Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, December 15, 2020

8073. AZAN SYIAH HAYYA ALAL FALAH DIGANTI HAYYA ALA KHAIRIL AMAL

 


AZAN SYIAH HAYYA ALAL FALAH DIGANTI HAYYA ALA KHAIRIL AMAL

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

 

 

 

 

 

Pada zaman dahulu, salat Magrib berjamaah dengan 5 imam mazhab berbeda di Mekah.

 

 

 

Dahulu di Masjidil Haram, Mekah terjadi salat wajib dengan 5 Imam mazhab berbeda dalam satu waktu bersamaan.

 

 

 

Abul Husain Muhammad bin Jubair Al Andalusi atau yang dikenal dengan Ibnu Jubair (w. 614 H/ 1217 M) menyebutkan dalam risalahnya yang berjudul Rihlah Ibni Jubair (h.78-79).

 

 

 

Pada zaman beliau, Masjidil Haram, Mekah punya 5 tempat imam.

 

 

1)     Yang 4 imam untuk  4 mazhab Suni, yaitu: Hanafi, maliki, Syafi’i, danHambali.

 

 

2)     Dan 1 imam untuk mazhab Syiah Zaidiyah.

 

 

Hanya muazin Syiah Zaidiyah yang mengumandangkan azan agak berbeda.

 

 

Syiah Zaidiyah mengganti lafal ‘hayya ‘alal falah’ dengan ‘hayya ala khairil amal’.

 

 

 

Seperti yang dahulu dikumandangkan di Kota Shon’a atau di Dzammar, Yaman.

 

 

Ketika salat wajib 5 waktu berjamaah ditegakkan, mereka salat berjamaah secara bergiliran berdasarkan perbedaan mazhab.

 

 

 

1)     Imam dari Mazhab Syafi’I didahulukan.

 

 

2)     Setelah selesaibaru diikuti oleh jamaah mazhab lainnya, yakni mazhab Maliki, Hanafi,  dan Hambali secara bergantian.

 

 

Para jemaah yang bermazhab Maliki hanya mau melaksanakan salat kepada imam salat yang bermazhab Maliki.

 

 

 

Demikian juga para jemaah mazhab lain.

 

 

Mereka hanya mau makmum kepada imam yang sesuai dengan mazhabnya.

 

 

 

Semuanya melakukan salat berdasar kelompok mazhab masing-masing secara bergantian.

 

 

Meskipun mereka telah datang di Masjidil Haram, Mekah sebelum masuk waktu salat.

 

 

 

Pada waktu salat Magrib, yang waktunya pendek, salat berjemaah dilaksanakan secara berbarengan dengan imam masing-masing.

 

 

 

Artinya sewaktu salat berjamaah Magrib ada 4 atau lebih orang imam salat secara bersamaan.

 

 

 

Tetapi para jemaah tetap berkelompok berdasar mazhabnya masing-masing.

 

 

 

Menurut Ibnu Jubair, sangat mungkin ada makmum yang salat di belakang imam A.

 

 

Tetapi dia mengikuti takbirnya imam B.

 

 

 

Menurut Husain Basalamah dalam Tarikh Imarah Masjidil Haram (h.233), kekacauan dan perpecahan (pelaksanaan salat) di Masjidil Haram, Mekah terjadi pada masa kekhalifahan Turki Utsmani.

 

 

 

Umat Islam berpecah belah dalam madzhab-madzhab.

 

 

Setiap orang begitu fanatik kepada mazhabnya.

 

 

Sehingga mereka tidak mau salat di belakang imam yang berbeda mazhab dengannya.

 

 

Ketika Kerajaan Saudi Arabia berkuasa di Hijaz dilakukan perbaikan oleh Raja Saudi ketika itu, yaitu Raja Abdul Aziz Al-Saud.

 

 

 

Raja Abdul Aziz menghilangkan salat dengan caramasing-masing mazhab dan menjadikan salat berjamaah hanya dengan satu imam.

 

 

 

Hal ini dimulai pada tahun 1343 H, sekitar 100 tahun yang lalu.

 

 

 

Sampai sekarang di bawah pemerintahan Kerajaaan Saudi Arabia, tidak ada lagi perpecahan dalam masalah imam salat 5 lima waktu, salat tarawih, dan salat lainnya.

 

 

 

(Sumber Agus Irawan Setyono).

8072. SALAT MAGRIB BERSAMAAN DENGAN 5 IMAM MAZHAB BERBEDA DI MEKAH

 


SALAT MAGRIB BERSAMAAN DENGAN 5 IMAM MAZHAB BERBEDA DI MEKAH

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

 

 

 

 

 

Pada zaman dahulu, salat Magrib berjamaah dengan 5 imam mazhab berbeda di Mekah.

 

 

 

Dahulu di Masjidil Haram, Mekah terjadi salat wajib dengan 5 Imam mazhab berbeda dalam satu waktu bersamaan.

 

 

 

Abul Husain Muhammad bin Jubair Al Andalusi atau yang dikenal dengan Ibnu Jubair (w. 614 H/ 1217 M) menyebutkan dalam risalahnya yang berjudul Rihlah Ibni Jubair (h.78-79).

 

 

 

Pada zaman beliau, Masjidil Haram, Mekah punya 5 tempat imam.

 

 

1)     Yang 4 imam untuk  4 mazhab Suni, yaitu: Hanafi, maliki, Syafi’i, danHambali.

 

 

2)     Dan 1 imam untuk mazhab Syiah Zaidiyah.

 

 

Hanya muazin Syiah Zaidiyah yang mengumandangkan azan agak berbeda.

 

 

Syiah Zaidiyah mengganti lafal ‘hayya ‘alal falah’ dengan ‘hayya ala khairil amal’.

 

 

 

Seperti yang dahulu dikumandangkan di Kota Shon’a atau di Dzammar, Yaman.

 

 

Ketika salat wajib 5 waktu berjamaah ditegakkan, mereka salat berjamaah secara bergiliran berdasarkan perbedaan mazhab.

 

 

 

1)     Imam dari Mazhab Syafi’I didahulukan.

 

 

2)     Setelah selesaibaru diikuti oleh jamaah mazhab lainnya, yakni mazhab Maliki, Hanafi,  dan Hambali secara bergantian.

 

 

Para jemaah yang bermazhab Maliki hanya mau melaksanakan salat kepada imam salat yang bermazhab Maliki.

 

 

 

Demikian juga para jemaah mazhab lain.

 

 

Mereka hanya mau makmum kepada imam yang sesuai dengan mazhabnya.

 

 

 

Semuanya melakukan salat berdasar kelompok mazhab masing-masing secara bergantian.

 

 

Meskipun mereka telah datang di Masjidil Haram, Mekah sebelum masuk waktu salat.

 

 

 

Pada waktu salat Magrib, yang waktunya pendek, salat berjemaah dilaksanakan secara berbarengan dengan imam masing-masing.

 

 

 

Artinya sewaktu salat berjamaah Magrib ada 4 atau lebih orang imam salat secara bersamaan.

 

 

 

Tetapi para jemaah tetap berkelompok berdasar mazhabnya masing-masing.

 

 

 

Menurut Ibnu Jubair, sangat mungkin ada makmum yang salat di belakang imam A.

 

 

Tetapi dia mengikuti takbirnya imam B.

 

 

 

Menurut Husain Basalamah dalam Tarikh Imarah Masjidil Haram (h.233), kekacauan dan perpecahan (pelaksanaan salat) di Masjidil Haram, Mekah terjadi pada masa kekhalifahan Turki Utsmani.

 

 

 

Umat Islam berpecah belah dalam madzhab-madzhab.

 

 

Setiap orang begitu fanatik kepada mazhabnya.

 

 

Sehingga mereka tidak mau salat di belakang imam yang berbeda mazhab dengannya.

 

 

Ketika Kerajaan Saudi Arabia berkuasa di Hijaz dilakukan perbaikan oleh Raja Saudi ketika itu, yaitu Raja Abdul Aziz Al-Saud.

 

 

 

Raja Abdul Aziz menghilangkan salat dengan caramasing-masing mazhab dan menjadikan salat berjamaah hanya dengan satu imam.

 

 

 

Hal ini dimulai pada tahun 1343 H, sekitar 100 tahun yang lalu.

 

 

 

Sampai sekarang di bawah pemerintahan Kerajaaan Saudi Arabia, tidak ada lagi perpecahan dalam masalah imam salat 5 lima waktu, salat tarawih, dan salat lainnya.

 

 

 

(Sumber Agus Irawan Setyono).

8071. NIKAH MUT'AH ZAMAN RASULULLAH

 


NIKAH MUT’AH ZAMAN RASULULLAH

Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

TERJADINYA NIKAH MUT’AH ZAMAN RASULULLAH

 

 

Nikah mut’ah (kawin kontrak) adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.

 

 

 

Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 24.

 

 

 

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

 

     

 

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 236.

 

 

ا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ

 

 

 

Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atasmu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 241.

 

 

 

وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

 

 

    

 

Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.

 

 

Al-Quran surah Al-Ahzab (surah ke-33) ayat 28.

 

 

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

 

     

 

Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”

 

 

 

Al-Quran surah A-Ahzab (surah ke-33) ayat 49.

 

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا ۖ فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

 

     

 

Hai orang-orang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.

 

 

 

Al-Quran surah Al-Maarij (surah ke-70) ayat 29-31.

 

 

 

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

 

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

 

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

 

     

 

 

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.

 

 

 

Nabi Muhammad bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkanmu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikitpun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)

 

 

 

Sahabat berkata, “Nabi Muhammad pernah memberi keringanan (rukhsah) pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”.

(HR Muslim)

 

 

 

Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Rasulullah melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.

(HR Muslim)

 

 

 

Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi Muhammad mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak) dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak) dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Rasulullah melarang nikah mut’ah”.

(HR Muslim). 

 

 

Nikah mut’ah (kawin kontrak) pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang, kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.

 

 

Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam, tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.

 

 

 

Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.

 

 

Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah yang masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.

 

 

 

Pada zaman perang, Nabi Muhammad mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak) daripada melakukan penyimpangan.

 

 

 

Nabi Muhammad memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak) dengan wanitasetempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.

 

 

 

Nabi Muhammad mengharamkan nikah mut’ah (kawin kontrak) ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun ke-8 Hijriah ketika beliau berusia 61 tahun.

 

 

 

Daftar Pustaka

1.              Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.              Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.              Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.              Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.              Tafsirq.com online.

 

 

 

Monday, December 14, 2020

8070. MELIHAT BANGUNAN DIPAKAI MENYEKUTUKAN ALLAH

 


MELIHAT BANGUNAN DIPAKAI  MENYEKUTUKAN ALLAH UCAPKAN LA ILAHA ILLALLAH LA MAKBUDA ILLALLAH

Oleh: Drs. H. M. YusronHadi, M.M.

 

 

 

 

MELIHAT BANGUNAN YANG DIPAKAI UNTUK MENYEKUTUKAN ALLAH

Jika umat Islam melewati suatu jalan di depan sebuah gereja.

 

 

Atau melihat bangunan sebuah gereja.

 

 

Atau tempat lainnya yang dipakai untuk MENYEKUTUKAN ALLAH.

 

 

Maka umat lslam disunahkan untuk mengucapkan,

 

 ”La ilaha illallah, la makbuda illallah”.

 

 

Sebanyak 3 kali.

 

 

Yang artinya,”Tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada yang layak disembah selain Allah.”

 

 

 

(Sumber: Jemaah Tablig)