Sunday, December 3, 2017

538. WUKUF

WUKUF PUNCAK IBADAH HAJI
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang wukuf adalah puncak ibadah haji?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Pada setiap tahun tanggal 9 Zulhijah, umat Islam yang melaksanakan ibadah haji melakukan wuquf di Arafah, karena haji mereka tidak sah tanpa wuquf, lalu dari Arafah jamaah haji menju ke Muzdalifah, kemudian ke Mina untuk  melempar jumrah, selanjutnya berkorban dan berlebaran.
    Dalam pandangan kaum sufi, terdapat orang yang memandang Kakbah, wuquf di Arafah, dan melakukan kegiatan haji lainnya, tetapi tidak mencapai makna haji yang sebenarnya.
     Kaum sufi berkata,”Terdapat orang yang berada di Mekah, bagaikan berkunjung ke rumah orang yang tidak berpenghuni, dan terdapat orang yang tidak berkunjung ke Mekah, tetapi  kerasakan kehadiran Allah yang hadir mengunjungi rumahnya”.
    Kaum sufi berpendapat,”Siapa yang memandang kepada makhluk akan binasa, dan siapa yang memandang kepada Allah akan kuasa”.
    Ibadah haji adalah suatu “mujahadah” (upaya jiwa yang bersungguh-sungguh), untuk mencapai “musyahadah” (penyaksian), dan ketika jamaah haji wukuf di Arafah, diharapkan semua para jamaah haji telah singgah dalam “musyahadah” (menyaksikan dengan hati) kehadiran Allah.
    Saat wuquf di Arafah adalah saat “musyahadah” (penyaksian), dan terdapat dua  dua macam “musyahadah” (upaya jiwa yang bersungguh-sungguh), yaitu kepercayaan yang sempurna dan kehangatan cinta yang membara kepada Allah.
    Dengan “keterbakaran” cinta, maka seseorang akan mengalami dirinya “fana”, yaitu merasa dirinya hilang dan musnah, sehingga tidak ada yang disaksikannya selain orang yang dicintainya, bahkan dia akan iri kepada segala sesuatu, termasuk kepada matanya sendiri,”Sungguh aku iri kepada mataku sendiri, dan kututup mataku apabila aku menghadap Engkau Ya Allah.”
     Aisyah, istri Nabi, berkata bahwa Nabi Muhammad memberitahukan kepadanya bahwa beliau tidak melihat Allah ketika isra mikraj, tetapi Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad dapat “melihat” Allah.
    Keduanya benar, artinya Nabi Muhammad tidak melihatnya (dengan pandangan fisik mata) kepada Allah, yang disampaikan oleh Rasul kepada Aisyah yang “formalis”, dan  beliau “melihat” Allah (dengan mata hati) seperti penyampaian Ibnu Abbas yang “spiritualis”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment