Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, January 14, 2025

39016. BERSYUKUR ATAS NIKMAT MATA TELINGA HATI

 


BERSYUKUR ATAS NIKMAT MATA TELINGA DAN HATI

Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.

 

 

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.

 

      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.

 

     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.

 

     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?

 

    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.

 

      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.

 

      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.

 

 Al-Quran surah Al-A’raf (surah ke-7) ayat 179.


وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

 

 Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

 

      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.

 

      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 

 

      Al-Quran surah Al-Haj (surah ke-22) ayat 46.


أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

 

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

 

Al-Quran surah Al-Mukminun (surah ke-23) ayat 78.

 

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

 

Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

 

      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.

 

     Nabi Bersabda,

”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.”

 

Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.

 

Daftar Pustaka

1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

39015. MATI JADI MUSIBAH JIKA TAK BAWA BEKAL

 


MATI JADI MUSIBAH JIKA TAK BAWA BEKAL

Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, MM

 

 

 

Hidup akhirat sempurna.

Diperoleh keadilan sejati.

 

Jadi dambaan tiap manusia.

Diperoleh kenikmatan hidup.

Yang tiada tara.

 

Satu-satunya jalan.

Dapat nikmat sempurna.

Lewat kematian.

 

Kematian terlihat punah.

Hakikatnya kelahiran kedua.

 

 Kematian manusia.

Ibarat menetasnya telur.

 

 Anak ayam terkurung dalam telur.

Tak sempurna evolusi.

Selain ia menetas.

 

Demikian juga manusia.

Tak capai sempurna.

 

Selain tinggalkan dunia.

Yaitu mati.

 

Al-Quran pakai beberapa istilah.

Menunjuk kematian.

 

Yaitu:

1)        Wafat .

2)        Imsak (menahan).

 

Al-Quran surah Az-Zumar (surah ke-39) ayat 42.


اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati pada waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa lain sampai waktu ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian ada tanda kekuasaan Allah bagi kaum berpikir.

Kematian adalah wafat.

Berarti sempurna.

 

Atau imsak.

Berarti menahan (di sisi-Nya).

 

Al-Quran juga sifati mati.

Sebagai musibah.

 

Tapi bagi orang durhaka.

Atau orang ditinggal mati.

 

Al-Quran surah Al-Maidah (surah ke-5) ayat 106.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ۚ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلَاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۙ وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ

 

Hai orang-orang beriman, jika salah seorang kamu hadapi kematian, sedangkan dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan 2 orang adil di antara kamu, atau 2 orang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan 2 saksi itu sesudah salat (untuk bersumpah), lalu mereka bersumpah atas nama Allah, jika kamu ragu-ragu: "(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga  sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentu termasuk orang berdosa".

 

 

Bahwa kematian itu musibah.

 

1)        Bagi orang yang ditinggal mati.

 

2)        Orang mati tak bawa bekal cukup.

Untuk hidup akhirat.

 

 

Daftar Pustaka

1.     Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.     Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.     Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.     Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.     Tafsirq.com online.

 

39014. MUSIBAH JADI DEKAT PADA ALLAH ITU NIKMAT

 


MUSIBAH JADI DEKAT PADA ALLAH ITU NIKMAT

 Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 



Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 38.

 

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

 

Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".

 

Contohnya.

Ada orang sakit.

 

 Biasanya.

Kita kasihan padanya.

 

Tapi janggal.

Saat orang sakit.

Dibawa pada Rasulullah.

 

Rasulullah bersabda,

1)        Tak apa-apa.

2)        Insya Allah ini pembersih dosa.

 

Seolah-olah.

Makin lama orang sakit.

Makin banyak dosa dihapus.

 

Maka dia tak mengeluh.

 

Dia tak berkata,

“Ya Allah.

Kenapa Engkau membuat saya sakit ?” 

 

Pada hari kiamat.

Dia justru bersyukur pada Allah.

Untuk penyakit itu.

 

Sebab tiap detik.

Singkirkan dosanya.

 

Ketika menghadap Allah.

Dia kondisi suci.

 

Kesembuhan mutlak milik Allah.

Bukan milik dokter.

Bukan tindakan medis apa pun.

 

Tugas manusia.

Terus ikhtiar .

 

Harus usaha maksimal.

Dengan cara diridai Allah. 

 

Sebagai manusia normal.

Kita cenderung suka nikmat.

 

Senang kondisi nyaman.

Tak suka derita.

 

Kita harus yakin.

Semua keputusan Allah.

 

Pasti untuk kebaikan kita.

Di dunia dan akhirat.

 

Musibah dan penyakit.

Yang makin mendekatkan pada Allah.

Sejatinya itu NIKMAT.

 

Tapi anugerah dan rezeki.

Yang menjauhkan kita dari Allah.

Sesungguhnya itu MUSIBAH.

 

(Sumber Nouman Ali Khan)

39013. MAKNA NIKMAT DAN MUSIBAH BAGI MANUSIA

 


MAKNA NIKMAT DAN MUSIBAH BAGI MANUSIA

 Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 



Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 38.

 

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

 

Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".

 

Contohnya.

Ada orang sakit.

 

 Biasanya.

Kita kasihan padanya.

 

Tapi janggal.

Saat orang sakit.

Dibawa pada Rasulullah.

 

Rasulullah bersabda,

1)        Tak apa-apa.

2)        Insya Allah ini pembersih dosa.

 

Seolah-olah.

Makin lama orang sakit.

Makin banyak dosa dihapus.

 

Maka dia tak mengeluh.

 

Dia tak berkata,

“Ya Allah.

Kenapa Engkau membuat saya sakit ?” 

 

Pada hari kiamat.

Dia justru bersyukur pada Allah.

Untuk penyakit itu.

 

Sebab tiap detik.

Singkirkan dosanya.

 

Ketika menghadap Allah.

Dia kondisi suci.

 

Kesembuhan mutlak milik Allah.

Bukan milik dokter.

Bukan tindakan medis apa pun.

 

Tugas manusia.

Terus ikhtiar .

 

Harus usaha maksimal.

Dengan cara diridai Allah. 

 

Sebagai manusia normal.

Kita cenderung suka nikmat.

 

Senang kondisi nyaman.

Tak suka derita.

 

Kita harus yakin.

Semua keputusan Allah.

 

Pasti untuk kebaikan kita.

Di dunia dan akhirat.

 

Musibah dan penyakit.

Yang makin mendekatkan pada Allah.

Sejatinya itu NIKMAT.

 

Tapi anugerah dan rezeki.

Yang menjauhkan kita dari Allah.

Sesungguhnya itu MUSIBAH.

 

(Sumber Nouman Ali Khan)