Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, February 13, 2023

16662. TERTAWA SALAH SATU NIKMAT SURGA

 



TERTAWA SALAH SATU NIKMAT DI SURGA

Oleh: Drs. H. M. Yusron  Hadi, M.M.

 

 

 

 

AYO TERTAWA YANG WAJAR

 

     Tertawa yang wajar .

Bagaikan “obat” bagi kesedihan.

 

Laksana “pil kuat” untuk kegalauan. 

Pengaruh tertawa yang wajar amat kuat.

 

Membuat hati gembira.

Hati jadi bahagia.

Lingkungan jadi menyenangkan.

 

      Sahabat Nabi berkata,

”Nabi Muhammad terkadang tertawa, sehingga tampak gigi gerahamnya.”

 

 Tertawa puncak gembira.

Titik tertinggi ceria.

 Ujung perasaan senang.

 

      Nabi bersabda,

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”

 

Nabi Sulaiman tertawa.

 

Al-Quran surah An-Naml (surah ke-27) ayat 19.

 

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

 

Maka Sulaiman tertawa mendengar perkataan semut. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu dalam golongan hamba-Mu yang saleh".

 

      Salah satu nikmat Allah untuk penghuni surga ialah tertawa.

 

Al-Quran surah Al-Mutaffifin (surah ke-27) ayat 34.

 

فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ

 

Maka pada hari ini, orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir.

 

 Tapi jangan tertawa berlebihan.

 

Nabi bersabda,

“Jangan engkau banyak tertawa.

Karena banyak tertawa mematikan hati.”

 

Mari kita tertawa yang wajar saja.

 

      Jangan tertawa sinis dan penuh kesombongan.

 

Seperti orang kafir.

 

Al-Quran surah Az-Zukhruf (surah ke-43) ayat 47.

 

فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِآيَاتِنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ

 

Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat Kami dengan serta merta mereka menertawakannya.

 

 

       Pada umumnya, semua orang senang wajah yang murah senyum.

 

Suka dengan muka yang selalu tampak ceria.

Hal itu merupakan cermin kemurahan hati.

Kelapangan dada, dan kedermawanan.

 

      Pada dasarnya, Islam dibangun berdasarkan prinsip keseimbangan.

 

Moderat dalam hal akidah, ibadah, budi pekerti, dan perilaku.

 

Pertengahan dalam bersikap.

Islam tidak mengenal kemuraman yang menakutkan, maupun tertawa lepas tak beraturan.

 

      Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah. 

 

Menganjurkan perbuatan yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

 

     Imam Gazali melontarkan humor,

“Benda apakah yang paling tajam di dunia ini?

 

Muridnya menjawab degan berbagai jawaban.

 

Antara lain: pisau, silet, pedang dan semacamnya.

 

Imam Gazali menjawab,

“Betul, semua benda yang kalian sebutkan itu tajam.

Tetapi ada yang lebih tajam dari itu semua, yaitu LIDAH”.

 

 

       Abu Hurairah bertanya,

“Wahai Rasul, apakah engkau pernah bergurau?

 

Nabi bersabda,

” Benar, hanya saya selalu berkata benar.”

 

      Nabi bergurau,

“Naikkan barang-barangmu ke punggung anak unta di sebelah sana!”

 

Sahabat bingung,

“Ya Rasul, bagaimana anak unta mampu memikul beban berat?

 

Nabi bersabda,

 

”Saya tidak bilang anak unta itu kecil.

Semua unta ‘kan lahir dari ibu unta.”

 

 

     Seorang wanita tua bertanya,

“Ya Nabi, apakah wanita tua seperti saya layak masuk surga?”

 

Nabi bersabda,

“Maaf, Bu. Di surga tidak ada wanita tua”.

 

Wanita itu menangis.

 

Nabi menjelaskan,”

Semua orang yang masuk surga, akan menjadi muda lagi.”

 

 Wanita tua itu tersenyum.

 

      Sungguh, manusia membutuhkan senyuman.

 

Memerlukan humor yang menghibur.

 

Tidak menghina siapa pun.

 

Tak merendahkan apa pun.

Semua orang senang dengan wajah yang selalu berseri-seri.

 

Hati yang lapang dalam menerima perbedaan.

 

Budi pekerti yang luhur.

 

Perilaku yang lembut.

Pembawaan yang tidak kasar.

 

     Jadi, janganlah kita bersedih.

Lontarkan humor yang cedas.

 

 Humor yang tidak menyinggung siapa pun. Tak menghina apa pun.

 

Mari kita tersenyum.

 

Ayo tertawa yang wajar.

 

Kehidupan akan terasa lebih indah, ceria, dan memesona. Semoga.

 

 

Daftar Pustaka

1. Al-Qarni, Aidh. La Tahzan. Jangan Bersedih. Penerbit Qisthi Press. Jakarta 2007.

 

16661. HAI MANUSIA AYO TERTAWA YANG WAJAR

 


HAI MANUSIA AYO TERTAWA YANG WAJAR

Oleh: Drs. H. M. Yusron  Hadi, M.M.

 

 

 

 

AYO TERTAWA YANG WAJAR

 

     Tertawa yang wajar .

Bagaikan “obat” bagi kesedihan.

 

Laksana “pil kuat” untuk kegalauan. 

Pengaruh tertawa yang wajar amat kuat.

 

Membuat hati gembira.

Hati jadi bahagia.

Lingkungan jadi menyenangkan.

 

      Sahabat Nabi berkata,

”Nabi Muhammad terkadang tertawa, sehingga tampak gigi gerahamnya.”

 

 Tertawa puncak gembira.

Titik tertinggi ceria.

 Ujung perasaan senang.

 

      Nabi bersabda,

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”

 

Nabi Sulaiman tertawa.

 

Al-Quran surah An-Naml (surah ke-27) ayat 19.

 

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

 

Maka Sulaiman tertawa mendengar perkataan semut. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu dalam golongan hamba-Mu yang saleh".

 

      Salah satu nikmat Allah untuk penghuni surga ialah tertawa.

 

Al-Quran surah Al-Mutaffifin (surah ke-27) ayat 34.

 

فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ

 

Maka pada hari ini, orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir.

 

 Tapi jangan tertawa berlebihan.

 

Nabi bersabda,

“Jangan engkau banyak tertawa.

Karena banyak tertawa mematikan hati.”

 

Mari kita tertawa yang wajar saja.

 

      Jangan tertawa sinis dan penuh kesombongan.

 

Seperti orang kafir.

 

Al-Quran surah Az-Zukhruf (surah ke-43) ayat 47.

 

فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِآيَاتِنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ

 

Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat Kami dengan serta merta mereka menertawakannya.

 

 

       Pada umumnya, semua orang senang wajah yang murah senyum.

 

Suka dengan muka yang selalu tampak ceria.

Hal itu merupakan cermin kemurahan hati.

Kelapangan dada, dan kedermawanan.

 

      Pada dasarnya, Islam dibangun berdasarkan prinsip keseimbangan.

 

Moderat dalam hal akidah, ibadah, budi pekerti, dan perilaku.

 

Pertengahan dalam bersikap.

Islam tidak mengenal kemuraman yang menakutkan, maupun tertawa lepas tak beraturan.

 

      Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah. 

 

Menganjurkan perbuatan yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

 

     Imam Gazali melontarkan humor,

“Benda apakah yang paling tajam di dunia ini?

 

Muridnya menjawab degan berbagai jawaban.

 

Antara lain: pisau, silet, pedang dan semacamnya.

 

Imam Gazali menjawab,

“Betul, semua benda yang kalian sebutkan itu tajam.

Tetapi ada yang lebih tajam dari itu semua, yaitu LIDAH”.

 

 

       Abu Hurairah bertanya,

“Wahai Rasul, apakah engkau pernah bergurau?

 

Nabi bersabda,

” Benar, hanya saya selalu berkata benar.”

 

      Nabi bergurau,

“Naikkan barang-barangmu ke punggung anak unta di sebelah sana!”

 

Sahabat bingung,

“Ya Rasul, bagaimana anak unta mampu memikul beban berat?

 

Nabi bersabda,

 

”Saya tidak bilang anak unta itu kecil.

Semua unta ‘kan lahir dari ibu unta.”

 

 

     Seorang wanita tua bertanya,

“Ya Nabi, apakah wanita tua seperti saya layak masuk surga?”

 

Nabi bersabda,

“Maaf, Bu. Di surga tidak ada wanita tua”.

 

Wanita itu menangis.

 

Nabi menjelaskan,”

Semua orang yang masuk surga, akan menjadi muda lagi.”

 

 Wanita tua itu tersenyum.

 

      Sungguh, manusia membutuhkan senyuman.

 

Memerlukan humor yang menghibur.

 

Tidak menghina siapa pun.

 

Tak merendahkan apa pun.

Semua orang senang dengan wajah yang selalu berseri-seri.

 

Hati yang lapang dalam menerima perbedaan.

 

Budi pekerti yang luhur.

 

Perilaku yang lembut.

Pembawaan yang tidak kasar.

 

     Jadi, janganlah kita bersedih.

Lontarkan humor yang cedas.

 

 Humor yang tidak menyinggung siapa pun. Tak menghina apa pun.

 

Mari kita tersenyum.

 

Ayo tertawa yang wajar.

 

Kehidupan akan terasa lebih indah, ceria, dan memesona. Semoga.

 

 

Daftar Pustaka

1. Al-Qarni, Aidh. La Tahzan. Jangan Bersedih. Penerbit Qisthi Press. Jakarta 2007.

 

16660. WAHAI MANUSIA JANGAN BERSEDIH

 


WAHAI MANUSIA JANGAN BERSEDIH

Oleh: Drs. H. M. Yusron  Hadi, M.M.

 

 

 

Jangan bersedih, sebab kesedihan akan membuat air yang segar terasa pahit, sinar matahari pagi yang indah terasa suram, dan suara burung yang merdu bagaikan suara hantu menyeramkan.

 

Jangan bersedih, karena kesedihan akan membuat rumah yang luas terasa sempit, istri yang cantik tampak menyeramkan, dan anak-anak yang lucu terasa membisingkan.

 

Jangan bersedih, sebab kesedihan akan membuat udara yang sejuk tampak menyesakkan, pemandangan yang elok menjadi menakutkan, dan kebun yang indah tampak seonggok sampah menjengkelkan.

 

Jangan bersedih, karena kesedihan akan membuat suasana rumah terasa pengap laksana penjara, hubungan harmonis dalam keluarga menjadi berantakan bagaikan kapal pecah dan kendaraan yang bagus tidak bermanfaat sedikit pun.

 

 Jangan bersedih karena kita masih memiliki dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, dua bibir, pikiran,dan hati. Kita masih memiliki kesehatan, waktu luang, dan keamanan.

 

Jangan bersedih, sebab kita masih memiliki agama yang kita anut, tempat tinggal  yang kita huni, nasi yang kita makan, air yang kita minum, pakaian yang kita kenakan, dan keluarga tempat berbagi perasaan, mengapa harus bersedih?

 

Jangan bersedih, ketika anak kita gagal dalam ujian, lalu kita bersedih, apakah anak kita menjadi lulus? Saat keluarga kita ada yang meninggal dunia, apakah dia akan hidup kembali? Jika kita rugi dalam bisnis, apakah kita menjadi untung?

 

Jangan bersedih, ketika kita berada di pagi hari, jangan menunggu datangnya sore hari. Hari ini yang kita jalani, bukan hari kemarin, juga bukan hari esok yang belum pasti datangnya. Mari kita nikmati dan syukuri hari ini, karena hari ini adalah milik kita.

 

Jangan bersedih, mari kita jalani hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian, dan kebencian. Jika hari ini kita minum air jernih yang segar, mengapa kita harus bersedih dengan air asin yang kita minum kemarin, atau mengkhawatirkan air pahit esok hari yang belum tentu terjadi?

 

Hal itu akan membuat kita bertekad dalam hati, hanya hari ini kesempatan saya, Cuma saat ini waktu saya, dan akan saya manfaatkan dengan maksimal.

 

Saya akan berbicara yang bermanfaat, berkata yang baik-baik saja, tidak berkata dusta jelek dan kotor, tidak akan mencela dan menghardik, tidak membicarakan kejelekan orang lain, dan tidak berbuat yang sia-sia.

 

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kecemasan, dari kemalasan dan kebakhilan, dari sifat pengecut, beban utang, dan tekanan orang jahat.

 

Cukuplah Allah bagi kita, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Amin.

 

Al-Quran surah Ali Imran (surah ke-3) ayat 139.

 

.        وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 

       Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

 

Al-Quran surah At-Taubah (surah ke-9) ayat 40.

 

.        إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 

      Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Al-Quran surah At-Taubah (surah ke-9) ayat 40.

 

.  لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ

 

Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.

 

 

. Daftar Pustaka

1.    Al-Qarni, Aidh. La Tahzan. Jangan Bersedih. Penerbit Qisthi Press. Jakarta 2007.

2.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3.    Tafsirq. com online.