ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
Organisasi Profesi Guru
Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.
Tema Gambar Slide 2
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tema Gambar Slide 3
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Wednesday, January 17, 2018
643. TASBIH
643. TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
643. TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
643. TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
643. TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
643.TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
643. TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
643. TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
643. TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
643.TASBIH
ZIKIR DENGAN TASBIH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang berzikir menggunakan tasbih?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Aisyah binti Saad berkisah bahwa bapaknya bersama Nabi bertemu seorang wanita yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan batu, Nabi bersabda,”Aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini atau lebih utama.”
Kemudian Nabi bersabda,“Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di langit. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di bumi. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan di antaranya. Maha Suci Allah sejumlah apa yang telah Dia ciptakan. Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah, seperti itu.” (HR. Abu Daud).
Nabi tidak melarang berzikir menggunakan biji-bijian dan batu sebagai alat hitung, tetapai Nabi menunjukkan cara yang lebih mudah, sehingga para sahabat tetap menggunakan alat untuk menghitung zikirnya.
Qasim bin Abdurrahman berkata,“Abu Darda’ memiliki biji-bijian dari biji-biji kurma ‘Ajwah, sekitar sepuluh biji yang diletakkan dalam satu kantong. Apabila ia telah melaksanakan salat Subuh, beliau mendekat ke kasurnya lalu mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan biji-biji itu satu per-satu, ia bertasbih menggunakannya. Apabila telah habis, ia ulangi lagi satu per-satu.”
Qasim berkata “Saya bersama Abu Hurairah yang berada di atas kasur dengan sebuah kantung berisi batu kerikil dan biji-bijian, di bawahnya terdapat hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah bertasbih menggunakan batu dan biji-bijian itu. Ketika batu-batu yang ada di dalam kantong itu habis, Abu Hurairah melemparkan kantong itu kepada hamba sahaya itu, lalu ia mengumpulkannya dan mengembalikannya ke dalam kantong dan menyerahkannya kepada Abu Hurairah.” (HR. Abu Daud).
Nu’aim bin Muharrar bin Abi Hurairah berkata,”Abu Hurairah memiliki benang yang diberi seribu simpul, Abu Hurairah sebelum tidur selalu bertasbih menggunakan seribu simpul tersebut.”
Imam Syaukani berkata,”Tidak ada riwayat dari kalangan salaf (generasi tiga abad pertama Hijiah) maupun khalaf (generasi setelah salaf) yang melarang berzikir menggunakan tasbih, dan sebagian besar mereka menggunkan tasbih saat berzikir, mereka tidak memakruhkannya.”
Imam Ibnu Taimiah berpendapat bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, karena Nabi bersabda, “Bertasbihlah, hitunglah dengan jari jemarimu, sesungguhnya jari jemarimu akan ditanya dan akan dibuat berbicara”.
Syekh Ibn ‘Utsaimin berpendapat bahwa bertasbih menggunakan alat menghitung tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang dilarang adalah bid’ah dalam agama.
Sedangkan bertasbih menggunakan alat hitung adalah cara untuk menghitung banyaknya bilangan (zikir), sedangkan tasbih dan alat hitung lainnya adalah sarana yang “marjuhah” (lemah) lawan dari “rajah” (kuat) dan “mafdhulah” (lawan afdal), yang afdal (lebih baik) menghitung jumlah zikir dengan jari jemari tangan.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
Monday, January 15, 2018
642. ZIKIR
ZIKIR BERJAMAAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang zikir bersama-sama setelah mengerjakan salat fardu?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 191.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),’Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.”
Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 35 memerintahkan untuk banyak menyebut nama Allah.
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Al-Quran surah Al-Ahab, surah ke-33 ayat 41-42.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada Allah di waktu pagi dan petang.”
Al-Quran surah Al-Ahab, surah ke-33 ayat 45.
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Anas berkata bahwa Nabi bersabda,“Apabila kamu melewati taman surga, maka nikmatilah.” Para sahabat bertanya,”Wahai Nabi, apakah taman surga itu?” Nabi bersabda,”Halaqah (lingkaran) majelis zikir.” (HR.Tirmidzi).
Anas berkata bahwa Nabi bersabda,“Aku berzikir mengingat Allah bersama banyak orang setelah salat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada terbitnya matahari. Aku berzikir bersama banyak orang setelah salat Asar hingga tenggelam matahari lebih aku sukai daripada dunia seisinya.”
Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 205.
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Imam Suyuthi menjelaskan bahwa surat Al-A’raf turun di Mekah, ketika Nabi membaca Al-Quran secara “jahr” (keras) akan terdengar orang-orang musyrik, lalu mereka mencaci-maki Al-Quran dan Allah, maka ketika itu Allah melarang membaca Al-Quran secara “jahr” (keras).
Al-Quran surah Al-A’am, surah ke-6 ayat 108.
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikian Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
642. ZIKIR
ZIKIR BERJAMAAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang zikir bersama-sama setelah mengerjakan salat fardu?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 191.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),’Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.”
Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 35 memerintahkan untuk banyak menyebut nama Allah.
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Al-Quran surah Al-Ahab, surah ke-33 ayat 41-42.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada Allah di waktu pagi dan petang.”
Al-Quran surah Al-Ahab, surah ke-33 ayat 45.
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Anas berkata bahwa Nabi bersabda,“Apabila kamu melewati taman surga, maka nikmatilah.” Para sahabat bertanya,”Wahai Nabi, apakah taman surga itu?” Nabi bersabda,”Halaqah (lingkaran) majelis zikir.” (HR.Tirmidzi).
Anas berkata bahwa Nabi bersabda,“Aku berzikir mengingat Allah bersama banyak orang setelah salat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada terbitnya matahari. Aku berzikir bersama banyak orang setelah salat Asar hingga tenggelam matahari lebih aku sukai daripada dunia seisinya.”
Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 205.
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Imam Suyuthi menjelaskan bahwa surat Al-A’raf turun di Mekah, ketika Nabi membaca Al-Quran secara “jahr” (keras) akan terdengar orang-orang musyrik, lalu mereka mencaci-maki Al-Quran dan Allah, maka ketika itu Allah melarang membaca Al-Quran secara “jahr” (keras).
Al-Quran surah Al-A’am, surah ke-6 ayat 108.
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikian Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
642. ZIKIR
ZIKIR BERJAMAAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang zikir bersama-sama setelah mengerjakan salat fardu?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 191.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),’Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.”
Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 35 memerintahkan untuk banyak menyebut nama Allah.
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Al-Quran surah Al-Ahab, surah ke-33 ayat 41-42.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada Allah di waktu pagi dan petang.”
Al-Quran surah Al-Ahab, surah ke-33 ayat 45.
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Anas berkata bahwa Nabi bersabda,“Apabila kamu melewati taman surga, maka nikmatilah.” Para sahabat bertanya,”Wahai Nabi, apakah taman surga itu?” Nabi bersabda,”Halaqah (lingkaran) majelis zikir.” (HR.Tirmidzi).
Anas berkata bahwa Nabi bersabda,“Aku berzikir mengingat Allah bersama banyak orang setelah salat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada terbitnya matahari. Aku berzikir bersama banyak orang setelah salat Asar hingga tenggelam matahari lebih aku sukai daripada dunia seisinya.”
Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 205.
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Imam Suyuthi menjelaskan bahwa surat Al-A’raf turun di Mekah, ketika Nabi membaca Al-Quran secara “jahr” (keras) akan terdengar orang-orang musyrik, lalu mereka mencaci-maki Al-Quran dan Allah, maka ketika itu Allah melarang membaca Al-Quran secara “jahr” (keras).
Al-Quran surah Al-A’am, surah ke-6 ayat 108.
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikian Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online


