Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, November 15, 2021

11671. JIHAD ZAMAN NOW TEGAKKAN KEADILAN SOSIAL

 



JIHAD ZAMAN NOW TEGAKKAN KEADILAN SOSIAL

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

Saat bicara tentang pahlawan.

 

Biasanya mengundang pembicaraan tentang jihad.

 

Tidak ada pahlawan tanpa jihad.

 

Tapi terjadi salah paham tentang jihad.

Karena  jihad baru terucap  saat perjuangan fisik.

 

Sehingga jihad identik dengan perlawanan bersenjata.

 

Salah paham disuburkan terjemahan yang keliru.

 

Yaitu “jihad” diartikan “anfus dan harta benda”.

 

Kata “anfus” sering  diterjemahkan dengan “jiwa”.

 

 

Terjemahan Al-Quran oleh Departemen Agama RI.

 

Al-Quran surah Al-Anfal (surah ke-8) ayat 72.

Menjelaskan tentang berjihad dengan harta dan jiwa.

 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

 

  Sesungguhnya orang-orang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (tetapi) jika mereka minta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

 

 

Al-Quran surah Al-Hujurat (surah ke-49) ayat 15.

Menjelaskan tentang berjihad dengan harta dan jiwa.

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

 

      Sesungguhnya orang-orang beriman hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka orang yang benar.

 

 

Al-Quran surah At-Taubah (surah ke-9) ayat 88.

Menjelaskan tentang berjihad dengan harta dan diri.

 

لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 

      Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung.

 

 

Kata “anfus” dalam Al-Quran mempunyai banyak arti.

Yaitu “nyawa”, “hati”, “jenis”, dan “totalitas manusia” yang terpadu jiwa raganya.

 

 

Al-Quran mempersonifikasikan wujud orang di hadapan Allah dan masyarakat.

 

Dengan memakai kata “nafs”.

 

 Sehingga tidak meleset.

Jika kata “anfus” dalam konteks jihad.

Dipahami dalam arti “totalitas manusia”.

 

Kata “nafs”.

Artinya mencakup “nyawa”, “emosi”, “pengetahuan”, “tenaga dan pikiran”, serta “waktu dan tempat”.

 

Karena manusia tidak dapat memisahkan diri dari waktu dan tempat.

 

Pengertian ini diperkuat.

Dengan perintah “berjihad”.

Tanpa menyebut “nafs” atau “harta benda”.

 

Al-Quran surah Al-Haj (surah ke-22) ayat 78.

Memerintahkan berjihad dengan sebenar-benarnya.

 

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

      Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilihmu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamaimu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikan salat, tunaikan zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

 

 

Kata “jihad” terulang 40 kali dalam Al-Quran.

Dengan berbagai bentuknya.

 

Makna “jihad” bermuara pada “mencurahkan seluruh kemampuan”.

Atau “menanggung pengorbanan”.

 

 

Seorang mujahid adalah “orang yang mencurahkan seluruh kemampuannya.

 

Dan berkorban dengan tenaga, pikiran, emosi, nyawa.

Dan apa saja yang terkait  manusia”.

 

Jihad adalah cara untuk mencapai tujuan.

 

ika seseorang dalam berjihad.

Maka dia tidak mengenal putus asa.

 

Tidak mudah menyerah, tidak lemah.

Dan tanpa pamrih apa pun.

 

Dalam berjihad perlu modal.

 

Maka dalam berjihad disesuaikan dengan modal yang dimiliki.

 

Dan tujuan yang ingin dicapai.

 

Artinya selama tujuan berjihad belum tercapai.

 

Dan selama masih ada modal yang dimiliki.

 

Masih dituntut terus berjihad dengan modal yang tersedia.

 

 

 

Para mujahid tidak mengambil apa pun.

 

Tapi memberi sesuatu.

Seorang mujahid hanya mengharapkan imbalan dari Allah saja.

 

 

Berjihad diperintahkan untuk dilakukan semata-mata karena Allah.

 

Berjihad adalah titik tolak seluruh upaya.

 

Jihad adalah puncak segala aktivitas.

 

Al-Quran surah Al-Ankabut (surah ke-29) ayat 6.

Menjelaskan tentang berjihad untuk dirinya sendiri.

 

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

 

      Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

 

Kesadaran untuk berjihad.

Berdasar pengetahuan.

Dan tidak dengan paksaan.

 

Sehingga seorang mujahid bersedia berkorban apa pun yang dimilikinya.

 

 

Macam-macam jihad dan hasilnya.

 

1.      Hasil berjihad seorang ilmuwan adalah pemanfaatan ilmunya.

2.      Hasil berjihad seorang karyawan adalah karyanya yang baik.

 

3.      Hasil berjihad seorang guru adalah hasil pendidikannya yang sempurna.

 

4.      Hasil berjihad seorang pemimpin adalah keadilannya.

 

5.      Hasil berjihad seorang pengusaha adalah kejujurannya.

 

6.      Dan seterusnya.

 

 

Berjihad dalam merebut kemerdekaan adalah dengan bertaruh harta dan nyawa.

 

 

Berjihad pada zaman sekarang.

 

1.      Menjaga keamanan harta dan nyawa.

 

2.      Mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab.

 

 

3.      Menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Al-Quran surah Ali Imran (surah ke-3) ayat 142.

 

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

 

       Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.

 

Daftar Pustaka

1.   Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

2.   Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.   Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.   Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.   Tafsirq.com online

 

11670. SEDIKIT TERTAWA SAAT MANUSIA INGAT MATI

 



SEDIKIT TERTAWA SAAT MANUSIA INGAT MATI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

Qanaah (menurut KBBI) bisa diartikan:

Rela dengan apa yang diberikan kepadanya.

Oleh orang tua, atasan, maupun oleh Allah.

 

 

      Bangsa Indonesia wajib bersyukur.

Dengan nikmat kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang merdeka atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Pada 17 Agustus 1945.

 

 

 Kata “syukur” dalam bahasa agama.

Artinya “memakai nikmat yang dilimpahkan oleh Allah.

Sesuai dengan tujuan dianugerahkannya”.

 

Al-Quran menyatakan manusia bertugas sebagai khalifah.

 

Untuk membangun peradaban di bumi.

 

Para malaikat mendambakan tugas itu.

 

Tapi tidak mendapatkannya.

 

Karena para malaikat hanya mampu.

 

Melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah.

 

Tapi malaikat tidak punya inisiatif.

 

Seluruh alam semesta diciptakan oleh Allah untuk diolah manusia.

 

Demi kenyamanan hidup di dunia.

 

Dan bahagia di akhirat.

 

Pada dasarnya.

Manusia boleh melakukan kegiatan apa pun.

 

 

Tapi ada peringatan.

 

Yaitu, “Berapa pun panjangnya umurmu, kematian pasti datang.

 

Dan kamu boleh bertindak semaumu.

 

Tapi pasti hrus tanggung jawab.”

 

 Apakah ini untuk menakuti manusia?

 

 Jawabnya,

”Tidak.

Karena dia adalah kebenaran”.

 

Apakah hal itu akan menghambat pembangunan?

 

Jawabnya,

”Justru sebaliknya.

Hal itu akan menambah semangat dalam pembangunan”.

 

Rasulullah bersabda.

Terhadap sekelompok pemuda duduk menganggur.

 

Sambil tertawa terbahak-bahak,

 

”Perbanyaklah mengingat mati.

 

Niscaya kalian akan sedikit tertawa.

 

Dan banyak menangis”.

 

 

 Para ulama berpendapat.

Bahwa penyakit yang diderita oleh manusia.

 

Seperti gelisah dan sengsara adalah siksaan Allah di dunia.

 

Karena ada pelanggaran terhadap sunatullah.

 

Yaitu hukum Allah yang berlaku di alam semesta.

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 268.

 

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 

      Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

 

 

Manusia diperintahkan meneladani sifat Allah yang mulia.

 

Sesuai posisi manusia sebagai makhluk Allah.

 

Misalnya Allah Maha Kaya.

Maha Kuasa.

Dan sifat mulia lainnya.

 

Orang yang puas dengan hasil yang diperolehnya.

 

Padahal kemampuannya dapat menambah lagi hasilnya.

 

Untuk manfaat dirinya dan makhluk lainnya.

 

Pada hakikatnya orang itu kurang menghayati ajaran agama.

 

 

 Dalam literatur agama dikenal istilah “qana'ah”.

 

Tapi “qana'ah”.

Bukan sekadar “merasa puas dengan apa yang dimiliki”.

 

Tapi kepuasan yang dimaksudkan.

 

Yaitu hasil akhir maksimal setelah:

1.      Ingin meraih sesuatu.

2.      Berusaha maksimal.

 

3.      Berhasil dalam berusaha.

4.      Menyerahkan dengan sukarela sesuatu yang telah diraihnya.

Kepada orang lebih butuh.

 

5.      Merasa puas dengan apa yang telah dimiliki sebelumnya.

 

Jika ada orang yang potensinya terabaikan.

Atau pekerjaannya sia-sia.

 

Maka orang itu kurang bersyukur terhadap nikmat Allah.

 

Karena tidak memanfaatkannya maksimal.

 

 Al-Quran surah An-Nahal (surah ke-16 ayat 14.

 

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

      Dan Dia Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.

 

 

Pada umumnya potensi.

Dan kemampuan umat Islam belum dimanfaatkan optimal.

 

Sehingga terbelakang, bodoh, dan miskin.

 

 

Kondisi itu dapat dikatakan.

 

Bahwa umat Islam kurang bersyukur.

 

Terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah.

 

 

Daftar Pustaka

1.              Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

2.              Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.              Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.              Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.              Tafsirq.com online