ATASI BANJIR JAKARTA PAKAI
ILMU DAN TENOLOGI
Oleh: Drs HM Yusron
Hadi, MM
Anies Ungkap
Banjir Jakarta.
Kini Lebih Cepat Surut.
Dibanding Era Ahok.
Gubernur DKI Jakarta.
Anies Baswedan mengatakan.
Bahwa 5 tahun terakhir.
Penanganan banjir.
Di Jakarta.
Meningkat signifikan.
Banjir di Jakarta.
Saat ini.
Lebih cepat surut.
Dibanding tahun 2015.
Pada tahun 2015.
Pemprov DKI Jakarta.
Dipimpin Basuki Tjahaja
Purnama.
Atau Ahok.
Anies menyampaikan.
Dengan pedoman:
1)
Siaga.
2)
Tanggap.
3)
Galang.
Jadi pegangan Pemprov
DKI Jakarta.
Dalam antisipasi banjir
di Jakarta.
Hasilnya.
Genangan surut lebih
cepat.
Dan jumlah titik banjir
berkurang.
Meskipun curah hujan
ekstrem.
"Sistem drainase kota Jakarta.
Punya ambang batas.
Kapasitas tampung
drainase DKI Jakarta.
Berkisar 100-150
mm/hari.
Jika curah hujan.
Di bawah 100 mm/hari.
Maka dipastikan.
Jakarta aman.
Dan curahan hujan.
Bisa tertangani dengan
baik.
Tapi jika curah hujan
ekstrem.
Yaitu di atas angka 100
mm/hari.
Maka air pasti tergenang.
Terjadi banjir,"
kata Anies.
Minggu (9/10/2022).
Pada tahun 2020.
Tercatat curah hujan.
Terekstrem 377 mm/hari.
Tapi banjir surut.
Lebih dari 95 persen
genangan.
Dalam waktu 96 jam.
Surutnya banjir ini.
Tercatat lebih cepat.
Daripada banjir tahun
sebelumnya.
Seperti tahun 2015.
Pada tahun 2015.
Curah hujan rendah.
Yaitu 277 mm/hari.
Tapi 95 persen.
Wilayah tergenang.
Baru surut dalam waktu
168 jam.
Pada tahun 2007.
Curah hujan
ekstrem.
Tercatat 340 mm/hari.
Jumlah tergenang:
1)
Sebanyak 955 RW.
2)
Sebanyak 270.000 lebih
warga mengungsi.
Pada tahun 2020.
Curah
hujan 377 mm/hari.
Jumlah tergenang:
1)
390 RW.
2)
36.000 warga mengungsi.
Kesimpulan.
Tanda dampak banjir di
Jakarta.
Makin terkendali.
Dalam mengendalikan banjir.
Pemprov DKI Jakarta.
Melakukan berbagai
program.
Yang tidak orientasi
beton.
Salah satunya.
Program Gerebek Lumpur.
Di 5 wilayah Kota
Administrasi.
Yaitu Mengeruk lumpur.
1)
Di danau.
2)
Dungai.
3)
Waduk.
Di Jakarta secara masif.
Kegiatan ini.
Untuk mengurangi proses
pendangkalan,.
Dengan mengerahkan alat
berat.
Berskala hingga 3 kali
lipat .
Dari kapasitas biasanya.
Dinas Sumber Daya Air (SDA).
DKI Jakarta.
Membuat kolam olakan air.
Guna mengantisipasi.
Dan menampung genangan
air.
Sementara di jalan raya.
Saat hujan tiba.
Kemudian dialirkan ke
sungai atau laut.
Kemudian:
1)
Memperbaiki saluran air.
2)
Mengintensifkan
instalasi sumur resapan.
3)
Drainase vertikal.
4)
Mengimplementasikan Blue
and Green.
Yaitu taman kawasan
tampungan air sementara.
Saat curah hujan tinggi.
5)
Penyediaan alat pengukur
curah hujan.
6)
Perbaikan pompa.
Pemprov DKI.
Merehab 9 polder.
Meningkatkan kapasitas 2 sungai.
Yaitu:
Kali Besar dan Kali Ciliwung.
Semua Langkah ini.
Untuk kendalikan banjir kawasan.
Buktinya.
Ada 12 titik genangan banjir.
Telah teratasi,"
lanjutnya.
Selain fokus infrastruktur.
Pemprov DKI Jakarta.
Juga terus inovasi teknologi.
Flood Control System.
Yaitu kolaborasi Jakarta
Smart City.
Dan Dinas Sumber Daya
Air.
Salah satu ikhtiar.
Agar penanganan banjir
ke depan.
Makin ikut prinsip
evidence based policy.
Ada 2 langkah
penting.
Yaitu:
1)
Sensing.
2)
Understanding.
Hal ini sangat penting.
Awalnya dilakukan manual.
Kini real-time.
Awalnya terbatas.
Kini datanya melimpah.
Sehingga, monitor penanganan banjir.
Jadi lebih efektif.
Petugas lapangan.
Bisa menangani banjir.
Dengan lebih cepat.
Hal ini.
Yaitu kemajuan.
Dan terus kami
tingkatkan," ungkap Anies.
(sumber detik)
0 comments:
Post a Comment