Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, October 5, 2021

11389. ANEKA SUDUT PANDANG TAFSIR AL-QURAN

 



 ANEKA SUDUT PANDANG TAFSIR AL-QURAN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

  

SEJARAH TAFSIR AL-QURAN

 

Dalam abad pertama.

Para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat Al-Quran.

  

 

Sebagian ulama.

Jika ditanya pengertian suatu ayat.

Mereka tidak memberi jawaban apa pun.

  

Para sahabat berkata,

 “Kami tidak berbicara tentang Al-Quran sedikit pun”.

 

Pada abad berikutnya. 

Para ulama berpendapat tiap orang boleh menafsirkan ayat Al-Quran.

Asalkan punya syarat tertentu.

  

  

Yaitu pengetahuan ilmu bahasa yang cukup.

 Misalnya:

1.      Nahwu.

2.      Sharaf.

3.      Balaghah.

4.      Isytiqaq.

5.      Ilmu Ushuluddin.

6.      Ilmu Qira'ah.

7.      Asbabun nuzul.

8.      Nasikh dan mansukh.

9.      Dan sebagainya.

  

 Sejarah penafsiran Al-Quran.

Mulai menafsirkan ayat Al-Quran sesuai dengan hadis Nabi.

Dan pendapat para sahabat Nabi.

   

Penafsiran berkembang.

Dan tidak disadari.

Bercampur “hadis sahih” dan “hadis isra'iliyat”.

  

Hadis israiliyat adalah kisah yang bersumber dari Ahli Kitab.

Yang umumnya tidak sejalan dengan kesucian agama dan pikiran sehat.

  

Sebagian ulama menolak penafsiran.

Yang menggambarkan pendapat dari penulisnya.

  

  Atau yang menyatukan pendapat penulis dengan hadis Nabi.

Atau pendapat para sahabat yang dianggap benar.

  

Kemudian dari waktu ke waktu.

Muncul aneka warna corak tafsir.

  

1.               Ada tafsir Al-Quran yang berdasar nalar penulisnya saja.

 

  

2.               Ada tafsir Al-Quran berdasar riwayat.

  

3.               Ada tafsir Al-Quran yang menyatukan keduanya.

 

Masalah yang dibahas bermacam-macam.

1.Ada tafsir Al-Quran hanya membahas arti kalimat yang sukar saja.

  

Yaitu Tafsir Gharib, seperti Al-Zajjaj dan Al-Wahidiy.

2.Ada tafsir Al-Quran yang menulis kisah-kisah.

 Seperti Al-Tsa'labiy dan Al-Khazin.

  

3.Ada tafsir Al-Quran yang memperhatikan masalah “balaghah” (sastra bahasa).

Seperti Al-Zamakhsyari.

  

4.Ada tafsir Al-Quran membahas ilmu pengetahuan, logika, dan filsafat.

Seperti Al-Fakhr Al-Razi.

  

5.Ada tafsir Al-Quran membahas masalah fiqih.

Seperti Al-Qurthubiy.

  

6.Ada tafsir Al-Quran hanya berupa terjemahan kalimatnya saja.

Seperti Tafsir Al-Jalalain.

  

 Sepanjang sejarah manusia.

Tidak dikenal satu kitab pun, selain Al-Quran.

  

Al-Quran telah ditafsirkan.

Diterangkan, dikumpulkan, diinterpretasi.

Dengan pendapat para ahli terhadapnya.

Dan  dicetak dalam buku berjilid-jilid.

   

Penafsiran ilmiah.

Atau menafsirkan ayat Al-Quran sesuai ilmu pengetahuan telah lama berlangsung.

  

Misalnya.

1. Tafsir Fakhr Al-Raziy adalah  penafsiran ilmiah terhadap ayat Al-Quran.

  

Sebagian ulama tidak menamakan kitabnya sebagai Kitab Tafsir.

  

Karena masalah filsafat dan logika dibicarakan dengan sangat luas.

  

Kelanjutan dari penafsiran ilmiah ini adalah penafsiran sesuai teori ilmiah dan penemuan baru.

  

Misalnya ada orang menguatkan pendapat planet hanya 7 buah sesuai dengan pendapat ahli Falak saat itu.

  

Dengan ayat Al-Quran yang menunjukkan bahwa ada 7 langit.

  

Dan ternyata teori 7 planet itu salah.

  

     Karena jumlah planet yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan dalam tata surya berjumlah 10 planet.

  

Di samping jutaan bintang yang tampaknya memenuhi langit.

  

Sehingga 10 planet itu hanya laksana setetes air dalam lautan.

Dibanding banyaknya bintang di alam semesta.

  

Menurut para ahli.

Tiap galaksi rata-rata punya 100 biliun bintang.

  

Seluruh ruang alam semesta ada berbiliun-biliun galaksi.

  

Ulama yang membenarkan planet hanya 7 buah.

Berdasar ayat Al-Quran ternyata  keliru.

  

Kekeliruan itu dosa besar.

Jika dia memaksa orang lain untuk mempercayai pendapatnya atas nama Al-Quran.

  

Atau jika dia meyakini hal itu  adalah akidah Al-Quran.

Maka salah.

  

Daftar Pustaka

1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   

2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5. Tafsirq.com onl

 

Monday, October 4, 2021

11385. AKHLAK SENI DAN ILMU WARNAI PERADABAN

 



AKHLAK SENI DAN ILMU WARNAI PERADABAN

Oleh: Drs HM Yusron Hadi, MM

 

 

Dalam bidang pendidikan.

Al-Quran menuntut bersatunya kata dan sikap.

 

Sehingga perlu teladan yang baik dari para pendidik dan tokoh masyarakat.

 

 

Saat Al-Quran mewajibkan anak menghormati orangtuanya.

 

Dan saat itu pula mewajibkan orang-tua mendidik anaknya.

 

Saat masyarakat wajib patuh kepada Rasul dan pemimpin.

 

Saat yang sama.

Rasul dan para pemimpin wajib tunaikan amanah.

 

Menyayangi yang dipimpin.

Sambil musyawarah dengan mereka.

 

Al-Quran menuntut terpadunya orang-tua, masyarakat, dan pemerintah.

 

Tidak mungkin berhasil baik.

Jika tanpa keterpaduan.

 

Tidak mungkin pendidikan berhasil dengan baik.

Jika beban pendidikan hanya dipikul satu pihak.

 

Atau hanya ditangani guru dan dosen tertentu.

 

Tanpa melibatkan unsur lainnya.

 

Ayat Al-Quran turun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

 

Dan selama itu pula.

Nabi Muhammad dan para sahabat tekun mengajar Al-Quran.

Serta membimbing umatnya.

 

Akhirnya, mereka berhasil membangun masyarakat.

 

Yang di dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur, dan hidayah.

 

Juga keadilan dan kemakmuran.

Dengan rida dan ampunan Ilahi.

 

Kenapa perlu waktu 20 tahun lebih?

 

Hasil penelitian guru besar Harvard University.

 

Terhadap 40 negara.

 

Untuk mengetahui faktor kemajuan atau kemunduran suatu negara.

 

Salah satu faktor utamanya.

 

Adalah materi bacaan.

 

Yang disuguhkan kepada generasi muda.

 

Bahwa 20 tahun sebelum maju atau mundurnya suatu negara.

 

Para generasi muda dibekali sajian dan bacaan tertentu.

 

Setelah 20 tahun.

Generasi muda itu berperan dalam berbagai aktivitas.

 

Peranan yang pada hakikatnya.

 

Diarahkan oleh bacaan yang disuguhkan.

 

Demikian dampak bacaan.

 

Terlihat setelah 20 tahun.

 

Sama dengan lama turunnya Al-Quran.

 

Kalau demikian, jangan menunggu dampak bacaan.

Terhadap anak-anak kita  20 tahun kemudian.

 

Al-Quran surah Al-Asri (surah ke-103) ayat 1-3.

 

وَالْعَصْرِ

 

Demi masa.

 

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

 

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

 

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati agar menaati kebenaran dan saling menasihati agar menetapi kesabaran.

 

 

Ayat "wa tawashauw bil haq".

Bukan saja mencanangkan "wajib belajar".

 

Tapi juga "wajib mengajar."

 

Bukankah “tawashauw”.

Artinya saling berpesan, saling mengajar.

 

Kebenaran adalah hasil pencarian ilmu.

 

Mencari kebaikan menghasilkan akhlak.

Mencari keindahan menghasilkan seni.

Dan mencari kebenaran menghasilkan ilmu.

 

Ketiga unsur itu yang mewarnai suatu peradaban.

 

 

(Sumber Quraish Shihab)

 

11384. HASIL PENDIDIKAN TAMPAK SETELAH 20 TAHUN

 



HASIL PENDIDIKAN TAMPAK SETELAH 20 TAHUN

Oleh: Drs HM Yusron Hadi, MM

 

 

Dalam bidang pendidikan.

Al-Quran menuntut bersatunya kata dan sikap.

 

Sehingga perlu teladan yang baik dari para pendidik dan tokoh masyarakat.

 

 

Saat Al-Quran mewajibkan anak menghormati orangtuanya.

 

Dan saat itu pula mewajibkan orang-tua mendidik anaknya.

 

Saat masyarakat wajib patuh kepada Rasul dan pemimpin.

 

Saat yang sama.

Rasul dan para pemimpin wajib tunaikan amanah.

 

Menyayangi yang dipimpin.

Sambil musyawarah dengan mereka.

 

Al-Quran menuntut terpadunya orang-tua, masyarakat, dan pemerintah.

 

Tidak mungkin berhasil baik.

Jika tanpa keterpaduan.

 

Tidak mungkin pendidikan berhasil dengan baik.

Jika beban pendidikan hanya dipikul satu pihak.

 

Atau hanya ditangani guru dan dosen tertentu.

 

Tanpa melibatkan unsur lainnya.

 

Ayat Al-Quran turun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

 

Dan selama itu pula.

Nabi Muhammad dan para sahabat tekun mengajar Al-Quran.

Serta membimbing umatnya.

 

Akhirnya, mereka berhasil membangun masyarakat.

 

Yang di dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur, dan hidayah.

 

Juga keadilan dan kemakmuran.

Dengan rida dan ampunan Ilahi.

 

Kenapa perlu waktu 20 tahun lebih?

 

Hasil penelitian guru besar Harvard University.

 

Terhadap 40 negara.

 

Untuk mengetahui faktor kemajuan atau kemunduran suatu negara.

 

Salah satu faktor utamanya.

 

Adalah materi bacaan.

 

Yang disuguhkan kepada generasi muda.

 

Bahwa 20 tahun sebelum maju atau mundurnya suatu negara.

 

Para generasi muda dibekali sajian dan bacaan tertentu.

 

Setelah 20 tahun.

Generasi muda itu berperan dalam berbagai aktivitas.

 

Peranan yang pada hakikatnya.

 

Diarahkan oleh bacaan yang disuguhkan.

 

Demikian dampak bacaan.

 

Terlihat setelah 20 tahun.

 

Sama dengan lama turunnya Al-Quran.

 

Kalau demikian, jangan menunggu dampak bacaan.

Terhadap anak-anak kita  20 tahun kemudian.

 

Al-Quran surah Al-Asri (surah ke-103) ayat 1-3.

 

وَالْعَصْرِ

 

Demi masa.

 

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

 

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

 

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati agar menaati kebenaran dan saling menasihati agar menetapi kesabaran.

 

 

Ayat "wa tawashauw bil haq".

Bukan saja mencanangkan "wajib belajar".

 

Tapi juga "wajib mengajar."

 

Bukankah “tawashauw”.

Artinya saling berpesan, saling mengajar.

 

Kebenaran adalah hasil pencarian ilmu.

 

Mencari kebaikan menghasilkan akhlak.

Mencari keindahan menghasilkan seni.

Dan mencari kebenaran menghasilkan ilmu.

 

Ketiga unsur itu yang mewarnai suatu peradaban.

 

 

(Sumber Quraish Shihab)