Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, May 8, 2024

33913. TAK ADA KISAH 72 BIDADARI DI ALQURAN

 


TAK ADA KISAH 72 BIDADARI DALAM ALQURAN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Makna Bidadari dalam Tafsir Quraish Shihab

 

Bidadari berasal dari bahasa Sansekerta “Vidhyadharī”.

 

Artinya makhluk manusia jenis wanita.

Yang tinggal di Kahyangan.

 

Dalam keyakinan agama Hindu.

  

Tugas dan fungsi bidadari.

Yaitu penyampai pesan para dewa kepada manusia.

 

 Dalam Islam.

Bidadari adalah pasangan para penghuni surga.

  

Dalam Al-Quran, bidadari disebut ‘huur‘.

  

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan.

 

Bahwa istilah ‘huur’ bentuk kata  bebas kelamin.

 

Artinya bisa diartikan “wanita” atau “pria”.

 

‘Huur’ diciptakan sesuai keinginan si penghuni.

 

 

Tergantung hasrat kecenderungannya.

 

Kesan yang dimunculkan kata ‘huur’ terkait dengan:

 

 1.              Keindahan.

2.              Kesetiaan.

 

3.              Pengabdian.

4.              Pasangan serasi.

 5.              Dan lainnya.

 

 

Keberadaan ‘huur’ sesuatu yang gaib.

 

Belum bisa ditemukan padanannya dalam kehidupan dunia.

 

Pikiran manusia bebas menafsirkan sosoknya.

  

Asalkan tidak terlepas dari sifat.

Dan ciri melekat pada kata itu.

  

Bukan hanya terbatas pada bentuk wanita cantik.

 

Seperti pemahaman kita tentang bidadari.

  

Berdasar Tafsir Quraish Shihab tentang makna "huur".

 

Di Surga bisa memilih “lingkungan sosial” .

Yang sesuai hasratnya.

 

Jika suka dunia spiritual.

Bisa memilih “lingkungan sosial” serba santri.

 

Yang majelis zikirnya.

Tiap saat memuji kebesaran Allah.

  

Jika bakat “playboy“.

Bisa memilih pasangan di surge.

Yaitu wanita cantik luar biasa.

  

Jika cinta kehidupan keluarga.

Bisa memilih keluarga.

Dan lingkungan ideal.

  

DALAM AL-QURAN TAK ADA 72 BIDADARI

 

 

Tidak ada satu ayat pun dalam Al Quran.

 

 Yang mengatakan pria masuk surga mendapat 72 bidadari.

  

Yang ada adalah pria dan wanita  masuk surge.

Akan mendapat pasangan suci.

  

Pria mendapat pasangan suci.

  

Dan wanita mendapat pasangan  suci.

 

 

Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 57.

  

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا

 

Dan orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya punya pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat teduh lagi nyaman.

  

Al-Quran surah At-Tur (surah ke-52) ayat 20.

 

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ ۖ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

 

 Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari bermata jeli.

 

  

APAKAH BIDADARI ITU

 

Al-Quran surah Al-Waqiah (surah ke-56) ayat 35-37.

  

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً

 

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung (tak lewat proses kelahiran).

  

فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا

 

Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.

 

عُرُبًا أَتْرَابًا

 

Penuh cinta (dan) sebaya umurnya.

  

Al-Quran surah Ar-Rahman (surah ke-55) ayat 56.

 

 

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

 

Dalam surga ada bidadari-bidadari sopan yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh manusia dan jin sebelumnya.

 

Kenapa pria diiming-imingi  bidadari cantik?

 

Karena pria di dunia cenderung takluk dengan wanita cantik.

 

Naturalnya begitu.

 

 

Wanita masuk surga dapat apa?

 

Al-Quran surah Az-Zukhruf (surah ke-43) ayat 71.

 

 

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

Diedarkan kepada mereka piring-piring dan piala dari emas, dan di dalam surga ada segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata.

Dan kamu kekal di dalamnya".

  

Penghuni surga mendapat perhiasan indah.

Dan segala apa yang diinginkan.

 

Mau pasangan (suami) tinggal minta.

 

Langsung datang pasangan suci.

Yang tidak selingkuh dan tak kasar.

  

Kenapa wanita diimingi perhiasan indah?

 

 

Karena wanita di dunia.

Cenderung kepada perhiasan, pakaian, rumah nyaman, pasangan setia dan penyayang.

  

(Sumber kompasiana.com)

 

33912. MANUSIA HIDUP SEBENTAR SULIT NILAI KEADILAN ALLAH

 


MANUSIA HIDUP SEBENTAR SULIT NILAI KEADILAN ALLAH

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 


Nabi Musa di bukit Sinai. Selama 40 hari. Terima wahyu dari Allah. Lewat malaikat Jibril. Berupa kita Taurat.

 

Pada hari ke-30.

Nabi Musa berdoa,

 

“Ya Allah. Ampuni dosa hamba. Sebab hamba lancang.

 

Hamba ingin melihat sendiri bahwa Engkau Maha Adil.”

 

Malaikat Jibril berkata,

“Wahai Musa. Allah mendengar doamu. Apakah kamu tak yakin bahwa Allah Maha Adil?”

 

Musa menjawab,

“Ya Allah ampuni hamba. Hamba sudah yakin Allah Maha Adil.

 

Tapi hamba ingin melihat sendiri. Bahwa Engkau Maha Adil.”

 

Malaikat Jibril berkata,

“Wahai Musa. Allah memberi salam padamu.

 

Jika kamu ingin melihat keadilan Allah. Pergilah mendekat sumber air.”

Kemudian Nabi Musa mendekat sumber air. Lalu bersembunyi.  Untuk melihat peristiwa yang akan terajadi.

 

Tak berapa lama.

Muncul ksatria penunggang kuda. Membawa sarung berisi pedang di punggungnya.

 

Dan membawa sekantung uang. Menggantung di pinggang kirinya.

 

Penunggang kuda turun ke sumber air. Dia mencuci muka dan menimati air sepuasnya.

 

Beberapa saat kemudian. Dia meninggalkan sumber air. Tapi sekantung uang tertinggal tergeletak dekat sumber air.

 

Panunggang kuda berlalu. Muncul anak kecil umur 9 tahun. Dia mendekat sumber air mengisi kantung airnya.

 

Anak kecil temukan sekantung uang. Dan membawanya pergi.

 

Anak kecil menjauh. Orang tua buta mendengar gemericik air. Lalu mendatanginya.

 

Orang tua buta mencuci muka dan bersuci. Lalu dia salat.

 

Beberapa saat kemudian. Ksatria berkuda dengan cepat balik ke sumber air.

 

Dia mencari uangnya yang hilang. Tapi tak ditemukan.

Penunggang kuda teriak,

“Hai orang tua. Apakah kamu mengambil sekantung uangku. Yang tertinggal di sini.”

 

Si orang tua menjawab,

“Maaf, Nak. Saya buta. Tak tahu ada uang sekantung yang tertinggal.

 

Penunggang kuda dan orang tua bertengkar hebat.

Akhirnya, orang tua buta mati terbunuh.

Penunggang kuda pergi menjauh. Meninggalkan mayat tergeletak.

 

Nabi Musa menyaksikan semua. Dari tempat sembunyi.

 

Nabi Musa bergumam,

Sungguh tak adil. Yang bersalah anak kecil. Sebab dia yang ambil uangnya.

Tapi orang tua buta mati terbunuh.

 

Malaikat Jibril berkata,

“Wahai Musa. Kamu tak bisa menilai keadilan Allah. Sebab kamu hanya melihat peristiwa sepotong saja.

 

Kamu tak bisa melihat semua rangkaian peristiwa.

 

      Malaikat Jibril berkata,

“Orang tua si anak kecil.

Pernah ikut bekerja pada penunggang kuda.

Dan dia belum terima gajinya.

 

Penunggang kuda belum membayar gajinya.

Selama di

 selama bekerja.”
     

Malaikat Jibril melanjutkan,

“Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu jumlah gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “

 

Orang tua si anak sudah meninggal, karena dibunuh seseorang, dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
    

 

Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini, yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sekilas saja

 

.”  
Daftar Pustaka

1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2.
Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011