Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, July 10, 2024

34136. GINTING JIKA TIDAK MAKA YA LOGIKA JOKOWI TERBALIK

 


GINTING JIKA TIDAK MAKA YA JOKOWI LOGIKA TERBALIK

Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Komunikasi politik

Presiden Jokowi

 

Kerap buat bingung rakyat.

 Sesuatu yang diucapkan.

 

Terkadang berbanding terbalik.

Dengan kenyataan.

 

Contohnya.

Anggota keluarganya.

Ikut kontestasi politik.

 

Menurut analis politik

Universitas Nasional (Unas)

 

Selamat Ginting jelaskan.

Pahami komunikasi politik Jokowi.

Dengan logika terbalik.

 

Artinya.

Pernyataan diucapkan.

Berbeda dengan tindakannya.

 

“Jika Jokowi bilang “tidak”.

Maka artinya “iya”.

 

Juga dalam kasus anak-anaknya.

Gibran dan sekarang Kaesang,” kata Ginting.

 

 Selasa (9/7/2024).

 

Dulu Jokowi.

Tak setuju.

 

Wali Kota Solo Gibran.

Jadi calon wakil presiden.

 

Tapi seiring berjalannya waktu.

Mulai berubah.

 

Gibran terpilih wakil presiden.

Periode 2024-2029.

 

“Memang sudah terlihat.

Ambisi politik Jokowi.

 

Tempatkan putranya dan menantunya.

Tampil jadi Kepala Daerah.

 

1)     Gubernur.

2)     Wali Kota.

3)     Wakil Presiden,” nilai Ginting.

 

Menurutnya.

Jokowi diduga promosi.

 

Anak sulungnya.

Pada Pilpres 2024.

 

Kondisi serupa.

Bisa saja terjadi.

Pada Pilkada 2024.

 

“Sudah jelas.

 Jokowi di belakang Gibran.

 

Jadi calon wakil presiden.

Pada saat itu,” ucap Ginting.

 

“Juga sekarang Kaesang.

Bisa tampil Pilgub Jawa Tengah.

 

Dan Bobby Nasution.

Calon Gubernur Sumatera Utara,” tambahnya.

 

Rakyat sudah kenal.

Gaya komunikasi politik Jokowi.

 

 “Komunikasi politik Jokowi.

Dipahami public.

 

Dengan logika terbalik.

Ada kesan pura-pura,” imbuhnya.

 

(Sumber Selamat Ginting)

34135. GINTING JOKOWI LOGIKA TERBALIK JIKA YA MAKA TIDAK

 


GINTING JOKOWI LOGIKA TERBALIK JIKA YA MAKA TIDAK

Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Komunikasi politik

Presiden Jokowi

 

Kerap buat bingung rakyat.

 Sesuatu yang diucapkan.

 

Terkadang berbanding terbalik.

Dengan kenyataan.

 

Contohnya.

Anggota keluarganya.

Ikut kontestasi politik.

 

Menurut analis politik

Universitas Nasional (Unas)

 

Selamat Ginting jelaskan.

Pahami komunikasi politik Jokowi.

Dengan logika terbalik.

 

Artinya.

Pernyataan diucapkan.

Berbeda dengan tindakannya.

 

“Jika Jokowi bilang “tidak”.

Maka artinya “iya”.

 

Juga dalam kasus anak-anaknya.

Gibran dan sekarang Kaesang,” kata Ginting.

 

 Selasa (9/7/2024).

 

Dulu Jokowi.

Tak setuju.

 

Wali Kota Solo Gibran.

Jadi calon wakil presiden.

 

Tapi seiring berjalannya waktu.

Mulai berubah.

 

Gibran terpilih wakil presiden.

Periode 2024-2029.

 

“Memang sudah terlihat.

Ambisi politik Jokowi.

 

Tempatkan putranya dan menantunya.

Tampil jadi Kepala Daerah.

 

1)     Gubernur.

2)     Wali Kota.

3)     Wakil Presiden,” nilai Ginting.

 

Menurutnya.

Jokowi diduga promosi.

 

Anak sulungnya.

Pada Pilpres 2024.

 

Kondisi serupa.

Bisa saja terjadi.

Pada Pilkada 2024.

 

“Sudah jelas.

 Jokowi di belakang Gibran.

 

Jadi calon wakil presiden.

Pada saat itu,” ucap Ginting.

 

“Juga sekarang Kaesang.

Bisa tampil Pilgub Jawa Tengah.

 

Dan Bobby Nasution.

Calon Gubernur Sumatera Utara,” tambahnya.

 

Rakyat sudah kenal.

Gaya komunikasi politik Jokowi.

 

 “Komunikasi politik Jokowi.

Dipahami public.

 

Dengan logika terbalik.

Ada kesan pura-pura,” imbuhnya.

 

(Sumber Selamat Ginting)

34134. SEJARAH PENULISAN TAFSIR ALQURAN

 


SEJARAH PENULISAN TAFSIR AL-QURAN

Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 Perkembangan penulisan.

Atau kodifikasi tafsir Al-Quran.

 

Bisa dibagi 3 periode.

Yaitu:

 

1)        Periode 1.

Zaman Nabi, sahabat, awal tabiin.

 

2)        Periode 2.

Zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Tahun 99-101 Hijriah.

 

3)        Periode 3.

Zaman Al-Farra.

Wafat tahun 207 Hijriah.

 

Periode 1.

Yaitu zaman:

 

1)        Nabi Muhammad.

2)        Para sahabat.

3)        Permulaan para tabiin.

 

Tafsir Al-Quran belum ditulis.

Secara umum riwayat tafsir Al-Quran.

Tersebar berdasar lisan dari mulut ke mulut.

 

Periode 2.

 

Bermula kodifikasi atau penulisan hadis.

Secara resmi zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Pada tahun 99 - 101 Hihjriah.

 

Saat itu.

Tafsir Al-Quran ditulis bergabung.

Dengan penulisan hadis.

 

Dihimpun dalam 1 bab.

Seperti bab hadis.

 

 Penafsiran umumnya “Tafsir bi Al-Ma'tsur”.

Gabungan 3 sumber.

 

Yaitu penafsiran:

 

1)        Nabi Muhammad.

2)        Para sahabat.

3)        Para tabiin.

 

Dirangkum jadi satu.

Disebut “Tafsir bi Al-Ma'tsur”.

 

 Periode 3.

 

Diawali menyusun Kitab Tafsir.

Secara khusus berdiri sendiri.

 

Diperkirakan mulai oleh Al-Farra.

Wafat tahun 207 Hijriah.

 

Kitabnya berjudul “Maani Al-Quran”.

 

Sejarah Tafsir Al-Quran.

Ditinjau sudut “Metode Penafsiran”.

 

Tiap mufasir beda metode.

Dalam perincian.

Dengan mufasir lain.

 

 Mufasir.

Orang menerangkan makna.

Atau maksud ayat Al-Quran.

 

Mufasir.

Orang ahli dalam penafsiran.

 

 Secara umum.

Sejak periode 3.

Sampai tahun 1960 Masehi.

 

Para mufasir.

Menafsirkan ayat Al-Quran.

 

Dalam  ayat per ayat.

Sesuai susunan mushaf.

 

Penafsiran berdasar urutan mushaf.

Membuat petunjuk dalam Al-Quran:

 

1)        Terpisah.

2)        Tak utuh

3)        Tak menyeluruh.

 

Padahal dalam Al-Quran.

Suatu masalah sering tampil terpisah.

Dalam beberapa surah.

 

Misalnya.

Masalah riba.

 

Ditampilkan dalam surah:

1)                Al-Baqarah.

2)                Ali Imran.

3)                Al-Rum.

 

Agar tahu pandangan Al-Quran.

Secara menyeluruh.

 

Bahas semua ayat itu.  

 

Para ulama berpendapat.

Meskipun 1 masalah.

Muncul dalam ayat berbeda.

 

Tapi ada “benang merah”.

Menghubungkan semua masalah.

 

 Bulan Januari 1960.

Syaikh Mahmud Syaltut.

 

Menyusun kitab tafsir.

Berjudul “Tafsir Al-Quran Al-Karim”.

Dengan metode “Tafsir Maudhui”.

 

Tafsir Maudhui.

Tak  tafsirkan Al-Quran ayat per ayat.

 

Tapi bahas surah demi surah.

Atau bagian tertentu dalam 1 surah.

 

Kemudian merangkainya.

Dengan tema sentral.

 

Metode “Tafsir Maudhui”.

Belum jadikan pedoman dan petunjuk.

 

Dalam Al-Quran.

Dipaparkan menyeluruh.

 

Sebab suatu masalah.

Ditemukan dalam berbagai surah.

 

Timbul ide.

Menghimpun semua ayat.

 

Terkait suatu masalah.

Atau suatu bab tertentu.

 

Mengaitkan dengan yang lain.

Menafsirkan utuh dan menyeluruh.

 

 Gagasan ini dikembangkan di Mesir.

Oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy.

Pada akhir tahun 1960-an.

 

Pada hakikatnya.

Kelanjutan “Metode Mawdhui”.

Model Mahmud Syaltut.

 

 Metode Mawdhuiy punya 2 arti.

 

1)        Menafsirkan suatu surah Al-Quran.

 

Menjelaskan tujuan umum.

Merupakan tema sentralnya.

 

Menghubungkan masalah aneka ragam.

Dalam surat itu.

 

Sehingga suatu surah berbagai problema.

Jadi 1 kesatuan.

 

2)        Menghimpun semua ayat Al-Quran.

Bahas  masalah tertentu.

 Diurutkan urutan kronologis waktu turunnya.

 

Menjelaskan artinya  menyeluruh.

Untuk tarik pedoman dan petunjuk Al-Quran.

Secara utuh.

 

 

Daftar Pustaka

1.        Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.        Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.