Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, October 11, 2022

15316. BANJIR JAKARTA IBARAT GELAS 1 LITER DIISI 2LITER PASTI LUBER

 


 

 

BANJIR JAKARTA IBARAT GELAS 1 LITER DIISI 2 LITER PASTI LUBER

Oleh: Drs HM Yusron Hadi, MM

 

 

 

Gubernur Jakarta.

Anies Baswedan menjelaskan.

 

Bahwa saat ini.

Banjir di Jakarta.

 Cepat surut.


Gubernur DKI Jakarta.

 Anies Baswedan mengatakan.

 

 Kota Jakarta pasti banjir.

Jika  curah hujan ekstrem tinggi.

 

Tapi saat ini.

Rendaman air relatif surut.

Dalam waktu cepat.


Anies menjelaskan.

Kondisi cuaca ekstrem.

Jika intensitas hujan melebihi 100 mm.

 

Karena kapasitas rata-rata drainase.

Di Jakarta.

Hanya berkisar 50-100 mm.

 

Ibarat  sebuah gelas.

Daya tampungya 1 liter.

 

Tapi diisi air 2 liter.

Maka air pasti tumpah.

Meluber keluar dari gelas.

 

Jika curah hujan di bawah 100 mm.

Atau di bawah 50 mm.

 

Dan terjadi banjir.

Maka yang salah manusia.

 

Tapi jika curah hujan di atas 100 mm.

Dan terjadi banjir.

Maka itu di luar kemampuan manusia.

 

Contohnya.

Sebuah gelas.

Daya tampungnya 1 liter.

 

Tapi dituangi air 2 liter.

Maka pasti airnya tumpah.

 

Tugas manusia.

Yaitu membuat agar air cepat surut.

 

Curah hujan ekstrem.

Terus Anda harap tidak tumpah?

 

Tak mungkin.

Pasti tumpah," kata Anies Baswedan.

 

Di Kota Tua, Jakarta Barat.

Senin (10/10/2022).



Karena itu.

Jajaran Pemprov DKI.

 

Disiapkan menangani genangan air.

Dengan waktu cepat.

 

Dalam mengatasi banjir.

Kuncinya manajemen.

 

Jika banjir tak bisa diatasi.

Selama berhari-hari.

 

Maka ada masalah.

Dalam manajemennya.


"Jumlah air yang jatuh.

 Di luar kemampuan manusia.

 

Tapi saat hujan sudah berhenti.

 

Berapa lama bisa surut.

Hal itu soal manajemen," jelas Anies Baswedan.

 

Anies mencontohkan.

Kejadian banjir di Jalan TB Simatupang.

 

Jakarta Selatan.

Pada Kamis, 6/10/2022.

 

Saat itu.

Banjir bandang merendam kawasan.

 

Akibat curah hujan ekstrem.

Di atas 180 mm.


"Ketika di Jakarta selatan.

 TB Simatupang sampai airnya tinggi.

 

Karena curah hujannya 180 mm.

Dalam waktu 2 jam.

 

Padahal curah hujan ekstrem itu.

Di atas 150 mm per hari.

 

Tapi ini dalam 2 jam.

Curah hujan 180 mm.

 

Berarti ekstrem.

Apa yang terjadi?

Pasti tergenang," terangnya.


Kendati begitu.

Kondisi banjir.

Hanya bertahan beberapa jam.

 

Banjir dilaporkan surut.

Dalam waktu 4 jam saja.


"Tapi dalam waktu 4 jam hilang sudah.

 

Artinya sistem manajemen pengendalian.

Untuk pemulihan berjalan baik," ujarnya.


Anies Baswedan menerangkan.

Sejak tahun 2018.

 

Berlaku key performance indicator (KPI).

Dalam penanganan banjir.

 

Yaitu banjir harus surut.

Dalam waktu 6 jam.



"Jadi begitu ada banjir.

Semua orang tahu.

Bahwa dalam  6 jam harus surut," tegasnya.


"KPI Penanganan banjir.

Dalam 6 jam.

Saat hujan berhenti.

 

Jika ada genangan.

Maka 6 jam harus surut.

 

Jika kanan dan kiri ada sungai.

Setelah sungai kembali permukaan normal.

 

Maka 6  jam dipompa.

Harus bisa surut," tambah Anies.



Anies mengaku bangga.

Atas kinerja jajarannya.

Dalam mengatasi banjir.

 

Karena jarang ada kota besar.

Mampu menangani banjir.

 

Akibat cuaca ekstrem.

Dalam kurun waktu singkat.


Jika suatu wilayah.

Kejatuhan air 180 mililiter.

 

Dalam 2 jam.

Pasti terjadi genangan.

 

Artinya itu kenyataan.

Saya bangga dengan kerja.

Tim DKI daan warga

 

Bayangkan.

Cuma dalam 1 malam.

Sudah  surut.

 

Dalam 1 hari.

Sudah surut.

Wah keren.

 

Apakah Anda sering melihat banjir.

Di kota lain.

 

Selama 5 hari.

Tapi tak surut surut?" tandas Anies Baswedan.

 

(Sumber detik)




Monday, October 10, 2022

15313. ATASI BANJIR JAKARTA PAKAI ILMU DAN TEKNOLOGI

  


 

 

ATASI BANJIR JAKARTA PAKAI ILMU DAN TENOLOGI

Oleh: Drs HM Yusron Hadi, MM

 

 

 

Anies Ungkap

Banjir Jakarta.

 

 Kini Lebih Cepat Surut.

 Dibanding Era Ahok.



Gubernur DKI Jakarta.

 Anies Baswedan mengatakan.

 

Bahwa  5 tahun terakhir.

Penanganan banjir.

 

Di Jakarta.

Meningkat signifikan.

 

Banjir di Jakarta.

Saat ini.

 

Lebih cepat surut.

Dibanding tahun 2015.

 

Pada tahun 2015.

Pemprov DKI Jakarta.

 

Dipimpin Basuki Tjahaja Purnama.

Atau Ahok.


Anies menyampaikan.

 

Dengan pedoman:

1)             Siaga.

2)             Tanggap.

3)             Galang.

 

Jadi pegangan Pemprov DKI Jakarta.

Dalam antisipasi banjir di Jakarta.

 

 Hasilnya.

Genangan surut lebih cepat.

 

Dan jumlah titik banjir berkurang.

Meskipun curah hujan ekstrem.

 


"Sistem drainase kota Jakarta.

Punya ambang batas.

 

Kapasitas tampung drainase DKI Jakarta.

Berkisar 100-150 mm/hari.

 

Jika curah hujan.

Di bawah 100 mm/hari.

 

Maka dipastikan.

 Jakarta aman.

 

Dan curahan hujan.

Bisa tertangani dengan baik.

 

Tapi jika curah hujan ekstrem.

 

Yaitu di atas angka 100 mm/hari.

Maka air pasti tergenang.

 

Terjadi banjir," kata Anies.

Minggu (9/10/2022).



Pada tahun 2020.

Tercatat curah hujan.

Terekstrem 377 mm/hari.

 

Tapi banjir surut.

Lebih dari 95 persen genangan.

Dalam waktu 96 jam.


Surutnya banjir ini.

Tercatat lebih cepat.

 

Daripada banjir tahun sebelumnya.

Seperti tahun 2015.

 

Pada tahun 2015.

Curah hujan rendah.

 

Yaitu 277 mm/hari.

Tapi 95 persen.

 

Wilayah tergenang.

Baru surut dalam waktu 168 jam.


Pada tahun 2007.

Curah hujan ekstrem.

Tercatat 340 mm/hari.

 

Jumlah tergenang:

1)        Sebanyak 955 RW.

2)        Sebanyak 270.000 lebih warga mengungsi.

 

Pada tahun 2020.

Curah hujan 377 mm/hari.

Jumlah tergenang:

 

1)                390 RW.

2)                36.000 warga mengungsi.

 

Kesimpulan.

Tanda dampak banjir di Jakarta.

Makin terkendali.


Dalam mengendalikan banjir.

Pemprov DKI Jakarta.

 

Melakukan berbagai program.

Yang tidak orientasi beton.

 

Salah satunya.

Program Gerebek Lumpur.

Di 5 wilayah Kota Administrasi.

 

Yaitu Mengeruk lumpur.

1)        Di danau.

2)        Dungai.

3)        Waduk.

 

Di Jakarta secara masif.

 

Kegiatan ini.

Untuk mengurangi proses pendangkalan,.

 

Dengan mengerahkan alat berat.

Berskala hingga 3 kali lipat .

Dari kapasitas biasanya.



Dinas Sumber Daya Air (SDA).

 DKI Jakarta.

Membuat kolam olakan air.

 

Guna mengantisipasi.

Dan menampung genangan air.

 

Sementara di jalan raya.

Saat hujan tiba.

 

Kemudian dialirkan ke sungai atau laut.

Kemudian:

1)        Memperbaiki saluran air.

2)        Mengintensifkan instalasi sumur resapan.

 

3)        Drainase vertikal.

 

4)        Mengimplementasikan Blue and Green.

Yaitu taman kawasan tampungan air sementara.

Saat curah hujan tinggi.

 

5)        Penyediaan alat pengukur curah hujan.

6)        Perbaikan pompa.


Pemprov DKI.

Merehab 9 polder.

 

Meningkatkan kapasitas 2 sungai.

Yaitu:

Kali Besar dan Kali Ciliwung.



Semua Langkah ini.

Untuk kendalikan banjir kawasan.

 

Buktinya.

 

Ada 12 titik genangan banjir.

Telah teratasi," lanjutnya.



Selain fokus infrastruktur.

Pemprov DKI Jakarta.

Juga terus inovasi teknologi.

 

Flood Control System.

Yaitu kolaborasi Jakarta Smart City.

Dan Dinas Sumber Daya Air.

 

Salah satu ikhtiar.

Agar penanganan banjir ke depan.

Makin ikut prinsip evidence based policy.

 

Ada 2 langkah penting.

Yaitu:

1)                Sensing.

2)                Understanding.

 

Hal ini sangat penting.

 

Awalnya dilakukan manual.

Kini real-time.

 

Awalnya terbatas.

Kini datanya melimpah.

 

 Sehingga, monitor penanganan banjir.

Jadi  lebih efektif.

 

Petugas lapangan.

Bisa menangani banjir.

Dengan lebih cepat.

 

Hal ini.

Yaitu kemajuan.

Dan terus kami tingkatkan," ungkap Anies.


(sumber detik)