Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, July 12, 2021

10393. PIKIRAN DILAWAN PIKIRAN ITU DEMOKRASI

 





PIKIRAN  DILAWAN PIKIRAN ITU DEMOKRASI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

MENGEJA ALIF BA TA DEMOKRASI.

 

 Pikiran mestinya dilawan dengan pikiran.

 

Negara kita dulu percaya bahwa pikiran harus dikontrol sejak dini.

  

Negara menentukan apa yang boleh dibaca dan boleh dikatakan.

  

Lalu pemerintah menyelenggarakan kewajiban penataran.

  

Sebagai dalih agar kelak bisa berkata,

  

”lni yang boleh dan ini yang tidak boleh secara sepihak.”.

  

Tapi kita telah hentikan kekeliruan itu.

  

Demokrasi kita sebagai jiwa konstitusi UUD 1945 percaya perbedaan pendapat adalah berkah.

  

“Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk berserikat, berkumpul, menyatakan pendapat secara lisan maupun tulisan”.

  

Konstitusi kita sekarang percaya bahwa ide hanya bisa dilawan dengan ide.

  

Pikiran hanya bisa dilawan dengan pikiran.

  

Kekuasaan sebesar apa pun tidak bisa memusnahkan pikiran.

 

 

Demikian hukum besi sejarah.

  

Pikiran selalu punya cara untuk menang di depan kekuasaan sebesar apa pun.

  

Pikiran Nabil brahim.

 

Argumen pikiran melawan kekuasaan kita dengar dalam sejarah pemuda Ibrahim di depan Raja Namrudz.

  

Ibrahim adalah pemuda Good Looking yang cerdas mempertanyakan tradisi menyembah berhala.

Secara monumental agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) menyebutnya “bapak monotheisme”.

 

 Pikiran Nabi Muhammad.

  

Nabi Muhammad SAW, pemuda Good Looking datang dengan ide “Islam” yang segar di tengah gersang jahiliah.

  

Banyak orang tertarik.

  

Tapi kaum “mapan” mencoba mematikannya dengan kekuasaan.

 

 Bahkan rencana pembunuhan dilakukan dan juga perang.

  

Apa yang terjadi?

  

Ide Islam bersemi dan sampai sekarang menjadi agama yang terus berkembang.

Sehingga kita di Indonesia menjadi pemeluk Islam terbesar di dunia.

Ini karena ide.

  

Jika ide itu benar, maka tidak bisa dilawan.

  

Kebenaran ide hanya bisa dilawan ide.

  

Dengan membuktikannya salah!

 

Pikiran Komunis.

 

Sekarang apa yang terjadi dengan komunisme?

  

Ide komunisme mulai hilang di dunia.

 

 Bukan karena diperangi.

 

 Tetapi karena ia tidak benar.

  

Di Amerika dan di semua negara demokrasi ide komunis masih ada.

  

Tetapi tidak bisa menang.

 

 Karena idenya kalah dalam pertandingan.

  

Idenya salah!

 

Jika partai komunis di Indonesia tidak melakukan pengkhianatan, maka PKI di Indonesia tidak akan dilarang.

  

Komunis akan mati dengan sendirinya.

  

Bahkan di negara yang partai komunis masih menjadi nama para penguasanya.

Komunisme hanya tinggal bungkus belaka.

  

Pikiran UUD 1945.

  

Konstitusi UUD 1945 adalah jalan pikiran.

  

Negara mengambil untung dari perbedaan pendapat.

 

 

Bahkan Negara memfasilitasi perbedaan pendapat.

  

Dengan melindungi kebebasan berkumpul dan berserikat.

  

Apakah kalian sudah mengerti?

  

Apakah kalian susah mengerti?

  

Saya paham jika banyak yang tidak mengerti.

  

Karena demokrasi adalah ide yang susah dan tidak mudah dipahami.

Tetapi setidaknya seandainya para penguasa mau mendengar saja.

  

Tentu ceritanya beda.

  

Saya mohon maaf menulissoal-soal elementer ini.

 

 Coretan kecil ini sayabuat agar kaum intelektual.

  

Di samping Pak Menteri Agama mulai mengeja kembali.

 

 

Alif ba ta dari demokrasi kita.

  

Tak akan sulit jika kita mau.

 (Sumber:fahri hamzah)

 

110392. CARA HIDUP TERBAIK ADALAH YANG SEIMBANG

 







CARA HIDUP TERBAIK ADALAH YANG SEIMBANG

Oleh: Drs. H M Yusron Hadi, MM

 

 

TEORI JALAN TENGAH

Semua yang baik dan utama disebut: Iktidalat.

 

Yaitu seimbang dan serasi.

 

Hakikat seimbang adalah pertengahan antara ekstrem kurang dan ekstrem lebih.

 

 Al-Wasath adalah pertengahan.

 

Posisi tengah adalah keadaan jiwa yang membawa kepada situasi utama.

Al-fadilat adalah situasi utama.

 

Posisi tengah al-bahimiyah adalah al-iffah.

Yaitu kesucian diri.

 

Posisi tengah al-ghatbiyah adalah al-syajaah.

Yaitu keberanian.

 

Posisi tengah al-natiqat adalah al-hikmah.

Yaitu kebijaksanaan.

 

Posisi tengah gabungannya adalah al-adalah.

Yaitu keadilan.

 

 

Dalam hidup perlu seimbang antara harapan dan ketakutan.

 

Harapan itu gas.

 

Dan ketakutan itu rem.

 

Memakai gas dan rem harus seimbang.

 

Harus tahu kapan pakai gas.

 

Dan kapan pakai rem.

 

Jika pakai gas terus, hidup akan bahaya.

 

Tapi jika pakai rem terus, kehidupan tak pernah maju.

 

Kita harus tahu kapan waktunya ngerem.

 

 Dan kapan waktunya ngegas.

 

Kapan waktunya bicara.

 Dan kapan waktunya diam.

 

Tahu kapan jalan dan tahu kapan berhenti.

 

Hal itu dalam filsafat disebut kebijaksanaan.

 

 

Orang bijaksana itu tahu kapan dia harus maju.

Dan kapan dia harus mundur.

 

Dia tahu waktunya di depan.

Dan dia tahu waktunya di belakang saja.

 

Itu bijaksana.

 

 

Ada yang memisalkan harapan dan ketakutan.

 

 

Seperti 2 sayap burung.

 

Jika keduanya fungsional.

 

Maka burung bisa terbang dengan baik.

 

Harapan adalah terjadi hal baik di depan.

 

Ketakutan adalah terjadi hal jelek di depan.

 

Harapan dan ketakutan itu manusiawi.

 

Semua orang terkadang punya rasa takut, gelisah, sedih, dan galau.

 

 

Di balik semua peristiwa yang terjadi.

 

Ada ketakutan tersembunyi.

 

Misalnya, takut jagonya kalah.

 

Takut organisasinya runtuh.

Takut nama baiknya hancur.

 

Dan jenis takut lainnya.

 

Manfaat takut adalah untuk menjaga diri.

 

Agar selamat.

 

Misalnya, naik sepeda motor takut kehujanan.

 

Maka membawa jas hujan.

 

Jika kehujanan nanti takut sakit.

 

 

Harapan dan ketakutan harus dikelola dengan baik

 

 

Agar hidup bisa seimbang dan baik.

 

 

(Sumber Ngaji Filsafat Dr Fahrudin Faiz)