Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, April 18, 2023

17552. PEMERINTAH TAK BERHAK ATUR IBADAH MAHDAH

 



PEMERINTAH TAK BERHAK ATUR IBADAH MAHDAH

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

 

 

Sekretaris Umum

Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 

Abdul Mu’ti.

Memberi respon.

Terhadap beberapa daerah.

 

Yang menolak fasilitas umum.

Untuk salat Idul Fitri.

Jumat (21/4/2023).

Pelarangan fasilitas public.

Dipakai salat Idul Fitri.

Sebab beda dengan pemerintah.

 

Akibat kebijakan pemerintah.

Tentang:

 

1)        Awal Ramadan.

2)        Idul Fitri.

3)        Idul Adha.

 

“Dalam negara Pancasila.

Pemerintah tak berwenang.

 

Mengatur ibadah mahdah.

Seperti:

 

1)             Awal Ramadan.

2)             Idul Fitri.

3)             Idul Adha, , “ ungkap Mu’ti.

 

 Senin (17/4/2023).

 

Pemerintah.

Sebagai penyelenggara negara.

 

Wajib jamin.

Kemerdekaan warga negara.

 

Untuk ibadah.

Sesuai agama.

Dan keyakinannya.

 

Fasilitas public.

Seperti:

1)        Lapangan.

2)        Tempat terbuka.

 

Bisa dipakai sesuai ketentuan.

 

“Fasilitas public.

Seperti lapangan.

 

Dan fasilitas lainnya .

Bisa dimanfaatkan warga.

 

Sesuai ketentuan.

Bukan karena beda paham agama.

Dengan pemerintah.” Imbuhnya.

 

Kegiatan ibadah Idul Fitri.

Di lapangan terbuka.

Bukan kegiatan politik.

 

Bukan makar .

Kepada pemerintah.

 

Dia minta.

Pemerintah pusat.

 

Tak biarkan Pemerintah Daerah.

Buat kebijakan inkonstitusional.

 

“Pemerintah pusat.

Tak boleh biarkan Pemerintah Daerah.

 

Buat kebijakan.

Melawan Konstitusi.

Dan langgar kebebasan agama,” tegasnya.

 

(Sumber muhammadiyah)

17551. BUKAN NEGARA AGAMA TAK BOLEH DOMINAN

 



 

INDONESIA BUKAN NEGARA AGAMA TAK BOLEH SUATU PAHAM INGIN DOMINAN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

 

 

Toleran.

Yaitu:

 

Menghormati pendapat berbeda.

Dengan pendirian sendiri.

 

INTOLERAN

Yaitu:

1)        Tidak tenggang rasa.

2)        Tidak toleran

 

Perbedaan idul fitri bukan masalah.

Karena berdasar ijtihad.

Masing-masing pihak.

 

Hasil ijtihad Idul Fitri.

1)                Jumat, 21 April 2023.

2)                Sabtu, 22 April 2023.

 

Semuanya benar.

Karena berdasar ijtihad otoritatif.

 

“Lebaran Idul fitri boleh berbeda.

Tapi kita bisa bersama.

Untuk merayakannya.

 

Jika ada perbedaan.

Hal itu lumrah.

 

Karena ini soal ijtihad.

Sampai nanti kita sepakat.

Ada Kalender Islam global," kata Haedar.

 

Di UMS Jawa Tengah.

Ahad (16/4/2023)

 

Guru Besar Sosiologi ini menyatakan.

Jika 1 lokasi dipakai.

 

Untuk  salat Idul Fitri berbeda.

Maka tak membatalkan salah satunya.

 

Bahkan lokasi itu.

Dapat berkah.

Karena 2 kali.

Dipakai salat Idul Fitri.

 

“Jika selama ini.

Fasilitas itu dipakai negara.

 

Lalu dipakai Muhammadiyah.

Maka tak perlu dilarang.

 

Misalnya.

Hari ini digunakan Muhammadiyah.

 

Besok digunakan yang lain," paparnya.

 

 Muhammadiyah di salah satu daerah.

Mita izin pakai fasilitas negara.

 

Sebagai tempat Salat Ied.

Bukan karena Muhammadiyah.

Tak punya  fasilitas sendiri.

 

Tapi fasilitas negara.

Milik seluruh golongan.

 

Presiden pertama Indonesia.

Soekarno dalam Pidato 1 Juni.

Bahwa Indonesia.

Bukan milik 1 orang.

Bukan milik 1 golongan.

 

Yaitu golongan bangsawan saja.

Tapi milik semua rakyat.

 

Mari kita bangun bangsa ini.

Jadi lebih maju.

 

Soal rumah tangga.

Dalam berbangsa dan bernegara.

 

Ada dinamikanya.

Dalam atasi perbedaan.

 

Negara harus adil dan ihsan.

Apalagi urusan agama.

 

Jangan terjadi rezim agama.

Dalam negara ini.

 

Indonesia bukan negara agama.

Tak boleh agama tertentu.

Jadi dominan.

 

Tak boleh paham tertentu.

Ingin menguasai semuanya.

 

Dalam negara Pancasila.

Semua setara.

 

 

(Sumber republika)

17550. MELARANG BEDA IDUL FITRI TERMASUK INTOLERAN

 

 



MELARANG BEDA IDUL FITRI TERMASUK INTOLERAN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

 

 

Toleran.

Yaitu:

 

Menghormati pendapat berbeda.

Dengan pendirian sendiri.

 

INTOLERAN

Yaitu:

1)        Tidak tenggang rasa.

2)        Tidak toleran

 

Perbedaan idul fitri bukan masalah.

Karena berdasar ijtihad.

Masing-masing pihak.

 

Hasil ijtihad Idul Fitri.

1)                Jumat, 21 April 2023.

2)                Sabtu, 22 April 2023.

 

Semuanya benar.

Karena berdasar ijtihad otoritatif.

 

“Lebaran Idul fitri boleh berbeda.

Tapi kita bisa bersama.

Untuk merayakannya.

 

Jika ada perbedaan.

Hal itu lumrah.

 

Karena ini soal ijtihad.

Sampai nanti kita sepakat.

Ada Kalender Islam global," kata Haedar.

 

Di UMS Jawa Tengah.

Ahad (16/4/2023)

 

Guru Besar Sosiologi ini menyatakan.

Jika 1 lokasi dipakai.

 

Untuk  salat Idul Fitri berbeda.

Maka tak membatalkan salah satunya.

 

Bahkan lokasi itu.

Dapat berkah.

Karena 2 kali.

Dipakai salat Idul Fitri.

 

“Jika selama ini.

Fasilitas itu dipakai negara.

 

Lalu dipakai Muhammadiyah.

Maka tak perlu dilarang.

 

Misalnya.

Hari ini digunakan Muhammadiyah.

 

Besok digunakan yang lain," paparnya.

 

 Muhammadiyah di salah satu daerah.

Mita izin pakai fasilitas negara.

 

Sebagai tempat Salat Ied.

Bukan karena Muhammadiyah.

Tak punya  fasilitas sendiri.

 

Tapi fasilitas negara.

Milik seluruh golongan.

 

Presiden pertama Indonesia.

Soekarno dalam Pidato 1 Juni.

Bahwa Indonesia.

Bukan milik 1 orang.

Bukan milik 1 golongan.

 

Yaitu golongan bangsawan saja.

Tapi milik semua rakyat.

 

Mari kita bangun bangsa ini.

Jadi lebih maju.

 

Soal rumah tangga.

Dalam berbangsa dan bernegara.

 

Ada dinamikanya.

Dalam atasi perbedaan.

 

Negara harus adil dan ihsan.

Apalagi urusan agama.

 

Jangan terjadi rezim agama.

Dalam negara ini.

 

Indonesia bukan negara agama.

Tak boleh agama tertentu.

Jadi dominan.

 

Tak boleh paham tertentu.

Ingin menguasai semuanya.

 

Dalam negara Pancasila.

Semua setara.

 

 

(Sumber republika)