Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Saturday, March 6, 2021

8866. BAHASA ARAB PENUH DIMENSI KETUHANAN

 


BAHASA ARAB PENUH DIMENSI KETUHANAN

Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

Ungkapan dalam bahasa Arab banyak terkait dengan Tuhan.

 

 

 

Bahasa Arab kental dengan  dimensi teologis, misalnya:

 

1.      Al-salamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.

2.      Alhamdulillah.

3.      Masya Allah.

4.      Insya Allah.

5.      Subhanallah.

6.      Mabruk.

7.      Barakallahu fik.

8.      La haula wa la quwwata illa billah.

9.      Wallahi.

10.               Dan lainnya.

 

 

 

 

Dalam bahasa lain memang terkadang ada dimensi ketuhanannya.

 

 

Dalam bahasa Inggris, misalnya:

 

1.              Oh my God.

2.              God bless you.

3.              In God we trust.

 

Seperti tertulis dalam mata uang dolar Amerika.

 

 

 

Tetapi, bahasa Arab tetap lebih sarat dimensi ketuhanannya dibanding bahasa apa pun dan mana pun!

 

 

 

 

Ternyata orang Nasrani di Lebanon juga mengucapkan kata-kata mengandung “Allah” seperti itu.

 

 

Rupanya di Arab,  Allah adalah nama Tuhan bagi orang  beragama Kristen atau Masihiyyin.

 

 

 

 

Bangsa Arab memang dikenal sebagai bangsa yang bertuhan.

 

 

 Apalagi kenyataannya semua Nabi dan Rasul yang 25 itu lahir di Arab atau Timur Tengah.

 

 

Juga semua agama samawi, yaitu:

 

 

1.              Yahudi.

2.              Kristen.

3.              Islam. 

 

 

 

Saking tebalnya dalam bertuhan, sampai atheisme di kalangan bangsa Arab pun berbeda dengan atheisme Barat.

 

 

 

Ateisme di Barat benar-benar tidak percaya adanya Tuhan, bahkan anti Tuhan.

 

 

Tapi ateisme di Arab adalah hanya menolak kenabian dan wahyu, tapi tidak menolak ketuhanan.

 

 

 

Orang ateis Arab tetap percaya pada Tuhan.

 

 

dan menamakan Tuhannya dengan Allah.

 

 

Tetapi mereka menolak adanya Nabi atau konsep kenabian.

 

 

Mereka beriman kepada Tuhan,  tapi menolak nabi yang membawa wahyu.

 

Di negara Arab seperti Suriah, Irak, Palestina, dan lainnya, ada pengikut komunisme.

 

 

Di Iran secara politik didominasi kaum Mullah dan Ayatullah,  ternyata ada Partai Komunis, meskipun bergerak di bawah tanah.

 

 

 

Tapi mereka bukan ateis dalam definisi tidak bertuhan.

 

 

Pakar Arab mengatakan bahwa banyak sekali ucapan dalam bahasa Arab yang melibatkan Tuhan.

 

1.              Jika orang mengucapkan “mabruk” (مبروك).

 

2.              Anda menjawab “Allah baraka fik” (برك الله فيك).

 

3.              Kalimat itu artinya “Semoga Tuhan Allah memberi berkah kepadamu”.

 

 

 

Banyak sekali ucapan bahasa Arab yang melibatkan Tuhan seperti itu.

 

 

Jika kita berbicara dalam bahasa Arab kepada seseorang, maka kita telah mengaitkan bukan hanya melalui bahasa, tapi juga keimanan kepada Allah SWT.

 

 

 

Sangat meyakinkan dimensi ketuhanan yang kental dalam bahasa Arab karena pengaruh Al-Quran.

 

 

 

Pasalnya, bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an (لغة القران).

 

 

Semua orang sudah tahu fakta dan kenyataan itu.

 

 

Bahkan ada orang Arab yang secara agak berlebihan mengatakan bahwa Tuhan dan Malaikat-Nya berbicara dalam bahasa Arab.

 

 

 

Bahasa Arab juga sering disebut sebagai bahasa Islam.

 

 

Meskipun banyak juga orang Arab yang beragama Kristen.

 

 

 

Seperti orang Arab di Lebanon, Syria, Mesir, Yordania, Palestina, dan lainnya.

 

 

Mereka itu juga berbicara dan sangat bangga dengan bahasa Arab.

 

 

Ada pandangan sangat kuat tentang kesejajaran antara keislaman dan kearaban.

 

 

Pandangan seperti ini bukan hanya dalam umat Islam belaka.

 

Tapi juga di kalangan non-Islam.

 

 

 

 

Dr Anton Wessels, seorang Teolog Kristen dan guru besar di Vrije Universiteit, Amsterdam.

 

 

 

 

Dalam bukunya Arabier an Christen: Christelijke kerken in het Midden-Oosten (1983), juga mengabadikan kesan serupa.

 

 

 

Meskipun dia mengklarifikasinya.

 

 

Dalam bukunya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

 

 

 Arab dan Kristen: Gereja-Gereja Kristen di Timur Tengah (terj. Tati S.L. Tobing-Kartohadiprojo, BPK Gunung Mulia, Cet Kedua, 2002).

 

 

 

Wessels mengatakan bahwa banyak orang yang begitu mendengar sebutan orang Arab pikirannya segera terarah pada orang Islam.

 

 

 

Bahkan, setiap membaca atau mendengar bahasa Arab orang segera terbayang kata Islam.

 

 

 

Wessels sampai mengingatkan sebuah ungkapan sangat terkenal di kalangan orang Arab Kristen.

 

 

 

 

Yang berbunyi: “Bahasa Arab tak dapat dikristenkan”.

 

 

 

Bahasa Arab adalah satu-satunya bahasa di dunia ini yang kental dengan dimensi ketuhanan dan keagamaan lslam.

 

 

 

Mungkin faktor ketuhanan dan keislaman inilah bahasa Arab punya kemampuan bertahan yang luar biasa.

 

 

 

Jika dihitung sejak turunnya Al-Quran kepada Rasulullah.

 

 

 

Maka usia bahasa Arab yang juga bahasa Al-Quran sudah lebih dari 1.400 tahun.

 

 

 

Padahal sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, bahasa Arab sudah ada dan hidup.

 

Bahasa Arab sudah berusia ribuan tahun dan masih bertahan kuat sampai sekarang.

 

 

 

Sungguh sebuah bahasa yang punya  kemampuan bertahan yang luar biasa!

 

 

 

Bahasa Arab adalah satu-satunya bahasa Semitik yang telah berusia ribuan tahun.

 

 

Yang sampai hari ini masih bertahan hidup.

 

 

 

Ada 4 bahasa paling berpengaruh dalam sejarah manusia, yaitu:

 

1.              Sansekerta.

2.              Yunani.

 

3.              Latin.

4.              Arab.

 

 

Bahasa Sansekerta, Yunani, dan latin sudah mati.

 Tapi bahasa Arab tetap hidup.

 

 

 

BAHASA SANSEKERTA,  YUNANI DAN LATIN

 

 

Jika orang sekarang ingin membaca buku berbahasa Latin yang ditulis 200 tahun lalu, pasti sangat kesulitan.

 

 

 

Demikian juga dengan buku berbahasa Yunani dan Sanksekerta.

 

 

Tapi jika orang mau membaca kitab berbahasa Arab.

 

 

 

Jangankan kitab berusia 200 tahun lalu.

 

 

Bahkan kitab berusia 1.000 tahun lalu masih bisa dibaca dengan mudah.

 

 

 

Bahkan syair Jahiliah yang ada sejak zaman sebelum Rasulullah, masih bisa dinikmati dengan mudah.

 

 

 

Dr. Nurcholish Madjid menyebut bahasa Arab secara dramatis sebagai mukjizat Ilahi.

 

 

 bahasa Arab memang betul mukjizat kebudayaan.

 

 

 

Karaena bahasa Arab  sudah tua tetapi tetap bertahan hidup.

 

 

Bahasa Arab juga dikenal sebagai bahasa paling indah di dunia.

 

 

 

 Bukan hanya paling indah, tapi  juga sangat kaya raya dengan kosa kata.

 

 

 

 

Bahasa Arab konon punya  12.302.912.

 

 

 

Baca: 12 juta kata lebih.

 

 

 

Bandingkan dengan bahasa lain, misalnya:

 

1.      Bahasa Inggris 600.000 kata.

2.      Bahasa Perancis 150.000 kata.

 

 

Dalam konteks dan perspektif ini sungguh sangat rugi orang Islam yang tidak belajar bahasa Arab.

 

 

 

Pasalnya, dengan menguasai bahasa Arab maka orang akan memperoleh dimensi:

1.              Ketuhanan.

2.              Keislaman.

3.              Kebudayaan sangat kaya!

 

 

Jika seorang muda keturunan Arab yang tinggal di Amerika Utara berkata,

 

 

 

 “I forgot my Arabic tongue.

 

 

and lost my homeland in the process.

 

 

I feel like I’m slowly becoming more and more disconnected from my Arab roots’’.

 

 

Maka izinkan saya menambahkan dengan kalimat penutup sebagai berikut:

 

 

 

“Saya telah melupakan bahasa Arab.

 

 

 

Maka saya dalam proses kehilangan roh ketuhanan dan keislaman.

 

 

 

Karena pelan tapi pasti saya akan terpisahkan dari akar-akar ketuhanan dan keislaman”.

 

 

(Sumber Hajriyanto Y. Thohari)

 

8865. TAK ADA KATA AGAMA PADA PETA PENDIDIKAN NASIONAL 2035

 


TAK ADA KATA AGAMA PADA PETA PENDIDIKAN NASIONAL 2020-2035

Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

Muhammadiyah Tak Temukan Kata ‘Agama’ di Peta Pendidikan Nasional 2020-2035

 

 

 

 

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyoroti hilangnya frasa “agama” dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 

 

 

 

 Pernyataan Haedar ini disampaikan dalam forum FGD Peta Jalan Pendidikan Kemendikbud yang diadakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Senin (01/03/2021).

 

 

 

Haedar mengatakan Mendikbud telah melawan Konstitusi (inkonstitusional).

 

 

 

 

Karena merunut hierarki hukum, produk turunan kebijakan seperti peta jalan tidak boleh menyelisihi peraturan di atasnya.

 

 

 

 

 

Yaitu: Peraturan Pemerintah, UU Sisdiknas, UUD 1945 dan puncaknya adalah Pancasila.

 

 

“Saya bertanya, hilangnya kata agama itu alpa atau sengaja?

 

 

 

Oke kalau Pancasila itu dasar (negara), tapi kenapa budaya itu masuk?” tanya Haedar Nashir sebagaimana dimuat di laman resminya, muhammadiyah.or.id.

 

 

 

 

 

Ketum PP Muhammadiyah itu menuturkan pedoman wajib di atas Peta Jalan Pendidikan Nasional yaitu ayat 5 Pasal 31 UUD 1945.

 

 

 

 

 

Poin pertama Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menjelaskan secara eksplisit bahwa agama sebagai unsur integral di dalam pendidikan nasional.

 

 

 

 

“Kenapa Peta Jalan yang dirumuskan oleh Kemendikbud kok berani berbeda dari atau menyalahi pasal 31 UUD 1945.

 

 

 

 

Kalau orang hukum itu mengatakan ini Pelanggaran Konstitusional.

 

 

 

 

 

Tapi kami sebagai organisasi dakwah kalimatnya ‘tidak sejalan’ dengan Pasal 31,” kritik Haedar.

 

 

 

 

 

“Jadi ini yang sering mengundang tanya.

 

 

 

Tim perumusnya lupa, sengaja, atau memang ada pikiran lain.

 

 

 

 

Sehingga agama menjadi hilang,”tanyanya lagi.

 

 

 

 

Menurut Haedar, ini masalah serius yang perlu menjadi perhatian pemerintah Indonesia.

 

 

 

“Nah, problem ini adalah problem serius menurut saya yang perlu dijadikan masukan penting bagi pemerintah.

 

 

 

Agar kita berpikir bukan dari aspek priomordial.

 

 

 

 

Tapi berpikir secara konstitusional.

 

 

 

 

 

Karena itu sudah tertera langsung dalam pasal 31 UUD 1945 tanpa perlu interpretasi,” jelasnya.

 

 

 

Haedar yang Guru Besar Sosiologi memandang hilangnya frasa “agama” sebagai acuan nilai berdampak besar pada aplikasi dan ragam produk kebijakan di lapangan.

 

 

 

 

“Jika aman tidak ada masalah.

 

 

 

 

Tapi jika ada problem berarti kita mengawetkan sampai 20 tahun ke depan,” imbuh Haedar.

 

 

 

Diketahui, Visi Pendidikan Indonesia 2035 berbunyi,

 

 

 

“Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila.”

 

 

 

 

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan meski masih dalam tahap penyusunan.

 

 

 

 

Dia menilai proses penyusunan Peta Jalan Pendidikan dilakukan secara tertutup.

 

 

1.              Proses penyusunan sebagai ‘sembunyi-sembunyi’.

 

Termasuk tidak dilibatkannya BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) Kemendikbud dan partisipasi publik.

 

2.      Tidak ditemukannya kata “agama” dalam draf rumusan paling mutakhir tanggal 11 Desember 2020.

 

 

Terutama hilangnya frasa “agama” dari Visi Pendidikan Indonesia 2035.

 

 

 

Sebelumnya, dirumuskan Peta Jalan untuk memudahkan pengejawantahan salah satu tujuan nasional dalam Pembukaan UUD NKRI Tahun 1945.

 

 

 

Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

 

 

 

(Sumber internet)