SISTEM
PENDIDIKAN PONDOK GONTOR
Oleh:
Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

1. Pondok
Modern Darussalam adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah berdiri sejak 90
tahun lalu.
2. Letaknya yang jauh dari keramaian kota,
tepatnya di desa Gontor, mengesankan lembaga ini asing dari sorotan.
3. Namun,
hal itu tidak menghambatnya untuk maju.
4. Bahkan,
tanpa advertising apapun, kiprahnya sudah dikenang oleh banyak tokoh Indonesia,
khususnya dalam dunia pendidikan.
5. Tentu,
itu semua karena Allah memberikan pesantren ini kelebihan.
6. Apa
nilai plus yang membuatnya lebih maju dari Indonesia?
7. Selamat
membaca.
8. belajar
malam ujian
9. Muwajjah
(Belajar Malam)
10. Sejak
dahulu kala, Gontor sudah menerapkan wajib belajar malam bagi santri.
11. Setiap
hari efektif belajar, usai shalat Isya dan makan malam, pukul. 20.00–21.30 WIB
seluruh santri diwajibkan berkumpul di kelas masing-masing.
12. Kehadiran
mereka dipantau oleh wali kelas dan kegiatan ini dipantau direktur KMI.
13. Meskipun
berkumpul dalam satu kelas, yang dipelajari siswa malam itu tidak sama,
melainkan pelajaran apa saja yang ingin dipelajari para siswa.
14. Jika
ada kesulitan, para wali kelas itu harus mampu menjawab atau memberikan jalan
keluar.
15. Malah
terkadang, acara muwajjah juga diisi dengan tasyji.
16. Yakni
semacam pemberian motivasi dari wali kelas tentang belajar di Pondok Pesantren
Gontor; motivasi apa saja, bisa motivasi belajar, motivasi beribadah, atau
motivasi mondok.
17. Hasilnya,
jelas efektif, jika para wali kelasnya aktif-kreatif.
18. Tidak
jarang, belajar malam terbimbing ini diisi dengan ta’hil.
19. Yakni
pendalaman materi dengan mendatangkan doktor dan asatidz senior yang pakar di bidangnya.
20. Muwajjah
juga merupakan ajang persaingan antar wali kelas.
21. Siapa
yang terbaik, paling kreatif, paling tekun membimbing siswanya, akan terlihat dari
meningkatnya prestasi belajar pada ujian pertengahan dan akhir tahun.
22. Lebih
jelas lagi, hal itu akan terlihat dari berapa siswanya yang naik kelas.
23. Program
ini akan berakhir sebentar sebelum para santri itu memasuki masa ujian:
pertengahan tahun maupun akhir tahun.
24. Ketika
itu, para santri bebas belajar di luar kelas, namun intensitasnya justru
meningkat.
25. Dalam
waktu sekitar 1 bulan, tidak ada seorang siswa pun yang tidak memegang buku.
26. Ini
yang kemudian oleh Ahmad Fuadi dalam novelnya “Negeri 5 Menara” disebut pesta
belajar.
27. Everywhere
n’ Anywhere berada, para santri itu akan membawa buku: ke masjid, ke dapur,
antre mandi dan wesel tidak lepas dari buku.
28. oral
examination gontor for girl
29. Majelis
Tashih UN
30. Sejak
awal berdirinya KMI, Gontor sudah memiliki mejelis tashih, yakni majelis yang
mengkoreksi soal-soal yang akan diujikan dalam ujian pertengahan tahun, akhir
tahun, ujian pelajaran sore dan UN (Ujian Nihai).
31. Anggota
majelis itu tentu saja orang-orang pilihan, yang matang dalam hal ilmu
pengetahuan dan memiliki kebijaksanaan.
32. Master
Teacher berbagai mata pelajaran yang diajarkan dalam Kulliyatu-l-Mu‘allimin
al-Islamiyyah (KMI).
33. Tradisi
tashih soal di Gontor ini, dianggap sangat penting, disunnahkan sejak awal KMI
berdiri.
34. Saat
Kyai Imam Zarkasyi menjadi Direktur KMI dijadikan pejabat publik di Madiun oleh
Jepang sekitar tahun 1940-an, tashih soal pun tetap dilakukan.
35. Ustadz
Shoiman Luqmanul Hakim, salah satu guru KMI dan panitia ujian ketika itu
membawa soal-soal Ujian KMI ke Madiun untuk di-tashih oleh Kyai Imam Zarkasyi.
36. Yang
luar biasa, perjalanan ke Madiun ditempuh dengan sepeda ban mati, tidak dapat
dipompa. Beliau mengisahkan,
37. Berkali-kali
kami harus istirahat.
38. Ban
mati itu, kalau kepanasan, akan memuai, dan akhirnya lepas dari velg-nya.
39. Maka,
harus berhenti sampai kembali dingin. Baru kami berangkat lagi.
40. Tashih
soal harus cermat dan hati-hati.
41. Tidak
boleh ada pertanyaan yang membuat siswa sulit menjawab.
42. Jadi,
bukan hanya isi soal, melainkan juga cara bertanyanya di-tashih.
43. Koreksi
ini berlaku untuk soal ujian tulis maupun lisan.
44. Setidaknya,
klasifikasi soal harus meliputi perintah menjawab, menyebutkan, dan
menjelaskan.
45. Soal
juga harus to the point pada materinya.
46. Misalnya
Ilmu Nahwu, soal ujian harus fokus pada tujuan sejauh mana pemahaman santri
pada materi.
47. Tidak
perlu panjang lebar menjelaskan definisi jumlah mufidah, contohnya.
48. Karena
hafal pengertian sesuatu, tidak membuktikan paham isinya.
49. Yang
lain —ini yang penting—, soal tidak boleh menyebut nama guru pondok yang masih
hidup.
50. Misalnya,
contoh kalimat bahasa Indonesia, “Ustadz Anu mengajar dengan penuh semangat.”
Tidak boleh.
51. Hal
ini demi menjaga wibawa guru tersebut, betapapun isi kalimatnya baik.
52. Karenanya,
penyebutan nama pejabat publik, misalnya dalam soal ujian Bahasa Indonesia,
bagaimana pun bunyinya dan dengan tujuan apapun, agaknya tidak bijaksana.
53. Masih
sangat banyak contoh soal/alinea yang lain.
54. Setidaknya,
nama lain yang tidak eksplisit.
55. Penyebutan
itu, tentu saja dapat ditafsirkan bermacam-macam, termasuk dinilai sangat
konotatif atau dianggap tendensius, karena situasinya.
56. Pertanyaan
besarnya, “Apakah Mendikbud tidak mempunyai Majelis Tashih?”
57. Terlepas
dari 2 hal di atas, entah pemerintah Indonesia sudah menerapkannya atau tidak.
58. Seandainya
pun telah dilakukan pemerintah, tidak semata-mata meniru Gontor, bahkan tahu
Gontor saja mungkin juga belum.
59. Akan
tetapi, yang pasti, sekali lagi, idenya itu sudah diterapkan di Gontor sejak beberapa
dekade silam.
60. By: Nasrullah
Zarkasyi
(Sumber: internet)
0 comments:
Post a Comment