Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, July 11, 2017

133. PECAH

MENGAPA UMAT ISLAM TERPECAH BELAH?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Semua umat Islam mengikuti Al-Quran yang sama, tetapi mengapa terdapat aliran dan beberapa pemikiran yang berbeda? Dr. Zakir Naik mencoba menjelaskannya.
      Pertama, Al-Quran memerintahkan semua umat Islam bersatu. Jangan bercerai berai. Semua umat Islam wajib bersatu. Saat ini umat Islam terpecah-belah menjadi beberapa kelompok.
       Kejadian ini bukan disebabkan ajaran Islam. Karena Islam ingin menyatukan semua para pengikutnya. Islam melarang berpecah belah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3  ayat 103. “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, Allah mempersatukan hatimu, karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara. Kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu. Allah menerangkan ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
      Ayat Al-Quran ini memerintahkan seluruh umat Islam bersatu di jalan Allah dan melarang berpecah-belah.     
      Barangsiapa melepaskan diri atau mengambil jalan lain selain jalan Allah, maka dia yang memisahkan diri dari jamaah umat Islam dan berarti dia yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
      Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 59. “Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
      Allah menyerukan kepada orang beriman untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri. Ulil amri ialah pemegang kekuasaan atau pemimpin mereka sebagai wujud keimanan kepada Allah dan hari akhir.  
     Al-Quran surah Al-An’am. Surah ke-6 ayat 159. “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
      Ketika ada orang bertanya kepada seorang Islam,“Siapakah Anda?”. Jawaban yang umum adalah “Saya seorang Suni,” atau “Saya seorang Syiah”. Beberapa orang menyebut diri sendiri sebagai pengkut 4 mazhab terbesar. “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
     Nabi Muhammad seorang muslim. “Muslim” bermakna “orang yang berserah diri kepada Allah”. Ketika ada yang bertanya,”Siapakah Nabi Muhammad? Apakah beliau seorang Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali?” Jawabnya, “Nabi Muhammad  seorang muslim”. Sebagaimana semua Nabi dan Rasul Allah sebelumnya.
      Al-Quran menyatakan Nabi Isa seorang muslim.  Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 52-53. “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia,”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab,”Kami penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikan sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri (muslim).”
      “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.
      Al-Quran menjelaskan Nabi Ibrahim seorang muslim. Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah. Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Nasrani.
     Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 67. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      Jika seseorang bertanya kepada orang Islam, maka dia harus menjawab “Saya orang Islam” atau “Saya seorang muslim”. Bukan menjawab, “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
      Al-Quran surat Fusilat. Surah ke-41 ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk orang muslim, yaitu orang yang berserah diri?"
         Nabi Muhammad mengirim surat kepada para raja non-Islam dan para penguasa mengajak mereka masuk Islam. Dalam surat tersebut, Nabi menyebutkan Al-Quran surah Ali Imran ayat 64.
      “Katakan, Wahai Ahli Kitab, mari (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakan kepada mereka, “Saksikan, kami adalah orang muslim, yaitu orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
      Semua umat Islam harus menghormati semua ulama besar Islam. Umat Islam  harus menghormati semua kiai atau ulama besar Islam, termasuk empat Imam mazhab. Yaitu Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali. Semoga Allah merahmati mereka.
      Mereka semuanya ulama besar. Semoga Allah membalas segala amal baik dan kerja keras penelitian mereka. Kita boleh mengikuti pendapat dan riset yang dilakukan Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali.  
     Tetapi, jika dihadapkan pada pertanyaan,“Siapakah Anda?” Jawaban yang semestinya, “Saya seorang muslim” atau, “Saya orang Islam”.
      Nabi bersabda,”Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan”. Nabi memprediksi terpecahnya umat menjadi 73 golongan. Nabi tidak menyebutkan umat Islam harus membagi dirinya menjadi 73 golongan.
      Nabi bersabda, “Umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan”. Sahabat bertanya, “Golongan manakah yang masuk surga?” Nabi menjawab, “Golongan yang mematuhi Allah dan Rasul-Nya”.
     Ulil Absar Abdalla berpendapat perpecahan dalam agama dimulai dari masalah politik. Para pemimpin politik berebut jumlah pemilih. Para tokoh politik ingin menambah jumlah anggotanya. Untuk kepentingan pemilihan umum.
      Para pemimpin politik ingin merebut “harta, tahta, dan wanita” menggunakan aneka cara. Kadang kala mereka “menghalalkan” segala cara.
      Sebaiknya para pemimpin kelompok Islam pada tingkatan apa pun. Para pemimpin umat Islam, di mana pun mereka berada. Mereka harus saling melengkapi untuk menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia.
     Sebaiknya sesama umat Islam jangan saling menyindir, menghina, dan merendahkan. Jangan saling “mengafirkan”, dan jangan “membid’ahkan” sesama Islam. Jangan gampang diadu domba. Sesama umat Islam harus rukun.
    Tidak ada manusia sempurna. Tidak ada kelompok yang sempurna. Tidak ada golongan yang sempurna. Mereka harus saling melengkapi.
      Semua umat Islam harus saling “menyempurnakan” dan menutupi “kekurangan” lainnya, guna menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia. Semoga kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Amin.
 Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

133. PECAH

MENGAPA UMAT ISLAM TERPECAH BELAH?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Semua umat Islam mengikuti Al-Quran yang sama, tetapi mengapa terdapat aliran dan beberapa pemikiran yang berbeda? Dr. Zakir Naik mencoba menjelaskannya.
      Pertama, Al-Quran memerintahkan semua umat Islam bersatu. Jangan bercerai berai. Semua umat Islam wajib bersatu. Saat ini umat Islam terpecah-belah menjadi beberapa kelompok.
       Kejadian ini bukan disebabkan ajaran Islam. Karena Islam ingin menyatukan semua para pengikutnya. Islam melarang berpecah belah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3  ayat 103. “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, Allah mempersatukan hatimu, karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara. Kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu. Allah menerangkan ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
      Ayat Al-Quran ini memerintahkan seluruh umat Islam bersatu di jalan Allah dan melarang berpecah-belah.     
      Barangsiapa melepaskan diri atau mengambil jalan lain selain jalan Allah, maka dia yang memisahkan diri dari jamaah umat Islam dan berarti dia yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
      Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 59. “Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
      Allah menyerukan kepada orang beriman untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri. Ulil amri ialah pemegang kekuasaan atau pemimpin mereka sebagai wujud keimanan kepada Allah dan hari akhir.  
     Al-Quran surah Al-An’am. Surah ke-6 ayat 159. “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
      Ketika ada orang bertanya kepada seorang Islam,“Siapakah Anda?”. Jawaban yang umum adalah “Saya seorang Suni,” atau “Saya seorang Syiah”. Beberapa orang menyebut diri sendiri sebagai pengkut 4 mazhab terbesar. “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
     Nabi Muhammad seorang muslim. “Muslim” bermakna “orang yang berserah diri kepada Allah”. Ketika ada yang bertanya,”Siapakah Nabi Muhammad? Apakah beliau seorang Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali?” Jawabnya, “Nabi Muhammad  seorang muslim”. Sebagaimana semua Nabi dan Rasul Allah sebelumnya.
      Al-Quran menyatakan Nabi Isa seorang muslim.  Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 52-53. “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia,”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab,”Kami penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikan sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri (muslim).”
      “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.
      Al-Quran menjelaskan Nabi Ibrahim seorang muslim. Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah. Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Nasrani.
     Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 67. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      Jika seseorang bertanya kepada orang Islam, maka dia harus menjawab “Saya orang Islam” atau “Saya seorang muslim”. Bukan menjawab, “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
      Al-Quran surat Fusilat. Surah ke-41 ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk orang muslim, yaitu orang yang berserah diri?"
         Nabi Muhammad mengirim surat kepada para raja non-Islam dan para penguasa mengajak mereka masuk Islam. Dalam surat tersebut, Nabi menyebutkan Al-Quran surah Ali Imran ayat 64.
      “Katakan, Wahai Ahli Kitab, mari (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakan kepada mereka, “Saksikan, kami adalah orang muslim, yaitu orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
      Semua umat Islam harus menghormati semua ulama besar Islam. Umat Islam  harus menghormati semua kiai atau ulama besar Islam, termasuk empat Imam mazhab. Yaitu Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali. Semoga Allah merahmati mereka.
      Mereka semuanya ulama besar. Semoga Allah membalas segala amal baik dan kerja keras penelitian mereka. Kita boleh mengikuti pendapat dan riset yang dilakukan Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali.  
     Tetapi, jika dihadapkan pada pertanyaan,“Siapakah Anda?” Jawaban yang semestinya, “Saya seorang muslim” atau, “Saya orang Islam”.
      Nabi bersabda,”Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan”. Nabi memprediksi terpecahnya umat menjadi 73 golongan. Nabi tidak menyebutkan umat Islam harus membagi dirinya menjadi 73 golongan.
      Nabi bersabda, “Umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan”. Sahabat bertanya, “Golongan manakah yang masuk surga?” Nabi menjawab, “Golongan yang mematuhi Allah dan Rasul-Nya”.
     Ulil Absar Abdalla berpendapat perpecahan dalam agama dimulai dari masalah politik. Para pemimpin politik berebut jumlah pemilih. Para tokoh politik ingin menambah jumlah anggotanya. Untuk kepentingan pemilihan umum.
      Para pemimpin politik ingin merebut “harta, tahta, dan wanita” menggunakan aneka cara. Kadang kala mereka “menghalalkan” segala cara.
      Sebaiknya para pemimpin kelompok Islam pada tingkatan apa pun. Para pemimpin umat Islam, di mana pun mereka berada. Mereka harus saling melengkapi untuk menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia.
     Sebaiknya sesama umat Islam jangan saling menyindir, menghina, dan merendahkan. Jangan saling “mengafirkan”, dan jangan “membid’ahkan” sesama Islam. Jangan gampang diadu domba. Sesama umat Islam harus rukun.
    Tidak ada manusia sempurna. Tidak ada kelompok yang sempurna. Tidak ada golongan yang sempurna. Mereka harus saling melengkapi.
      Semua umat Islam harus saling “menyempurnakan” dan menutupi “kekurangan” lainnya, guna menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia. Semoga kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Amin.
 Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

133. PECAH

MENGAPA UMAT ISLAM TERPECAH BELAH?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Semua umat Islam mengikuti Al-Quran yang sama, tetapi mengapa terdapat aliran dan beberapa pemikiran yang berbeda? Dr. Zakir Naik mencoba menjelaskannya.
      Pertama, Al-Quran memerintahkan semua umat Islam bersatu. Jangan bercerai berai. Semua umat Islam wajib bersatu. Saat ini umat Islam terpecah-belah menjadi beberapa kelompok.
       Kejadian ini bukan disebabkan ajaran Islam. Karena Islam ingin menyatukan semua para pengikutnya. Islam melarang berpecah belah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3  ayat 103. “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, Allah mempersatukan hatimu, karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara. Kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu. Allah menerangkan ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
      Ayat Al-Quran ini memerintahkan seluruh umat Islam bersatu di jalan Allah dan melarang berpecah-belah.     
      Barangsiapa melepaskan diri atau mengambil jalan lain selain jalan Allah, maka dia yang memisahkan diri dari jamaah umat Islam dan berarti dia yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
      Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 59. “Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
      Allah menyerukan kepada orang beriman untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri. Ulil amri ialah pemegang kekuasaan atau pemimpin mereka sebagai wujud keimanan kepada Allah dan hari akhir.  
     Al-Quran surah Al-An’am. Surah ke-6 ayat 159. “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
      Ketika ada orang bertanya kepada seorang Islam,“Siapakah Anda?”. Jawaban yang umum adalah “Saya seorang Suni,” atau “Saya seorang Syiah”. Beberapa orang menyebut diri sendiri sebagai pengkut 4 mazhab terbesar. “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
     Nabi Muhammad seorang muslim. “Muslim” bermakna “orang yang berserah diri kepada Allah”. Ketika ada yang bertanya,”Siapakah Nabi Muhammad? Apakah beliau seorang Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali?” Jawabnya, “Nabi Muhammad  seorang muslim”. Sebagaimana semua Nabi dan Rasul Allah sebelumnya.
      Al-Quran menyatakan Nabi Isa seorang muslim.  Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 52-53. “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia,”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab,”Kami penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikan sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri (muslim).”
      “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.
      Al-Quran menjelaskan Nabi Ibrahim seorang muslim. Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah. Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Nasrani.
     Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 67. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      Jika seseorang bertanya kepada orang Islam, maka dia harus menjawab “Saya orang Islam” atau “Saya seorang muslim”. Bukan menjawab, “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
      Al-Quran surat Fusilat. Surah ke-41 ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk orang muslim, yaitu orang yang berserah diri?"
         Nabi Muhammad mengirim surat kepada para raja non-Islam dan para penguasa mengajak mereka masuk Islam. Dalam surat tersebut, Nabi menyebutkan Al-Quran surah Ali Imran ayat 64.
      “Katakan, Wahai Ahli Kitab, mari (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakan kepada mereka, “Saksikan, kami adalah orang muslim, yaitu orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
      Semua umat Islam harus menghormati semua ulama besar Islam. Umat Islam  harus menghormati semua kiai atau ulama besar Islam, termasuk empat Imam mazhab. Yaitu Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali. Semoga Allah merahmati mereka.
      Mereka semuanya ulama besar. Semoga Allah membalas segala amal baik dan kerja keras penelitian mereka. Kita boleh mengikuti pendapat dan riset yang dilakukan Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali.  
     Tetapi, jika dihadapkan pada pertanyaan,“Siapakah Anda?” Jawaban yang semestinya, “Saya seorang muslim” atau, “Saya orang Islam”.
      Nabi bersabda,”Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan”. Nabi memprediksi terpecahnya umat menjadi 73 golongan. Nabi tidak menyebutkan umat Islam harus membagi dirinya menjadi 73 golongan.
      Nabi bersabda, “Umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan”. Sahabat bertanya, “Golongan manakah yang masuk surga?” Nabi menjawab, “Golongan yang mematuhi Allah dan Rasul-Nya”.
     Ulil Absar Abdalla berpendapat perpecahan dalam agama dimulai dari masalah politik. Para pemimpin politik berebut jumlah pemilih. Para tokoh politik ingin menambah jumlah anggotanya. Untuk kepentingan pemilihan umum.
      Para pemimpin politik ingin merebut “harta, tahta, dan wanita” menggunakan aneka cara. Kadang kala mereka “menghalalkan” segala cara.
      Sebaiknya para pemimpin kelompok Islam pada tingkatan apa pun. Para pemimpin umat Islam, di mana pun mereka berada. Mereka harus saling melengkapi untuk menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia.
     Sebaiknya sesama umat Islam jangan saling menyindir, menghina, dan merendahkan. Jangan saling “mengafirkan”, dan jangan “membid’ahkan” sesama Islam. Jangan gampang diadu domba. Sesama umat Islam harus rukun.
    Tidak ada manusia sempurna. Tidak ada kelompok yang sempurna. Tidak ada golongan yang sempurna. Mereka harus saling melengkapi.
      Semua umat Islam harus saling “menyempurnakan” dan menutupi “kekurangan” lainnya, guna menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia. Semoga kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Amin.
 Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

133. PECAH

MENGAPA UMAT ISLAM TERPECAH BELAH?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Semua umat Islam mengikuti Al-Quran yang sama, tetapi mengapa terdapat aliran dan beberapa pemikiran yang berbeda? Dr. Zakir Naik mencoba menjelaskannya.
      Pertama, Al-Quran memerintahkan semua umat Islam bersatu. Jangan bercerai berai. Semua umat Islam wajib bersatu. Saat ini umat Islam terpecah-belah menjadi beberapa kelompok.
       Kejadian ini bukan disebabkan ajaran Islam. Karena Islam ingin menyatukan semua para pengikutnya. Islam melarang berpecah belah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3  ayat 103. “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, Allah mempersatukan hatimu, karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara. Kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu. Allah menerangkan ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
      Ayat Al-Quran ini memerintahkan seluruh umat Islam bersatu di jalan Allah dan melarang berpecah-belah.     
      Barangsiapa melepaskan diri atau mengambil jalan lain selain jalan Allah, maka dia yang memisahkan diri dari jamaah umat Islam dan berarti dia yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
      Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 59. “Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
      Allah menyerukan kepada orang beriman untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri. Ulil amri ialah pemegang kekuasaan atau pemimpin mereka sebagai wujud keimanan kepada Allah dan hari akhir.  
     Al-Quran surah Al-An’am. Surah ke-6 ayat 159. “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
      Ketika ada orang bertanya kepada seorang Islam,“Siapakah Anda?”. Jawaban yang umum adalah “Saya seorang Suni,” atau “Saya seorang Syiah”. Beberapa orang menyebut diri sendiri sebagai pengkut 4 mazhab terbesar. “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
     Nabi Muhammad seorang muslim. “Muslim” bermakna “orang yang berserah diri kepada Allah”. Ketika ada yang bertanya,”Siapakah Nabi Muhammad? Apakah beliau seorang Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali?” Jawabnya, “Nabi Muhammad  seorang muslim”. Sebagaimana semua Nabi dan Rasul Allah sebelumnya.
      Al-Quran menyatakan Nabi Isa seorang muslim.  Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 52-53. “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia,”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab,”Kami penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikan sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri (muslim).”
      “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.
      Al-Quran menjelaskan Nabi Ibrahim seorang muslim. Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah. Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Nasrani.
     Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 67. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      Jika seseorang bertanya kepada orang Islam, maka dia harus menjawab “Saya orang Islam” atau “Saya seorang muslim”. Bukan menjawab, “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
      Al-Quran surat Fusilat. Surah ke-41 ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk orang muslim, yaitu orang yang berserah diri?"
         Nabi Muhammad mengirim surat kepada para raja non-Islam dan para penguasa mengajak mereka masuk Islam. Dalam surat tersebut, Nabi menyebutkan Al-Quran surah Ali Imran ayat 64.
      “Katakan, Wahai Ahli Kitab, mari (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakan kepada mereka, “Saksikan, kami adalah orang muslim, yaitu orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
      Semua umat Islam harus menghormati semua ulama besar Islam. Umat Islam  harus menghormati semua kiai atau ulama besar Islam, termasuk empat Imam mazhab. Yaitu Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali. Semoga Allah merahmati mereka.
      Mereka semuanya ulama besar. Semoga Allah membalas segala amal baik dan kerja keras penelitian mereka. Kita boleh mengikuti pendapat dan riset yang dilakukan Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali.  
     Tetapi, jika dihadapkan pada pertanyaan,“Siapakah Anda?” Jawaban yang semestinya, “Saya seorang muslim” atau, “Saya orang Islam”.
      Nabi bersabda,”Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan”. Nabi memprediksi terpecahnya umat menjadi 73 golongan. Nabi tidak menyebutkan umat Islam harus membagi dirinya menjadi 73 golongan.
      Nabi bersabda, “Umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan”. Sahabat bertanya, “Golongan manakah yang masuk surga?” Nabi menjawab, “Golongan yang mematuhi Allah dan Rasul-Nya”.
     Ulil Absar Abdalla berpendapat perpecahan dalam agama dimulai dari masalah politik. Para pemimpin politik berebut jumlah pemilih. Para tokoh politik ingin menambah jumlah anggotanya. Untuk kepentingan pemilihan umum.
      Para pemimpin politik ingin merebut “harta, tahta, dan wanita” menggunakan aneka cara. Kadang kala mereka “menghalalkan” segala cara.
      Sebaiknya para pemimpin kelompok Islam pada tingkatan apa pun. Para pemimpin umat Islam, di mana pun mereka berada. Mereka harus saling melengkapi untuk menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia.
     Sebaiknya sesama umat Islam jangan saling menyindir, menghina, dan merendahkan. Jangan saling “mengafirkan”, dan jangan “membid’ahkan” sesama Islam. Jangan gampang diadu domba. Sesama umat Islam harus rukun.
    Tidak ada manusia sempurna. Tidak ada kelompok yang sempurna. Tidak ada golongan yang sempurna. Mereka harus saling melengkapi.
      Semua umat Islam harus saling “menyempurnakan” dan menutupi “kekurangan” lainnya, guna menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia. Semoga kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Amin.
 Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

133. PECAH

MENGAPA UMAT ISLAM TERPECAH BELAH?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Semua umat Islam mengikuti Al-Quran yang sama, tetapi mengapa terdapat aliran dan beberapa pemikiran yang berbeda? Dr. Zakir Naik mencoba menjelaskannya.
      Pertama, Al-Quran memerintahkan semua umat Islam bersatu. Jangan bercerai berai. Semua umat Islam wajib bersatu. Saat ini umat Islam terpecah-belah menjadi beberapa kelompok.
       Kejadian ini bukan disebabkan ajaran Islam. Karena Islam ingin menyatukan semua para pengikutnya. Islam melarang berpecah belah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3  ayat 103. “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, Allah mempersatukan hatimu, karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara. Kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu. Allah menerangkan ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
      Ayat Al-Quran ini memerintahkan seluruh umat Islam bersatu di jalan Allah dan melarang berpecah-belah.     
      Barangsiapa melepaskan diri atau mengambil jalan lain selain jalan Allah, maka dia yang memisahkan diri dari jamaah umat Islam dan berarti dia yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
      Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 59. “Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
      Allah menyerukan kepada orang beriman untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri. Ulil amri ialah pemegang kekuasaan atau pemimpin mereka sebagai wujud keimanan kepada Allah dan hari akhir.  
     Al-Quran surah Al-An’am. Surah ke-6 ayat 159. “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
      Ketika ada orang bertanya kepada seorang Islam,“Siapakah Anda?”. Jawaban yang umum adalah “Saya seorang Suni,” atau “Saya seorang Syiah”. Beberapa orang menyebut diri sendiri sebagai pengkut 4 mazhab terbesar. “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
     Nabi Muhammad seorang muslim. “Muslim” bermakna “orang yang berserah diri kepada Allah”. Ketika ada yang bertanya,”Siapakah Nabi Muhammad? Apakah beliau seorang Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali?” Jawabnya, “Nabi Muhammad  seorang muslim”. Sebagaimana semua Nabi dan Rasul Allah sebelumnya.
      Al-Quran menyatakan Nabi Isa seorang muslim.  Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 52-53. “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia,”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab,”Kami penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikan sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri (muslim).”
      “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.
      Al-Quran menjelaskan Nabi Ibrahim seorang muslim. Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah. Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Nasrani.
     Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 67. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      Jika seseorang bertanya kepada orang Islam, maka dia harus menjawab “Saya orang Islam” atau “Saya seorang muslim”. Bukan menjawab, “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
      Al-Quran surat Fusilat. Surah ke-41 ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk orang muslim, yaitu orang yang berserah diri?"
         Nabi Muhammad mengirim surat kepada para raja non-Islam dan para penguasa mengajak mereka masuk Islam. Dalam surat tersebut, Nabi menyebutkan Al-Quran surah Ali Imran ayat 64.
      “Katakan, Wahai Ahli Kitab, mari (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakan kepada mereka, “Saksikan, kami adalah orang muslim, yaitu orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
      Semua umat Islam harus menghormati semua ulama besar Islam. Umat Islam  harus menghormati semua kiai atau ulama besar Islam, termasuk empat Imam mazhab. Yaitu Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali. Semoga Allah merahmati mereka.
      Mereka semuanya ulama besar. Semoga Allah membalas segala amal baik dan kerja keras penelitian mereka. Kita boleh mengikuti pendapat dan riset yang dilakukan Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali.  
     Tetapi, jika dihadapkan pada pertanyaan,“Siapakah Anda?” Jawaban yang semestinya, “Saya seorang muslim” atau, “Saya orang Islam”.
      Nabi bersabda,”Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan”. Nabi memprediksi terpecahnya umat menjadi 73 golongan. Nabi tidak menyebutkan umat Islam harus membagi dirinya menjadi 73 golongan.
      Nabi bersabda, “Umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan”. Sahabat bertanya, “Golongan manakah yang masuk surga?” Nabi menjawab, “Golongan yang mematuhi Allah dan Rasul-Nya”.
     Ulil Absar Abdalla berpendapat perpecahan dalam agama dimulai dari masalah politik. Para pemimpin politik berebut jumlah pemilih. Para tokoh politik ingin menambah jumlah anggotanya. Untuk kepentingan pemilihan umum.
      Para pemimpin politik ingin merebut “harta, tahta, dan wanita” menggunakan aneka cara. Kadang kala mereka “menghalalkan” segala cara.
      Sebaiknya para pemimpin kelompok Islam pada tingkatan apa pun. Para pemimpin umat Islam, di mana pun mereka berada. Mereka harus saling melengkapi untuk menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia.
     Sebaiknya sesama umat Islam jangan saling menyindir, menghina, dan merendahkan. Jangan saling “mengafirkan”, dan jangan “membid’ahkan” sesama Islam. Jangan gampang diadu domba. Sesama umat Islam harus rukun.
    Tidak ada manusia sempurna. Tidak ada kelompok yang sempurna. Tidak ada golongan yang sempurna. Mereka harus saling melengkapi.
      Semua umat Islam harus saling “menyempurnakan” dan menutupi “kekurangan” lainnya, guna menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia. Semoga kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Amin.
 Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

Monday, July 10, 2017

132. WARIS

MENGAPA HAK WARIS WANITA SETENGAH BAGIAN PRIA?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Dalam hukum Islam, mengapa wanita mendapat bagian warisan hanya setengah dari bagian pria? Dr. Zakir Naik menjelaskannya.
       Pertama, Hal waris dalam Al-Quran. Al-Quran berisi petunjuk khusus dan terperinci mengenai pembagian harta warisan anggota keluarga yang berhak menerimanya.
      Ayat-ayat Al-Quran mengenai warisan. Ayat Al-Quran mengenai warisan. QS. Al-Baqarah, 2:180; QS. Al-Baqarah, 2:240; QS. An-Nisa, 4:7-9; QS. An-Nisa, 4:19; QS. An-Nisa, 4:33; QS. Al-Maidah, 5:106-108.
     Kedua, Pembagian khusus warisan untuk anggota keluarga. Terdapat tiga ayat Al-Quran yang menjelaskan secara umum mengenai pembagian warisan untuk anggota keluarga terdekat.
     Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 11.  “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu bagian seorang anak pria sama dengan bagian dua orang anak wanita. Jika anak itu semuanya wanita lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika anak wanita itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta.”
     “Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak. Jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga
     “Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 12.  “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya.”
      “Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu.
      “Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun wanita yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara wanita (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.”
    “Tetapi, jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”
      Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 176. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah,”Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara wanita, maka bagi saudaranya yang wanita itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara wanita), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara wanita itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal.”
      “Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan wanita, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara wanita. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”  
      Ketiga, Kadang kala wanita mendapat bagian warisan sama atau lebih banyak daripada pria. Dalam banyak kasus, seorang wanita mendapat warisan setengah bagian dari apa yang didapat pria. Namun, hal ini tidak selalu demikian.
      Apabila almarhum tidak meninggalkan orang tua atau keturunan, tetapi meninggalkan saudara pria dan wanita seibu, masing-masing mendapat seperenam bagian.
      Keempat, Wanita biasanya mendapat warisan setengah bagian dari apa yang didapat pria. Dalam peraturan umum, dalam banyak kasus, wanita mendapat warisan setengah bagian dari apa yang didapat pria.
      Misalnya untuk kasus berikut. a). anak wanita mendapat warisan setengah bagian yang diperoleh anak pria, b). istri mendapatkan warisan 1/8 bagian dan suami mendapatkan ¼ bagian, jika almarhum tidak memiliki anak,
      c).istri mendapatkan warisan ¼ bagian dan suami mendapatkan ½ bagian, jika almarhum memiliki anak, d).jika almarhum tidak memiliki keturunan, maka saudara wanita mendapat warisan setengah bagian dari yang diperoleh saudara prianya.
      Kelima, Pria mendapatkan warisan dua kali lebih banyak dari yang diterima wanita, sebab pria bertanggung jawab keuangan dalam keluarga. Dalam Islam, seorang wanita tidak memiliki kewajiban keuangan dan tanggung jawab ekonomi terletak di pundak pria.
      Sebelum seorang wanita menikah, tugas ayah atau saudara pria memenuhi  kebutuhan makanan, tempat tinggal, pakaian dan kebutuhan keuangan lainnya yang diperlukan wanita.
      Setelah seorang wanita menikah, tugas dan tanggung jawab suami atau anak pria. Islam menentukan suami harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk memenuhi kewajibannya, pria yang akan menjadi seorang suami mendapatkan bagian dua kali lebih besar dari harta warisan.
      Misalnya, seorang lelaki tua meninggal dunia dan mewariskan Rp 150 juta untuk anaknya, seorang pria dan seorang wanita. Anak pria mendapatkan Rp 100 juta dan anak wanita memperoleh Rp 50 juta.
      Uang Rp 100 juta yang diwarisi anak pria, sebagai seorang suami bertugas sebagai kepala  keluarga. Suami bisa menggunakan Rp 80 juta untuk istri dan anaknya, dan sisa Rp 20 juta digunakan untuk dirinya sendiri.
      Anak wanita yang mewarisi Rp 50 juta tidak berkewajiban menggunakan untuk keluarganya. Dia berhak menyimpan seluruh uangnya untuk dirinya sendiri.
      Manakah yang lebih Anda pilih, mewarisi Rp 100 juta dan menggunakan Rp 80 juta untuk keluarga atau mewarisi Rp 50 juta dan memiliki semuanya untuk dirimu sendiri?
Daftar Pustaka.
1. Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.