PENYAKIT WAHAN HINGGA MINDER DAN RENDAH DIRI
Oleh:
Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Rasulullah SAW pernah prediksi.
Bahwa umat lslam.
Seperti “buih” di tengah lautan.
Terombang-ambing oleh tiupan angin.
Dalam
hadis lain.
Umat
lslam.
Seperti
“sepotong daging lezat”.
Diperebutkan
anjing-anjing lapar.
Pada
hadis awal.
Sahabat
bertanya,
“Apakah
saat itu.
Jumlah
kita sedikit, ya Rasulullah?”.
Rasulullah
bersabda,
“Kalian
saat itu mayoritas.”
Tapi
kalian dihinggapi penyakit “wahan”.
Sahabat
bertanya,
“Apakah
wahan itu, ya Rasulullah?”.
Rasulullah
bersabda,
“Yaitu
cinta dunia dan takut mati”.
Rasulullah
tak jelaskan arti wahan.
Tapi
jelaskan penyebabnya.
Info
Rasulullah makin nyata.
Bahwa
umat dihinggapi penyakit itu.
Yaitu:
1)
Penyakit materialis.
2)
Mengabaikan nilai spiritual.
Rasulullah
tak memberi definisi wahan.
Tapi
memberi indikator.
Atau
penyebab penyakit wahan.
Bahwa
terjadinya penyakit wahan.
“حب الدنيا وكراهية
الموت”
1)
Cinta dunia.
2)
Takut mati.
Cinta
dunia.
Yaitu
situasi jiwa manusia.
Yang
terkungkung tendensi duniawi.
Cinta
dunia.
Yaitu
cara pandang manusia.
1)
Materialis.
2)
Bersifat sementara.
Dalam
bahasa Arab.
“المادية”
Atau
cara pandang hidup.
Terbatas
bersifat fisik.
Sekarang
ini.
Paham
materialis.
Jadi
jalan hidup menguasai dunia.
Umat
lslam terpenjara di dalamnya.
Penyakit
wahan.
Penyakit
kronis menimpa umat lslam.
Yaitu
tak punya posisi jelas dan tegas.
Dalam
merespon gerakan global.
Kata
“wahan”.
Punya
koneksi.
Dengan
kata “kehinaan” (hinatun).
Kata
ini konotasi dekat.
Dengan
kata “hayyin” (هين)
Artinya
lemah.
Tak
punya sofistikasi.
Rasulullah
SAW prediksi.
Umat
terkena penyakit wahan.
Artinya:
1)
Hina.
2)
Rendah diri.
3)
Tak mulia.
Misalnya.
1.
Dalam ekonomi.
Ekonomi
tertinggal.
Bahkan
jadi sapi perahan.
2.
Dalam militer.
Jadi
obyek bisnis.
Dan
uji coba alat militer.
3.
Dalam ilmu dan tekonologi.
Sangat
terbelakang.
4.
Dalam politik.
Jadi
mainan dunia global.
5.
Dalam sosial budaya.
Jadi
objek budaya orang lain.
Semua
terjadi.
Karena
cinta dunia.
Yaitu
materialis.
Sehingga
hilang harga diri.
Tak
ada kemuliaan.
Tanpa
harga diri dan perasaan mulia.
Umat
tak punya pegangan kuat.
Hanya
terbawa arus dunia.
Sesuai
kepentingan mereka.
Saatnya
membuka mata!
(Sumber
Imam Shamsi Ali)
0 comments:
Post a Comment