NASIHAT IMAM SYAFII TENTANG CARA DEBAT YANG BAIK
Oleh Drs. HM Yusron
Hadi,MM
Nasihat Imam Syafii
tentang cara diskusi dan berdebat yang baik.
Diskusi
adalah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran tentang suatu masalah.
Debat
adalah pembahasan dan pertukaran pendapat tentang suatu hal.
Dengan
saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
Imam
Syafii adalah ulama yang tak suka berdebat sembarangan.
Tak
suka berbantahan yang tak produktif.
Tak
suka diskusi yang tak konstruktif.
Karena
hanya menghasilkan konflik.
Dan
menambah musuh.
Nasihat
lmam Syafii.
1.
Termasuk
menghina ilmu.
Jika kamu
berbantahan dengan tiap orang yang membantahmu.
Dan berdebat
dengan tiap orang yang mendebatmu.
2.
Fokus
dan tujuan berdebat dan diskusi adalah untuk mencari kebenaran dan rida Allah.
Bukan
mencari menang atau kalah.
3.
Jika ingin
memberi nasihat kepada seseorang.
Sebaiknya
dilakukan di tempat tertutup.
Bukan
secara terbuka.
4.
Orang
yang menasihati orang lain di tempat tertutup.
Berarti
dia telah berbuat baik dan menghargainya.
Cara agar
tak merendahkan orang yang berbeda pendapat dengan kita.
1.
Pendapatku
benar.
Tapi
mungkin masih ada unsure salahnya.
2.
Pendapat
dia salah.
Tapi
mungkin masih ada unsure benarnya.
Perbedaan
pendapat sering berawal dari perbedaan orientasi berpikirnya.
Beda
sumber yang diambil.
Dan
beda pengalamannya.
Terkadang
ada suatu pendapat yang dianggap benar.
Tapi
saat kondisinya berubah.
Sudut
pandangnya berubah.
Dan
sumbernya berubah.
Maka
pendapat yang benar itu.
Bisa
berubah menjadi kurang relevan.
Kesadaran
seperti ini perlu agar kita tak bersikap angkuh.
Dan
menganggap pendapat kita satu-satunya yang paling benar.
Padahal
kita manusia biasa.
Yang
bisa benar atau salah.
Termasuk
menghina ilmu.
Jika kamu
berbantahan dengan tiap orang yang membantahmu.
Dan berdebat
dengan tiap orang yang mendebatmu.
Artinya
tak semua tantangan debat harus dilayani.
Tak
semua bantahan harus dijawab dengan bantahan.
Nanti
munculnya adalah saling berbantahan.
Jika
tiap kritik dan debat dilayani.
Maka
tak produktif.
Bahkan
menghina ilmu.
Dan
menjatuhkan status ilmu.
Fokus
dan tujuan berdebat dan diskusi adalah untuk mencari kebenaran dan rida Allah.
Bukan
mencari menang atau kalah.
Dalam
debat dan diskusi.
Jangan
hanya mengejar menangnya saja.
Tapi
yang lebih penting adalah bisa menemukan kebaikan dan kebenaran.
Menurut
Al-Quran dalam berdebat dan diskusi harus:
Dengan
cara yang baik.
Al-Quraan
surah An-Nahl (surah ke-16) ayat 125.
ادْعُ
إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ
ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dia yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah
yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk.
Jika ingin
memberi nasihat kepada seseorang.
Sebaiknya
dilakukan di tempat tertutup.
Bukan
secara terbuka.
Orang
yang menasihati orang lain di tempat tertutup.
Berarti
dia telah berbuat baik dan menghargainya.
Tapi,
jika menasihati orang lain secara terbuka.
Artinya
dia telah membongkar aibnya dan menghinanya.
Sebaiknya
kita menasihati orang lain secara pribadi dan di tempat tertutup.
Orang
yang membongkar kekurangan orang lain secara terbuka.
Itu
bukan nasihat
Tapi
menghinanya.
Dalam
menasihati orang lain.
Harus
dengan cara yang baik.
Bukan
dengan cara yang menyakiti.
Hidup ini adalah
ujian.
Al-Quran surah
Al-Anbiya (surah ke-21) ayat 35.
كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ
وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji
kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan
hanya kepada Kami kamu dikembalikan.
(Sumber Ngaji Filsafat
Dr Fahrudin Faiz)
0 comments:
Post a Comment