Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, October 15, 2024

37184. KHOTBAH JUMAT MUSHAF USMANI

 


Khotbah Jumat,

“`SEJARAH MUSHAF ALQURAN USMANI   

Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر

 أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ

 فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ

وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

 

Para jamaah yang berbahagia,

      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah swt. Menjalankan semua perintah-Nya. Menjauhi segala larangan-Nya.

Para jamaah yang berbahagia,  Umat Islam sangat beruntung memiliki Alquran yang hebat luar biasa. Alquran kitab yang sempurna dalam segala segi.

  1. Diturunkan melalui malaikat yang paling mulia, yaitu Malaikat  Jibril as.
  2. Kepada nabi dan rasul yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad saw.
  3. Di lokasi yang paling mulia, yaitu Mekah dan Madinah.
  4. Awal turunnya  pada bulan yang paling mulia, yaitu bulan Ramadan
  5. Menggunakan bahasa yang paling mulia, yaitu bahasa Arab.

Para jamaah yang berbahagia,

      Alquran adalah mukjizat yang hebat. Kita harus selalu berusaha memahami dan mengamalkan semua isinya. Sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Al-Quran surah Al-Hjir (surah ke-15)ayat 9.


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Sejarah Mushaf AlQuran Usmani.

 Al-Quran yaitu sumber utama agama Islam yang diwahyukan Allah melalui malaikat Jibril pada Nabi Muhammad secara mutawatir ketika terjadi suatu peristiwa.

 Mutawatir ialah sifat hadis yang memiliki banyak sanad, yang diriwayatkan banyak perawi pada sanadnya. Mustahil mereka sepakat dusta atau memalsukan hadis.

      Sanad yaitu rentetan rawi hadis pada Nabi Muhammad yang dapat dipercayai. Perawi ialah orang yang meriwayatkan hadis Nabi Muhammad.

     Nabi menghafalkan ayat Al-Quran secara pribadi dan mengajarkan kepada para sahabat untuk dipahami, dihafalkan, dan dilaksanakan.

      Ketika wahyu turun Nabi menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya agar mudah dihafal para sahabat.  Zaid bin Tsabit salah seorang sahabat sangat cerdas.

      Zaid bin Tsabit diperintah Nabi belajar bahasa asing, agar Nabi bisa mengirimkan surat kepada para pemimpin bangsa lain. Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa asing dengan amat cepat.

       Para sahabat secara rutin menulis teks Al-Quran untuk dimilikinya sendiri. Para sahabat selalu menyodorkan Al-Quran kepada Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan untuk diperiksa kebenarannya.

    Zaman Nabi alat tulis menulis amat terbatas. Para sahabat menuliskan naskah tulisan teks Al-Quran pada pelepah kurma, lempengan batu dan kepingan tulang hewan, dan lainnya. Zaman Nabi naskah teks Al-Quran sudah tertuliskan, tetapi masih berserakan. Tidak terkumpul dalam sebuah buku atau mushaf.

      Zaman Nabi sengaja dibentuk dengan hafalan  dan penulisan teks Al-Quran para sahabat.  Karena Nabi masih menunggu wahyu berikutnya. Sebagian ayat Al-Quran ada yang “nasikh” dan “mansukh”.

      Ayat “Nasikh” ialah ayat Al-Quran yang dibatalkan. Ayat “Mansukh” adalah ayat yang membatalkan,. Ayat “dimansukh” yaitu “diganti”, ayat “dinasikh” ayat yang “mengganti”.

       Zaman Nabi Al-Quran belum dibukukan, karena wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril masih terus turun pada Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan dan menerangkan suatu kejadian atau peristiwa.

 Zaman Khalifah Abu Bakar. Tahun 632-634 Masehi (2 tahun).

Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi  Khalifah. Tahun 632 Masehi terjadi Perang Yamamah. Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan menumpas pemberontak yang dipimpin Musailamah al-Kazzab yang mengaku sebagai nabi.  Khalid bin Walid, komandan pasukan Islam berhasil menumpas pemberontak.

     Banyak sahabat Nabi penghafal Quran yang gugur. Umar bin Khattab gelisah. Lalu mengusulkan agar tulisan Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah buku. Khalifah Abu Bakar pada awalnya ragu melakukannya. Karena Nabi tidak pernah melakukannya.

    Umar bin Khattab berhasil meyakinkan Khalifah Abu Bakar untuk membukukan Al-Quran. Lalu dibentuk “Tim Pengumpulan” Al-Quran. Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu pada zaman Nabi, diberi tugas sebagai ketua tim.

    Zaid bin Tsabit menerima tugas tersebut, meskipun awalnya menolak. Tim Penyusun pembukuan Al-Quran melaksanakan tugasnya. Khalifah Abu Bakar memerintahkan semua sahabat mengumpulkan naskah tulisan Al-Quran di Masjid Nabawi.

Syarat harus dipenuhi para penyetor naskah tulisan Al-Quran.

1.    Naskah tulisan yang dikumpulkan harus sesuai dengan hafalan para sahabat yang lain.

2.    Naskah tulisan ayat Al-Quran memang diperintah Nabi dan dituliskan dihadapan Nabi.  Beberapa sahabat menulis naskah atas inisiatif sendiri.

3.    Naskah tulisan harus dibuktikan 2 saksi.

      Tim Penyusun Mushaf Al-Quran berhasil melaksanakan tugasnya. Zaid bin Tsabit menyerahkan hasilnya kepada Khalifah Abu Bakar. Ketika Abu Bakr wafat buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Umar Bin Khattab.

      Zaman Khalifah Umar Bin Khattab. Tahun 634-644 Masehi (10 tahun)

Tidak terjadi penyusunan dan permasalahan mushaf Al-Quran. Naskah mushaf Al-Quran sudah selesai, semua sahabat sepakat, dan tidak terjadi perselisihan.

    Khalifah Umar bin Khattab konsentrasi penyebaran Islam ke seluruh wilayah. Umar bin Khattab wafat, buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Usman bin Affan.

      Zaman Khalifah Usman Bin Affan. Tahun 644-656 Masehi (12 tahun)

 Wilayah Islam semakin luas. Beragam suku bangsa yang masuk Islam. Terjadi perbedaan logat, dialek, aksen, dan cara membaca Al-Quran. 

     Khalifah Usman Bin Affan membentuk Tim Lajnah Al-Quran. Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dengan anggota  Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash, dan Abdurahman bin Harits.

      Usman Bin Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit mengambil mushaf di rumah Hafsah binti Umar, dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek. Menjadi dialek Nabi Muhammad,  yakni dialek suku Quraisy. 

      Usman Bin Affan memperbanyak menjadi 6 mushaf. Lima mushaf dikirimkan ke Mekah, Kuffah, Basrah dan Syria, yang satu mushaf disimpan sendiri. Mushaf tersebut dikenal dengan nama “Mushaf Usmani”.

 

Para jamaah yang berbahagia,

 Semoga kita bisa terus belajar mwngajar AlQuran

Semua hal itu kita lakukan agar dapat rida dan ampunan dari Allah. Sehingga kita bisa hidup bahagia dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

ِ-------duduk-----

 

37183. KHUTBAH JUMAT MUSHAF USMANI

 


Khotbah Jumat,

“`SEJARAH MUSHAF ALQURAN USMANI   

Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر

 أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ

 فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ

وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

 

Para jamaah yang berbahagia,

      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah swt. Menjalankan semua perintah-Nya. Menjauhi segala larangan-Nya.

Para jamaah yang berbahagia,  Umat Islam sangat beruntung memiliki Alquran yang hebat luar biasa. Alquran kitab yang sempurna dalam segala segi.

  1. Diturunkan melalui malaikat yang paling mulia, yaitu Malaikat  Jibril as.
  2. Kepada nabi dan rasul yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad saw.
  3. Di lokasi yang paling mulia, yaitu Mekah dan Madinah.
  4. Awal turunnya  pada bulan yang paling mulia, yaitu bulan Ramadan
  5. Menggunakan bahasa yang paling mulia, yaitu bahasa Arab.

Para jamaah yang berbahagia,

      Alquran adalah mukjizat yang hebat. Kita harus selalu berusaha memahami dan mengamalkan semua isinya. Sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Al-Quran surah Al-Hjir (surah ke-15)ayat 9.


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Sejarah Mushaf AlQuran Usmani.

 Al-Quran yaitu sumber utama agama Islam yang diwahyukan Allah melalui malaikat Jibril pada Nabi Muhammad secara mutawatir ketika terjadi suatu peristiwa.

 Mutawatir ialah sifat hadis yang memiliki banyak sanad, yang diriwayatkan banyak perawi pada sanadnya. Mustahil mereka sepakat dusta atau memalsukan hadis.

      Sanad yaitu rentetan rawi hadis pada Nabi Muhammad yang dapat dipercayai. Perawi ialah orang yang meriwayatkan hadis Nabi Muhammad.

     Nabi menghafalkan ayat Al-Quran secara pribadi dan mengajarkan kepada para sahabat untuk dipahami, dihafalkan, dan dilaksanakan.

      Ketika wahyu turun Nabi menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya agar mudah dihafal para sahabat.  Zaid bin Tsabit salah seorang sahabat sangat cerdas.

      Zaid bin Tsabit diperintah Nabi belajar bahasa asing, agar Nabi bisa mengirimkan surat kepada para pemimpin bangsa lain. Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa asing dengan amat cepat.

       Para sahabat secara rutin menulis teks Al-Quran untuk dimilikinya sendiri. Para sahabat selalu menyodorkan Al-Quran kepada Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan untuk diperiksa kebenarannya.

    Zaman Nabi alat tulis menulis amat terbatas. Para sahabat menuliskan naskah tulisan teks Al-Quran pada pelepah kurma, lempengan batu dan kepingan tulang hewan, dan lainnya. Zaman Nabi naskah teks Al-Quran sudah tertuliskan, tetapi masih berserakan. Tidak terkumpul dalam sebuah buku atau mushaf.

      Zaman Nabi sengaja dibentuk dengan hafalan  dan penulisan teks Al-Quran para sahabat.  Karena Nabi masih menunggu wahyu berikutnya. Sebagian ayat Al-Quran ada yang “nasikh” dan “mansukh”.

      Ayat “Nasikh” ialah ayat Al-Quran yang dibatalkan. Ayat “Mansukh” adalah ayat yang membatalkan,. Ayat “dimansukh” yaitu “diganti”, ayat “dinasikh” ayat yang “mengganti”.

       Zaman Nabi Al-Quran belum dibukukan, karena wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril masih terus turun pada Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan dan menerangkan suatu kejadian atau peristiwa.

 Zaman Khalifah Abu Bakar. Tahun 632-634 Masehi (2 tahun).

Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi  Khalifah. Tahun 632 Masehi terjadi Perang Yamamah. Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan menumpas pemberontak yang dipimpin Musailamah al-Kazzab yang mengaku sebagai nabi.  Khalid bin Walid, komandan pasukan Islam berhasil menumpas pemberontak.

     Banyak sahabat Nabi penghafal Quran yang gugur. Umar bin Khattab gelisah. Lalu mengusulkan agar tulisan Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah buku. Khalifah Abu Bakar pada awalnya ragu melakukannya. Karena Nabi tidak pernah melakukannya.

    Umar bin Khattab berhasil meyakinkan Khalifah Abu Bakar untuk membukukan Al-Quran. Lalu dibentuk “Tim Pengumpulan” Al-Quran. Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu pada zaman Nabi, diberi tugas sebagai ketua tim.

    Zaid bin Tsabit menerima tugas tersebut, meskipun awalnya menolak. Tim Penyusun pembukuan Al-Quran melaksanakan tugasnya. Khalifah Abu Bakar memerintahkan semua sahabat mengumpulkan naskah tulisan Al-Quran di Masjid Nabawi.

Syarat harus dipenuhi para penyetor naskah tulisan Al-Quran.

1.    Naskah tulisan yang dikumpulkan harus sesuai dengan hafalan para sahabat yang lain.

2.    Naskah tulisan ayat Al-Quran memang diperintah Nabi dan dituliskan dihadapan Nabi.  Beberapa sahabat menulis naskah atas inisiatif sendiri.

3.    Naskah tulisan harus dibuktikan 2 saksi.

      Tim Penyusun Mushaf Al-Quran berhasil melaksanakan tugasnya. Zaid bin Tsabit menyerahkan hasilnya kepada Khalifah Abu Bakar. Ketika Abu Bakr wafat buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Umar Bin Khattab.

      Zaman Khalifah Umar Bin Khattab. Tahun 634-644 Masehi (10 tahun)

Tidak terjadi penyusunan dan permasalahan mushaf Al-Quran. Naskah mushaf Al-Quran sudah selesai, semua sahabat sepakat, dan tidak terjadi perselisihan.

    Khalifah Umar bin Khattab konsentrasi penyebaran Islam ke seluruh wilayah. Umar bin Khattab wafat, buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Usman bin Affan.

      Zaman Khalifah Usman Bin Affan. Tahun 644-656 Masehi (12 tahun)

 Wilayah Islam semakin luas. Beragam suku bangsa yang masuk Islam. Terjadi perbedaan logat, dialek, aksen, dan cara membaca Al-Quran. 

     Khalifah Usman Bin Affan membentuk Tim Lajnah Al-Quran. Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dengan anggota  Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash, dan Abdurahman bin Harits.

      Usman Bin Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit mengambil mushaf di rumah Hafsah binti Umar, dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek. Menjadi dialek Nabi Muhammad,  yakni dialek suku Quraisy. 

      Usman Bin Affan memperbanyak menjadi 6 mushaf. Lima mushaf dikirimkan ke Mekah, Kuffah, Basrah dan Syria, yang satu mushaf disimpan sendiri. Mushaf tersebut dikenal dengan nama “Mushaf Usmani”.

 

Para jamaah yang berbahagia,

 Semoga kita bisa terus belajar mwngajar AlQuran

Semua hal itu kita lakukan agar dapat rida dan ampunan dari Allah. Sehingga kita bisa hidup bahagia dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

ِ-------duduk-----

 

37182. KHOTBAH JUMAT UMAT DULU

 


Khotbah Jumat

“PELAJARAN DARI UMAT DULU”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ

أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ

فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

 .Para jamaah yang berbahagia,

Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Para jamaah yang berbahagia,

Perintah ambil pelajaran dari umat dulu. Dalam Al-Quran. Yaitu:

Surah Al-An’am (6:6). Surah At-Taubah (9:70). Surah Yunus (10:13-14, 20). Surah lbrahim (14:9-17). Surah Taha (20:128). Surah Al-Haj (22:45-48). Surah An-Naml (27:51). Surah Al-Ankabut (29:40). Surah Ar-Rum (30:9). Surah As-Sajdah (32:26).

 

Dulu Allah binasakan orang berdosa.daan digabti generasi baru.

Al-Quran surah Al-An’am (surah ke- 6) ayat 6.

 

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

Apakah mereka tak memperhatikan berapa banyak generasi telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan padamu, dan Kami curahkan hujan lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi lain.

Dulu Allah binasakan orang zalim yang menolak utusan Allah.

Al-Quran surah At-Taubah (surah ke-9) ayat 70.


أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Belumkah datang pada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang musnah?. Telah datang pada mereka rasul-rasul membawa keterangan nyata, maka Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka, tapi mereka menganiaya diri sendiri.

Al-Quran surah Yunus (surah ke-10) ayat 13-14.

 

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا ۙ وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul mereka telah datang pada mereka  membawa keterangan nyata, tapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikian Kami memberi pembalasan kepada orang yang berbuat dosa.

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu pengganti (mereka) di bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.

Al-Quran surah lbrahim (surah ke-14) ayat 9-17.

 

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ ۛ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۛ لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ ۚ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِي أَفْوَاهِهِمْ وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ وَإِنَّا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

Belumkah sampai padamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang sesudah mereka. Tidak ada yang tahu mereka selain Allah. Telah datang rasul-rasul pada mereka (membawa) bukti nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena benci), dan berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar ragu gelisah pada apa yang kamu ajak kami padanya".

 

۞ قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan padamu dari dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?" Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanya manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkan pada kami, bukti nyata".

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Rasul-rasul mereka berkata pada mereka: "Kami tidak lain hanya manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia pada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan bukti pada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah saja hendaknya orang mukmin bertawakal.

 

وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

Mengapa kami tidak bertawakal pada Allah padahal Dia menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan pada kami. Dan hanya pada Allah saja orang-orang bertawakal, berserah diri".

 

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا ۖ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ

Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang zalim.

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri itu sesudah mereka. Yang demikian (adalah untuk) orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut pada ancaman-Ku".

وَاسْتَفْتَحُوا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

Dan mereka mohon kemenangan (atas musuh mereka) dan binasa semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala.

مِنْ وَرَائِهِ جَهَنَّمُ وَيُسْقَىٰ مِنْ مَاءٍ صَدِيدٍ

Di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah.

 

يَتَجَرَّعُهُ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ ۖ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ

Diminumnya air nanah dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datang (bahaya) maut padanya dari segenap penjuru, tapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat.

Al-Quran surah Taha (surah ke-20) ayat 128.

فَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ

 

Maka tidak jadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrik) berapa banyaknya Kami membinasakan umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas) tempat tinggal umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian ada tanda bagi orang berakal.

Al-Quran surah Al-Haj (surah ke-22) ayat 45-48).

 

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ

Berapa banyaknya kota yang Kami telah binasakan, yang penduduknya zalim, maka (tembok-tembok) kota roboh menutupi atapnya dan (berapa banyak pula) sumur telah ditinggalkan dan istana yang tinggi.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka punya hati yang dengan itu mereka paham atau punya telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi yang buta, ialah hati dalam dada.

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Dan mereka minta padamu agar azab disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan berapa banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) padanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Ku kembalinya (segala sesuatu).

Al-Quran surah An-Naml (surah ke-27) ayat 51-53.


فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ

Maka perhatikan betapa sesungguhnya akibat makar mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semua.

 

فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Maka itu rumah-rumah mereka runtuh sebab kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian ada pelajaran bagi kaum yang mengetahui.

وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Dan telah Kami selamatkan orang-orang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Al-Quran surah Al-Ankabut (surah ke-29) ayat 40.


فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing (mereka) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan padanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tapi mereka menganiaya diri sendiri.

Al-Quran surah Ar-Rum (surah ke-30) ayat 9.

 

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Dan apakah mereka tidak berjalan di bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang sebelum mereka? orang-orang itu lebih kuat daripada mereka (sendiri) dan mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak daripada  apa yang mereka makmurkan. Dan datang pada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim pada mereka, tapi mereka berlaku zalim pada diri sendiri.

 

Al-Quran surah As-Sajdah (surah ke-32) ayat 26.

 


أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ ۖ أَفَلَا يَسْمَعُونَ

Dan apakah tak jadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang Kami binasakan sedangkan mereka berjalan di tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian ada  tanda (kekuasaan Allah). Maka apakah mereka tidak mendengarkan?

Para jamaah yang berbahagia.

Mari kita terus belajar manajar Al-Quran untuk mencari rida dan ampunan Allah. Agar hidup bahagia dunia akhirat. Amin ya robbal alamin.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

 

-duduk-