Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, May 23, 2018

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

Monday, May 21, 2018

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

841. JULUK

JULUKAN RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Islam Hijriah. Umat Islam diwajibkan berpuasa dalam bulan Ramadan selama sebulan penuh, sebanyak 29 atau 30 hari.
     Puasa Ramadan adalah rukun Islam ke-4. Rukun Islam adalah tiang utama agama Islam. Lima rukun Islam adalah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, berzakat, berpuasa, dan mengerjakan ibadah haji.
      Nama julukan lain bulan Ramadan adalah berikut ini.
     Pertama, bulan Ramadan disebut “Syahrus Syiyam” (bulan berpuasa), karena umat Islam diwajibkan berpuasa sebulan penuh dalam bulan Ramadan.
      Kedua, bulan Ramadan dinamakan “Syahrul Qiyam” (bulan salat malam), karena dalam bulan Ramadan umat Islam disunahkan menghidupkan malam-malamnya dengan salat malam, tarawih, witir, memperbanyak belajar mengajar Al-Quran, berzikir, dan  iktikaf di masjid, terutama pada sepuluh malam terakhir.
      Ketiga, bulan Ramadan digelari “Syahrul Quran” (bulan Al-Quran), karena Al-Quran diturunkan pertama kali dalam bulan Ramadan.
      Keempat, bulan Ramadan dijuluki “Syahrul Infak” (bulan infak), karena selama bulan Ramadan Nabi Muhammad memberikan contoh meningkatkan pemberian sumbangan harta dan sebagainya untuk kebaikan (selain zakat wajib).
      Kelima, bulan Ramadan disebut “Syahrut Tarbiyah” (bulan pembelajaran), karena dalam bulan Ramadan Nabi  Muhammad sering tadarus mengkaji A-Quran dengan Malaikat Jibril.    
      Keenam, bulan Ramadan dinamakan “Syahrul Jihad” (bulan jihad), karena banyak  peristiwa jihad terjadi dalam bulan Ramadan.
      Perang Badar terjadi ketika Nabi Muhammad berusia 55 tahun, penaklukan Mekah ketika Rasulullah berusia 61 tahun bersama 10.000 pasukan muslim menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan masih banyak peristiwa sejarah umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadan, serta kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi pada bulan Ramadan.
Daftar Pustaka
1. Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam (Hukum Fikih Lengkap).  Penerbit Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke-80, Bandung. 2017.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
3. Tafsirq.com online

841. JULUK

JULUKAN RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

      Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Islam Hijriah. Umat Islam diwajibkan berpuasa dalam bulan Ramadan selama sebulan penuh, sebanyak 29 atau 30 hari.
     Puasa Ramadan adalah rukun Islam ke-4. Rukun Islam adalah tiang utama agama Islam. Lima rukun Islam adalah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, berzakat, berpuasa, dan mengerjakan ibadah haji.
      Nama julukan lain bulan Ramadan adalah berikut ini.
     Pertama, bulan Ramadan disebut “Syahrus Syiyam” (bulan berpuasa), karena umat Islam diwajibkan berpuasa sebulan penuh dalam bulan Ramadan.
      Kedua, bulan Ramadan dinamakan “Syahrul Qiyam” (bulan salat malam), karena dalam bulan Ramadan umat Islam disunahkan menghidupkan malam-malamnya dengan salat malam, tarawih, witir, memperbanyak belajar mengajar Al-Quran, berzikir, dan  iktikaf di masjid, terutama pada sepuluh malam terakhir.
      Ketiga, bulan Ramadan digelari “Syahrul Quran” (bulan Al-Quran), karena Al-Quran diturunkan pertama kali dalam bulan Ramadan.
      Keempat, bulan Ramadan dijuluki “Syahrul Infak” (bulan infak), karena selama bulan Ramadan Nabi Muhammad memberikan contoh meningkatkan pemberian sumbangan harta dan sebagainya untuk kebaikan (selain zakat wajib).
      Kelima, bulan Ramadan disebut “Syahrut Tarbiyah” (bulan pembelajaran), karena dalam bulan Ramadan Nabi  Muhammad sering tadarus mengkaji A-Quran dengan Malaikat Jibril.    
      Keenam, bulan Ramadan dinamakan “Syahrul Jihad” (bulan jihad), karena banyak  peristiwa jihad terjadi dalam bulan Ramadan.
      Perang Badar terjadi ketika Nabi Muhammad berusia 55 tahun, penaklukan Mekah ketika Rasulullah berusia 61 tahun bersama 10.000 pasukan muslim menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan masih banyak peristiwa sejarah umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadan, serta kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi pada bulan Ramadan.
Daftar Pustaka
1. Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam (Hukum Fikih Lengkap).  Penerbit Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke-80, Bandung. 2017.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
3. Tafsirq.com online