Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Thursday, March 22, 2018

746.BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

746. BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

746. BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

736. BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

746.BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

746. BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

746? BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

746. BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

746. BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

746.BADUI

KISAH ORANG BADUI YANG “MENGHISAB” ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Dikisahkan, seorang Badui telah memeluk Islam, dan sudah mengikrarkan “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu “Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, karena dia mengikuti jejak kepala sukunya.
     Si Badui telah masuk Islam, berkat hasil dakwah dari para pemimpinnya, lalu dia belajar cara beribadah agama Islam dari tokoh kabilahnya, meskipun dia tergolong “ekonomi lemah”, tidak pintar, dan belum pernah bepergian ke luar dari “desa”nya, artinya dia orang “ndeso”, karena tempat tinggalnya terpencil dan “adoh kawat”.
     Si Badui belum pernah ke Madinah, sehingga dia belum pernah bertemu dengan Nabi, dan tidak mengenal wajah Nabi, tetapi dengan segala keterbatasannya, dia sudah menjadi seorang  mukmin “yang baik”, karena dia sangat  mencintai Nabi Muhammad.
       Pada suatu hari rombongan kabilah sukunya pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah, dan si Badui ikut dalam rombongan.
     Ketika rombongannya melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki berlawanan arah jarum jam, maka si Badui selalu “mengintil”, dan mengikuti di belakang rombongannya.
      Kemudian si Badui terpisah dari rombongan, tetapi dia tetap melaksanakan tawaf, dia berjalan sambil berzikir, “Ya, Karim… ” berulang-ulang, karena dia bukan orang cerdas, dan tidak mampu menghafal doa tawaf, maka selama tawaf dia hanya membaca “Ya, Karim…”, berulang-ulang.
     Tiba-tiba dia merasa ada yang mengikutinya, karena ada orang yang berjalan “menempel” di belakangnya, dan menirukan ucapannya, “Ya, Karim...” seperti dirinya, kemudian si Badui bergeser, dan berpindah agak menjauh, agar tidak diikuti orang tersebut.
      Dia menyangka orang itu mengolok-oloknya, tetapi meskipun dia bergeser dan menjauh, tetapi orang itu tetap “membuntutinya”, karena kemana pun dia bergerak, orang itu selalu mengikutinya.
    Akhirnya, si Badui menghentikan langkahnya dan memutar badannya 180 derajat, lalu  berbalik menghadap orang itu, dan si Badui berkata,”Wahai, orang yang berwajah cerah, dan berbadan bagus, apakah engkau memperolok-olokku? Demi Allah, engkau akan kulaporkan kepada kekasihku”.   “Siapakah kekasihmu itu?” jawab lelaki itu, lalu si Badui menjawab, “Nabiku, Nabi Muhammad Rasulullah”.
     Lelaki itu tampak tersenyum, karena mendengarkan jawabannya, kemudian lelaki itu bertanya, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, Wahai saudaraku, Badui?” “Belum,” jawab Si Badui. 
      Lelaki itu berkata lagi,”Bagaimana mungkin engkau mencintainya, padahal, engkau tidak mengenalnya? Bagaimana pula keimananmu kepadanya?” “Aku beriman atas kenabiannya, meskipun aku tidak pernah melihatnya, dan aku membenarkan kerasulannya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,” jawab si Badui.
      Lelaki itu tersenyum lagi, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat kelak.” Memang, lelaki yang “mengintili” si Badui adalah Nabi Muhammad, yang saat itu, juga sedang melaksanakan umrah.
     Nabi mengikuti si Badui ketika sedang tawaf, beliau melihat si Badui yang “polos” dan “unik”, dan terpisah dari rombongannya, tetapi dia tampak begitu khusuk dalam melaksanakan tawaf.
    Si Badui memandang Nabi, seakan tidak percaya, kaget bercampur gembira, dia  terpana, lalu matanya berkaca-kaca, kemudian dia mendekat kepada Nabi dan  merendahkan badan akan mencium tangan Nabi, lalu  Nabi memegang pundaknya.
      Nabi berkata,”Wahai saudaraku orang Badui, janganlah engkau memperlakukanku, seperti orang asing memperlakukan rajanya. Sesungguhnya, Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang, tetapi Allah mengutusku dengan kebenaran, dan memberikan kabar gembira, berupa kenikmatan di surga, serta  memberikan  peringatan, tentang pedihnya azab neraka.
      Si Badui lalu berdiri termangu, dan tampak jelas raut wajah kegembiraannya, karena bisa berjumpa dengan Nabi, kemudian tiba-tiba malaikat Jibril turun kepada Nabi, dan menyampaikan beberapa kalimat kepada si Badui.
     “Wahai Badui, sesungguhnya kelembutan dan kemuliaan Allah. Ya, Karim. Yang Maha Pemurah. Maha Memberi tanpa diminta. Akan menghisab dan memperhitungkan segala perbuatan manusia.”
      Nabi menyampaikannya  kepada Si Badui, lalu si Badui bertanya, “Apakah Allah akan menghisabku, Ya Rasulullah? Nabi menjawab, “Benar Allah akan menghisabmu, jika Allah menghendaki.”
     Tiba-tiba Badui mengucapkan sesuatu yang tidak terduga, “Demi kebesaran dan keagungan Allah, apabila Allah menghisabku, maka aku juga akan menghisab Allah.” Nabi bersabda sambil tersenyum, “Wahai saudaraku, engkau menghisab Allah dalam hal apa?” 
     Si Badui menjawab,”Jika Allah menghisabku, atas dosaku, maka aku akan menghisab Allah dengan Maha Pengampunan-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kemaksiatanku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Pemaaf-Nya. Apabila Allah menghisabku atas kekikiranku, maka aku akan menghisab Allah atas Maha Kedermawanan-Nya”.
     Nabi terharu mendengarkan jawaban si Badui, hingga Nabi meneteskan air mata sampai membasahi jenggot beliau, karena mendengarkan jawaban yang sederhana yang menunjukkan betapa “akrabnya” si Badui dengan Tuhan-Nya, dan betapa tinggi “makrifatnya” kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapatkan didikan langsung dari Nabi.
     Malaikat Jibril turun lagi, dan memberi tahu Nabi, “Wahai Muhammad, Allah mengirim salam kepadamu, dan berfirman,”Kurangi tangismu, karena dapat memengaruhi para malaikat dalam bertasbih, dan sampaikan kepada saudaramu, si Badui bahwa dia tidak perlu menghisab Allah, karena Allah tidak akan menghisabnya, dan dia termasuk penghuni surga.”
Sumber :
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta 2011.
2. Sahil, Azharuddin. Indeks Al-Quran. Panduan Mudah Mencari Ayat dan Kata dalam Al-Quran. Penerbit Mizan. Bandung 2007.
3. Kisah Para Sahabat.

745. IKTIKAF

IKTIKAF DI MASJID
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang iktikaf di masjid selama bulan Ramadan menurut agama Islam?” Ustad Sulaiman Rasjid menjelaskannya.
      Kata “puasa” menurut KBBI V dapat diartikan “meniadakan makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama berkaitan dengan keagamaan)”, “salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari”, atau “saum”.
      Ramadan adalah bulan ke-9 tahun Hijrah (sebanyak 29 atau 30 hari), pada bulan Ramadan ini semua orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa.
      Puasa (saumu) menurut bahasa Arab adalah menahan diri dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.
      Menurut istilah agama Islam, “puasa” adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 184.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

      “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antaramu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 187.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istrimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakan puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”
      Syarat wajib berpuasa Ramadan adalah berikut ini. Pertama, orang yang berakal, orang gila tidak wajib berpuasa. Kedua, orang yang sudah balig, sekitar berumur 15 tahun. Anak-anak tidak wajib berpuasa, tetapi perlu berlatih berpuasa.
    Ketiga, orang yang kuat berpuasa. Orang yang tidak kuat berpuasa karena sudah tua atau sakit tidak wajib berpuasa, tetapi wajib membayar fidiah, yaitu memberi makan seorang miskin.
      Syarat sah orang yang berpuasa Ramadan adalah berikut ini. Ke-1, orang Islam. Orang yang bukan beragama Islam yang ikut berpuasa Ramadan, maka puasanya tidak sah. Ke-2, orang yang sudah “mumayiz”, yaitu orang yang sudah mampu membedakan hal-hal yang baik dan hal-hal yang tidak baik.
      Ke-3, suci dari darah “haid” (kotoran) dan darah “nifas” (darah wanita sehabis melahirkan bayi), tetapi wajib mengganti puasanya pada hari yang lain. Ke-4, pada waktu dibolehkan berpuasa. Waktu yang dilarang berpuasa adalah pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan tiga hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Haji.
      Rukun adalah hal-hal yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan, sehingga rukun berpuasa Ramadan adalah  hal-hal yang harus dipenuhi agar puasa Ramadan menjadi sah.   
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berikut ini.
      Pertama, berniat puasa Ramadan pada malam hari sebelum berpuasa esok paginya, sedangkan berniat untuk puasa sunah boleh dikerjakan pada pagi hari sebelum masuk waktu salat Zuhur.
      Kedua, menahan segala hal yang membatalkan puasa sejak waktu Subuh (terbit fajar) sampai Magrib (terbenam matahari). Jika kedua rukun berpuasa Ramadan tersebut dilanggar, maka puasanya tidak sah.
      Hal-hal yang membatalkan puasa Ramadan adalah berikut ini. Ke-1, makan dan minum dengan sengaja. Ke-2, muntah dengan sengaja, meskipun tidak ada benda apa pun yang masuk ke dalam mulut.
      Ke-3, berhubungan suami istri. Ke-4, keluar darah haid atau darah nifas. Ke-5, gila. Ke-6, keluar air mani dengan sengaja. Jika hal-hal yang membatalkan puasa tersebut terjadi pada rentang waktu sejak terbit fajar sampai matahari terbenam, maka puasanya batal.
      Iktikaf adalah diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat tertentu sambil menjauhkan pikiran dari urusan keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
      Hukum iktikaf pada setiap waktu adalah sunah (dianjurkan), sedangkan iktikaf di dalam masjid setelah tanggal 20 bulan Ramadan sampai akhirnya, hukumnya sunah muakkad (sangat dianjurkan).
      Aisyah berkata bahwa Nabi Muhammad melakukan iktikaf di Masjid Nabawi pada 10 hari terakhir bulan Ramadan sampai beliau meninggal dunia.
      Syarat orang yang mengerjakan iktikaf di masjid adalah berikut ini. Pertama, orang Islam. Kedua, orang yang berakal. Ketiga, badannya dan pakaiannya suci dari hadas kecil dan hadas besar.
      Rukun iktikaf adalah berikut ini. Pertama, berniat iktikaf. Kedua, berhenti dan duduk minimal beberapa waktu di dalam masjid. Hal-hal yang membatalkan iktikaf adalah keluar dari masjid dengan tidak ada uzur atau berhubungan suami istri.
Daftar Pustaka
1. Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam (Hukum Fikih Lengkap).  Penerbit Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke-80, Bandung. 2017.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
3. Tafsirq.com online

745. IKTIKAF

IKTIKAF DI MASJID
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang iktikaf di masjid selama bulan Ramadan menurut agama Islam?” Ustad Sulaiman Rasjid menjelaskannya.
      Kata “puasa” menurut KBBI V dapat diartikan “meniadakan makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama berkaitan dengan keagamaan)”, “salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari”, atau “saum”.
      Ramadan adalah bulan ke-9 tahun Hijrah (sebanyak 29 atau 30 hari), pada bulan Ramadan ini semua orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa.
      Puasa (saumu) menurut bahasa Arab adalah menahan diri dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.
      Menurut istilah agama Islam, “puasa” adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 184.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

      “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antaramu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 187.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istrimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakan puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”
      Syarat wajib berpuasa Ramadan adalah berikut ini. Pertama, orang yang berakal, orang gila tidak wajib berpuasa. Kedua, orang yang sudah balig, sekitar berumur 15 tahun. Anak-anak tidak wajib berpuasa, tetapi perlu berlatih berpuasa.
    Ketiga, orang yang kuat berpuasa. Orang yang tidak kuat berpuasa karena sudah tua atau sakit tidak wajib berpuasa, tetapi wajib membayar fidiah, yaitu memberi makan seorang miskin.
      Syarat sah orang yang berpuasa Ramadan adalah berikut ini. Ke-1, orang Islam. Orang yang bukan beragama Islam yang ikut berpuasa Ramadan, maka puasanya tidak sah. Ke-2, orang yang sudah “mumayiz”, yaitu orang yang sudah mampu membedakan hal-hal yang baik dan hal-hal yang tidak baik.
      Ke-3, suci dari darah “haid” (kotoran) dan darah “nifas” (darah wanita sehabis melahirkan bayi), tetapi wajib mengganti puasanya pada hari yang lain. Ke-4, pada waktu dibolehkan berpuasa. Waktu yang dilarang berpuasa adalah pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan tiga hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Haji.
      Rukun adalah hal-hal yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan, sehingga rukun berpuasa Ramadan adalah  hal-hal yang harus dipenuhi agar puasa Ramadan menjadi sah.   
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berikut ini.
      Pertama, berniat puasa Ramadan pada malam hari sebelum berpuasa esok paginya, sedangkan berniat untuk puasa sunah boleh dikerjakan pada pagi hari sebelum masuk waktu salat Zuhur.
      Kedua, menahan segala hal yang membatalkan puasa sejak waktu Subuh (terbit fajar) sampai Magrib (terbenam matahari). Jika kedua rukun berpuasa Ramadan tersebut dilanggar, maka puasanya tidak sah.
      Hal-hal yang membatalkan puasa Ramadan adalah berikut ini. Ke-1, makan dan minum dengan sengaja. Ke-2, muntah dengan sengaja, meskipun tidak ada benda apa pun yang masuk ke dalam mulut.
      Ke-3, berhubungan suami istri. Ke-4, keluar darah haid atau darah nifas. Ke-5, gila. Ke-6, keluar air mani dengan sengaja. Jika hal-hal yang membatalkan puasa tersebut terjadi pada rentang waktu sejak terbit fajar sampai matahari terbenam, maka puasanya batal.
      Iktikaf adalah diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat tertentu sambil menjauhkan pikiran dari urusan keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
      Hukum iktikaf pada setiap waktu adalah sunah (dianjurkan), sedangkan iktikaf di dalam masjid setelah tanggal 20 bulan Ramadan sampai akhirnya, hukumnya sunah muakkad (sangat dianjurkan).
      Aisyah berkata bahwa Nabi Muhammad melakukan iktikaf di Masjid Nabawi pada 10 hari terakhir bulan Ramadan sampai beliau meninggal dunia.
      Syarat orang yang mengerjakan iktikaf di masjid adalah berikut ini. Pertama, orang Islam. Kedua, orang yang berakal. Ketiga, badannya dan pakaiannya suci dari hadas kecil dan hadas besar.
      Rukun iktikaf adalah berikut ini. Pertama, berniat iktikaf. Kedua, berhenti dan duduk minimal beberapa waktu di dalam masjid. Hal-hal yang membatalkan iktikaf adalah keluar dari masjid dengan tidak ada uzur atau berhubungan suami istri.
Daftar Pustaka
1. Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam (Hukum Fikih Lengkap).  Penerbit Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke-80, Bandung. 2017.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
3. Tafsirq.com online