Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, January 19, 2018

648. MAULID

MAULID NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang maulid Nabi Muhammad?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 5 menyatakan untuk mengingatkan  tentang hari-hari Allah.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”
     Ubai bin Kaab berkata bahwa Nabi menafsirkan kalimat “Ayyâmillah” sebagai “nikmat-nikmat dan karunia Allah”. Sehingga ayat ini bermakna,”Dan ingatkan mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia dari Allah.”
     Kelahiran Nabi Muhammad adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri oleh umat Islam, serta Nabi sendiri memperingati hari kelahiran beliau dengan melaksanakan puasa pada hari Senin.
     Rasulullah ditanya oleh para sahabat tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan dan hari Senin mulai diturunkan Al-Quran kepadaku.” (HR. Muslim).
     Ibnu Taimiah berpendapat bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan karena perasaan gembira, maka mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah.
     Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani berpendapat bahwa hukum asal melaksanakan maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, karena tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan “Salafushshalih” dari tiga abad pertama Hijriah.
      Tetapi memperingati maulid Nabi mengandung banyak kebaikan dan menolak kejelekan, sehingga maulid Nabi adalah bid’ah hasanah, karena memperingati maulid Nabi untuk melawan hal-hal negatif yang dapat merusak generasi muda.
      Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, dan peristiwa penting lainnya, karena para sahabat mengalami sendiri secara langsung.
     Para sahabat hidup bersama dengan Nabi, sehingga semua peristiwa tidak pernah hilang dari fikiran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan pada zaman Nabi seperti kami menghafalkan satu surah Al-Quran kepada mereka.”
     Para sahabat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang segala hal yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah, sehingga mereka tidak perlu diingatkan tentang berbagai peristiwa tersebut.
     Kemudian tiba suatu zaman ketika umat Islam mulai melupakan berbagai peristiwa pada zaman Nabi, semua peristiwa itu tidak lagi ada di benak mereka, dan tidak ada dalam akal dan hati mereka.
     Sehingga umat Islam perlu menghidupkan kembali makna-makna yang telah mati, mengingatkan kembali berbagai peristiwa yang terlupakan, dan benar terjadi bentuk bid’ah, tetapi kita merayakan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah.
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
     Peringatan maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan umat Islam atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dan untuk membangkitkan kesadaran umat dalam menjalankan agama Islam.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

648. MAULID

MAULID NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang maulid Nabi Muhammad?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 5 menyatakan untuk mengingatkan  tentang hari-hari Allah.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”
     Ubai bin Kaab berkata bahwa Nabi menafsirkan kalimat “Ayyâmillah” sebagai “nikmat-nikmat dan karunia Allah”. Sehingga ayat ini bermakna,”Dan ingatkan mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia dari Allah.”
     Kelahiran Nabi Muhammad adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri oleh umat Islam, serta Nabi sendiri memperingati hari kelahiran beliau dengan melaksanakan puasa pada hari Senin.
     Rasulullah ditanya oleh para sahabat tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan dan hari Senin mulai diturunkan Al-Quran kepadaku.” (HR. Muslim).
     Ibnu Taimiah berpendapat bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan karena perasaan gembira, maka mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah.
     Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani berpendapat bahwa hukum asal melaksanakan maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, karena tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan “Salafushshalih” dari tiga abad pertama Hijriah.
      Tetapi memperingati maulid Nabi mengandung banyak kebaikan dan menolak kejelekan, sehingga maulid Nabi adalah bid’ah hasanah, karena memperingati maulid Nabi untuk melawan hal-hal negatif yang dapat merusak generasi muda.
      Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, dan peristiwa penting lainnya, karena para sahabat mengalami sendiri secara langsung.
     Para sahabat hidup bersama dengan Nabi, sehingga semua peristiwa tidak pernah hilang dari fikiran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan pada zaman Nabi seperti kami menghafalkan satu surah Al-Quran kepada mereka.”
     Para sahabat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang segala hal yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah, sehingga mereka tidak perlu diingatkan tentang berbagai peristiwa tersebut.
     Kemudian tiba suatu zaman ketika umat Islam mulai melupakan berbagai peristiwa pada zaman Nabi, semua peristiwa itu tidak lagi ada di benak mereka, dan tidak ada dalam akal dan hati mereka.
     Sehingga umat Islam perlu menghidupkan kembali makna-makna yang telah mati, mengingatkan kembali berbagai peristiwa yang terlupakan, dan benar terjadi bentuk bid’ah, tetapi kita merayakan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah.
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
     Peringatan maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan umat Islam atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dan untuk membangkitkan kesadaran umat dalam menjalankan agama Islam.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

648. MAULID

MAULID NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang maulid Nabi Muhammad?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 5 menyatakan untuk mengingatkan  tentang hari-hari Allah.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”
     Ubai bin Kaab berkata bahwa Nabi menafsirkan kalimat “Ayyâmillah” sebagai “nikmat-nikmat dan karunia Allah”. Sehingga ayat ini bermakna,”Dan ingatkan mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia dari Allah.”
     Kelahiran Nabi Muhammad adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri oleh umat Islam, serta Nabi sendiri memperingati hari kelahiran beliau dengan melaksanakan puasa pada hari Senin.
     Rasulullah ditanya oleh para sahabat tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan dan hari Senin mulai diturunkan Al-Quran kepadaku.” (HR. Muslim).
     Ibnu Taimiah berpendapat bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan karena perasaan gembira, maka mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah.
     Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani berpendapat bahwa hukum asal melaksanakan maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, karena tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan “Salafushshalih” dari tiga abad pertama Hijriah.
      Tetapi memperingati maulid Nabi mengandung banyak kebaikan dan menolak kejelekan, sehingga maulid Nabi adalah bid’ah hasanah, karena memperingati maulid Nabi untuk melawan hal-hal negatif yang dapat merusak generasi muda.
      Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, dan peristiwa penting lainnya, karena para sahabat mengalami sendiri secara langsung.
     Para sahabat hidup bersama dengan Nabi, sehingga semua peristiwa tidak pernah hilang dari fikiran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan pada zaman Nabi seperti kami menghafalkan satu surah Al-Quran kepada mereka.”
     Para sahabat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang segala hal yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah, sehingga mereka tidak perlu diingatkan tentang berbagai peristiwa tersebut.
     Kemudian tiba suatu zaman ketika umat Islam mulai melupakan berbagai peristiwa pada zaman Nabi, semua peristiwa itu tidak lagi ada di benak mereka, dan tidak ada dalam akal dan hati mereka.
     Sehingga umat Islam perlu menghidupkan kembali makna-makna yang telah mati, mengingatkan kembali berbagai peristiwa yang terlupakan, dan benar terjadi bentuk bid’ah, tetapi kita merayakan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah.
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
     Peringatan maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan umat Islam atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dan untuk membangkitkan kesadaran umat dalam menjalankan agama Islam.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

648. MAULID

MAULID NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang maulid Nabi Muhammad?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 5 menyatakan untuk mengingatkan  tentang hari-hari Allah.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”
     Ubai bin Kaab berkata bahwa Nabi menafsirkan kalimat “Ayyâmillah” sebagai “nikmat-nikmat dan karunia Allah”. Sehingga ayat ini bermakna,”Dan ingatkan mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia dari Allah.”
     Kelahiran Nabi Muhammad adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri oleh umat Islam, serta Nabi sendiri memperingati hari kelahiran beliau dengan melaksanakan puasa pada hari Senin.
     Rasulullah ditanya oleh para sahabat tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan dan hari Senin mulai diturunkan Al-Quran kepadaku.” (HR. Muslim).
     Ibnu Taimiah berpendapat bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan karena perasaan gembira, maka mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah.
     Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani berpendapat bahwa hukum asal melaksanakan maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, karena tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan “Salafushshalih” dari tiga abad pertama Hijriah.
      Tetapi memperingati maulid Nabi mengandung banyak kebaikan dan menolak kejelekan, sehingga maulid Nabi adalah bid’ah hasanah, karena memperingati maulid Nabi untuk melawan hal-hal negatif yang dapat merusak generasi muda.
      Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, dan peristiwa penting lainnya, karena para sahabat mengalami sendiri secara langsung.
     Para sahabat hidup bersama dengan Nabi, sehingga semua peristiwa tidak pernah hilang dari fikiran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan pada zaman Nabi seperti kami menghafalkan satu surah Al-Quran kepada mereka.”
     Para sahabat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang segala hal yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah, sehingga mereka tidak perlu diingatkan tentang berbagai peristiwa tersebut.
     Kemudian tiba suatu zaman ketika umat Islam mulai melupakan berbagai peristiwa pada zaman Nabi, semua peristiwa itu tidak lagi ada di benak mereka, dan tidak ada dalam akal dan hati mereka.
     Sehingga umat Islam perlu menghidupkan kembali makna-makna yang telah mati, mengingatkan kembali berbagai peristiwa yang terlupakan, dan benar terjadi bentuk bid’ah, tetapi kita merayakan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah.
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
     Peringatan maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan umat Islam atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dan untuk membangkitkan kesadaran umat dalam menjalankan agama Islam.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

648. MAULID

MAULID NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang maulid Nabi Muhammad?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 5 menyatakan untuk mengingatkan  tentang hari-hari Allah.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”
     Ubai bin Kaab berkata bahwa Nabi menafsirkan kalimat “Ayyâmillah” sebagai “nikmat-nikmat dan karunia Allah”. Sehingga ayat ini bermakna,”Dan ingatkan mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia dari Allah.”
     Kelahiran Nabi Muhammad adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri oleh umat Islam, serta Nabi sendiri memperingati hari kelahiran beliau dengan melaksanakan puasa pada hari Senin.
     Rasulullah ditanya oleh para sahabat tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan dan hari Senin mulai diturunkan Al-Quran kepadaku.” (HR. Muslim).
     Ibnu Taimiah berpendapat bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan karena perasaan gembira, maka mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah.
     Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani berpendapat bahwa hukum asal melaksanakan maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, karena tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan “Salafushshalih” dari tiga abad pertama Hijriah.
      Tetapi memperingati maulid Nabi mengandung banyak kebaikan dan menolak kejelekan, sehingga maulid Nabi adalah bid’ah hasanah, karena memperingati maulid Nabi untuk melawan hal-hal negatif yang dapat merusak generasi muda.
      Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, dan peristiwa penting lainnya, karena para sahabat mengalami sendiri secara langsung.
     Para sahabat hidup bersama dengan Nabi, sehingga semua peristiwa tidak pernah hilang dari fikiran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan pada zaman Nabi seperti kami menghafalkan satu surah Al-Quran kepada mereka.”
     Para sahabat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang segala hal yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah, sehingga mereka tidak perlu diingatkan tentang berbagai peristiwa tersebut.
     Kemudian tiba suatu zaman ketika umat Islam mulai melupakan berbagai peristiwa pada zaman Nabi, semua peristiwa itu tidak lagi ada di benak mereka, dan tidak ada dalam akal dan hati mereka.
     Sehingga umat Islam perlu menghidupkan kembali makna-makna yang telah mati, mengingatkan kembali berbagai peristiwa yang terlupakan, dan benar terjadi bentuk bid’ah, tetapi kita merayakan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah.
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
     Peringatan maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan umat Islam atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dan untuk membangkitkan kesadaran umat dalam menjalankan agama Islam.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

648. MAULID

MAULID NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang maulid Nabi Muhammad?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 5 menyatakan untuk mengingatkan  tentang hari-hari Allah.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”
     Ubai bin Kaab berkata bahwa Nabi menafsirkan kalimat “Ayyâmillah” sebagai “nikmat-nikmat dan karunia Allah”. Sehingga ayat ini bermakna,”Dan ingatkan mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia dari Allah.”
     Kelahiran Nabi Muhammad adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri oleh umat Islam, serta Nabi sendiri memperingati hari kelahiran beliau dengan melaksanakan puasa pada hari Senin.
     Rasulullah ditanya oleh para sahabat tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan dan hari Senin mulai diturunkan Al-Quran kepadaku.” (HR. Muslim).
     Ibnu Taimiah berpendapat bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan karena perasaan gembira, maka mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah.
     Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani berpendapat bahwa hukum asal melaksanakan maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, karena tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan “Salafushshalih” dari tiga abad pertama Hijriah.
      Tetapi memperingati maulid Nabi mengandung banyak kebaikan dan menolak kejelekan, sehingga maulid Nabi adalah bid’ah hasanah, karena memperingati maulid Nabi untuk melawan hal-hal negatif yang dapat merusak generasi muda.
      Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, dan peristiwa penting lainnya, karena para sahabat mengalami sendiri secara langsung.
     Para sahabat hidup bersama dengan Nabi, sehingga semua peristiwa tidak pernah hilang dari fikiran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan pada zaman Nabi seperti kami menghafalkan satu surah Al-Quran kepada mereka.”
     Para sahabat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang segala hal yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah, sehingga mereka tidak perlu diingatkan tentang berbagai peristiwa tersebut.
     Kemudian tiba suatu zaman ketika umat Islam mulai melupakan berbagai peristiwa pada zaman Nabi, semua peristiwa itu tidak lagi ada di benak mereka, dan tidak ada dalam akal dan hati mereka.
     Sehingga umat Islam perlu menghidupkan kembali makna-makna yang telah mati, mengingatkan kembali berbagai peristiwa yang terlupakan, dan benar terjadi bentuk bid’ah, tetapi kita merayakan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah.
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
     Peringatan maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan umat Islam atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dan untuk membangkitkan kesadaran umat dalam menjalankan agama Islam.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

648. MAULID

MAULID NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang maulid Nabi Muhammad?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 5 menyatakan untuk mengingatkan  tentang hari-hari Allah.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”
     Ubai bin Kaab berkata bahwa Nabi menafsirkan kalimat “Ayyâmillah” sebagai “nikmat-nikmat dan karunia Allah”. Sehingga ayat ini bermakna,”Dan ingatkan mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia dari Allah.”
     Kelahiran Nabi Muhammad adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri oleh umat Islam, serta Nabi sendiri memperingati hari kelahiran beliau dengan melaksanakan puasa pada hari Senin.
     Rasulullah ditanya oleh para sahabat tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan dan hari Senin mulai diturunkan Al-Quran kepadaku.” (HR. Muslim).
     Ibnu Taimiah berpendapat bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan karena perasaan gembira, maka mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah.
     Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani berpendapat bahwa hukum asal melaksanakan maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, karena tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan “Salafushshalih” dari tiga abad pertama Hijriah.
      Tetapi memperingati maulid Nabi mengandung banyak kebaikan dan menolak kejelekan, sehingga maulid Nabi adalah bid’ah hasanah, karena memperingati maulid Nabi untuk melawan hal-hal negatif yang dapat merusak generasi muda.
      Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, dan peristiwa penting lainnya, karena para sahabat mengalami sendiri secara langsung.
     Para sahabat hidup bersama dengan Nabi, sehingga semua peristiwa tidak pernah hilang dari fikiran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan pada zaman Nabi seperti kami menghafalkan satu surah Al-Quran kepada mereka.”
     Para sahabat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang segala hal yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah, sehingga mereka tidak perlu diingatkan tentang berbagai peristiwa tersebut.
     Kemudian tiba suatu zaman ketika umat Islam mulai melupakan berbagai peristiwa pada zaman Nabi, semua peristiwa itu tidak lagi ada di benak mereka, dan tidak ada dalam akal dan hati mereka.
     Sehingga umat Islam perlu menghidupkan kembali makna-makna yang telah mati, mengingatkan kembali berbagai peristiwa yang terlupakan, dan benar terjadi bentuk bid’ah, tetapi kita merayakan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah.
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
     Peringatan maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan umat Islam atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dan untuk membangkitkan kesadaran umat dalam menjalankan agama Islam.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

648. MAULID

MAULID NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang maulid Nabi Muhammad?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 5 menyatakan untuk mengingatkan  tentang hari-hari Allah.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”
     Ubai bin Kaab berkata bahwa Nabi menafsirkan kalimat “Ayyâmillah” sebagai “nikmat-nikmat dan karunia Allah”. Sehingga ayat ini bermakna,”Dan ingatkan mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia dari Allah.”
     Kelahiran Nabi Muhammad adalah nikmat dan karunia terbesar yang mesti diingat dan disyukuri oleh umat Islam, serta Nabi sendiri memperingati hari kelahiran beliau dengan melaksanakan puasa pada hari Senin.
     Rasulullah ditanya oleh para sahabat tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari Senin aku dilahirkan dan hari Senin mulai diturunkan Al-Quran kepadaku.” (HR. Muslim).
     Ibnu Taimiah berpendapat bahwa mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai perayaan karena perasaan gembira, maka mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah.
     Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani berpendapat bahwa hukum asal melaksanakan maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, karena tidak terdapat riwayat dari seorang pun dari kalangan “Salafushshalih” dari tiga abad pertama Hijriah.
      Tetapi memperingati maulid Nabi mengandung banyak kebaikan dan menolak kejelekan, sehingga maulid Nabi adalah bid’ah hasanah, karena memperingati maulid Nabi untuk melawan hal-hal negatif yang dapat merusak generasi muda.
      Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi, dan peristiwa penting lainnya, karena para sahabat mengalami sendiri secara langsung.
     Para sahabat hidup bersama dengan Nabi, sehingga semua peristiwa tidak pernah hilang dari fikiran mereka. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan pada zaman Nabi seperti kami menghafalkan satu surah Al-Quran kepada mereka.”
     Para sahabat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang segala hal yang terjadi pada perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan Rasulullah, sehingga mereka tidak perlu diingatkan tentang berbagai peristiwa tersebut.
     Kemudian tiba suatu zaman ketika umat Islam mulai melupakan berbagai peristiwa pada zaman Nabi, semua peristiwa itu tidak lagi ada di benak mereka, dan tidak ada dalam akal dan hati mereka.
     Sehingga umat Islam perlu menghidupkan kembali makna-makna yang telah mati, mengingatkan kembali berbagai peristiwa yang terlupakan, dan benar terjadi bentuk bid’ah, tetapi kita merayakan maulid Nabi untuk mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah Rasulullah.
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
     Peringatan maulid Nabi adalah ekspresi kegembiraan umat Islam atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dan untuk membangkitkan kesadaran umat dalam menjalankan agama Islam.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

647. FOTO

MEMAHAMI GAMBAR, FOTO, DAN VIDEO
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang gambar, foto, dan video menurut ajaran Islam ?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
      Syekh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa gambar pada zaman modern sekarang dibuat oleh orang yang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, kemudian gambar tersebut terbentuk di atas permukaan kertas, maka gambar itu  bukanlah makna “tashwir”, karena kata “tashwir” adalah bentuk “mashdar” dari kata “shawwara” yang artinya “menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu”.
      Sedangkan suatu gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu, gambar yang berbentuk adalah gambar yang dibentuk menirukan bentuk kedua mata, hidung, bibir, dan sejenisnya.
     Seseorang yang memakai kamera untuk mengambil gambar suatu objek tertentu, hal itu bukan termasuk “tashwir”, karena manusia adalah benda ruang dalam bentuk tiga dimensi, sedangkan pada gambar hanya dalam dua dimensi yang tidak ada garis, bentuk mata, tidak ada garis hidung, tidak ada garis mulut yang timbul.
     Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar yaitu orang yang menandingi penciptaan Allah.” Sehingga para ulama salaf pada zaman dahulu mengharamkan patung manusia yang berbentuk tiga dimensi.
      Mereka berkata, “Sesungguhnya bentuk patung manusia dalam tiga dimensi terdapat sikap menandingi penciptaan Allah”. Sedangkan gambar dan foto hanya sekedar warna, karena Zaid bin Khalid berkata, “Kecuali goresan pada kain”.
      Sebagian ulama berpendapat bahwa gambar yang dibentuk dengan tangan, berupa goresan pada kain atau adonan yang dibentuk berbentuk makhluk hidup adalah haram, sedangkan mengambil gambar dengan kamera dan alat fotografi lainnya tidak haram.
      Sebagian ulama membolehkan menggambar, berfoto, dan video karena tidak termasuk menandingi ciptaan Allah, karena gambar, foto, dan video adalah cahaya yang tertahan seperti pantulan gambar pada cermin.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

647. FOTO

MEMAHAMI GAMBAR, FOTO, DAN VIDEO
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang gambar, foto, dan video menurut ajaran Islam ?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
      Syekh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa gambar pada zaman modern sekarang dibuat oleh orang yang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, kemudian gambar tersebut terbentuk di atas permukaan kertas, maka gambar itu  bukanlah makna “tashwir”, karena kata “tashwir” adalah bentuk “mashdar” dari kata “shawwara” yang artinya “menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu”.
      Sedangkan suatu gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu, gambar yang berbentuk adalah gambar yang dibentuk menirukan bentuk kedua mata, hidung, bibir, dan sejenisnya.
     Seseorang yang memakai kamera untuk mengambil gambar suatu objek tertentu, hal itu bukan termasuk “tashwir”, karena manusia adalah benda ruang dalam bentuk tiga dimensi, sedangkan pada gambar hanya dalam dua dimensi yang tidak ada garis, bentuk mata, tidak ada garis hidung, tidak ada garis mulut yang timbul.
     Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar yaitu orang yang menandingi penciptaan Allah.” Sehingga para ulama salaf pada zaman dahulu mengharamkan patung manusia yang berbentuk tiga dimensi.
      Mereka berkata, “Sesungguhnya bentuk patung manusia dalam tiga dimensi terdapat sikap menandingi penciptaan Allah”. Sedangkan gambar dan foto hanya sekedar warna, karena Zaid bin Khalid berkata, “Kecuali goresan pada kain”.
      Sebagian ulama berpendapat bahwa gambar yang dibentuk dengan tangan, berupa goresan pada kain atau adonan yang dibentuk berbentuk makhluk hidup adalah haram, sedangkan mengambil gambar dengan kamera dan alat fotografi lainnya tidak haram.
      Sebagian ulama membolehkan menggambar, berfoto, dan video karena tidak termasuk menandingi ciptaan Allah, karena gambar, foto, dan video adalah cahaya yang tertahan seperti pantulan gambar pada cermin.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

647. FOTO

MEMAHAMI GAMBAR, FOTO, DAN VIDEO
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang gambar, foto, dan video menurut ajaran Islam ?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
      Syekh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa gambar pada zaman modern sekarang dibuat oleh orang yang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, kemudian gambar tersebut terbentuk di atas permukaan kertas, maka gambar itu  bukanlah makna “tashwir”, karena kata “tashwir” adalah bentuk “mashdar” dari kata “shawwara” yang artinya “menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu”.
      Sedangkan suatu gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu, gambar yang berbentuk adalah gambar yang dibentuk menirukan bentuk kedua mata, hidung, bibir, dan sejenisnya.
     Seseorang yang memakai kamera untuk mengambil gambar suatu objek tertentu, hal itu bukan termasuk “tashwir”, karena manusia adalah benda ruang dalam bentuk tiga dimensi, sedangkan pada gambar hanya dalam dua dimensi yang tidak ada garis, bentuk mata, tidak ada garis hidung, tidak ada garis mulut yang timbul.
     Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar yaitu orang yang menandingi penciptaan Allah.” Sehingga para ulama salaf pada zaman dahulu mengharamkan patung manusia yang berbentuk tiga dimensi.
      Mereka berkata, “Sesungguhnya bentuk patung manusia dalam tiga dimensi terdapat sikap menandingi penciptaan Allah”. Sedangkan gambar dan foto hanya sekedar warna, karena Zaid bin Khalid berkata, “Kecuali goresan pada kain”.
      Sebagian ulama berpendapat bahwa gambar yang dibentuk dengan tangan, berupa goresan pada kain atau adonan yang dibentuk berbentuk makhluk hidup adalah haram, sedangkan mengambil gambar dengan kamera dan alat fotografi lainnya tidak haram.
      Sebagian ulama membolehkan menggambar, berfoto, dan video karena tidak termasuk menandingi ciptaan Allah, karena gambar, foto, dan video adalah cahaya yang tertahan seperti pantulan gambar pada cermin.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

647. FOTO

MEMAHAMI GAMBAR, FOTO, DAN VIDEO
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang gambar, foto, dan video menurut ajaran Islam ?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
      Syekh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa gambar pada zaman modern sekarang dibuat oleh orang yang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, kemudian gambar tersebut terbentuk di atas permukaan kertas, maka gambar itu  bukanlah makna “tashwir”, karena kata “tashwir” adalah bentuk “mashdar” dari kata “shawwara” yang artinya “menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu”.
      Sedangkan suatu gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu, gambar yang berbentuk adalah gambar yang dibentuk menirukan bentuk kedua mata, hidung, bibir, dan sejenisnya.
     Seseorang yang memakai kamera untuk mengambil gambar suatu objek tertentu, hal itu bukan termasuk “tashwir”, karena manusia adalah benda ruang dalam bentuk tiga dimensi, sedangkan pada gambar hanya dalam dua dimensi yang tidak ada garis, bentuk mata, tidak ada garis hidung, tidak ada garis mulut yang timbul.
     Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar yaitu orang yang menandingi penciptaan Allah.” Sehingga para ulama salaf pada zaman dahulu mengharamkan patung manusia yang berbentuk tiga dimensi.
      Mereka berkata, “Sesungguhnya bentuk patung manusia dalam tiga dimensi terdapat sikap menandingi penciptaan Allah”. Sedangkan gambar dan foto hanya sekedar warna, karena Zaid bin Khalid berkata, “Kecuali goresan pada kain”.
      Sebagian ulama berpendapat bahwa gambar yang dibentuk dengan tangan, berupa goresan pada kain atau adonan yang dibentuk berbentuk makhluk hidup adalah haram, sedangkan mengambil gambar dengan kamera dan alat fotografi lainnya tidak haram.
      Sebagian ulama membolehkan menggambar, berfoto, dan video karena tidak termasuk menandingi ciptaan Allah, karena gambar, foto, dan video adalah cahaya yang tertahan seperti pantulan gambar pada cermin.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

647. FOTO

MEMAHAMI GAMBAR, FOTO, DAN VIDEO
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang gambar, foto, dan video menurut ajaran Islam ?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
      Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
      Syekh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa gambar pada zaman modern sekarang dibuat oleh orang yang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, kemudian gambar tersebut terbentuk di atas permukaan kertas, maka gambar itu  bukanlah makna “tashwir”, karena kata “tashwir” adalah bentuk “mashdar” dari kata “shawwara” yang artinya “menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu”.
      Sedangkan suatu gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu, gambar yang berbentuk adalah gambar yang dibentuk menirukan bentuk kedua mata, hidung, bibir, dan sejenisnya.
     Seseorang yang memakai kamera untuk mengambil gambar suatu objek tertentu, hal itu bukan termasuk “tashwir”, karena manusia adalah benda ruang dalam bentuk tiga dimensi, sedangkan pada gambar hanya dalam dua dimensi yang tidak ada garis, bentuk mata, tidak ada garis hidung, tidak ada garis mulut yang timbul.
     Nabi bersabda,”Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar yaitu orang yang menandingi penciptaan Allah.” Sehingga para ulama salaf pada zaman dahulu mengharamkan patung manusia yang berbentuk tiga dimensi.
      Mereka berkata, “Sesungguhnya bentuk patung manusia dalam tiga dimensi terdapat sikap menandingi penciptaan Allah”. Sedangkan gambar dan foto hanya sekedar warna, karena Zaid bin Khalid berkata, “Kecuali goresan pada kain”.
      Sebagian ulama berpendapat bahwa gambar yang dibentuk dengan tangan, berupa goresan pada kain atau adonan yang dibentuk berbentuk makhluk hidup adalah haram, sedangkan mengambil gambar dengan kamera dan alat fotografi lainnya tidak haram.
      Sebagian ulama membolehkan menggambar, berfoto, dan video karena tidak termasuk menandingi ciptaan Allah, karena gambar, foto, dan video adalah cahaya yang tertahan seperti pantulan gambar pada cermin.

Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online