Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, March 23, 2022

12929. ISLAM ABANGAN SUKA DUKUN DAN KLENIK

 

 




 

ISLAM ABANGAN SUKA DUKUN DAN KLENIK

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Kata “abang”.

Dalam bahasa Jawa.

Artinya “merah”.

 

Abangan adalah penduduk Jawa Muslim.

 

Yang mempraktikkan Islam.

Dalam versi lebih sinkretis.

 

Jika dibandingkan dengan golongan santri.

Yang lebih ortodoks.

 

Istilah ini dipakai oleh Clifford Geertz.

 

Tapi saat ini.

Maknanya telah bergeser.

 

Abangan ikut sistem kepercayaan lokal.

Berupa adat daripada hukum Islam murni.

Atau hukum syariah

 

Dalam sistem kepercayaan.

 

Islam abangan ada tradisi HinduBudda.

Dan animisme.

 

Animisme adalah keyakinan kepada roh.

Yang mendiami semua benda.

 

Seperti pohon, batu, sungai, gunung, dan lainnya.

 

 

Tapi beberapa sarjana berpendapat.

 

Islam abangan adalah bentuk varian Islam di Indonesia.

 

Kata abangan diperkirakan berasal dari  Bahasa Arab aba'an

 

Kata “aba’an” artinya:

 

1.      Yang tak konsekuen.

2.      Yang meninggalkan.

 

Tapi lidah orang Jawa.

Membaca huruf ain menjadi ngain.

 

Zaman dulu.

Para ulama memberi julukan.

Kepada orang masuk Islam.

 

Tapi tidak menjalankan syariat.

 

Disebut “Kaum Aba'an

Atau “Kaum  Abangan.

 

Upacara pokok dalam tradisi lslam Abangan.

 

Yaitu slametan.

 

Yang melambangkan persatuan mistik dan sosial.

 

Slametan diadakan hampir tiap kesempatan.

 

Slametan adalah upacara bagi orang Jawa, seperti:

 

1.      Kehamilan.

2.      Khitan.

 

3.      Kelahiran.

4.      Perkawinan.

 

5.      Kematian.

6.      Maulid Nabi.

 

7.      Panen.

8.      Pindah rumah.

 

9.      Lebaran.

10.               Dan lainnya.

 

Tujuan adanya slametan.

Yaitu agar selamat.

 

Tak terganggu kesulitan.

 Dan tak ada gangguan gaib.

 

Sehingga tidak menimbulkan penyakit.

Dan kesusahan lainnya.

 

 

ABANGAN MURNI

 

1.      Populasinya sekitar 10 persen.

2.      Aliran kepercayaan.

 

3.      KTP:

 

Islam (mayoritas).

Non Islam (minoritas).

 

4.      Nama:

Jawa.

Asing.

 

5.      Politik:

Mayoritas memilih Nasionalis-Religius.

Yaitu PDI-P, PD, Golkar, Gerindra, Hanura.

 

Minoritas memilih Religius-Nasionalis.

Yaitu PPP, PKS, PAN, PKB.

 

6.      Pakaian ibadah dan sehari-hari.

Motif Jawa dan Barat.

 

7.       Ibadah:

Salat Idul Adha dan Idul Fitri.

Jarang saat Jumat.

Salat 5 waktu sendirian dan terkadang saja.

Jarang membaca Al-Qur'an.

 

8.      Ritual:

Ziarah kubur/makam tokoh Jawa/Walisongo.

 

Hadir dalam grebeg maulud, grebeg sekaten.

Ikut rebutan gunungan.

 

9.      Peralatan: keris, jimat.

 

10.               Bacaan:

 

Buku ulama  Jawa.

 

ABANGAN SANTRI

 

1.      Populasi sekitar 60 persen umat Islam.

2.      Agama: Islam.

 

3.      KTP: Islam.

4.      Nama: Jawa (mayoritas), Timur Tengah, asing, campuran.

 

5.      Afiliasi politik:

Mayoritas PDI-P, PD, Golkar, Gerindra, Hanura.

 

Minoritas PPP, PKS, PAN, PKB).

 

6.      Pakaian ibadah dan sehari-hari:

Motif Jawa.

Barat.

Timur Tengah.

 

7.      Ibadah:

Salat Idul Adha dan Idul Fitri.

Salat Jum'at.

Salat 5 waktu jarang berjamaah.

 

Terkadang salat Duha dan Tahajud.

Terkadang baca Al-Quran.

 

8.      Ritual:

Jarang ziarah kubur/makam tokoh Jawa/Walisongo.

 

Terkadang hadir dalam grebeg maulud, grebeg sekaten.

Dan bisa rebutan gunungan.

 

9.      Peralatan:

Jarang punya keris dan jimat.

 

10.               Bacaan:

Buku ulama domestik dan Jawa.

Ulama Timur Tengah.

 

SANTRI MURNI

 

1.      Populasi sekitar 30 persen umat Islam.

2.      Agama: Islam.

 

3.      KTP: Islam.

4.      Nama:

Timur Tengah.

Barat.

Campuran.

 

5.      Afiliasi politik:

Mayoritas PPP, PKS, PAN, PKB.

Minoritas PDI-P, PD, Golkar, Gerindra, Hanura.

 

6.      Pakaian ibadah dan sehari-hari:

Motif Timur Tengah (surban/jubah, dan sejenisnya) .

Motif Jawa.

Barat.

 

7.      Ibadah:

Rajin salat berjamaah.

Rajin salat sunah.

Rutin baca Al-Quran.

 

8.      Ritual:

Tidak ziarah kubur/makam tokoh Jawa/Walisongo.

 

Tak ikut hadir dalam grebeg maulud, grebeg sekaten.

Tak ikut rebutan gunungan.

 

9.      Peralatan:

Tak punya keris dan jimat.

Bawa Al-Qur'an dan tasbih.’

 

10.               Bacaan:

Buku ulama Timur Tengah.

Buku ulama domestic.

 

 

(Dari berbagai sumber)

 

 

12928. ORANG MALAS SUKA DUKUN DARIPADA TEKNOLOGI

 











 

 

ORANG MALAS SUKA DUKUN DARIPADA  TEKNOLOGI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Mistik adalah hal gaib yang tak terjangkau akal manusia.

 

Magi adalah sesuatu atau cara tertentu.

Yang diyakini yang bisa menimbulkan kekuatan gaib.

 

Termasuk alam pikiran dan tingah laku manusia.

 

Magis terkait hal atau perbuatan magi.

 

Kata “dukun” dalam KBBI bisa diartikan:

 

1.      Orang yang mengobati.

2.      Menolong orang lain.

3.      Memberi jampi-jampi, guna-guna, mantra, dan lainnya.

 

Hal yang  berbau magi dan mistis.

Seperti dukun dan sejenisnya.

 

Ternyata masih dipercaya oleh sebagian orang modern.

 

Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada.

 Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan.

 

Bahwa orang masih suka beragam hal magis.

 

Seperti sihir, santet, hingga babi ngepet.

 

Karena ingin cepat menyelesaikan masalah.


Intinya pola pikir seperti itu.

Ingin cepat masalahnya selesai.

 

Misalnya.

Saya ingin cepat kaya.

 

Maka  datang ke dukun.

Dan saya jadi kaya.

 

Hal itu bukti.

Bahwa pola pikir dukun itu benar," kata Heddy.

 

"Kasus itu dianggap bukti.

Dari kebenaran pola pikir tadi.

 

Selain bukti.

Kemudian asosiasi anggota.

Dan bukti pendukungnya.

 

Sehingga tetap dipercaya," lanjutnya.


Ada 4 pola pikir manusia, yaitu:

 

1.      Akal sehat.

2.      Magi.

Lewat pendekatan dengan makhluk gaib.

 

3.      Sains.

4.      Agama.

 

Tiap manusia punya pola pikir berbeda.

 

Penyebab orang percaya dukun.

 

1.      Ingin mendapat jawaban dengan cepat, murah, dan praktis.

 

2.      Jika pakai agama.

Maka  tak bisa menyentuh Tuhan.

 

3.      Jika pakai sains dan teknologi.

Maka  harus kerja keras dan butuh waktu lama.

 

4.      Pranata sosial yang normal.

Tak mampu mengatasi masalah dengan cepat.

 

 

Tiap manusia punya pola pikir dominan yang berbeda.



Akademisi Antropologi Universitas Indonesia.

 Imam Ardhianto mengatakan.

 

Bahwa orang masih percaya dengan magi.

 

Seperti babi ngepet dan santet.

Karena dianggap berfungsi.


Juga bukti.

Bahwa lembaga modern.

 

Gagal dalam mobilitas sosial, kesehatan, dan  psikologis.


"Lembaga kepolisian.

Tidak selalu memecahkan soal pidana.

 

Rumah sakit tidak menjangkau semua masyarakat.

 

Karena teknologi dan  biayanya.

 

Dan lembaga psikiatri.

Tak mampu  menjawab tekanan social.

 

Dan semua masalah  warga, " katanya.

Akademisi FIB Universitas Jember.

Heru SP Saputra menulis.

 

Bahwa magi.

Seperti mantra adalah alternatif pranata sosial tradisional.

 

Saat pranata formal.

Tidak mampu akomodasi kepentingan masyarakat.


"Tujuan jahat manfaat mantra.

 

Yaitu kompensasi orang tidak berdaya.

 

Dalam  memecahkan masalahnya.

 

Ketika pranata formal.

Tidak mampu menampung konflik masyarakat.

 

Maka muncul kompensasi.

Pranata sosial tradisional.

 

Untuk menyelesaikan masalah itu," tulisnya.

 


(Sumber detik)