Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, December 14, 2020

8050. RASULULLAH JUGA BERGURAU

 


RASULULLAH JUGA BERGURAU

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

Tertawa yang wajar itu bagaikan obatbagi kesedihan dan laksana pil kuat untuk kegalauan. 

 

Pengaruh tertawa yang wajar amat kuat, akan membuat hati ceria dan lingkungan menjadi menyenangkan.

 

 

Sahabat Nabi berkata, ”Nabi Muhammad terkadang tertawa, sehingga tampak gigi gerahamnya.”

 

 

Tertawa adalah puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung perasaan kesenangan.

 

 

 

Nabi bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”

 

 

 

Al-Quran surah An-Naml (surah ke-27) ayat 19.

Maka Sulaiman tertawa karena mendengarkan perkataan semut.”

 

 

 

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ


 

Maka Sulaaiman tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”


 

 

 

Salah satu nikmat dari Allah untuk penghuni surga adalah tertawa.

 

 

 

Al-Quran surah Al-mutaffifin (surah ke-83) ayat 34.

فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ


 

 

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.


 

Tetapi jangan tertawa berlebihan.

Rasulullah bersabda,“Jangan engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.”

 

 

Oleh karena itu, mari kita tertawa yang wajar saja.

 

 

Jangan tertawa sinis dan penuh kesombongan, seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Al-Quran surah Azzukruf (surah ke-43) ayat 47.

 

 

 

فَلَمَّا جَآءَهُم بِـَٔايَٰتِنَآ إِذَا هُم مِّنْهَا يَضْحَكُونَ


 

 

 

Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya.




 

Pada umumnya, semua orang senang wajah yang murah senyum, dan suka dengan

muka yang selalu tampak ceria.

 

 

 

Hal itu mencerminkan kemurahan hati, kelapangan dada, dan kedermawanan.

 

 

 

Pada dasarnya, Islam dibangun berdasarkan prinsip keseimbangan, serta moderat dalam hal akidah, ibadah, budi pekerti, dan perilaku.

 

 

 

Islam mengajarkan pertengahan dalam bersikap, tidak mengenal kemuraman yang menakutkan, maupun tertawa lepas tidak beraturan.

 

 

 

Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah, serta menganjurkan perbuatan yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

 

 

 

Imam Gazali melontarkan humor, “Benda apakah yang paling tajam di dunia ini?”

 

 

 

Muridnya menjawab dengan berbagai jawaban, ada yang menjawab: pisau, silet, pedang dan semacamnya.

 

 

Imam Gazali berkata, “Betul, semua benda yang kalian sebutkan itu tajam, tetapi ada yang lebih tajam dari itu semua, yaitu lidah manusia”.

 

 

 

Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah bersenda gurau?”

 

 

Nabi Muhammad bersabda,” Benar, hanya saya selalu berkata benar.”

 

 

 

Rasulullah bergurau, “Naikkan barang-barangmu ke punggung anak unta di sebelah sana!”

 

 

Sahabat bingung, “Ya Rasulullah, bagaimana anak unta mampu memikul beban berat?”

 

 

 

Rasulullah bersabda,”Saya tidak bilang anak unta itu kecil, karena semua unta pasti lahir dari ibu unta.”

 

 

Seorang wanita tua bertanya, “Ya Rasulullah, apakah wanita tua seperti saya layak masuk surga?”

 

 

Nabi Muhammad bersabda, “Maaf, Bu, di surga tidak ada wanita tua”.

 

 

 

Wanita itu langsung menangis, lalu Nabi Muhammad menjelaskan,”Semua orang yang masuk surga, akan menjadi muda lagi.”

 

 

Mendengar penjelasan Rasulullah, wanita tua itu tersenyum gembira.

 

 

Sungguh, manusia membutuhkan senyuman, dan memerlukan humor yang menghibur yang tidak menghina siapa pun, tidak merendahkan apa pun.

 

Semua orang senang denganwajah yang selalu berseri-seri, hati yang lapang dalam menerima perbedaan, budi pekerti yang luhur, dan perilaku yang lembut, serta pembawaan yang tidak kasar.

 

 

 

Jadi, mari kita lontarkan humor yang cedas, yaitu humor yang tidak menyinggung siapa pun, dan tidak menghina apa pun.

 

 

Mari kita tersenyum dan tertawa yang wajar, agar kehidupan akan terasa lebih indah, ceria, dan mempesona.

 

 Semoga.

 

 

Daftar Pustaka

1.  Al-Qarni, Aidh. La Tahzan. Jangan Bersedih. Penerbit Qisthi Press. Jakarta 2007.

2.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.  Tafsirq.com online.

 

 

Sunday, December 13, 2020

8049. MO SALAH 100 GOL


8046. BERAGAMA ISLAM DENGAN CERIA

 


BERAGAMA ISLAM DENGAN CERIA

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

BERAGAMA DENGAN CERIA

 

Allah berfirman,”Dia telah memilihmu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”

(QS. Al Haj [22]:78)

 

 

Sebagian orang memandang Islam banyak aturannya.

 

Sehingga menyempitkan gerak kehidupan.

 

 

Allah berfirman,”“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”

(QS. Thaha [20]: 1-3)

 

 

 

Firman Allah ini diawali dengan Thaahaa.

 

 

Salah satu predikat Nabi Muhammad.

 

 

Yaitu singkatan dari thahir (orang yang bersih dari dosa) dan hadi (orang yang memberi pencerahan agama).

 

 

Surat Thaaha ini turun ketika banyak pengikut Nabi Muhammad disiksa oleh orang kafir di Mekah.

 

 

Mereka lalu mengejek Islam sebagai agama yang mendatangkan penderitaan pengikutnya.

 

 

Ayat ini membantah tuduhan orang kafir Mekah itu.

 

 

”Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”

 

 

 

Sebagian ahli tafsir memberi penjelasan berbeda.

 

 

Ayat ini turun saat ada sahabat yang memaksakan diri untuk terus beribadah.

 

 

Padahal ia sudah kelelahan.

 

Allah berfirman,”Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.“ (QS. Al Baqarah [02]:185)

Orang beragama bagaikan  melakukan perjalanan jauh dengan banyak bekal di punggungnya.

 

 

Jika ia berjalan cepat dan memaksakan diri agar lekas sampai tujuan, maka ia kelelahan dan tidak akan sampai ke tujuan.

 

 

Pada zaman Nabi Muhammad, ada peristiwa menarik.

 

 

Seorang penduduk desa pedalaman menemui Rasulullah.

 

 

Lelaki itu berkata, “Saya orang yang masuk Islam setahun silam, dan sejak itu saya tidak pernah makan di siang hari.”

 

 

Rasulullah bersabda, “wa man amaraka an tu’adzdziba nafsaka? (Siapa yang menyuruhmu menyiksa diri sendiri)?”

 

 

 

Rasulullah bersabda, “Sungguh, agama itu mudah (yusrun). Siapapun yang mempersulit (pelaksanaan) agama, ia akan kalah.”

 

 

Maka sedang-sedang sajalah kalian (saddidu), berdekat-dekatlah (wa qaribu), dan bergembiralah (wa absyiru), serta minta pertolongan Allah di waktu pagi, sore dan sedikit di malam hari.

(HR Bukhari dari Abu Hurairah)



Jika Anda tidak bisa menjalankan agama secara ideal, maka berupaya mendekati ideal.

 

 

Rasulullah bersabda, “wa absyiru (bergembiralah)”.

 

 

Artinya kerjakan agama dengan ceria.



Bergembiralah dengan pahala Allah atas ibadah yang kita kerjakan dengan konsisten meskipun kecil.

 

 

Mintalah pertolongan Allah agar tetap menjalankan ibadah dengan gembira agar tidak merasa bosan.

 

 

Orang yang tidak mengerjakan agama dengan riang hati, ia akan jemu dan merasa lelah.

 

 

Seperti musafir yang kelelahan di jalan dan tidak sampai tujuan.

 

 

Rasulullah bersabda, “Li yushalli ahadukum nasyathahu, fa idza fatara fal yarqud (Hendaklah orang salat dalam keadaan segar. Jika lelah, maka hendaklah ia tidur dulu).”

 

 

 

Islam diturunkan untuk membahagiakan dan bukan untuk menyusahkan Anda.

 

 

Maka raih kebahagiaan dengan pengamalan agama dengan ceria.

 

 

Kerjakan perintah Allah semampu Anda dan Allah pasti Maha Tahu kesulitan dan semangat Anda.

 

 

 

Jika Anda beragama dengan susah dan dukacita, bagaimana mungkin Anda bermuka ceria dan menebar kasih kepada sesama.

 

Dan mungkinkah ada orang lain tertarik pada agama Anda?

 

Sumber:Prof.Dr.Moh.Ali Aziz, M.Ag

 

8045. MOBIL HEBAT PEMBUATNYA PINTAR ALAM HEBAT YAKIN PEMBUATNYA HEBAT


 

MOBIL HEBAT  PEMBUATNYA PINTAR ALAM HEBAT YAKIN PEMBUATNYA HEBAT

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 1-4.

 

 

 

الم

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

   الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

 

 

 

  Alif Laam Miim. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Ketika membahas ayat “Alladziina yukminuuna bil ghaibi” (yaitu orang-orang yang beriman dengan yang gaib), Gus Baha menjelaskan panjang lebar kata “gaib”.

 

 

Menurut Gus Baha, kata “gaib” dalam Al-Quran berbeda dengan yang sudah mashur di Indonesia.

Gus Baha’ menjelaskan bahwa “gaib” bukan seperti dalam bahasa Indonesia.

 

 

Misalnya setan atau hantu yang selalu diidentikkan dengan gaib.

 

 

Dalam bahasa Arab, kata “gaib” adalah “lawan kata dari sesuatu yang bisa disaksikan dengan indra manusia.”

 

 

Kita orang mukmin beriman kalau surga itu ada, tetapi kita tak pernah melihat surga.

 

 

Orang mukmin tak pernah melihat neraka, tetapi yakin bahwa neraka itu ada.

 

Ini sesuatu yang tidak bisa dilihat mata dan tak pernah disentuh oleh tangan kita,” jelas Gus Baha.

 

 

Sesuatu yang gaib ini dipercaya eksistensinya dengan syarat sesuatu itu manshus.

 

 

Maksudnya secara eksplisit hal-hal gaib itu disebutkan dalam Al-Quran dan hadis.

 

 

Misalnya tentang surga dan neraka.

 

 

Gus Baha menjelaskan bahwa Allah bukan zat yang gaib seperti penjelasan para sufi.

Meskipun para ulama berbeda pendapat.

 

 

Bagi sufi, Allah tidak bisa dikatakan sebagai gaib, karena Allah itu jelas adanya.

 

 

Dalam asmaul husna, Allah disebut juga dengan “Ad-Dhahir” (Zat Yang Sangat Jelas)

 

 

Contohnya begini, orang yang melihat mobil mewah dan pesawat terbang canggih, pasti yakin pembuatnya orang yang hebat.

 

 

Kita tidak perlu ketemu atau melihat pembuat pesawatnya.

 

 

Tetapi kita sudah langsung yakin bahwa yang membuat pesawat itu pasti orang hebat.

 

 

Tanpa ada keraguan.

 

 

Akal kita pasti meyakini itu,” tutur Gus Baha.

Pembuatan pesawat terbang canggih, dapat dijadikan model cara berpikir untuk mengetahui Tuhan.

 

 

 

“Nah, kita melihat langit, bumi, matahari, semuanya tertata rapi.”

 

 

 

Air dengan segala fungsinya, tanaman, oksigen dan lain-lainnya.

 

 

Meskipun kita tidak pernah melihat Tuhan, akal dan nulari kita pasti mengatakan bahwa yang membuatnya adalah Zat yang Super Bijak dan Super Bjaksana.

 

 

Sehingga di dalam “asmaul husna”,  Allah disebut dengan ad-Dhahir.

 

 

Ad-Dhahir artinya Zat Yang Sangat Jelas.

 

 

Nah, alam raya ini, kata Gus Baha, disebut sebagai bukti eksistensi Tuhan.

 

Sehingga kata gaib yang bisa dijadikan contoh adalah neraka dan surga.

 

 

Gus Baha menyebutkan, Imam Sibawayh pakar ilmu nahwu mengatakan a’raful ma’aarif, Allah.

 

 

Artinya di alam semesta ini yang paling mudah dikenali adalah Allah.

 

 

 

Misalnya, kita hidup sendirian di hutan.

 

 

Kemudian kita mulai punya akal, kita mungkin tidak tahu diri kita ini siapa.

1.      Tetaapi kita akan menyimpulkan bahwa kita tidak bisa menciptakan diri kita sendiri.

 

Sehingga kita mengambil kesimpulan, pasti ada yang menciptakan.

 

 

Maka, sifat pencipta ini dikenalkan pertama kali kepada Rasulullah, yaitu “Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaq”.

 

 

Muhammad, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu!

 

 

 

Sifat sebagai Pencipta ini agar dikenalkan kepada umat-Nya.

 

 

 

Sifat Tuhan yang paling mudah dikenali adalah sifat Pencipta.

 

Manusia pada satu waktu pasti akan berpikir.

 

 

Siapa yang mampu   menciptakan bumi, langit, matahari, alam semesta, dan isinya yang semuanya sempurna, teratur, dan presisi, kalau bukan Zat yang Maha Pencipta?

 

(Sumber: internet Gus Baha’)