Friday, September 1, 2017

239. ISRA

MEMAHAMI PERISTIWA ISRA’ MIKRAJ
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang peritiwa isra’ mikraj dalam   Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Al-Quran surah Al-Isra, surah ke-17 ayat 1.

                        
      “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
     Isra’ Mikraj adalah perjalanan Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil-Haram di Mekah menuju Baitul Maqdis di Palestina, kemudian naik ke Sidratul Muntaha, bahkan melampauinya, dan  kembali ke Mekah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar dari Allah kepada umat manusia.
     Peristiwa ini membuktikan bahwa ilmu dan kekuasaan Allah meliputi,  menjangkau, serta  mengatasi segala waktu dan ruang yang terbatas maupun yang tidak terbatas.
     Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, bisa berkata,”Bagaimana mungkin kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya, yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam kontinum empat dimensi, dapat terjadi?
     Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Nabi Muhammad tidak mengakibatkan gesekan panas yang merusak tubuh Nabi?
     Bagaimana mungkin Nabi dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Mereka berpendapat bahwa hal Ini tidak mungkin terjadi, karena tidak sesuai dengan hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan logika.
      Untuk memahami peristiwa isra’ mikraj yang tepat adalah dengan pendekatan iman. Abu Bakar Sidik berkata,”Apabila Nabi Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya.”
     Uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa isra mikraj berdasarkan bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.
     Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang isra’ mikraj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut.
     Para ulama berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran adalah uraian yang terdapat dalam surah sebelumnya, maka pengantar uraian peristiwa Isra' mikraj adalah surah Al-Nahl, surah ke-16, dan An-Nahl artinya lebah.
    Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaiban lebah  bukan hanya terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina.
     Keajaiban lebah terlihat pada sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang yang sama bersegi enam kongruen yang disebut heksagonal dan diselubungi  selaput sangat halus yang menghalangi udara atau bakteri untuk menyusup ke dalamnya, juga  pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi banyak penyakit.
    Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi yang dipimpin oleh seekor “Ratu Lebah”, yang memiliki keajaiban dan keistimewaan.
    Misalnya, bahwa Sang Ratu mempunyai perasaan “malu” yang dijaganya, sehingga   Sang Ratu enggan berhubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai 30.000 ekor lebah.
    Keajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa dan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh ilmuwan.
   Lebah dipilih oleh Allah untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban dalam peristiwa Isra' mikraj, dan pengantar yang menjelaskan manusia seutuhnya.
     Nabi mengambarkan manusia seutuhnya, “Seorang mukmin bagaikan lebah, yang dikonsumsi hanya yang baik dan indah, misalnya bunga yang harum semerbak, dan menghasilkan sesuatu yang baik dan berguna seperti madu”.
     Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita melihat ayat pertama surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 1.
            
     “Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”.
      Ketetapan Allah di sini adalah hari kiamat yang telah diancamkan kepada orang-orang musyrikin. Dunia belum kiamat, tetapi mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang?
     Al-Quran menyatakan, “Telah datang ketetapan Allah”, dan dinyatakan juga, “Jangan meminta agar disegerakan datangnya?”
      Hal ini untuk memberikan isyarat dan pengantar bahwa Allah tidak mengenal ruang dan waktu untuk mewujudkan sesuatu, sedangkan tentang hari ini, esok, atau kemarin, adalah perhitungan makhluk yang bernama manusia.
      Allah tidak terikat ruang dan waktu, karena Allah Yang Menguasai ruang dan waktu, maka Allah tidak membutuhkan batasan untuk ruang dan waktu mewujudkan sesuatu.
     Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 40.
            
    “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu, apabila Kami menghendaki, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Kun (jadilah)”, maka jadilah dia”.

     Para ilmuwan menjelaskan bahwa sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Misalnya, benda padat membutuhkan waktu  lebih lama untuk bergerak dibandingkan dengan suara, dan suara memerlukan waktu lebih lama untuk bergerak dibandingkan dengan cahaya.
   Para ilmuwan berkesimpulan bahwa pada akhirnya ada sesuatu yang tidak membutuhkan ruang dan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah Yang Maha Kuasa.
      Para ilmuwan meyakini bahwa segala sesuatu mempunyai “sebab”. Tetapi, apakah “sebab” tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Jawabnya adalah “Tidak”.
      Menurut Al-Quran, semua yang diketahui oleh para ilmuwan secara pasti hanya “sebab” yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu.
     Bahwa “sebab” yang mendahului sesuatu, itu adalah benar. Tetapi tidak bisa dinyatakan bahwa “sebab” itulah yang mewujudkannya.
     Misalnya, "Cahaya yang terlihat mata, sebelum terdengar suatu dentuman meriam oleh telinga, bukan penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru”.  
     Imam Ghazali berkata,”Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar, bukan penyebab terbitnya fajar.”
      Isaac Newton berkata, “Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, lalu dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakan dari B ke C adalah akibat pergerakan dari A ke B”.
    Einstein menjelaskan bahwa semua yang terjadi di alam semesta diwujudkan oleh “Kekuatan nalar yang superior”, atau menurut bahasa Al-Quran semua alam semesta diwujudkan oleh “Al-Aziz Al-Alim”, yaitu Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
     Inilah yang ditegaskan oleh Allah dalam surah pengantar peristiwa Isra Mikraj  dalam firman-Nya surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 49-50.

                           
      “Dan kepada Allah saja bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment