Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, July 5, 2019

2553. DATANGNYA HARI KIAMAT


Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kapan datangnya hari kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
1.    Hari Kiamat (menurut KBBI V) adalah hari kebangkitan sesudah mati, yaitu orang yang telah meninggal dunia dihidupkan kembali untuk diadili perbuatannya, atau hari kiamat adalah hari akhir zaman, artinya dunia seisinya rusak binasa dan lenyap.
2.    Al-Quran dan hadis Nabi yang membahas tentang hari akhir dari bermacam-macam aspek, tidak membicarakan sedikit pun tentang kapan datangnya hari kiamat.
3.    Bahkan secara tegas dalam berbagai ayat Al-Quran dan hadis Nabi menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu datangnya hari kiamat.
4.    Al-Quran An-Naziat (surah ke-79) ayat 42-44.

يَسْأَلُونَكَعَنِالسَّاعَةِأَيَّانَمُرْسَاهَافِيمَأَنْتَمِنْذِكْرَاهَاإِلَىٰرَبِّكَمُنْتَهَاهَا

    
      (Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)?
5.    Banyak ayat Al-Quran yang mengandung makna serupa, dan hadis Nabi menginformasikan bahwa malaikat Jibril pernah bertanya kepada Nabi Muhammad dalam rangka mendidik umat Islam, “Kapankah datangnya hari kiamat?”
6.    Rasulullah bersabda, “Yang ditanya tentang hari kiamat, tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.”
7.    Al-Quran Al-Isra (surah ke-17)  ayat 51.
أَوْخَلْقًامِمَّايَكْبُرُفِيصُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَمَنْيُعِيدُنَا ۖ قُلِالَّذِيفَطَرَكُمْأَوَّلَمَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُونَإِلَيْكَرُءُوسَهُمْوَيَقُولُونَمَتَىٰهُوَ ۖ قُلْعَسَىٰأَنْيَكُونَقَرِيبًا

       Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu". Maka mereka akan bertanya: "Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakan: "Yang telah menciptakanmu pada kali yang pertama". Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakan: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat",
8.    Al-Quran Al-Qamar (surah ke-54) ayat 1.

اقْتَرَبَتِالسَّاعَةُوَانْشَقَّالْقَمَرُ

      Telah dekat (datangnya) kiamat itu dan telah terbelah bulan.
9.    Al-Quran surah Al-Anbiya’(surah ke-21)  ayat 1.

اقْتَرَبَلِلنَّاسِحِسَابُهُمْوَهُمْفِيغَفْلَةٍمُعْرِضُونَ

     Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).
10. Nabi Muhammad bersabda, “Aku diutus dengan perbandingan waktu antara zaman diutusku dengan hari kiamat adalah seperti ini”. (Rasulullah menggandengkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan beliau).
11. Hadis itu dapat diartikan bahwa saat terjadinya hari kiamat adalah dekat dengan zaman Nabi Muhammad diutus menjadi rasul.
12. Tetapi  arti dekat itu tidak bisa dipahami bahwa kedekatan itu hanya dalam arti besok, 1.000 atau 10.000 tahun ke depan.
13. Mungkin yang dimaksudkan “dekat” adalah apabila dibandingkan dengan umur alam semesta yang telah berlalu ratusan tahun, dapat juga hadis Nabi dan ayat Al-Quran tersebut tidak menginformasikan kedekatan dalam arti waktu.
14. Nabi Muhammad diperintahkan menjawab pertanyaan kapan terjadinya hari kiamat dengan jawaban, “Boleh jadi, hari kiamat sudah dekat”.
15. Al-Quran surah Al-Anbiya’(surah ke-21) ayat 1 di atas menggunakan kata kerja masa lampau untuk sesuatu yang belum terjadi, artinya hari kiamat adalah sesuatu yang pasti terjadi.
16. Yang dimaksudkan hari kiamat sudah “dekat” adalah hari kiamat “pasti datangnya”.
17. Semua hal yang akan datang adalah dekat, dan segala yang telah berlalu dan tidak akan kembali adalah jauh”.
18. Agaknya informasi Al-Quran tentang kedekatan terjadinya hari kiamat adalah lebih dimaksudkan agar menjadikan manusia selalu siap menghadapi kehadirannya.
19. Al-Quran surah Yusuf (surah ke-12)  ayat 107.

أَفَأَمِنُواأَنْتَأْتِيَهُمْغَاشِيَةٌمِنْعَذَابِاللَّهِأَوْتَأْتِيَهُمُالسَّاعَةُبَغْتَةًوَهُمْلَايَشْعُرُونَ

     Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedangkan mereka tidak menyadarinya?
20. Al-Quran menjelaskan bahwa pihak yang bertanya tentang waktu kedatangan hari kiamat adalah orang-orang musyrik, bukan orang-orang yang beriman.
21. Orang-orang musyrik meminta agar hari kiamat segera didatangkan, tetapi orang-orang yang beriman merasa takut akan kedatangan hari kiamat.
22. Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa hari kiamat adalah benar dan pasti terjadi.

23. Al-Quran surah Asy- Syura (surah ke-42)  ayat 18.

يَسْتَعْجِلُبِهَاالَّذِينَلَايُؤْمِنُونَبِهَا ۖ وَالَّذِينَآمَنُوامُشْفِقُونَمِنْهَاوَيَعْلَمُونَأَنَّهَاالْحَقُّ ۗ أَلَاإِنَّالَّذِينَيُمَارُونَفِيالسَّاعَةِلَفِيضَلَالٍبَعِيدٍ

    Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.
24. Ketakutan dan kekhawatiran tentang terjadinya hari kiamat akan mengantarkan orang yang beriman untuk melakukan sebanyak mungkin amal perbuatan yang baik, sehingga mereka dapat memperoleh kebahagiaan abadi di akhirat.

DaftarPustaka
1.    Shihab, M. Quraish. Lentera Hati. Kisahdan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5.    Tafsirq.com online.

2552. JEMBATAN SHIRATHAL -2


JEMBATAN SHIRATHAL-2
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang jembatan “shirathal” menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
1.    Pengadilan pada hari akhirat menggunakan “timbangan” yang sangat adil  sehingga tidak ada pihak yang teraniaya sedikit pun.
2.     Al-Quran surah Al-Anbiya (surah ke-21) ayat 47.

وَنَضَعُالْمَوَازِينَالْقِسْطَلِيَوْمِالْقِيَامَةِفَلَاتُظْلَمُنَفْسٌشَيْئًا ۖ وَإِنْكَانَمِثْقَالَحَبَّةٍمِنْخَرْدَلٍأَتَيْنَابِهَا ۗ وَكَفَىٰبِنَاحَاسِبِينَ

      Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, sehingga tidak ada orang yang dirugikan sedikit pun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pasti Kami mendatangkan (pahala) nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.
3.    Apakah timbangan itu sesuatu yang bersifat material atau hanya kiasan tentang keadilan mutlak, tidaklah banyak pengaruhnya dalam akidah, selama diyakini bahwa ketika itu tidak ada lagi penganiayaan sedikit pun.

4.    Al-Quran surah Al-A'raf (surah ke-7) ayat 8-9.
وَالْوَزْنُيَوْمَئِذٍالْحَقُّ ۚ فَمَنْثَقُلَتْمَوَازِينُهُفَأُولَٰئِكَهُمُالْمُفْلِحُونَ
وَمَنْخَفَّتْمَوَازِينُهُفَأُولَٰئِكَالَّذِينَخَسِرُواأَنْفُسَهُمْبِمَاكَانُوابِآيَاتِنَايَظْلِمُونَ

   Timbangan pada hari itu adalah kebenaran (keadilan), maka siapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka orang-orang yang beruntung, dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
5.    Al-Quran surah Al-Haqqah (surah ke-69) ayat 19-31.

فَأَمَّامَنْأُوتِيَكِتَابَهُبِيَمِينِهِفَيَقُولُهَاؤُمُاقْرَءُواكِتَابِيَهْإِنِّيظَنَنْتُأَنِّيمُلَاقٍحِسَابِيَهْ
فَهُوَفِيعِيشَةٍرَاضِيَةٍفِيجَنَّةٍعَالِيَةٍقُطُوفُهَادَانِيَةٌكُلُواوَاشْرَبُواهَنِيئًابِمَاأَسْلَفْتُمْفِيالْأَيَّامِالْخَالِيَةِوَأَمَّامَنْأُوتِيَكِتَابَهُبِشِمَالِهِفَيَقُولُيَالَيْتَنِيلَمْأُوتَكِتَابِيَهْ
وَلَمْأَدْرِمَاحِسَابِيَهْيَالَيْتَهَاكَانَتِالْقَاضِيَةَمَاأَغْنَىٰعَنِّيمَالِيَهْ ۜ
هَلَكَعَنِّيسُلْطَانِيَهْخُذُوهُفَغُلُّوهُثُمَّالْجَحِيمَصَلُّوهُ.

     Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, “Ambil, bacalah kitabku (ini)”.Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku, maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lampau”.
     Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini),dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, hartaku sekali-kali tidak memberikan manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaanku dariku”. (Allah berfirman), “Peganglah dia lalu belenggu tangannya ke lehernya, Kemudian masukkan dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”.
6.    Al-Quran surah As-Shaffat (surah ke-37) ayat 22-23 menjelaskan bahwa dalam perjalanan menuju surga atau neraka, maka manusia melalui jalan yang disebut “sirathal”.

۞ احْشُرُواالَّذِينَظَلَمُواوَأَزْوَاجَهُمْوَمَاكَانُوايَعْبُدُونَ
مِنْدُونِاللَّهِفَاهْدُوهُمْإِلَىٰصِرَاطِالْجَحِيمِ.

     (Kepada malaikat diperintahkan), “Kumpulkan orang-orang yang zalim dan  teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah, maka tunjukkan kepada mereka jalan sirathal ke neraka”.
7.    Al-Quran surah Ya Sin (surah ke-36) ayat 66.
وَلَوْنَشَاءُلَطَمَسْنَاعَلَىٰأَعْيُنِهِمْفَاسْتَبَقُواالصِّرَاطَفَأَنَّىٰيُبْصِرُونَ
.
      “Dan jikalau Kami menghendaki pasti Kami menghapuskan penglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, maka betapa mereka dapat melihat (nya)”.
8.    Al-Quran surah Maryam (surah ke-19) ayat 71-72.
وَإِنْمِنْكُمْإِلَّاوَارِدُهَا ۚ كَانَعَلَىٰرَبِّكَحَتْمًامَقْضِيًّا
ثُمَّنُنَجِّيالَّذِينَاتَّقَوْاوَنَذَرُالظَّالِمِينَفِيهَاجِثِيًّا
      Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.
9.    Berdasarkan ayat Al-Quran di atas, maka sebagian ulama berpendapat bahwa terdapat jalan yang dinamakan “shirathal” berupa “jembatan” yang harus dilalui oleh setiap orang yang akan menuju surga.
10. Di bawah jalan berupa “jembatan” itu terdapat neraka dengan segala tingkatannya.
11. Orang-orang mukmin akan melewati jembatan “sirathal” dengan kecepatan dan cara sesuai dengan kualitas ketakwaan mereka.
1)    Ada orang yang melewati jembatan “sirathal” bagaikan kilat.
2)    Ada yang seperti angin berhembus.
3)    Ada yang secepat lajunya kuda.
4)    Ada yang merangkak, tetapi akhirnya sampai juga di surga.
12. Orang-orang kafir akan melewati jembatan “sirathal” dan menelusurinya.ir
13. Orang-orang kafir berjatuhan ke dalam neraka sesuai dengan tingkat kedurhakaan mereka.
14. Kata “sirath” berasal dari kata “saratha” yang arti harfiahnya adalah “menelan”.
15. Kata “sirath” bisa diartikan “jalan yang lebar”, karena lebarnya maka seolah-olah jalan itu menelan setiap orang yang berjalan melewatinya.
16. Terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa jembatan “sirathal” adalah jembatan yang lebih tipis daripada rambut yang dibelah tujuh dan lebih tajam dibandingkan dengan pedang.
17.  Sebagian ulama yang sangat rasional menolak pendapat bahwa jembatan “sirathal” adalah “jembatan” yang lebih tipis daripada rambut yang dibelah tujuh dan lebih tajam dibandingkan dengan  pedang.
18. Akidah Islam harus berdasarkan dalil Al-Quran dan hadis Nabi yang pasti.
19. Penafsiran tentang adanya jembatan “sirathal” bukan termasuk masalah akidah.

Daftar Pustaka
1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5.    Tafsirq.com online.

2552. JEMBATAN SHIRATHAL -2


JEMBATAN SHIRATHAL-2
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang jembatan “shirathal” menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
1.    Pengadilan pada hari akhirat menggunakan “timbangan” yang sangat adil  sehingga tidak ada pihak yang teraniaya sedikit pun.
2.     Al-Quran surah Al-Anbiya (surah ke-21) ayat 47.

وَنَضَعُالْمَوَازِينَالْقِسْطَلِيَوْمِالْقِيَامَةِفَلَاتُظْلَمُنَفْسٌشَيْئًا ۖ وَإِنْكَانَمِثْقَالَحَبَّةٍمِنْخَرْدَلٍأَتَيْنَابِهَا ۗ وَكَفَىٰبِنَاحَاسِبِينَ

      Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, sehingga tidak ada orang yang dirugikan sedikit pun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pasti Kami mendatangkan (pahala) nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.
3.    Apakah timbangan itu sesuatu yang bersifat material atau hanya kiasan tentang keadilan mutlak, tidaklah banyak pengaruhnya dalam akidah, selama diyakini bahwa ketika itu tidak ada lagi penganiayaan sedikit pun.

4.    Al-Quran surah Al-A'raf (surah ke-7) ayat 8-9.
وَالْوَزْنُيَوْمَئِذٍالْحَقُّ ۚ فَمَنْثَقُلَتْمَوَازِينُهُفَأُولَٰئِكَهُمُالْمُفْلِحُونَ
وَمَنْخَفَّتْمَوَازِينُهُفَأُولَٰئِكَالَّذِينَخَسِرُواأَنْفُسَهُمْبِمَاكَانُوابِآيَاتِنَايَظْلِمُونَ

   Timbangan pada hari itu adalah kebenaran (keadilan), maka siapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka orang-orang yang beruntung, dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
5.    Al-Quran surah Al-Haqqah (surah ke-69) ayat 19-31.

فَأَمَّامَنْأُوتِيَكِتَابَهُبِيَمِينِهِفَيَقُولُهَاؤُمُاقْرَءُواكِتَابِيَهْإِنِّيظَنَنْتُأَنِّيمُلَاقٍحِسَابِيَهْ
فَهُوَفِيعِيشَةٍرَاضِيَةٍفِيجَنَّةٍعَالِيَةٍقُطُوفُهَادَانِيَةٌكُلُواوَاشْرَبُواهَنِيئًابِمَاأَسْلَفْتُمْفِيالْأَيَّامِالْخَالِيَةِوَأَمَّامَنْأُوتِيَكِتَابَهُبِشِمَالِهِفَيَقُولُيَالَيْتَنِيلَمْأُوتَكِتَابِيَهْ
وَلَمْأَدْرِمَاحِسَابِيَهْيَالَيْتَهَاكَانَتِالْقَاضِيَةَمَاأَغْنَىٰعَنِّيمَالِيَهْ ۜ
هَلَكَعَنِّيسُلْطَانِيَهْخُذُوهُفَغُلُّوهُثُمَّالْجَحِيمَصَلُّوهُ.

     Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, “Ambil, bacalah kitabku (ini)”.Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku, maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lampau”.
     Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini),dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, hartaku sekali-kali tidak memberikan manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaanku dariku”. (Allah berfirman), “Peganglah dia lalu belenggu tangannya ke lehernya, Kemudian masukkan dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”.
6.    Al-Quran surah As-Shaffat (surah ke-37) ayat 22-23 menjelaskan bahwa dalam perjalanan menuju surga atau neraka, maka manusia melalui jalan yang disebut “sirathal”.

۞ احْشُرُواالَّذِينَظَلَمُواوَأَزْوَاجَهُمْوَمَاكَانُوايَعْبُدُونَ
مِنْدُونِاللَّهِفَاهْدُوهُمْإِلَىٰصِرَاطِالْجَحِيمِ.

     (Kepada malaikat diperintahkan), “Kumpulkan orang-orang yang zalim dan  teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah, maka tunjukkan kepada mereka jalan sirathal ke neraka”.
7.    Al-Quran surah Ya Sin (surah ke-36) ayat 66.
وَلَوْنَشَاءُلَطَمَسْنَاعَلَىٰأَعْيُنِهِمْفَاسْتَبَقُواالصِّرَاطَفَأَنَّىٰيُبْصِرُونَ
.
      “Dan jikalau Kami menghendaki pasti Kami menghapuskan penglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, maka betapa mereka dapat melihat (nya)”.
8.    Al-Quran surah Maryam (surah ke-19) ayat 71-72.
وَإِنْمِنْكُمْإِلَّاوَارِدُهَا ۚ كَانَعَلَىٰرَبِّكَحَتْمًامَقْضِيًّا
ثُمَّنُنَجِّيالَّذِينَاتَّقَوْاوَنَذَرُالظَّالِمِينَفِيهَاجِثِيًّا
      Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.
9.    Berdasarkan ayat Al-Quran di atas, maka sebagian ulama berpendapat bahwa terdapat jalan yang dinamakan “shirathal” berupa “jembatan” yang harus dilalui oleh setiap orang yang akan menuju surga.
10. Di bawah jalan berupa “jembatan” itu terdapat neraka dengan segala tingkatannya.
11. Orang-orang mukmin akan melewati jembatan “sirathal” dengan kecepatan dan cara sesuai dengan kualitas ketakwaan mereka.
1)    Ada orang yang melewati jembatan “sirathal” bagaikan kilat.
2)    Ada yang seperti angin berhembus.
3)    Ada yang secepat lajunya kuda.
4)    Ada yang merangkak, tetapi akhirnya sampai juga di surga.
12. Orang-orang kafir akan melewati jembatan “sirathal” dan menelusurinya.ir
13. Orang-orang kafir berjatuhan ke dalam neraka sesuai dengan tingkat kedurhakaan mereka.
14. Kata “sirath” berasal dari kata “saratha” yang arti harfiahnya adalah “menelan”.
15. Kata “sirath” bisa diartikan “jalan yang lebar”, karena lebarnya maka seolah-olah jalan itu menelan setiap orang yang berjalan melewatinya.
16. Terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa jembatan “sirathal” adalah jembatan yang lebih tipis daripada rambut yang dibelah tujuh dan lebih tajam dibandingkan dengan pedang.
17.  Sebagian ulama yang sangat rasional menolak pendapat bahwa jembatan “sirathal” adalah “jembatan” yang lebih tipis daripada rambut yang dibelah tujuh dan lebih tajam dibandingkan dengan  pedang.
18. Akidah Islam harus berdasarkan dalil Al-Quran dan hadis Nabi yang pasti.
19. Penafsiran tentang adanya jembatan “sirathal” bukan termasuk masalah akidah.

Daftar Pustaka
1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5.    Tafsirq.com online.

2552. JEMBATAN SHIRATHAL -2


JEMBATAN SHIRATHAL-2
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang jembatan “shirathal” menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
1.    Pengadilan pada hari akhirat menggunakan “timbangan” yang sangat adil  sehingga tidak ada pihak yang teraniaya sedikit pun.
2.     Al-Quran surah Al-Anbiya (surah ke-21) ayat 47.

وَنَضَعُالْمَوَازِينَالْقِسْطَلِيَوْمِالْقِيَامَةِفَلَاتُظْلَمُنَفْسٌشَيْئًا ۖ وَإِنْكَانَمِثْقَالَحَبَّةٍمِنْخَرْدَلٍأَتَيْنَابِهَا ۗ وَكَفَىٰبِنَاحَاسِبِينَ

      Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, sehingga tidak ada orang yang dirugikan sedikit pun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pasti Kami mendatangkan (pahala) nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.
3.    Apakah timbangan itu sesuatu yang bersifat material atau hanya kiasan tentang keadilan mutlak, tidaklah banyak pengaruhnya dalam akidah, selama diyakini bahwa ketika itu tidak ada lagi penganiayaan sedikit pun.

4.    Al-Quran surah Al-A'raf (surah ke-7) ayat 8-9.
وَالْوَزْنُيَوْمَئِذٍالْحَقُّ ۚ فَمَنْثَقُلَتْمَوَازِينُهُفَأُولَٰئِكَهُمُالْمُفْلِحُونَ
وَمَنْخَفَّتْمَوَازِينُهُفَأُولَٰئِكَالَّذِينَخَسِرُواأَنْفُسَهُمْبِمَاكَانُوابِآيَاتِنَايَظْلِمُونَ

   Timbangan pada hari itu adalah kebenaran (keadilan), maka siapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka orang-orang yang beruntung, dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
5.    Al-Quran surah Al-Haqqah (surah ke-69) ayat 19-31.

فَأَمَّامَنْأُوتِيَكِتَابَهُبِيَمِينِهِفَيَقُولُهَاؤُمُاقْرَءُواكِتَابِيَهْإِنِّيظَنَنْتُأَنِّيمُلَاقٍحِسَابِيَهْ
فَهُوَفِيعِيشَةٍرَاضِيَةٍفِيجَنَّةٍعَالِيَةٍقُطُوفُهَادَانِيَةٌكُلُواوَاشْرَبُواهَنِيئًابِمَاأَسْلَفْتُمْفِيالْأَيَّامِالْخَالِيَةِوَأَمَّامَنْأُوتِيَكِتَابَهُبِشِمَالِهِفَيَقُولُيَالَيْتَنِيلَمْأُوتَكِتَابِيَهْ
وَلَمْأَدْرِمَاحِسَابِيَهْيَالَيْتَهَاكَانَتِالْقَاضِيَةَمَاأَغْنَىٰعَنِّيمَالِيَهْ ۜ
هَلَكَعَنِّيسُلْطَانِيَهْخُذُوهُفَغُلُّوهُثُمَّالْجَحِيمَصَلُّوهُ.

     Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, “Ambil, bacalah kitabku (ini)”.Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku, maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lampau”.
     Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini),dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, hartaku sekali-kali tidak memberikan manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaanku dariku”. (Allah berfirman), “Peganglah dia lalu belenggu tangannya ke lehernya, Kemudian masukkan dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”.
6.    Al-Quran surah As-Shaffat (surah ke-37) ayat 22-23 menjelaskan bahwa dalam perjalanan menuju surga atau neraka, maka manusia melalui jalan yang disebut “sirathal”.

۞ احْشُرُواالَّذِينَظَلَمُواوَأَزْوَاجَهُمْوَمَاكَانُوايَعْبُدُونَ
مِنْدُونِاللَّهِفَاهْدُوهُمْإِلَىٰصِرَاطِالْجَحِيمِ.

     (Kepada malaikat diperintahkan), “Kumpulkan orang-orang yang zalim dan  teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah, maka tunjukkan kepada mereka jalan sirathal ke neraka”.
7.    Al-Quran surah Ya Sin (surah ke-36) ayat 66.
وَلَوْنَشَاءُلَطَمَسْنَاعَلَىٰأَعْيُنِهِمْفَاسْتَبَقُواالصِّرَاطَفَأَنَّىٰيُبْصِرُونَ
.
      “Dan jikalau Kami menghendaki pasti Kami menghapuskan penglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, maka betapa mereka dapat melihat (nya)”.
8.    Al-Quran surah Maryam (surah ke-19) ayat 71-72.
وَإِنْمِنْكُمْإِلَّاوَارِدُهَا ۚ كَانَعَلَىٰرَبِّكَحَتْمًامَقْضِيًّا
ثُمَّنُنَجِّيالَّذِينَاتَّقَوْاوَنَذَرُالظَّالِمِينَفِيهَاجِثِيًّا
      Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.
9.    Berdasarkan ayat Al-Quran di atas, maka sebagian ulama berpendapat bahwa terdapat jalan yang dinamakan “shirathal” berupa “jembatan” yang harus dilalui oleh setiap orang yang akan menuju surga.
10. Di bawah jalan berupa “jembatan” itu terdapat neraka dengan segala tingkatannya.
11. Orang-orang mukmin akan melewati jembatan “sirathal” dengan kecepatan dan cara sesuai dengan kualitas ketakwaan mereka.
1)    Ada orang yang melewati jembatan “sirathal” bagaikan kilat.
2)    Ada yang seperti angin berhembus.
3)    Ada yang secepat lajunya kuda.
4)    Ada yang merangkak, tetapi akhirnya sampai juga di surga.
12. Orang-orang kafir akan melewati jembatan “sirathal” dan menelusurinya.ir
13. Orang-orang kafir berjatuhan ke dalam neraka sesuai dengan tingkat kedurhakaan mereka.
14. Kata “sirath” berasal dari kata “saratha” yang arti harfiahnya adalah “menelan”.
15. Kata “sirath” bisa diartikan “jalan yang lebar”, karena lebarnya maka seolah-olah jalan itu menelan setiap orang yang berjalan melewatinya.
16. Terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa jembatan “sirathal” adalah jembatan yang lebih tipis daripada rambut yang dibelah tujuh dan lebih tajam dibandingkan dengan pedang.
17.  Sebagian ulama yang sangat rasional menolak pendapat bahwa jembatan “sirathal” adalah “jembatan” yang lebih tipis daripada rambut yang dibelah tujuh dan lebih tajam dibandingkan dengan  pedang.
18. Akidah Islam harus berdasarkan dalil Al-Quran dan hadis Nabi yang pasti.
19. Penafsiran tentang adanya jembatan “sirathal” bukan termasuk masalah akidah.

Daftar Pustaka
1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5.    Tafsirq.com online.