Thursday, July 15, 2021

10433. PAHAM MATERIALISME DALAM ILMU FILSAFAT

 



PAHAM MATERIALISME DALAM ILMU FILSAFAT

Oleh Drs. HM Yusron Hadi,MM

 

 

 

Materialisme adalah paham dalam ilmu filsafat.

 

 

Materialisme berpendapat bahwa semua yang benar-benar ada adalah materi.

 

 

Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi.

 

Dan semua fenomena adalah hasil interaksi material.

 

Materi adalah satu-satunya substansi.

 

Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontologi monistik.

 

Materialisme tidak mengakui entitas non-material.

Seperti roh, malaikat, hantusetan, dan sejenisnya.

 

Pelaku immaterial tidak ada.

 

Tidak ada Tuhan atau dunia adikodrati.

 

Realitas satu-satunya adalah materi.

 

Dan segala sesuatu adalah manifestasi dari aktivitas materi.

 

Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. 

 

Tidak ada penggerak pertama atau sebab pertama.

 

Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. 

 

Semua gejala berubah.

 

Akhirnya melampaui eksistensi.

 

Yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi.

 

Dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.

 

Materialisme terdiri atas kata "materi" dan "isme".

 

Materi adalah  bahan, benda, dan segala sesuatu yang tampak.

 

Isme adalah paham atau kepercayaan.

 

Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu.

 

Yang termasuk kehidupan manusia dalam alam kebendaan semata.

 

Dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. 

 

Materialis adalah orang yang hidupnya berorientasi kepada materi.

 

 

Orang materialisme hanya  mementingkan kebendaan semata.

 

 

Seperti harta, uang, dan sejenisnya.

 

 

Ada 5 dasar ideologi paham materialisme, yaitu:

 

1.      Segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber.

Yaitu materi (ma’dah).

 

2.       Tidak meyakini adanya alam gaib.

3.      Menjadikan pancaindra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu.

 

4.      Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum.

 

5.       Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak.

 

Pada umumnya, disadari atau tanpa sadar banyak orang ikut mazhab materialisme.

 

Misalnya, salat berjamaah pahalanya digambarkan secara fisik atau material.

 

Yaitu pahalanya 27 kali derajat.

Meskipun tak jelas derajatnya Celcius atau Farenheit.

 

Artinya, pikiran manusia banyak tergantung pada gambaran secara materi.

 

 

Kritik terhadap materialisme

 

Salah satu kritik terhadap paham materialisme adalah  aliran filsafat eksistensialisme 

 

 

Materialisme mengajarkan bahwa manusia pada akhirnya adalah thing (benda).

 

Sama seperti benda lainnya.

 

 

Bukan berarti bahwa manusia sama dengan pohonkerbau, atau meja.

 

Karena manusia lebih unggul.

 

Tetapi, secara mendasar manusia dipandang hanya sebagai materi.

 

Yakni hasil dari proses unsur kimia.

 

Filsafat eksistensialisme memberi kritik pandangan ini. 

 

Cara pandang paham materialisme mereduksi totalitas manusia.

 

Manusia dilihat hanya menurut hukum alamkimia, dan biologi.

 

Sehingga seolah-olah manusia sama seperti hewantumbuhan, dan benda lainnya. 

 

Padahal manusia punya kompleksitas dirinya yang tak dapat diukur.

 

Misalnya, saat berhadapan dengan momen eksistensial.

 

Seperti mengambil keputusan, cemas, takut, dan sejenisnya.

 

Manusia sangat berbeda dengan benda material lainnya.

 

 

 (Sumber Ngaji Filsafat Dr Fahrudin Faiz)

 

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment