Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, November 12, 2017

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470.SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

470. SEBAB 2

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan ini (terutama dalam dunia Kristen) memberikan pengaruh kepada sebagian cendekiawan Muslim yang khawatir apabila penyakit pertentangan akan menular kepada umat Islam, sehingga mereka senantiasa berusaha membuktikan hubungan yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dengan agama (terutama Al-Quran).
     Sebagian ulama sering tergelincir karena terdorong oleh emosi dan semangat yang meluap-luap untuk membuktikan tidak adanya pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan Al-Quran.
     Sejarah cukup menjadi saksi bahwa para ahli ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, matematika, dan lain-lain cabang ilmu pengetahuan lainnya, telah mencapai hasil yang mengagumkan pada masa kejayaan Islam.
      Para ahli dalam bidangnya tersebut adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban agama Islam dengan baik, dan tidak ada  pertentangan antara kepercayaan Islam dengan hasil penemuan mereka, yang dapat dikatakan bahwa sebagian dari hasil cendekiawan Muslim masih dipelajari di negara modern hingga sekarang ini.
     Semestinya antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, asalkan keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat, karena manusia mempunyai keinginan untuk mengabdi kepada Allah, dan keinginan untuk mengetahui serta menarik kesimpulan sesuai dengan akalnya, maka tidak mungkin terjadi pertentangan.
     Seorang ilmuwan menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan Manusia dalam seluruh taraf peradaban, karena  agama adalah suatu reaksi kepada gerak batin menuju yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim, sedangkan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”.
      “Dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia, dan agama menentukan arti hidup manusia, sehingga keduanya dapat menemukan lapangannya,  tanpa ada pertentangan”, lanjutnya.
     Dalam proses memadukan ilmu pengetahuan dan agama, sebagian cendekiawan Muslim membawa hasil penyelidikan ilmu pengetahuan kepada Al-Quran, kemudian mencarikan ayat Al-Quran yang mungkin menguatkannya, sehingga dapat menimbulkan penafsiran yang jauh dengan arti dan tujuan ayat tersebut.
      Al-Quran surah An-Naml, surah ke- 27 ayat 82.

۞ وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

      “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
      Sebagian ulama membahas ayat ini dengan memberikan komentar “yang aneh” yaitu dikatakan bahwa ayat ini membicarakan tentang Pesawat Sputnik dan penjelajahan angkasa luar.
     Dia berkata,”Sesungguhnya Rusia telah meluncurkan pesawat angkasa yang mengangkut binatang, lalu mengembalikannya ke bumi, sehingga binatang itu berbicara tentang tanda kebesaran Allah yang sangat nyata dan mengungkapkan sebagian dari misteri yang meliputi alam semesta yang penuh keajaiban ini."
     Ulama yang lain memberikan komentar,”Mungkin dia mengira bahwa anjing bernama “Laika”' yang dikirim oleh Rusia ke angkasa luar telah berbicara dengan bahasa anjing dan mencerca manusia karena tidak meyakini tanda kebesaran Allah  yang nyata”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
    
    “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33 sering kali dijadikan dasar oleh cendekiawan untuk membuktikan bahwa Al-Quran membicarakan masalah angkasa luar, dengan menyatakan bahwa sejak 14 abad yang lalu, Al-Quran telah menegaskan bahwa manusia sanggup menuju ke ruang angkasa, asalkan mereka mempunyai kekuatan, yaitu kekuatan ilmu pengetahuan.
     Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 33 membicarakan keadaan di akhirat kelak, yaitu Allah menyampaikan tantangan  kepada manusia dan jin, “Wahai semua manusia dan jin apabila kamu sanggup keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari kekuasaan dan perhitungan Allah, maka keluarlah dan larilah, tetapi kamu tidak dapat keluar, kecuali dengan kekuatan, padahal kamu tidak mempunyai kekuatan.”
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 35.

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ
    
    “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”.
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa usaha manusia dan jin untuk keluar dari lingkungan langit dan bumi akan gagal.
    Terdapat dua alternatif dalam menafsirkan Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke- 55 ayat 33.
      Pertama, membicarakan masalah dunia dan kesanggupan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi menuju angkasa luar.
      Kedua, membicarakan keadaan di akhirat dan kegagalan manusia keluar dari lingkungan langit dan bumi untuk melarikan diri dari perhitungan Allah.
    Apabila alternatif kedua yang dipilih, yaitu bahwa ayat Al-Quran tersebut membicarakan keadaan di akhirat, maka tidak akan ditemukan pertentangan.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 82.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online