PAHAM MATERIALISME DALAM ILMU FILSAFAT
Oleh Drs. HM Yusron Hadi,MM
Materialisme adalah paham dalam ilmu filsafat.
Materialisme berpendapat bahwa semua yang
benar-benar ada adalah materi.
Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi.
Dan semua fenomena adalah hasil interaksi
material.
Materi adalah satu-satunya substansi.
Sebagai teori, materialisme termasuk paham
ontologi monistik.
Materialisme tidak
mengakui entitas non-material.
Seperti roh, malaikat, hantu, setan, dan sejenisnya.
Pelaku immaterial
tidak ada.
Tidak ada Tuhan atau
dunia adikodrati.
Realitas satu-satunya
adalah materi.
Dan segala sesuatu adalah
manifestasi dari aktivitas materi.
Materi dan
aktivitasnya bersifat abadi.
Tidak ada penggerak
pertama atau sebab pertama.
Tidak ada kehidupan,
tidak ada pikiran yang kekal.
Semua gejala berubah.
Akhirnya melampaui
eksistensi.
Yang kembali lagi ke
dasar material primordial, abadi.
Dalam suatu peralihan
wujud yang abadi dari materi.
Materialisme terdiri atas
kata "materi" dan "isme".
Materi
adalah bahan, benda, dan segala sesuatu
yang tampak.
Isme adalah paham atau
kepercayaan.
Materialisme adalah
pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu.
Yang termasuk
kehidupan manusia dalam
alam kebendaan semata.
Dengan mengesampingkan
segala sesuatu yang mengatasi alam indra.
Materialis adalah orang
yang hidupnya berorientasi kepada materi.
Orang materialisme
hanya mementingkan kebendaan semata.
Seperti harta, uang, dan
sejenisnya.
Ada 5 dasar ideologi paham
materialisme, yaitu:
1. Segala
yang ada (wujud) berasal dari satu sumber.
Yaitu materi (ma’dah).
2. Tidak meyakini adanya alam gaib.
3. Menjadikan
pancaindra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu.
4. Memposisikan
ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum.
5. Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai
akhlak.
Pada umumnya, disadari atau tanpa sadar banyak orang ikut mazhab
materialisme.
Misalnya, salat berjamaah pahalanya digambarkan secara fisik
atau material.
Yaitu pahalanya 27 kali derajat.
Meskipun tak jelas derajatnya Celcius atau Farenheit.
Artinya, pikiran manusia banyak tergantung pada gambaran secara
materi.
Kritik terhadap materialisme
Salah satu kritik terhadap
paham materialisme adalah aliran filsafat eksistensialisme
Materialisme
mengajarkan bahwa manusia pada akhirnya adalah thing (benda).
Sama seperti benda
lainnya.
Bukan berarti
bahwa manusia sama
dengan pohon, kerbau,
atau meja.
Karena manusia lebih
unggul.
Tetapi, secara
mendasar manusia dipandang hanya sebagai materi.
Yakni hasil dari proses
unsur kimia.
Filsafat eksistensialisme memberi
kritik pandangan ini.
Cara pandang paham
materialisme mereduksi totalitas manusia.
Manusia dilihat hanya
menurut hukum alam, kimia, dan biologi.
Sehingga seolah-olah manusia
sama seperti hewan, tumbuhan,
dan benda lainnya.
Padahal manusia punya
kompleksitas dirinya yang tak dapat diukur.
Misalnya, saat
berhadapan dengan momen eksistensial.
Seperti mengambil
keputusan, cemas, takut, dan sejenisnya.
Manusia sangat berbeda dengan benda material lainnya.
(Sumber Ngaji Filsafat Dr
Fahrudin Faiz)
0 comments:
Post a Comment