Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, April 25, 2018

793. SEMBAH

UMAT ISLAM TAK MENYEMBAH KAKBAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang bukti bahwa umat Islam tidak menyembah Kakbah?” Dr. Zakir Naik menjelaskannya.

       
      Ke-1, Kakbah adalah arah atau kiblat umat Islam menghadapkan wajahnya ketika melaksanakan salat, tetapi umat Islam tidak menyembah Kakbah, meskipun wajahnya menghadap Kakbah.
      Umat Islam salat menghadap Kakbah karena diperintah oleh Allah sesuai surah Al-Baqarah, surah ke-2,  ayah 144. 

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

      “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkan mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkan mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
        Ke-2, Islam percaya pengembangan kesatuan untuk seluruh dunia. Jika tidak ada kiblat yang menyatukan arah, maka umat Islam akan melakukan salat ke arah mana saja yang disukainya.
      Apabila tidak ada kiblat, maka sebagian umat Islam ketika melakukan salat, akan  menghadapkan wajahnya ke arah utara, selatan, barat, timur, atau ke mana pun  sehingga tidak muncul keteraturan dan kesatuan.
    Agar semua umat Islam bersatu, maka diperintahkan oleh Allah agar semua wajahnya menghadap ke arah satu kiblat saja, yaitu ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
       Dengan adanya satu kiblat, maka semua umat Islam di seluruh penjuru dunia ketika salat tampak bersatu menghadapkan wajahnya ke satu arah, yaitu menghadap ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
     Umat Islam yang berada di sebelah barat Kakbah, salatnya menghadap ke arah timur dan umat Islam yang berada di sebelah timur Kakbah, salatnya menghadap ke arah barat, begitu seterusnya.
      Ke-3, orang Islam adalah orang yang pertama kali menggambar peta dunia, mereka menggambar peta dunia dengan meletakkan selatan di atas peta dan utara di bawah peta, sedangkan posisi Kakbah berada di tengah-tengah pusat dunia.
      Kemudian para ahli dari Barat menggambar peta dunia, mereka meletakkan utara di atas peta dan selatan di bawah peta. Meskipun demikian, Kakbah tetap terletak di tengah-tengah pusat peta dunia.
      Ke-4, umat Islam tawaf berjalan kaki berputar mengelilingi Kakbah sebanyak 7 kali yang menandakan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Kuasa yaitu Allah dan sebagai keimanan dan penyembahan kepada satu Tuhan, sebagaimana setiap lingkaran hanya memiliki satu titik pusat.
      Hal ini menandakan bahwa hanya terdapat satu Tuhan dalam seluruh alam semesta, yaitu cuma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
      Ke-5, Umar bin Khaththab berkata, “Aku tahu bahwa Hajar Aswad hanya sebuah batu yang tidak bisa memberikan kebaikan atau kerugian. Seandainya aku tidak  melihat Nabi Muhammad menyentuh dan menciumnya, maka aku tidak akan pernah menyentuh dan menciumnya.”
      Ke-6, Pada zaman Nabi Muhammad, orang Islam berdiri di atas Kabah untuk mengumandangkan azan seruan untuk mengerjakan salat lima waktu berjamaah di masjid yang membuktikan bahwa mereka tidak menyembah Kakbah, karena tak ada orang yang berani menginjak sesuatu yang disembahnya.
      Ke-7, Nabi Muhammad selama 17 bulan salat menghadap ke Masjid Aqsa di Palestina, kemudian berubah menghadap ke Kakbah di Masjidil Haram Mekah, karena diperintah oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

793. SEMBAH

UMAT ISLAM TAK MENYEMBAH KAKBAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang bukti bahwa umat Islam tidak menyembah Kakbah?” Dr. Zakir Naik menjelaskannya.

       
      Ke-1, Kakbah adalah arah atau kiblat umat Islam menghadapkan wajahnya ketika melaksanakan salat, tetapi umat Islam tidak menyembah Kakbah, meskipun wajahnya menghadap Kakbah.
      Umat Islam salat menghadap Kakbah karena diperintah oleh Allah sesuai surah Al-Baqarah, surah ke-2,  ayah 144. 

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

      “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkan mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkan mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
        Ke-2, Islam percaya pengembangan kesatuan untuk seluruh dunia. Jika tidak ada kiblat yang menyatukan arah, maka umat Islam akan melakukan salat ke arah mana saja yang disukainya.
      Apabila tidak ada kiblat, maka sebagian umat Islam ketika melakukan salat, akan  menghadapkan wajahnya ke arah utara, selatan, barat, timur, atau ke mana pun  sehingga tidak muncul keteraturan dan kesatuan.
    Agar semua umat Islam bersatu, maka diperintahkan oleh Allah agar semua wajahnya menghadap ke arah satu kiblat saja, yaitu ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
       Dengan adanya satu kiblat, maka semua umat Islam di seluruh penjuru dunia ketika salat tampak bersatu menghadapkan wajahnya ke satu arah, yaitu menghadap ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
     Umat Islam yang berada di sebelah barat Kakbah, salatnya menghadap ke arah timur dan umat Islam yang berada di sebelah timur Kakbah, salatnya menghadap ke arah barat, begitu seterusnya.
      Ke-3, orang Islam adalah orang yang pertama kali menggambar peta dunia, mereka menggambar peta dunia dengan meletakkan selatan di atas peta dan utara di bawah peta, sedangkan posisi Kakbah berada di tengah-tengah pusat dunia.
      Kemudian para ahli dari Barat menggambar peta dunia, mereka meletakkan utara di atas peta dan selatan di bawah peta. Meskipun demikian, Kakbah tetap terletak di tengah-tengah pusat peta dunia.
      Ke-4, umat Islam tawaf berjalan kaki berputar mengelilingi Kakbah sebanyak 7 kali yang menandakan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Kuasa yaitu Allah dan sebagai keimanan dan penyembahan kepada satu Tuhan, sebagaimana setiap lingkaran hanya memiliki satu titik pusat.
      Hal ini menandakan bahwa hanya terdapat satu Tuhan dalam seluruh alam semesta, yaitu cuma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
      Ke-5, Umar bin Khaththab berkata, “Aku tahu bahwa Hajar Aswad hanya sebuah batu yang tidak bisa memberikan kebaikan atau kerugian. Seandainya aku tidak  melihat Nabi Muhammad menyentuh dan menciumnya, maka aku tidak akan pernah menyentuh dan menciumnya.”
      Ke-6, Pada zaman Nabi Muhammad, orang Islam berdiri di atas Kabah untuk mengumandangkan azan seruan untuk mengerjakan salat lima waktu berjamaah di masjid yang membuktikan bahwa mereka tidak menyembah Kakbah, karena tak ada orang yang berani menginjak sesuatu yang disembahnya.
      Ke-7, Nabi Muhammad selama 17 bulan salat menghadap ke Masjid Aqsa di Palestina, kemudian berubah menghadap ke Kakbah di Masjidil Haram Mekah, karena diperintah oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

793. SEMBAH

UMAT ISLAM TAK MENYEMBAH KAKBAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang bukti bahwa umat Islam tidak menyembah Kakbah?” Dr. Zakir Naik menjelaskannya.

       
      Ke-1, Kakbah adalah arah atau kiblat umat Islam menghadapkan wajahnya ketika melaksanakan salat, tetapi umat Islam tidak menyembah Kakbah, meskipun wajahnya menghadap Kakbah.
      Umat Islam salat menghadap Kakbah karena diperintah oleh Allah sesuai surah Al-Baqarah, surah ke-2,  ayah 144. 

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

      “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkan mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkan mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
        Ke-2, Islam percaya pengembangan kesatuan untuk seluruh dunia. Jika tidak ada kiblat yang menyatukan arah, maka umat Islam akan melakukan salat ke arah mana saja yang disukainya.
      Apabila tidak ada kiblat, maka sebagian umat Islam ketika melakukan salat, akan  menghadapkan wajahnya ke arah utara, selatan, barat, timur, atau ke mana pun  sehingga tidak muncul keteraturan dan kesatuan.
    Agar semua umat Islam bersatu, maka diperintahkan oleh Allah agar semua wajahnya menghadap ke arah satu kiblat saja, yaitu ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
       Dengan adanya satu kiblat, maka semua umat Islam di seluruh penjuru dunia ketika salat tampak bersatu menghadapkan wajahnya ke satu arah, yaitu menghadap ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
     Umat Islam yang berada di sebelah barat Kakbah, salatnya menghadap ke arah timur dan umat Islam yang berada di sebelah timur Kakbah, salatnya menghadap ke arah barat, begitu seterusnya.
      Ke-3, orang Islam adalah orang yang pertama kali menggambar peta dunia, mereka menggambar peta dunia dengan meletakkan selatan di atas peta dan utara di bawah peta, sedangkan posisi Kakbah berada di tengah-tengah pusat dunia.
      Kemudian para ahli dari Barat menggambar peta dunia, mereka meletakkan utara di atas peta dan selatan di bawah peta. Meskipun demikian, Kakbah tetap terletak di tengah-tengah pusat peta dunia.
      Ke-4, umat Islam tawaf berjalan kaki berputar mengelilingi Kakbah sebanyak 7 kali yang menandakan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Kuasa yaitu Allah dan sebagai keimanan dan penyembahan kepada satu Tuhan, sebagaimana setiap lingkaran hanya memiliki satu titik pusat.
      Hal ini menandakan bahwa hanya terdapat satu Tuhan dalam seluruh alam semesta, yaitu cuma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
      Ke-5, Umar bin Khaththab berkata, “Aku tahu bahwa Hajar Aswad hanya sebuah batu yang tidak bisa memberikan kebaikan atau kerugian. Seandainya aku tidak  melihat Nabi Muhammad menyentuh dan menciumnya, maka aku tidak akan pernah menyentuh dan menciumnya.”
      Ke-6, Pada zaman Nabi Muhammad, orang Islam berdiri di atas Kabah untuk mengumandangkan azan seruan untuk mengerjakan salat lima waktu berjamaah di masjid yang membuktikan bahwa mereka tidak menyembah Kakbah, karena tak ada orang yang berani menginjak sesuatu yang disembahnya.
      Ke-7, Nabi Muhammad selama 17 bulan salat menghadap ke Masjid Aqsa di Palestina, kemudian berubah menghadap ke Kakbah di Masjidil Haram Mekah, karena diperintah oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

793. SEMBAH

UMAT ISLAM TAK MENYEMBAH KAKBAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang bukti bahwa umat Islam tidak menyembah Kakbah?” Dr. Zakir Naik menjelaskannya.

       
      Ke-1, Kakbah adalah arah atau kiblat umat Islam menghadapkan wajahnya ketika melaksanakan salat, tetapi umat Islam tidak menyembah Kakbah, meskipun wajahnya menghadap Kakbah.
      Umat Islam salat menghadap Kakbah karena diperintah oleh Allah sesuai surah Al-Baqarah, surah ke-2,  ayah 144. 

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

      “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkan mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkan mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
        Ke-2, Islam percaya pengembangan kesatuan untuk seluruh dunia. Jika tidak ada kiblat yang menyatukan arah, maka umat Islam akan melakukan salat ke arah mana saja yang disukainya.
      Apabila tidak ada kiblat, maka sebagian umat Islam ketika melakukan salat, akan  menghadapkan wajahnya ke arah utara, selatan, barat, timur, atau ke mana pun  sehingga tidak muncul keteraturan dan kesatuan.
    Agar semua umat Islam bersatu, maka diperintahkan oleh Allah agar semua wajahnya menghadap ke arah satu kiblat saja, yaitu ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
       Dengan adanya satu kiblat, maka semua umat Islam di seluruh penjuru dunia ketika salat tampak bersatu menghadapkan wajahnya ke satu arah, yaitu menghadap ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
     Umat Islam yang berada di sebelah barat Kakbah, salatnya menghadap ke arah timur dan umat Islam yang berada di sebelah timur Kakbah, salatnya menghadap ke arah barat, begitu seterusnya.
      Ke-3, orang Islam adalah orang yang pertama kali menggambar peta dunia, mereka menggambar peta dunia dengan meletakkan selatan di atas peta dan utara di bawah peta, sedangkan posisi Kakbah berada di tengah-tengah pusat dunia.
      Kemudian para ahli dari Barat menggambar peta dunia, mereka meletakkan utara di atas peta dan selatan di bawah peta. Meskipun demikian, Kakbah tetap terletak di tengah-tengah pusat peta dunia.
      Ke-4, umat Islam tawaf berjalan kaki berputar mengelilingi Kakbah sebanyak 7 kali yang menandakan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Kuasa yaitu Allah dan sebagai keimanan dan penyembahan kepada satu Tuhan, sebagaimana setiap lingkaran hanya memiliki satu titik pusat.
      Hal ini menandakan bahwa hanya terdapat satu Tuhan dalam seluruh alam semesta, yaitu cuma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
      Ke-5, Umar bin Khaththab berkata, “Aku tahu bahwa Hajar Aswad hanya sebuah batu yang tidak bisa memberikan kebaikan atau kerugian. Seandainya aku tidak  melihat Nabi Muhammad menyentuh dan menciumnya, maka aku tidak akan pernah menyentuh dan menciumnya.”
      Ke-6, Pada zaman Nabi Muhammad, orang Islam berdiri di atas Kabah untuk mengumandangkan azan seruan untuk mengerjakan salat lima waktu berjamaah di masjid yang membuktikan bahwa mereka tidak menyembah Kakbah, karena tak ada orang yang berani menginjak sesuatu yang disembahnya.
      Ke-7, Nabi Muhammad selama 17 bulan salat menghadap ke Masjid Aqsa di Palestina, kemudian berubah menghadap ke Kakbah di Masjidil Haram Mekah, karena diperintah oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

793. SEMBAH

UMAT ISLAM TAK MENYEMBAH KAKBAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang bukti bahwa umat Islam tidak menyembah Kakbah?” Dr. Zakir Naik menjelaskannya.

       
      Ke-1, Kakbah adalah arah atau kiblat umat Islam menghadapkan wajahnya ketika melaksanakan salat, tetapi umat Islam tidak menyembah Kakbah, meskipun wajahnya menghadap Kakbah.
      Umat Islam salat menghadap Kakbah karena diperintah oleh Allah sesuai surah Al-Baqarah, surah ke-2,  ayah 144. 

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

      “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkan mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkan mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
        Ke-2, Islam percaya pengembangan kesatuan untuk seluruh dunia. Jika tidak ada kiblat yang menyatukan arah, maka umat Islam akan melakukan salat ke arah mana saja yang disukainya.
      Apabila tidak ada kiblat, maka sebagian umat Islam ketika melakukan salat, akan  menghadapkan wajahnya ke arah utara, selatan, barat, timur, atau ke mana pun  sehingga tidak muncul keteraturan dan kesatuan.
    Agar semua umat Islam bersatu, maka diperintahkan oleh Allah agar semua wajahnya menghadap ke arah satu kiblat saja, yaitu ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
       Dengan adanya satu kiblat, maka semua umat Islam di seluruh penjuru dunia ketika salat tampak bersatu menghadapkan wajahnya ke satu arah, yaitu menghadap ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
     Umat Islam yang berada di sebelah barat Kakbah, salatnya menghadap ke arah timur dan umat Islam yang berada di sebelah timur Kakbah, salatnya menghadap ke arah barat, begitu seterusnya.
      Ke-3, orang Islam adalah orang yang pertama kali menggambar peta dunia, mereka menggambar peta dunia dengan meletakkan selatan di atas peta dan utara di bawah peta, sedangkan posisi Kakbah berada di tengah-tengah pusat dunia.
      Kemudian para ahli dari Barat menggambar peta dunia, mereka meletakkan utara di atas peta dan selatan di bawah peta. Meskipun demikian, Kakbah tetap terletak di tengah-tengah pusat peta dunia.
      Ke-4, umat Islam tawaf berjalan kaki berputar mengelilingi Kakbah sebanyak 7 kali yang menandakan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Kuasa yaitu Allah dan sebagai keimanan dan penyembahan kepada satu Tuhan, sebagaimana setiap lingkaran hanya memiliki satu titik pusat.
      Hal ini menandakan bahwa hanya terdapat satu Tuhan dalam seluruh alam semesta, yaitu cuma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
      Ke-5, Umar bin Khaththab berkata, “Aku tahu bahwa Hajar Aswad hanya sebuah batu yang tidak bisa memberikan kebaikan atau kerugian. Seandainya aku tidak  melihat Nabi Muhammad menyentuh dan menciumnya, maka aku tidak akan pernah menyentuh dan menciumnya.”
      Ke-6, Pada zaman Nabi Muhammad, orang Islam berdiri di atas Kabah untuk mengumandangkan azan seruan untuk mengerjakan salat lima waktu berjamaah di masjid yang membuktikan bahwa mereka tidak menyembah Kakbah, karena tak ada orang yang berani menginjak sesuatu yang disembahnya.
      Ke-7, Nabi Muhammad selama 17 bulan salat menghadap ke Masjid Aqsa di Palestina, kemudian berubah menghadap ke Kakbah di Masjidil Haram Mekah, karena diperintah oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

793. SEMBAH

UMAT ISLAM TAK MENYEMBAH KAKBAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang bukti bahwa umat Islam tidak menyembah Kakbah?” Dr. Zakir Naik menjelaskannya.

       
      Ke-1, Kakbah adalah arah atau kiblat umat Islam menghadapkan wajahnya ketika melaksanakan salat, tetapi umat Islam tidak menyembah Kakbah, meskipun wajahnya menghadap Kakbah.
      Umat Islam salat menghadap Kakbah karena diperintah oleh Allah sesuai surah Al-Baqarah, surah ke-2,  ayah 144. 

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

      “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkan mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkan mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
        Ke-2, Islam percaya pengembangan kesatuan untuk seluruh dunia. Jika tidak ada kiblat yang menyatukan arah, maka umat Islam akan melakukan salat ke arah mana saja yang disukainya.
      Apabila tidak ada kiblat, maka sebagian umat Islam ketika melakukan salat, akan  menghadapkan wajahnya ke arah utara, selatan, barat, timur, atau ke mana pun  sehingga tidak muncul keteraturan dan kesatuan.
    Agar semua umat Islam bersatu, maka diperintahkan oleh Allah agar semua wajahnya menghadap ke arah satu kiblat saja, yaitu ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
       Dengan adanya satu kiblat, maka semua umat Islam di seluruh penjuru dunia ketika salat tampak bersatu menghadapkan wajahnya ke satu arah, yaitu menghadap ke arah Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.
     Umat Islam yang berada di sebelah barat Kakbah, salatnya menghadap ke arah timur dan umat Islam yang berada di sebelah timur Kakbah, salatnya menghadap ke arah barat, begitu seterusnya.
      Ke-3, orang Islam adalah orang yang pertama kali menggambar peta dunia, mereka menggambar peta dunia dengan meletakkan selatan di atas peta dan utara di bawah peta, sedangkan posisi Kakbah berada di tengah-tengah pusat dunia.
      Kemudian para ahli dari Barat menggambar peta dunia, mereka meletakkan utara di atas peta dan selatan di bawah peta. Meskipun demikian, Kakbah tetap terletak di tengah-tengah pusat peta dunia.
      Ke-4, umat Islam tawaf berjalan kaki berputar mengelilingi Kakbah sebanyak 7 kali yang menandakan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Kuasa yaitu Allah dan sebagai keimanan dan penyembahan kepada satu Tuhan, sebagaimana setiap lingkaran hanya memiliki satu titik pusat.
      Hal ini menandakan bahwa hanya terdapat satu Tuhan dalam seluruh alam semesta, yaitu cuma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
      Ke-5, Umar bin Khaththab berkata, “Aku tahu bahwa Hajar Aswad hanya sebuah batu yang tidak bisa memberikan kebaikan atau kerugian. Seandainya aku tidak  melihat Nabi Muhammad menyentuh dan menciumnya, maka aku tidak akan pernah menyentuh dan menciumnya.”
      Ke-6, Pada zaman Nabi Muhammad, orang Islam berdiri di atas Kabah untuk mengumandangkan azan seruan untuk mengerjakan salat lima waktu berjamaah di masjid yang membuktikan bahwa mereka tidak menyembah Kakbah, karena tak ada orang yang berani menginjak sesuatu yang disembahnya.
      Ke-7, Nabi Muhammad selama 17 bulan salat menghadap ke Masjid Aqsa di Palestina, kemudian berubah menghadap ke Kakbah di Masjidil Haram Mekah, karena diperintah oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

792. UTAMA HAJAR





KEUTAMAAN HAJAR ASWAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M



Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang keutamaan Hajar Aswad menurut agama Islam?” Berikut ini penjelasannya.
            Para ulama menjelaskan bahwa Kakbah dibangun dan direnovasi minimal dua belas kali sepanjang sejarah, tetapi beberapa riwayat tersebut dapat dipercaya dan ada yang meragukan. 
      Pembangunan dan renovasi Kakbah yang dapat dipercaya adalah:  para malaikat, Nabi Adam, Nabi Syis bin Nabi Adam, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Amaliqah, Jurhum, Qushai bin Kilab, Quraisy, Abdullah bin Zubair (65 Hijrah), Hujai bin Yusuf (74 Hijrah), Sultan Murad Usmani (1040 Hijrah), Raja Fahd bin Abdul Aziz (1417 Hijrah).
      Abdullah bin Umar berkata,”Ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi Allah berfirman,’Aku menurunkanmu beserta sebuah rumah yang digunakan untuk tawaf seperti Arsy-Ku dan sekitarnya dipakai untuk salat seperti Arsy-Ku’.”
      Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail, diperintah oleh Allah utuk membangun Kakbah kembali di atas pondasi semula dengan bahan-bahan bebatuan yang diambil dari lima gunung yaitu: Hira, Tsabir, Laban, Thur, dan Khair.
      Kemudian Nabi Ibrahim berdoa seperti dalam Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 37.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
   
       “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
      Hajar Aswad adalah batu yang tertanam di pojok selatan Kakbah pada ketinggian 1,1 meter di atas lantai  yang tertanam dalam batu besar yang dikelilingi perak dengan ukuran panjang 25 cm dan lebar 17 cm.
      Awalnya, Hajar Aswad berupa satu bongkahan berdiameter sekitar 30 cm, tetapi sekarang berkeping-keping menjadi 8 gugusan batu kecil karena Hajar Aswad dipecah pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syiah Ismaililyah, yang membawa Hajar Aswad ke Kuffah pada tahun 319 Hijrah dan dikembalikan tahun 339 Hijrah.
      Hajar Aswad berupa 8 gugusan batu kecil itulah yang disunahkan oleh Nabi Muhammad untuk mencium dan menyalaminya, bukan lapisan perak dan bukan batu yang mengelilinginya.
      Hajar Aswad menjadi patokan bagi jamaah haji dan umrah dalam melakukan tawaf untuk memulai dan mengakhiri tawaf sebanyak 7 kali mengelilingi Kakbah dengan berjalan kaki atau memakai kursi roda berputar berlawanan arah jarum jam, artinya Kakbah sekalu berada di sebelah kiri jamaah.
      Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Hajar Aswad turun dari surga berwarna putih lebih putih daripada susu, dan dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam.”
      Nabi Besabda,“Hajar Aswad adalah batu yang berasal dari surga yang semula berwarna putih yang lebih putih daripada salju dan dosa kaum musyrik yang membuatnya menjadi hitam.”
      Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Allah akan mengutus Hajar Aswad pada hari kiamat kelak, karena dia bisa melihat dan bisa berbicara yang akan menjadi saksi bagi orang yang benar-benar menyentuhnya.”
     Zaman dahulu Kakbah dikelilingi banyak berhala milik kaum musyrik sejumlah 365 berhala, sampai akhirnya Hajar Aswad berubah warna menjadi hitam karena dosa kemusyrikan manusia di sekitarnya.
     Mencium Hajar Aswad dan menyalaminya bukan tindakan menyembah batu dan menghormati batu yang hanya berupa benda mati, tetapi karena mematuhi perintah Allah dan perintah Nabi Muhammad.
      Umar bin Khattab berkata, “Aku mencium Hajar Aswad padahal aku tahu Hajar Aswad hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Nabi Muhammad mencium Hajar Aswad,  maka aku tidak akan mencium Hajar Aswad.”
      Adab dan etika sewaktu mencium Hajar Aswad adalah berikut ini.
      Ke-1, jamaah dilarang saling mendorong dan menyakiti jamaah lainnya. Mencium Hajar Aswad hukumnya sunah, sedangkan  tidak menyakiti orang lain hukumnya wajib, sehingga umat Islam dilarang mengerjakan yang sunah, tetapi dengan meninggalkan kewajiban.
      Ibnu Abas berkata,”Janganlah umat Islam saling berebut ingin mencium Hajar Aswad dengan menyakiti atau disakiti sesamanya.”
     Sehingga bertakbir dan mengangkat tangan kanan untuk memberi salam terhadap Hajar Aswad lebih disukai daripada mencium Hajar Aswad, tetapi dengan menyakiti umat Islam yang lain.
      Ke-2, kaum wanita dilarang memaksa ikut berdesakan dalam keramaian jamaah kaum pria untuk mencium Hajar Aswad, tetapi jika kondisinya memungkinkan maka kaum wanita diizinkan untuk mencium Hajar Aswad.
      Ke-3, sewaktu mencium Hajar Aswad dilarang mengeluarkan suara keras dengan mengangkat kedua tangan ke atas.
      Ke-4, dilarang berhenti untuk berdoa maupun salat di sepanjang garis di depan Hajar Aswad untuk memulai dan mengakhiri tawaf, karena akan mengganggu jamaah lainnya, terutama pada jam padat pengunjung.
      Keutamaan Hajar Aswad adalah berikut ini.
      Pertama, Hajar Aswad adalah batu mulia yang berasal dari surga dikirimkan kepada Nabi Ibrahim agar dipasang disudut Kakbah. Kedua, Nabi Muhammad meletakkan Hajar Aswad dengan tangan beliau sendiri ke dinding Kakbah ketika direnovasi oleh kaum Qurasiy.
      Ketiga, Nabi Muhammad, para Nabi, dan para orang-orang saleh mencium Hajar Aswad, sehingga Hajar Aswad menjadi tempat bertemunya bibir para orang-orang suci dan beriman kepada Allah sepanjang sejarah.
      Keempat, sekitar Hajar Aswad tempat yang mustajab (doa yang dikabulkan). Kelima, di depan Hajar Aswad tempat memulai dan mengakhiri tawaf. Keenam, Hajar Aswad menjadi saksi yang menguntungkan bagi orang-orang saleh di akhirat kelak.
Daftar Pustaka
1.  Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam (Hukum Fikih Lengkap). Penerbit Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke-80, Bandung. 2017.
2.  Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
3.  Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
4.  Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
5.  Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Yogyakarta. 2000.
6.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7.  Tafsirq.com online



792. UTAMA HAJAR





KEUTAMAAN HAJAR ASWAD
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M



Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang keutamaan Hajar Aswad menurut agama Islam?” Berikut ini penjelasannya.
            Para ulama menjelaskan bahwa Kakbah dibangun dan direnovasi minimal dua belas kali sepanjang sejarah, tetapi beberapa riwayat tersebut dapat dipercaya dan ada yang meragukan. 
      Pembangunan dan renovasi Kakbah yang dapat dipercaya adalah:  para malaikat, Nabi Adam, Nabi Syis bin Nabi Adam, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Amaliqah, Jurhum, Qushai bin Kilab, Quraisy, Abdullah bin Zubair (65 Hijrah), Hujai bin Yusuf (74 Hijrah), Sultan Murad Usmani (1040 Hijrah), Raja Fahd bin Abdul Aziz (1417 Hijrah).
      Abdullah bin Umar berkata,”Ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi Allah berfirman,’Aku menurunkanmu beserta sebuah rumah yang digunakan untuk tawaf seperti Arsy-Ku dan sekitarnya dipakai untuk salat seperti Arsy-Ku’.”
      Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail, diperintah oleh Allah utuk membangun Kakbah kembali di atas pondasi semula dengan bahan-bahan bebatuan yang diambil dari lima gunung yaitu: Hira, Tsabir, Laban, Thur, dan Khair.
      Kemudian Nabi Ibrahim berdoa seperti dalam Al-Quran surah Ibrahim, surah ke-14 ayat 37.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
   
       “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
      Hajar Aswad adalah batu yang tertanam di pojok selatan Kakbah pada ketinggian 1,1 meter di atas lantai  yang tertanam dalam batu besar yang dikelilingi perak dengan ukuran panjang 25 cm dan lebar 17 cm.
      Awalnya, Hajar Aswad berupa satu bongkahan berdiameter sekitar 30 cm, tetapi sekarang berkeping-keping menjadi 8 gugusan batu kecil karena Hajar Aswad dipecah pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syiah Ismaililyah, yang membawa Hajar Aswad ke Kuffah pada tahun 319 Hijrah dan dikembalikan tahun 339 Hijrah.
      Hajar Aswad berupa 8 gugusan batu kecil itulah yang disunahkan oleh Nabi Muhammad untuk mencium dan menyalaminya, bukan lapisan perak dan bukan batu yang mengelilinginya.
      Hajar Aswad menjadi patokan bagi jamaah haji dan umrah dalam melakukan tawaf untuk memulai dan mengakhiri tawaf sebanyak 7 kali mengelilingi Kakbah dengan berjalan kaki atau memakai kursi roda berputar berlawanan arah jarum jam, artinya Kakbah sekalu berada di sebelah kiri jamaah.
      Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Hajar Aswad turun dari surga berwarna putih lebih putih daripada susu, dan dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam.”
      Nabi Besabda,“Hajar Aswad adalah batu yang berasal dari surga yang semula berwarna putih yang lebih putih daripada salju dan dosa kaum musyrik yang membuatnya menjadi hitam.”
      Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Allah akan mengutus Hajar Aswad pada hari kiamat kelak, karena dia bisa melihat dan bisa berbicara yang akan menjadi saksi bagi orang yang benar-benar menyentuhnya.”
     Zaman dahulu Kakbah dikelilingi banyak berhala milik kaum musyrik sejumlah 365 berhala, sampai akhirnya Hajar Aswad berubah warna menjadi hitam karena dosa kemusyrikan manusia di sekitarnya.
     Mencium Hajar Aswad dan menyalaminya bukan tindakan menyembah batu dan menghormati batu yang hanya berupa benda mati, tetapi karena mematuhi perintah Allah dan perintah Nabi Muhammad.
      Umar bin Khattab berkata, “Aku mencium Hajar Aswad padahal aku tahu Hajar Aswad hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Nabi Muhammad mencium Hajar Aswad,  maka aku tidak akan mencium Hajar Aswad.”
      Adab dan etika sewaktu mencium Hajar Aswad adalah berikut ini.
      Ke-1, jamaah dilarang saling mendorong dan menyakiti jamaah lainnya. Mencium Hajar Aswad hukumnya sunah, sedangkan  tidak menyakiti orang lain hukumnya wajib, sehingga umat Islam dilarang mengerjakan yang sunah, tetapi dengan meninggalkan kewajiban.
      Ibnu Abas berkata,”Janganlah umat Islam saling berebut ingin mencium Hajar Aswad dengan menyakiti atau disakiti sesamanya.”
     Sehingga bertakbir dan mengangkat tangan kanan untuk memberi salam terhadap Hajar Aswad lebih disukai daripada mencium Hajar Aswad, tetapi dengan menyakiti umat Islam yang lain.
      Ke-2, kaum wanita dilarang memaksa ikut berdesakan dalam keramaian jamaah kaum pria untuk mencium Hajar Aswad, tetapi jika kondisinya memungkinkan maka kaum wanita diizinkan untuk mencium Hajar Aswad.
      Ke-3, sewaktu mencium Hajar Aswad dilarang mengeluarkan suara keras dengan mengangkat kedua tangan ke atas.
      Ke-4, dilarang berhenti untuk berdoa maupun salat di sepanjang garis di depan Hajar Aswad untuk memulai dan mengakhiri tawaf, karena akan mengganggu jamaah lainnya, terutama pada jam padat pengunjung.
      Keutamaan Hajar Aswad adalah berikut ini.
      Pertama, Hajar Aswad adalah batu mulia yang berasal dari surga dikirimkan kepada Nabi Ibrahim agar dipasang disudut Kakbah. Kedua, Nabi Muhammad meletakkan Hajar Aswad dengan tangan beliau sendiri ke dinding Kakbah ketika direnovasi oleh kaum Qurasiy.
      Ketiga, Nabi Muhammad, para Nabi, dan para orang-orang saleh mencium Hajar Aswad, sehingga Hajar Aswad menjadi tempat bertemunya bibir para orang-orang suci dan beriman kepada Allah sepanjang sejarah.
      Keempat, sekitar Hajar Aswad tempat yang mustajab (doa yang dikabulkan). Kelima, di depan Hajar Aswad tempat memulai dan mengakhiri tawaf. Keenam, Hajar Aswad menjadi saksi yang menguntungkan bagi orang-orang saleh di akhirat kelak.
Daftar Pustaka
1.  Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam (Hukum Fikih Lengkap). Penerbit Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke-80, Bandung. 2017.
2.  Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
3.  Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
4.  Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
5.  Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Yogyakarta. 2000.
6.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
7.  Tafsirq.com online