Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, October 5, 2021

11397. SEMUA KITAB SUCI TAK BAHAS WUJUD TUHAN

 



SEMUA KITAB SUCI TAK BAHAS WUJUD TUHAN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Dalam sejarah manusia.

Hampir semua umat manusia percaya adanya Tuhan.

Yang mengatur alam raya ini.

 

Orang Yunani Kuno menganut paham politeisme.

 

Yaitu keyakinan banyak tuhan.

1.      Bintang adalah tuhan (dewa).

2.      Venus adalah (tuhan) Dewa Kecantikan.

 

3.      Mars adalah Dewa Peperangan.

4.      Minerva adalah Dewa Kekayaan.

 

5.      Tuhan tertinggi adalah Apollo atau Dewa Matahari.

 

Orang Hindu zaman lampau punya banyak dewa.

Yang diyakini sebagai tuhan-tuhan.

 

Misalnya tercermin dalam Hikayat Mahabarata.

 

Masyarakat Mesir.

Yakin adanya Dewa Iziz, Dewi Oziris.

Dan yang tertinggi adalah Ra'.

 

Masyarakat Persia.

Yakin ada tuhan Gelap dan tuhan Terang.

 

Begitulah seterusnya.

 

Pengaruh keyakinan itu merambah ke Arab.

 

Jika ditanya tentang Penguasa dan Pencipta langit dan bumi.

 

Mereka menjawab, "Allah."

 

Tetapi pada saat sama.

 

Mereka juga menyembah berhala:

1.      Al-Lata.

2.      Al-Uzza.

3.      Manata.

 

Yaitu 3 berhala terbesar mereka.

 

Di samping ratusan berhala lainnya.

 

Al-Quran datang untuk meluruskan keyakinan itu.

Dengan membawa ajaran tauhid.

 

Kata "Allah" dalam Al-Quran terulang 2.697 kali.

 

Belum lagi kata[1]kata semacam Wahid, Ahad, Ar-Rab, Al-Ilah.

 

Atau kalimat yang menolak adanya sekutu bagi-Nya.

Yang menjelaskan tentang tauhid.

 

Dalam Al-Quran.

Hampir tidak ditemukan ayat yang bicara wujud Tuhan.

 

Sekh Abdul Halim Mahmud dalam bukunya Al-Islam wa Al-'Aql menegaskan.

 

Bahwa, "Dalam Al-Quran, Kitab Taurat, dan Injil dalam bentuknya yang sekarang pun.

 

Yaitu Perjanjian Lama dan Baru.

Tidak menguraikan tentang wujud Tuhan."

 

Karena wujud Tuhan sangat jelas dan terasa.

Sehingga tidak perlu dijelaskan.

 

 

Al-Quran mengisyaratkan bahwa hadirnya Allah ada dalam diri setiap insan.

 

Dan itu fitrah bawaan manusia sejak asal kejadiannya.

 

 

Al-Quran surah Ar-Rum (surah ke-30) ayat 30.

 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

 

Maka hadapkan wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itu) agama yang lurus; tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

 

 

 

Al-Quran surah Al-A’raf (surah ke-7) ayat 172.

 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

 

Semua agama tak membahas wujud Tuhan Allah.

 

 

Karena kata “wujud” akan membawa manusia membayangkan Tuhan Allah berupa materi fisik.

 

 

Padahal Allah tak serupa dengan apa apun.

 

Semua yang dibayangkan manusia pasti salah.

 

 

Al-Quran surah Asy-Syura (surah ke-42) ayat 11.

 

 

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu  pun yang serupa dengan Dia, dan Dia yang Maha Mendengar dan Melihat.

 

 

(Sumber Quraish Shihab)

11396. AL-QURAN TURUN 23 TAHUN DAN LAMA SEKOLAH 20 TAHUN

 



AL-QURAN TURUN 23 TAHUN DAN LAMA SEKOLAH 20 TAHUN

Oleh: Drs HM Yusron Hadi, MM

 

 

Dalam bidang pendidikan.

Al-Quran menuntut bersatunya kata dan sikap.

 

Sehingga perlu teladan yang baik dari para pendidik dan tokoh masyarakat.

 

 

Saat Al-Quran mewajibkan anak menghormati orangtuanya.

 

Dan saat itu pula mewajibkan orang-tua mendidik anaknya.

 

Saat masyarakat wajib patuh kepada Rasul dan pemimpin.

 

Saat yang sama.

Rasul dan para pemimpin wajib tunaikan amanah.

 

Menyayangi yang dipimpin.

Sambil musyawarah dengan mereka.

 

Al-Quran menuntut terpadunya orang-tua, masyarakat, dan pemerintah.

 

Tidak mungkin berhasil baik.

Jika tanpa keterpaduan.

 

Tidak mungkin pendidikan berhasil dengan baik.

Jika beban pendidikan hanya dipikul satu pihak.

 

Atau hanya ditangani guru dan dosen tertentu.

 

Tanpa melibatkan unsur lainnya.

 

Ayat Al-Quran turun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

 

Dan selama itu pula.

Nabi Muhammad dan para sahabat tekun mengajar Al-Quran.

Serta membimbing umatnya.

 

Akhirnya, mereka berhasil membangun masyarakat.

 

Yang di dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur, dan hidayah.

 

Juga keadilan dan kemakmuran.

Dengan rida dan ampunan Ilahi.

 

Kenapa perlu waktu 20 tahun lebih?

 

Hasil penelitian guru besar Harvard University.

 

Terhadap 40 negara.

 

Untuk mengetahui faktor kemajuan atau kemunduran suatu negara.

 

Salah satu faktor utamanya.

 

Adalah materi bacaan.

 

Yang disuguhkan kepada generasi muda.

 

Bahwa 20 tahun sebelum maju atau mundurnya suatu negara.

 

Para generasi muda dibekali sajian dan bacaan tertentu.

 

Setelah 20 tahun.

Generasi muda itu berperan dalam berbagai aktivitas.

 

Peranan yang pada hakikatnya.

 

Diarahkan oleh bacaan yang disuguhkan.

 

Demikian dampak bacaan.

 

Terlihat setelah 20 tahun.

 

Sama dengan lama turunnya Al-Quran.

 

Kalau demikian, jangan menunggu dampak bacaan.

Terhadap anak-anak kita  20 tahun kemudian.

 

Al-Quran surah Al-Asri (surah ke-103) ayat 1-3.

 

وَالْعَصْرِ

 

Demi masa.

 

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

 

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

 

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati agar menaati kebenaran dan saling menasihati agar menetapi kesabaran.

 

 

Ayat "wa tawashauw bil haq".

Bukan saja mencanangkan "wajib belajar".

 

Tapi juga "wajib mengajar."

 

Bukankah “tawashauw”.

Artinya saling berpesan, saling mengajar.

 

Kebenaran adalah hasil pencarian ilmu.

 

Mencari kebaikan menghasilkan akhlak.

Mencari keindahan menghasilkan seni.

Dan mencari kebenaran menghasilkan ilmu.

 

Ketiga unsur itu yang mewarnai suatu peradaban.

 

 

(Sumber Quraish Shihab)