Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, December 9, 2020

7994. KAUM QURAISY MELANGGAR SUMPAHNYA SENDIRI

 


KAUM QURAISY MELANGGAR SUMPAHNYA SENDIRI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

Al-Quran surah Fathir (surah ke-35) ayat 42.

 

 

 

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلَّا نُفُورًا

 

 

 

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sungguh-sungguh bahwa jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tetapi ketika pemberi peringatan datang kepada mereka, kedatangannya tidak menambah kepada mereka, bahkan mereka semakin jauh dari (kebenaran).

 

 

 

Al-Quran surah Fathir (surah ke-35) ayat 43.

 

 

 

اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَببْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

 

     

 

 

Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanya menunggu berlakunya ketentuan kepada orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapat perubahan bagi Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah.

 

 

 

Asbabun nuzul (penyebab turunnya) surah Fathir (surah ke-35) ayat 42 dan 43.

 

 

 

1.      Ibnu Abi Hilal menjelaskan ayat ini turun berkenaan dengan ucapan kaum Quraisy.

 

 

2.      Kaum Quraisy berkata,”Jika Allah mengutus nabi dari golongan kami, maka kami akan menjadi satu-satunya umat yang lebih taat kepada Tuhan dan nabi kami, dan kukuh mengikuti kitab kami.”

 

 

3.      Kemudian turun ayat 42 dan 43 ini.

 

 

 

Daftar Pustaka

1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3. Tafsirq.com online.

7993. DI SURGA SERBA MENYENANGKAN TAK ADA LELAH DAN TAK ADA TIDUR

 


DI SURGA SERBA MENYENANGKAN TAK ADA LELAH DAN TAK ADA TIDUR

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

 

 

Al-Quran surah Fathir (surah ke-35) ayat 34.

 

 

 

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

 

    

 

Dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan  dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

 

 

 

Al-Quran surah Fathir (surah ke-35) ayat 35.

 

 

الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

 

   

 

 

 Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga), di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu".

 

 

 

Asabun nuzul (penyebab turunnya) surah Fathir (surah ke-35) ayat 34 dan 35.

 

 

 

1.      Abdullah bin Aufa menjelaskan ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan seorang pria kepada Rasulullah.

 

 

2.      Dia bertanya,”Ya Rasulullah, tidur adalah termasuk nikmat di dunia. Apakah kelak kita juga akan tidur di surga?”

 

 

3.      Rasulullah bersabda,”Tidak, karena tidur adalah temannya mati, sedangkan di surga tidak ada kematian.”

 

 

4.      Dia bertanya lagi,”Bagaimana cara istirahat di surga?”

 

 

5.      Rasulullah bersabda,”Di surga tidak ada rasa lelah, semuanya serba menyenangkan.”

 

 

6.      Kemudian turun ayat 34 dan 35 ini.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3. Tafsirq.com online.

7992. TAK ADA LELAH DAN TAK ADA TIDUR DI SURGA

 


TAK ADA LELAH DAN TAK ADA TIDUR DI SURGA

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

 

 

Al-Quran surah Fathir (surah ke-35) ayat 34.

 

 

 

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

 

    

 

Dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan  dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

 

 

 

Al-Quran surah Fathir (surah ke-35) ayat 35.

 

 

الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

 

   

 

 

 Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga), di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu".

 

 

 

Asabun nuzul (penyebab turunnya) surah Fathir (surah ke-35) ayat 34 dan 35.

 

 

 

1.      Abdullah bin Aufa menjelaskan ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan seorang pria kepada Rasulullah.

 

 

2.      Dia bertanya,”Ya Rasulullah, tidur adalah termasuk nikmat di dunia. Apakah kelak kita juga akan tidur di surga?”

 

 

3.      Rasulullah bersabda,”Tidak, karena tidur adalah temannya mati, sedangkan di surga tidak ada kematian.”

 

 

4.      Dia bertanya lagi,”Bagaimana cara istirahat di surga?”

 

 

5.      Rasulullah bersabda,”Di surga tidak ada rasa lelah, semuanya serba menyenangkan.”

 

 

6.      Kemudian turun ayat 34 dan 35 ini.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3. Tafsirq.com online.

7991. SEMUT BETINA BICARA DENGAN NABI SULAIMAN



 SEMUT BETINA BICARA DENGAN NABI SULAIMAN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

JANGAN MENJADI ULAMA YANG SOMBONG

 

Pada suatu hari, seorang ulama sombong masuk ke dalam Masjid Rushafah.

 

 

Ulama yang sombong mengumumkan kepada para hadirin,

 

 

”Silakan bertanya apa saja, saya akan menjawab pertanyaan yang paling sulit sekali pun.”

 

lmam Hanafi bertanya,”Semut yang berbicara dengan Nabi Sulaiman itu jantan atau betina?”

 

 

Ulama sombong itu terdiam beberapa saat dan menjawab,”Aku tak tahu.”

 

 

lmam Hanafi berkata,”Dia semut betina.”

 

“Apa dalilnya?” tanya ulama itu.

 

 

Al-Quran surah An-Naml (surah ke-27) ayat 18.

 

 

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ


 

 

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.

 

 


lmam Hanafi berkata,

 

 

”Sebenarnya aku tak ingin bertanya.

 

Tapi aku ingin berpesan, janganlah kamu menyombongkan kemampuanmu.”



 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.      Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013. 

2.      Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.      Tafsirq.com online.     

 

 

7990. IMAM HANAFI MENGUJI ULAMA SOMBONG

 


IMAM HANAFI MENGUJI ULAMA SOMBONG

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

JANGAN MENJADI ULAMA YANG SOMBONG

 

Pada suatu hari, seorang ulama sombong masuk ke dalam Masjid Rushafah.

 

 

Ulama yang sombong mengumumkan kepada para hadirin,

 

 

”Silakan bertanya apa saja, saya akan menjawab pertanyaan yang paling sulit sekali pun.”

 

lmam Hanafi bertanya,”Semut yang berbicara dengan Nabi Sulaiman itu jantan atau betina?”

 

 

Ulama sombong itu terdiam beberapa saat dan menjawab,”Aku tak tahu.”

 

 

lmam Hanafi berkata,”Dia semut betina.”

 

“Apa dalilnya?” tanya ulama itu.

 

 

Al-Quran surah An-Naml (surah ke-27) ayat 18.

 

 

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ


 

 

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.

 

 


lmam Hanafi berkata,

 

 

”Sebenarnya aku tak ingin bertanya.

 

Tapi aku ingin berpesan, janganlah kamu menyombongkan kemampuanmu.”



 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.      Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013. 

2.      Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.      Tafsirq.com online.     

 

 

7989. SIAPA YANG BERHAK DISEBUT AHLI

 


SIAPA YANG BERHAK DISEBUT AHLI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

ADA 1 SOAL DENGAN SOLUSI BERBEDA DARI 3 AHLINYA

 

 

Seorang pria bertanya,”Semalam aku minum khamr, aku tak tahu apakah aku telah menceraikan istriku atau tidak?”

 

 

JAWABAN BERBEDA DARI 3 AHLINYA

 

 

IMAM HANAFI

 

“Wanita itu tetap istrimu, sampai kamu yakin benar-benar menceraikannya.”

 

 

 

SUFYAN ATS-TSAURI.

 

 

“Rujuklah dan perbarui akad nikah dengan istrimu.

 

Jika kamu telah bercerai, maka telah rujuk.

 

Jika kamu tidak bercerai, maka tak ada risiko apa pun.”

 

 

 

SYURAIK BIN ABDULLAH

 

 

“Ceraikan istrimu, lalu rujuklah dan menikah lagi dengan dia.”

 

 

ANALOGNYA

 

Kamu melintas di selokan najis, hingga pakaianmu basah.

 

 

Kemudian kamu bertanya status hukumnya.

 

 

1.      IMAM HANAFI

 

Bajumu tetap suci, sampai kamu yakin benar-benar terkena najis.

 

 

2.      SUFYAN ATS-TSAURI.

 

Cuci pakaianmu.

Jika bajumu terkena najis, maka menjadi suci.

Jika bajumu suci, maka semakin bersih.

 

 

3.      SYURAIK BIN ABDULLAH

 

Kencingi bajumu, lalu cucilah agar menjadi suci.

 

 

 

 

 

 

SOAL:

 

Siapakah yang berhak disebut ahli.

 

 

Apakah orang yang sudah bergelar Profesor doktor dalam bidangnya.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.      Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013. 

2.      Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.      Tafsirq.com online.