak penafsiran yang menggambarkan pendapat dari penulisnya, atau menyatukan pendapat dari penulis dengan hadis Nabi atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.
    Demikianlah, dan dari waktu ke waktu kemudian muncul beraneka warna corak tafsir, yaitu ada tafsir Al-Quran yang berdasarkan nalar penulisnya saja, ada tafsir Al-Quran berdasarkan riwayat, dan ada tafsir Al-Quran yang menyatukan keduanya.
    Masalah yang dibahas pun bermacam-macam, yaitu ada tafsir Al-Quran yang hanya membahas arti dari kalimat yang sukar saja (Tafsir Gharib), seperti Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy, ada tafsir Al-Quran yang menulis kisah-kisah, seperti Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin.
      Ada tafsir Al-Quran yang memperhatikan masalah “balaghah” (sastra bahasa) seperti Al-Zamakhsyari, ada tafsir Al-Quran yang membahas ilmu pengetahuan, logika, dan filsafat seperti Al-Fakhr Al-Razi, ada tafsir Al-Quran yang membahas masalah fiqih seperti Al-Qurthubiy, dan ada tafsir Al-Quran yang hanya berupa “terjemahan” kalimatnya saja seperti Tafsir Al-Jalalain.
      Para ulama berpendapat bahwa, “Sepanjang sejarah manusia, tidak dikenal satu kitab pun, selain Al-Quran, yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi dengan pendapat para ahli terhadapnya, kemudian dicetak dalam buku yang berjilid-jilid.”
    Penafsiran ilmiah atau menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan ilmu pengetahuan telah lama berlangsung, misalnya Tafsir Fakhr Al-Raziy adalah satu contoh dari penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran, sehingga sebagian ulama tidak menamakan kitabnya sebagai Kitab Tafsir, karena masalah filsafat dan logika dibicarakan dengan sangat luas.
     Kelanjutan dari penafsiran ilmiah ini adalah penafsiran yang sesuai dengan teori ilmiah dan penemuan baru, misalnya dahulu ada orang yang menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa planet hanya 7 buah yang disesuaikan dengan pendapat ahli Falak ketika itu, dengan ayat Al-Quran yang menunjukkan bahwa ada 7 langit, dan ternyata teori 7 planet itu salah.
     Karena jumlah planet yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan dalam tata surya saja berjumlah 10 planet, disamping jutaan bintang yang tampaknya memenuhi langit, sehingga 10 planet itu hanya laksana setetes air dalam lautan dibandingkan dengan banyaknya bintang di alam semesta.
     Menurut para ahli, setiap galaksi rata-rata memiliki 100 biliun bintang, sedangkan seluruh ruang alam semesta terdapat berbiliun-biliun galaksi, sehingga ulama yang membenarkan bahwa planet hanya 7 buah berdasarkan ayat Al-Quran ternyata  keliru.
      Kekeliruan tersebut adalah dosa besar, apabila dia memaksakan orang lain untuk mempercayai pendapatnya atas nama Al-Quran, atau dia meyakini hal tersebut  adalah akidah Al-Quran.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com onl