Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, August 8, 2017

183. DODGE

APAKAH ISLAM ITU SEBENARNYA?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksud Islam itu? Mohon dijelaskan, apakah Islam itu sebenarnya? Profesor Christina Huda Dodge, seorang wanita Ketua Komite Wanita Masjid di Oregon, Amerika Serikat menjelaskannya.
      “Islam” adalah nama sebuah agama dan orang yang melaksanakan ajarannya disebut  “Muslim”. Kata “Islam” adalah kata dalam bahasa Arab yang artinya “kedamaian, keselamatan, dan kepasrahan.” Seorang muslim adalah orang yang secara damai berserah diri kepada Allah.
      Kata “Islami” biasanya mengacu kepada objek atau tempat dan bukan orang. Sedangkan “Muhammedisme” adalah istilah kuno untuk melecehkan agama Islam.
      Umat muslimin percaya bahwa dengan melaksanakan keyakinan mereka melalui kepasrahan hanya kepada Allah, mereka dapat mencapai kedamaian dan keselamatan dalam kehidupan di dunia dan akhirat.
      Para pemeluk Islam meyakini bahwa hanya ada Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa yang mengutus para nabi sepanjang masa untuk menyampaikan wahyu Allah kepada manusia.
      Kaum Muslimin menerima semua nabi di masa lampau, termasuk Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Kaum muslimin yakin bahwa Islam adalah kelanjutan keyakinan ajaran semua nabi di masa lalu.
       Kaum Muslimin mempercayai bahwa semua nabi mengajarkan beriman hanya kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa serta menaati semua petunjuk-Nya.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 136. “Katakan (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.
    Sepuluh fakta paling menarik tentang Islam. Pertama, dari enam rukun Islam, yang  paling utama dan paling penting adalah beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
     Kedua, Allah (bahasa Arab) adalah sebutan resmi untuk Tuhan. Ketiga, tempat paling suci dalam Islam adalah kota Mekah dan Madinah di Arab Saudi. Keempat, ajaran Islam tidak mendukung orang memeluk Islam dengan paksaan.
     Kelima, praktik rukun Islam merupakan pelaksanaan agama. Yaitu: syahadat, salat lima waktu, berpuasa Ramadan, mengeluarkan zakat, dan berhaji ke Mekah. Keenam, menurut ajaran Islam, Nabi Isa adalah seorang Nabi utusan Allah dan manusia yang dihormati.
      Ketujuh, Para pemeluk Islam yakin bahwa setelah kematian, setiap orang akan dihisab atau dihitung amal perbuatannya dan akan menerima akibatnya, yaitu berupa pahala masuk surga atau azab api neraka.
     Kedelapan, ajaran Islam memandang kaum lelaki dan wanita adalah sama kedudukannya di hadapan Allah. Kesembilan, umat Islam tidak makan babi dan tidak minum alkohol. Kesepuluh, ajaran Islam sangat keras menentang penyembahan berhala, karena sangat berhati-hati, maka Islam “tradisional” melarang membuat patung manusia dan hewan.
     Islam adalah suatu keyakinan berdasarkan kedamaian dan kepasrahan kepada Allah, sesuai dengan ajaran para Nabi-Nya, dan ajaran Islam yang sangat penting adalah tentang keesaan Allah.
    Islam merupakan suatu keyakinan yang mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan segala sesuatu. Sedangkan cara hidup islami adalah menjalani kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan keyakinan ajaran Islam.
Daftar Pustaka
1. Dodge, Christina Huda. Memahami Segalanya Tentang Islam. The Everything Understandning Islam Book. Penerbit Karisma Publishing Group, Batam 2004.

Monday, August 7, 2017

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

182. MATA

MENSYUKURI  NIKMAT MATA, TELINGA, DAN HATI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Keluarga Mukiyo Gombal tinggal di Panjunan, Sukodono, Sidoarjo memiliki seekor kucing yang cantik. Kucing ini biasanya dipanggil “Si Meong”. Si Meong mempunyai bulu yang indah, lucu, dan menggemaskan.
      Hanya empat kata yang dilatihkan kepada Si Meong, yaitu “meong, berdiri, pergi, dan tidur”. Setiap kali dipanggil namanya, si Meong pasti datang dengan berlari. Setiap disebutkan kata yang sudah diajarkan, si Meong pasti mengikutinya sesuai dengan perintah.
     Keluarga Mukiyo sangat mencintai Si Meong, seolah Si Meong adalah bagian keluarganya. Jika bepergian Si Meong sering diajak ikut serta. Keluarga Mukiyo dan Si Meong seakan tidak terpisahkan.
     Bayangkan, hanya menguasai empat kata saja, Si Meong mendapatkan tempat istimewa dalam keluarga itu. Bagaimana dengan manusia yang mengenal banyak kosakata?
    Si Meong mempunyai mata, telinga, dan hati, tetapi Si Meong tetap hewan peliharaan. Si Meong tetap seekor binatang biasa yang memiliki daya emosional dari rangsangan atau stimulus yang diberikan.
      Perintah yang diberikan kepada Si Meong hanya searah dan tidak terjadi komunikasi timbal balik. Hal itu yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia lebih utama dibandingkan dengan binatang. Tetapi, manusia bisa turun derajatnya menjadi lebih rendah daripada hewan.
      Manusia yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat mata, telinga, dan hati yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya “anjlok” menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 179.  “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
      Si Meong memanfaatkan mata, telinga, dan hatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan “biologis” belaka. Kebutuhan biologis hanya merasakan enak atau tidak enak, puas atau tidak puas, senang atau tidak senang. Jika kebutuhanya tidak terpenuhi, maka hewan akan merusak.
      Manusia diberi mata, telinga, dan hati untuk melihat, mendengar, dan memahami kebesaran Allah, lalu mensyukurinya dengan beribadah kepada Allah. Manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, maka derajatnya sama dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi. 
      Al-Quran surah Al-Haj, surah ke-22 ayat 46. “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
      Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 78. “Dan Allah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
      Mata, telinga, dan hati manusia perlu dilatih, dirawat, dan diasah agar semakin tajam dan sensitif sehingga mudah bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah. Salah satu cara  memperkaya rasa syukur dengan mengunjungi orang yang sakit.
     Nabi Bersabda,”Agar kalian menjadi manusia yang gampang bersyukur, maka berkunjunglah ke saudaramu yang sakit.” Dengan sering mengunjungi orang yang sakit, maka seseorang akan mudah bersyukur dengan semua nikmat kesehatan yang diperoleh selama ini.
Daftar Pustaka
1. Triono, Bambang. Inspiring Moslem entrepreneur. Penerbit Kayu Tangan. Malang 2009.

Sunday, August 6, 2017

182. Anak

7 RAHASIA MENDIDIK ANAK

1) Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.
2) Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!”. Tapi katakan kepada mereka: “Mainnya 5 menit lagi yaaa”. Kemudian ingatkan kembali: “Dua menit lagi yaaa”. Kemudian barulah katakan: “Ayo, waktu main sudah habis”. Mereka akan berhenti bermain.
3) Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah: “Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..”. Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.
4) Katakan kepada anak-anak menjelang tidur: “Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: “Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.
5) Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.
6) Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan: “Maaf saaay, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak”. Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.
7) Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat.

Silahkan LIKE & SHARE, Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua, Amin.

181. MULIA

ALQURAN, BACAAN YANG MULIA DAN SEMPURNA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Profesor Quraish Shihab menjelaskan pengertian Al-Quran. “Al-Quran” secara harfiah bermakna “Bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan”. “Al-Quran Al-Karim” berarti “Bacaan yang Maha Sempurna dan Maha Mulia.” 
     Kemahamuliaan dan kemahasempurnaan bacaan “Al-Quran”, tidak hanya bisa dipahami oleh para ahli. Tetapi, juga dapat dipahami oleh orang yang menggunakan “sedikit” pikirannya.
      Ustad Felix Siauw menyatakan Al-Quran sebuah kitab yang “sombong dan angkuh”. Biasanya semua buku atau tulisan apa pun terdapat pengantar berupa permintaan “mohon saran dan kritik”dari pembaca. Tetapi, Al-Quran amat yakin dengan kebenaran dirinya dan sangat percaya diri, tidak ada keraguan di dalamnya. Tidak akan dijumpai kesalahan dalam Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 2. “Kitab Al-Quran ini, TIDAK ADA KERAGUAN padanya. Petunjuk bagi orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.“
      Hanya Al-Quran sebuah “buku” yang dibaca orang sejak ribuan tahun lalu sampai sekarang. Al-Quran sebuah “buku” yang dibaca oleh orang yang memahami artinya maupun orang yang tidak mengerti artinya.  Yang lebih aneh, dalam kejuaraan internasional, pemenang “Lomba Bacaan Al-Quran”, bukan orang yang berasal dari negeri berbahasa Arab.
        Juara MTQ internasional sering dimenangkan orang Indonesia. Padahal, orang Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, tidak menggunakan bahasa Arab. Tentu saja, bahasa ibu orang Indonesia bukan bahasa Arab.
      Cuma Al-Quran sebuah “buku” yang dipelajari dan diketahui sejarahnya. Bukan hanya sekedar secara yang umum, tetapi diketahui sejarahnya ayat per ayat, kapan turunnya, tahun berapa, bulan apa, musim apa, dan pada siang hari atau malam hari, serta dalam kondisi bagaimana?. Sungguh, Al-Quran merupakan “buku” yang luar biasa.
       Hanya Al-Quran sebuah “buku” yang  dipelajari secara terperinci redaksinya. Bukan hanya dalam penetapan kata per kata, bentuk susunannya dan pemilihan suatu kosakata. Tetapi, juga mencakup kandungan arti yang tersurat maupun tersirat. Sungguh mengagumkan.
    Hanya A-Quran sebuah buku yang dibaca, dipelajari, dan dijaga beraneka bacaannya. Jumlah model bacaannya lebih dari  sepuluh macam dan ditetapkan cara membacanya, kapan harus dibaca panjang, kapan harus dibaca pendek.
     Cuma Al-Quran sebuah buku yang ditentukan tempat bacaan harus berhenti, dan tempat dianjurkan berhenti serta  tempat dilarang berhenti. Juga ditentukan irama dan lagu yang dibolehkan maupun yang dilarang, sampai kepada sikap dan perilaku orang ketika membaca pun diatur adab dan etikanya. Sungguh luar biasa. 
     Hanya Al-Quran sebuah buku yang diatur penulisan dan dipelajari tata cara penulisan, segi persesuaian dan perbedaan dengan penulisan masa kini dan sampai mencari rahasia perbedaan kata-kata yang sama. Kemudian ditemukan pertimbangan yang mengagumkan dari pemilihan kosakata tersebut.
     Apakah kita pernah menjumpai sebuah buku yang seperti Al-Quran? Wajarlah apabila kalam Allah yang diturunkan lewat malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad disebut Al-Quran, karena Al-Quran berarti “Bacaan yang Mulia dan Sempurna.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.