Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, December 8, 2020

7976. TUGASNYA RASULULLAH MENYAMPAIKAN

 


TUGASNYA RASULULLAH MENYAMPAIKAN

Oleh:Drs.H.M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

 

Al-Quran surah Al-Nahl (surah ke-16) ayat 80.

 

 

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

 

     

 

 

Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa) nya pada waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

 

 

 

Al-Quran surah Al-Nahl (surah ke-16) ayat 81.

 

 

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

     

     

 

Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang menjagamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang menjagamu dalam peperangan. Demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).

 

 

 

Al-Quran surah Al-Nahl (surah ke-16) ayat 82.

 

 

 

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

 

    

 

 

Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanya menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.

Al-Quran surah Al-Nahl (surah ke-16) ayat 83.

 

 

 

 

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

     

     

 

 

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.

 

 

 

Asbabun nuzul (penyebab turunnya) surah Al-Nahl (surah ke-16) ayat 82 dan 83.

 

 

 

1.                Mujahid menjelaskan ayat ini turun berkenaan dengan orang Badui yang mendatangi Rasulullah.

 

 

2.                Pada suatu hari, orang Badui mendatangi Rasulullah dan bertanya tentang Allah.

 

 

3.                Rasulullah bersabda dengan membacakan QS (16:80).

4.                Badui itu berkata,”Ya benar.”

 

 

5.                Rasulullah melanjutkan bersabda dengan QS (16:81).

 

 

6.                Setelah selesai QS (16:81), Badui itu berpaling dan tidak masuk Islam.

 

 

7.                Kemudian turun ayat 82 dan 83 ini, yang menjelaskan Rasulullah hanya bertugas menyampaikan amanah Allah dengan jelas.

 

 

8.                Artinya, Rasulullah tidak dapat memberi taufik dan hidayah kepada seseorang agar beriman.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.    Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

2.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3.    Tafsirq.com online.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7975. SEMUA ORANG PASTI MATI TAPI DIANGGAP REMEH

 


SEMUA ORANG PASTI MATI TAPI DIANGGAP REMEH

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

 

 

 

Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata,”Sungguh mencengangkan dan sangat mengherankan. Saya tidak pernah melihat sesuatu yang serius lagi pasti, tetapi dianggap remeh seperti tidak akan terjadi, yaitu mati.”

 

 

 

Khalifah Ali bin Abi Thalib melanjutkan,”Saya juga tidak melihat sesuatu yang pasti akan ditinggalkan lagi kecil, tetapi diperebutkan seperti sesuatu yang besar lagi kekal, yaitu dunia yang fana ini.”

 

 

Ucapan yang hampir sama, tetapi dengan kandungan yang berbeda, dapat dikaitkan dengan salat, "Saya sungguh bingung dan tercengang menyangkut tentang  salat, apakah salat sudah tidak dibutuhkan lagi, karena salat sudah diulang-ulang  setiap hari, sehingga salat dikerjakan dengan  asal-asalan saja?”

Di dalam kereta api jarang terlihat orang yang sedang melakukan salat, tetapi begitu tiba di stasiun, orang berduyun-duyun untuk melakukan salat.

 

 

Apakah mereka tidak tahu bahwa selama perjalanan dibolehkan salat di dalam kereta api yang sedang berjalan, bahkan diizinkan  menjamak salat dalam perjalanan?

Perintah salat dalam Al-Quran, selalu dimulai dengan kata “aqimu” (kecuali 2 ayat, atau bahkan Cuma 1 ayat).

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 43.

 

 

                              وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

   

      Dan dirikan salat, tunaikan zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.

 

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 110.

 

 

 

                              وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

    

    

 

Dan dirikan salat dan tunaikan zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

 

 

 

Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 77.

 

 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

 

 

 

   

 Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka,”Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikan salat dan tunaikan zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata,”Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?”

Katakan:”Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun”.

 

 

Kata “aqimu” biasanya diterjemahkan dengan “mendirikan”, meskipun sebenarnya terjemahan itu tidak tepat.

 

 

Kata “aqimu” bukan terambil dari kata “qama” yang artinya “berdiri”, tetapi kata “aqimu” artinya “bersinambung dan sempurna”.

 

 

Perintah “aqimus salah” artinya “melaksanakan salat dengan baik, khusyuk dan bersinambung sesuai dengan syarat rukun dan sunahnya.”

Al-Quran surah Al-Maun(surah ke-107) ayat 4-7.

 

 

 

                          فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ  الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

         

 

 

Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.  

 

 

Inti dari salat adalah berdoa.

 

 

Arti harfiah kata “salat” adalah “doa”.

 

 

Doa adalah keinginan dan kebutuhan manusia yang dimohonkan kepada Allah agar bersedia menganugerahkan keperluan manusia selama hidup di dunia dan akhirat.

 

 

Ketika kita berdoa atau bermohon kepada seseorang, kita harus merasakan kelemahan dan kebutuhan kita di hadapan orang yang kita mintai pertolongan yang dibuktikan dengan perkataan, sikap, dan perilaku.

 

 

Orang yang melaksanakan salat adalah orang yang butuh kepada Allah dan  mendambakan bantuan dari Allah.

 

 

Sangat wajar apabila kita juga bersedia  membantu sesamanya yang membutuhkan bantuan pertolongan.

 

 

Rasulullah bersabda,”Allah akan membantu mencukupi kebutuhan seseorang yang suka membantu saudaranya yang membutuhkan pertolongan”.

 

 

Orang yang sudah melaksanakan salat, tetapi masih enggan memberikan bantuan kepada sesamanya yang membutuhkan pertolongan, artinya dia lalai akan makna salatnya.

 

 

 

Daftar Pustaka

1.              Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   

2.              Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.              Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.              Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.              Tafsirq.com online

7974. TELUR AYAM SEBAIKNYA DICUCI SEBELUM DIMASAK

 



TELUR AYAM SEBAIKNYA DICUCI SEBELUM DIMASAK

Oleh:Drs.H.M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

 

TELUR AYAM SEBAIKNYA DICUCI

 

Telur ayam  keluar dari dubur ayam

 

 

Dubur ayam mengandung najis.

 

 

Najis adalah kotoran (tinja, air kencing).

 

 

Najis adalah kotor yang menjadi sebab terhalangnya  seseorang untuk beribadah kepada Allah.

 

 

 

Pendapat ulama tentang kulit telur ayam.

 

Pendapat ke-1: Najis.

 

 

Pendapat ke-2: Suci.

 

 

Pendapat ke-1:

 

Kulit telur ayam hukumnya najis

 

 

1)     Karena telur melalui kemaluan hewan yang basah.

 

2)     Jika akan dimasak, maka telurnya harus dicuci terlebih dahulu karena kulitnya terkena najis.

 

 

3)     Jika tidak dicuci akan menyebabkan isi telur di dalamnya menyentuh bagian luarnya, sehingga ikut terkena najis.

 

 

Pendapat ke-2:

Kulit telur ayam hukumnya suci.

 

 

1)     Bagian luar telur yang keluar dari kemaluan hewan dan tidak menyentuh najis lainnya hukumnya suci .

 

 

2)     Sehingga telurnya tidak harus dicuci, sebelum dimasak.

 

Kesimpulannya:

 

 

1.      Telur ayam sebaiknya dibersihkan dengan air yang suci dan menyucikan, sebelum dipecah untuk dimasak isinya.

 

 

2.      Sebaiknya telur ayam dibersihkan dari najis basah maupun kering yang menempel di kulitnya sebelum dimasak.

 

 

 

(Sumber: internet)

 

 

 

 

 

 

 


7973. IBADAH HAJI PERLU BEKAL

 


IBADAH HAJI PERLU BEKAL

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

BEKAL DALAM IBADAH HAJI

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 197.

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ


 

 

 

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.




 

 

 

Asbabun nuzul (penyebab turunnya) ayat 197.

 

 

 

1.              Ibnu Abbas berkata,”Orang-orang Yaman mengerjakan ibadah haji di Mekah tanpa membawa bekal.”

 

 

2.              Mereka berkata,”Kami bertawakal (berserah diri) kepada Allah.”

 

 

3.              Tetapi setibanya di Madinah, mereka meminta-minta kepada orang-orang.

4.              Kemudian Allah menurunkan ayat ini.

 

 

Di antara larangan selama berihram untuk jemaah haji / umrah adalah rafas, fasik, dan jidal.

 

 

 

Rafas adalah perkataan yang menimbulkan berahi, perkataan yang tidak senonoh, atau hubungan seksual.

 

 

 

RAFAS

 

Rafas adalah mengeluarkan perkataan tidak senonoh yang mengandung unsur porno (cabul), senda  gurau berlebihan yang menimbulkan nafsu berahi (syahwat), termasuk hubungan badan (bersetubuh).

 

 

FASIK

 

Fasik adalah semua perbuatan maksiat yang disadari atau tidak disadari oleh orang yang berbuat, antara lain:

 

 

1.             Sombong, angkuh, atau takabur.

 

2.             Sikap, perkataan, atau perbuatan yang merugikan atau menyakiti orang lain.

 

3.             Bersikap zalim terhadap orang lain, misalnya mengambil hak orang lain atau merugikan orang lain.

4.             Berbuat sesuatu yang dapat menodai akidah dan keimanan kepada Allah.

 

5.             Merusak lingkungan atau makhluk lain tanpa alasan yang benar.

 

6.             Menghasut dan memprovokasi orang lain agar berbuat maksiat.

 

 

JIDAL

Jidal adalah semua sikap dan perbuatan yang mengarah pada perdebatan, perselisihan, dan permusuhan yang diiringi dengan nafsu amarah, meskipun dengan alasan untuk mempertahankan kebenaran dan memperjuangkan haknya, misalnya:

 

 

1.      Berbantahan untuk berebut kamar tidur, toilet, dan kamar mandi.

2.      Termasuk melakukan demontrasi terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.

 

Bermusyawarah dan berdiskusi tentang masalah agama yang dilakukan dengan cara yang baik, sopan, dan santun untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama dibolehkan.

 

 

DaftarPustaka

1.                Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, DilengkapidenganAsbabunNuzuldanTerjemah. PenerbitPustakaMaghfirah, Jakarta 2011.

2.                Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3.                Tafsirq.com online.