Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Thursday, August 10, 2017

186. JIBRIL

BENTUK FISIK MALAIKAT JIBRIL
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Malaikat Jibril adalah salah satu dari tiga nama malaikat yang disebutkan dalam Al-Quran. Nama Malaikat Jibril disebutkan dua kali dalam Al-Quran, yakni pada surat Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97 - 98 dan At-Tahrim, surah ke-66 pada ayat 4.
    Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97-98. “Katakan,”Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”
      Al-Quran surah At-Tahrim, surah ke-66 ayat 4. “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan). Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”
     Wujud bentuk fisik dan rupa para malaikat dijelaskan dalam Al-Quran ada yang memiliki 2 sayap, 3 sayap, dan 4 sayap.
      Al-Quran surah Fathir, surah ke-35 ayat 1. “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Najm surah ke-53 ayat 13. “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.”
       Para malaikat tidak bertambah tua maupun muda, keadaan malaikat sekarang tetap sama persis ketika mereka diciptakan.
     Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain.
     Para malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Malaikat dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Malaikat tidak berjenis kelamin, malaikat bukan lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.
      Dikisahkan Malaikat Jibril mengunjungi Nabi Muhammad lebih dari 23.000 kali selama 23 tahun masa kenabian. Sejak Nabi berumur 40 tahun sampai wafat umur 63 tahun.
      Wujud bentuk fisik dan rupa malaikat tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena mata manusia tercipta dari “unsur tanah” tidak mampu melihat wujud  malaikat yang asalnya terbuat dari “unsur cahaya”.
      Nabi Muhammad disebutkan secara jelas melihat wujud bentuk fisik dan rupa asli Malaikat Jibril sebanyak dua kali. Malaikat Jibril sering mengunjungi Nabi berwujud fisik seperti manusia biasa.
    Nabi bersabda,”Ketika saya berada di Gua Hira, datang Malaikat Jibril dalam rupa seorang lelaki. Malaikat Jibril berkata,”Bacalah!” Nabi menjawab,”saya tidak bisa membaca”.
      Malaikat Jibril merangkul hingga Nabi merasa sesak. Nabi dilepaskan seraya berkata lagi,”Bacalah!” Nabi menjawab,” saya tidak bisa membaca.” Kemudian turun wahyu Al-Quran surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 1-5).
     “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia  menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
    Nabi menirukan bacaan ini dengan hati bergetar. Kemudian Nabi pulang menjumpai Khadijah, istrinya. Badan Nabi menggigil seperti demam lalu Khadijah membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya Khadijah.
     Waraqah bin Naufal seorang pendeta Nasrani yang sudah tua dan buta. Nabi menjelaskan kejadian yang dialaminya. Waraqah berkata,”Itu adalah Namus yang diutus Allah datang kepada Musa. Seandainya saya masih hidup akan menyaksikan kaummu mengusirmu”.
      Nabi melihat wujud fisik asli Malaikat Jibril pada saat turun wahyu kedua yakni surah Al-Muddatssir, surah ke-74. Dalam Sahih Bukhari dijelaskan bahwa ketika itu Malaikat Jibril terlihat duduk melayang di atas kursi di antara langit dan bumi.
      Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril menampakkan diri yang asli yang tingginya melewati batas ufuk, yaitu melewati batas penglihatan. Nabi bertanya, “ “Wahai Jibril, saya tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk yang sangat besar seperti bentukmu ini.”
       Malaikat Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, aku hanya membentangkan dua sayapku. Sesungguhnya aku memiliki 600 sayap, yang ukuran setiap sayapku seluas antara timur dan barat.”
       Malaikat Jibril berkata, “Allah menciptakan Malaikat Israfil, dia lebih besar dariku dan memiliki 600 sayap, yang setiap sayapnya seukuran seluruh sayapku. Sesungguhnya dia melipat sayapnya karena takut kepada Allah, dia melipatnya sekecil mungkin.”
      Pada saat bertemu dengan Nabi dalam wujud aslinya, Malaikat Jibril menggunakan baju kebesarannya yaitu semacam baju putih laksana mutiara yang elok dan rupawan dengan kekuatan dahsyat penuh mukzijat.
      Dalam kisah perjalanan Isra Mikraj, ketika tiba di “pos penjagaan” Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Nabi untuk terus naik menghadap kehadirat Allah.
     Malaikat Jibril berkata,”Aku tidak mampu lagi mendekati Allah, masih memerlukan waktu 60.000 tahun untuk terbang. Inilah jarak terakhir antara aku dengan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus naik ke atas, maka aku pasti hancur luluh”.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.

186. JIBRIL

BENTUK FISIK MALAIKAT JIBRIL
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Malaikat Jibril adalah salah satu dari tiga nama malaikat yang disebutkan dalam Al-Quran. Nama Malaikat Jibril disebutkan dua kali dalam Al-Quran, yakni pada surat Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97 - 98 dan At-Tahrim, surah ke-66 pada ayat 4.
    Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97-98. “Katakan,”Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”
      Al-Quran surah At-Tahrim, surah ke-66 ayat 4. “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan). Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”
     Wujud bentuk fisik dan rupa para malaikat dijelaskan dalam Al-Quran ada yang memiliki 2 sayap, 3 sayap, dan 4 sayap.
      Al-Quran surah Fathir, surah ke-35 ayat 1. “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Najm surah ke-53 ayat 13. “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.”
       Para malaikat tidak bertambah tua maupun muda, keadaan malaikat sekarang tetap sama persis ketika mereka diciptakan.
     Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain.
     Para malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Malaikat dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Malaikat tidak berjenis kelamin, malaikat bukan lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.
      Dikisahkan Malaikat Jibril mengunjungi Nabi Muhammad lebih dari 23.000 kali selama 23 tahun masa kenabian. Sejak Nabi berumur 40 tahun sampai wafat umur 63 tahun.
      Wujud bentuk fisik dan rupa malaikat tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena mata manusia tercipta dari “unsur tanah” tidak mampu melihat wujud  malaikat yang asalnya terbuat dari “unsur cahaya”.
      Nabi Muhammad disebutkan secara jelas melihat wujud bentuk fisik dan rupa asli Malaikat Jibril sebanyak dua kali. Malaikat Jibril sering mengunjungi Nabi berwujud fisik seperti manusia biasa.
    Nabi bersabda,”Ketika saya berada di Gua Hira, datang Malaikat Jibril dalam rupa seorang lelaki. Malaikat Jibril berkata,”Bacalah!” Nabi menjawab,”saya tidak bisa membaca”.
      Malaikat Jibril merangkul hingga Nabi merasa sesak. Nabi dilepaskan seraya berkata lagi,”Bacalah!” Nabi menjawab,” saya tidak bisa membaca.” Kemudian turun wahyu Al-Quran surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 1-5).
     “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia  menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
    Nabi menirukan bacaan ini dengan hati bergetar. Kemudian Nabi pulang menjumpai Khadijah, istrinya. Badan Nabi menggigil seperti demam lalu Khadijah membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya Khadijah.
     Waraqah bin Naufal seorang pendeta Nasrani yang sudah tua dan buta. Nabi menjelaskan kejadian yang dialaminya. Waraqah berkata,”Itu adalah Namus yang diutus Allah datang kepada Musa. Seandainya saya masih hidup akan menyaksikan kaummu mengusirmu”.
      Nabi melihat wujud fisik asli Malaikat Jibril pada saat turun wahyu kedua yakni surah Al-Muddatssir, surah ke-74. Dalam Sahih Bukhari dijelaskan bahwa ketika itu Malaikat Jibril terlihat duduk melayang di atas kursi di antara langit dan bumi.
      Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril menampakkan diri yang asli yang tingginya melewati batas ufuk, yaitu melewati batas penglihatan. Nabi bertanya, “ “Wahai Jibril, saya tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk yang sangat besar seperti bentukmu ini.”
       Malaikat Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, aku hanya membentangkan dua sayapku. Sesungguhnya aku memiliki 600 sayap, yang ukuran setiap sayapku seluas antara timur dan barat.”
       Malaikat Jibril berkata, “Allah menciptakan Malaikat Israfil, dia lebih besar dariku dan memiliki 600 sayap, yang setiap sayapnya seukuran seluruh sayapku. Sesungguhnya dia melipat sayapnya karena takut kepada Allah, dia melipatnya sekecil mungkin.”
      Pada saat bertemu dengan Nabi dalam wujud aslinya, Malaikat Jibril menggunakan baju kebesarannya yaitu semacam baju putih laksana mutiara yang elok dan rupawan dengan kekuatan dahsyat penuh mukzijat.
      Dalam kisah perjalanan Isra Mikraj, ketika tiba di “pos penjagaan” Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Nabi untuk terus naik menghadap kehadirat Allah.
     Malaikat Jibril berkata,”Aku tidak mampu lagi mendekati Allah, masih memerlukan waktu 60.000 tahun untuk terbang. Inilah jarak terakhir antara aku dengan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus naik ke atas, maka aku pasti hancur luluh”.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.

186. JIBRIL

BENTUK FISIK MALAIKAT JIBRIL
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Malaikat Jibril adalah salah satu dari tiga nama malaikat yang disebutkan dalam Al-Quran. Nama Malaikat Jibril disebutkan dua kali dalam Al-Quran, yakni pada surat Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97 - 98 dan At-Tahrim, surah ke-66 pada ayat 4.
    Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97-98. “Katakan,”Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”
      Al-Quran surah At-Tahrim, surah ke-66 ayat 4. “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan). Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”
     Wujud bentuk fisik dan rupa para malaikat dijelaskan dalam Al-Quran ada yang memiliki 2 sayap, 3 sayap, dan 4 sayap.
      Al-Quran surah Fathir, surah ke-35 ayat 1. “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Najm surah ke-53 ayat 13. “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.”
       Para malaikat tidak bertambah tua maupun muda, keadaan malaikat sekarang tetap sama persis ketika mereka diciptakan.
     Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain.
     Para malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Malaikat dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Malaikat tidak berjenis kelamin, malaikat bukan lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.
      Dikisahkan Malaikat Jibril mengunjungi Nabi Muhammad lebih dari 23.000 kali selama 23 tahun masa kenabian. Sejak Nabi berumur 40 tahun sampai wafat umur 63 tahun.
      Wujud bentuk fisik dan rupa malaikat tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena mata manusia tercipta dari “unsur tanah” tidak mampu melihat wujud  malaikat yang asalnya terbuat dari “unsur cahaya”.
      Nabi Muhammad disebutkan secara jelas melihat wujud bentuk fisik dan rupa asli Malaikat Jibril sebanyak dua kali. Malaikat Jibril sering mengunjungi Nabi berwujud fisik seperti manusia biasa.
    Nabi bersabda,”Ketika saya berada di Gua Hira, datang Malaikat Jibril dalam rupa seorang lelaki. Malaikat Jibril berkata,”Bacalah!” Nabi menjawab,”saya tidak bisa membaca”.
      Malaikat Jibril merangkul hingga Nabi merasa sesak. Nabi dilepaskan seraya berkata lagi,”Bacalah!” Nabi menjawab,” saya tidak bisa membaca.” Kemudian turun wahyu Al-Quran surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 1-5).
     “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia  menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
    Nabi menirukan bacaan ini dengan hati bergetar. Kemudian Nabi pulang menjumpai Khadijah, istrinya. Badan Nabi menggigil seperti demam lalu Khadijah membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya Khadijah.
     Waraqah bin Naufal seorang pendeta Nasrani yang sudah tua dan buta. Nabi menjelaskan kejadian yang dialaminya. Waraqah berkata,”Itu adalah Namus yang diutus Allah datang kepada Musa. Seandainya saya masih hidup akan menyaksikan kaummu mengusirmu”.
      Nabi melihat wujud fisik asli Malaikat Jibril pada saat turun wahyu kedua yakni surah Al-Muddatssir, surah ke-74. Dalam Sahih Bukhari dijelaskan bahwa ketika itu Malaikat Jibril terlihat duduk melayang di atas kursi di antara langit dan bumi.
      Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril menampakkan diri yang asli yang tingginya melewati batas ufuk, yaitu melewati batas penglihatan. Nabi bertanya, “ “Wahai Jibril, saya tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk yang sangat besar seperti bentukmu ini.”
       Malaikat Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, aku hanya membentangkan dua sayapku. Sesungguhnya aku memiliki 600 sayap, yang ukuran setiap sayapku seluas antara timur dan barat.”
       Malaikat Jibril berkata, “Allah menciptakan Malaikat Israfil, dia lebih besar dariku dan memiliki 600 sayap, yang setiap sayapnya seukuran seluruh sayapku. Sesungguhnya dia melipat sayapnya karena takut kepada Allah, dia melipatnya sekecil mungkin.”
      Pada saat bertemu dengan Nabi dalam wujud aslinya, Malaikat Jibril menggunakan baju kebesarannya yaitu semacam baju putih laksana mutiara yang elok dan rupawan dengan kekuatan dahsyat penuh mukzijat.
      Dalam kisah perjalanan Isra Mikraj, ketika tiba di “pos penjagaan” Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Nabi untuk terus naik menghadap kehadirat Allah.
     Malaikat Jibril berkata,”Aku tidak mampu lagi mendekati Allah, masih memerlukan waktu 60.000 tahun untuk terbang. Inilah jarak terakhir antara aku dengan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus naik ke atas, maka aku pasti hancur luluh”.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.

186. JIBRIL

BENTUK FISIK MALAIKAT JIBRIL
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Malaikat Jibril adalah salah satu dari tiga nama malaikat yang disebutkan dalam Al-Quran. Nama Malaikat Jibril disebutkan dua kali dalam Al-Quran, yakni pada surat Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97 - 98 dan At-Tahrim, surah ke-66 pada ayat 4.
    Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97-98. “Katakan,”Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”
      Al-Quran surah At-Tahrim, surah ke-66 ayat 4. “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan). Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”
     Wujud bentuk fisik dan rupa para malaikat dijelaskan dalam Al-Quran ada yang memiliki 2 sayap, 3 sayap, dan 4 sayap.
      Al-Quran surah Fathir, surah ke-35 ayat 1. “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Najm surah ke-53 ayat 13. “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.”
       Para malaikat tidak bertambah tua maupun muda, keadaan malaikat sekarang tetap sama persis ketika mereka diciptakan.
     Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain.
     Para malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Malaikat dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Malaikat tidak berjenis kelamin, malaikat bukan lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.
      Dikisahkan Malaikat Jibril mengunjungi Nabi Muhammad lebih dari 23.000 kali selama 23 tahun masa kenabian. Sejak Nabi berumur 40 tahun sampai wafat umur 63 tahun.
      Wujud bentuk fisik dan rupa malaikat tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena mata manusia tercipta dari “unsur tanah” tidak mampu melihat wujud  malaikat yang asalnya terbuat dari “unsur cahaya”.
      Nabi Muhammad disebutkan secara jelas melihat wujud bentuk fisik dan rupa asli Malaikat Jibril sebanyak dua kali. Malaikat Jibril sering mengunjungi Nabi berwujud fisik seperti manusia biasa.
    Nabi bersabda,”Ketika saya berada di Gua Hira, datang Malaikat Jibril dalam rupa seorang lelaki. Malaikat Jibril berkata,”Bacalah!” Nabi menjawab,”saya tidak bisa membaca”.
      Malaikat Jibril merangkul hingga Nabi merasa sesak. Nabi dilepaskan seraya berkata lagi,”Bacalah!” Nabi menjawab,” saya tidak bisa membaca.” Kemudian turun wahyu Al-Quran surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 1-5).
     “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia  menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
    Nabi menirukan bacaan ini dengan hati bergetar. Kemudian Nabi pulang menjumpai Khadijah, istrinya. Badan Nabi menggigil seperti demam lalu Khadijah membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya Khadijah.
     Waraqah bin Naufal seorang pendeta Nasrani yang sudah tua dan buta. Nabi menjelaskan kejadian yang dialaminya. Waraqah berkata,”Itu adalah Namus yang diutus Allah datang kepada Musa. Seandainya saya masih hidup akan menyaksikan kaummu mengusirmu”.
      Nabi melihat wujud fisik asli Malaikat Jibril pada saat turun wahyu kedua yakni surah Al-Muddatssir, surah ke-74. Dalam Sahih Bukhari dijelaskan bahwa ketika itu Malaikat Jibril terlihat duduk melayang di atas kursi di antara langit dan bumi.
      Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril menampakkan diri yang asli yang tingginya melewati batas ufuk, yaitu melewati batas penglihatan. Nabi bertanya, “ “Wahai Jibril, saya tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk yang sangat besar seperti bentukmu ini.”
       Malaikat Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, aku hanya membentangkan dua sayapku. Sesungguhnya aku memiliki 600 sayap, yang ukuran setiap sayapku seluas antara timur dan barat.”
       Malaikat Jibril berkata, “Allah menciptakan Malaikat Israfil, dia lebih besar dariku dan memiliki 600 sayap, yang setiap sayapnya seukuran seluruh sayapku. Sesungguhnya dia melipat sayapnya karena takut kepada Allah, dia melipatnya sekecil mungkin.”
      Pada saat bertemu dengan Nabi dalam wujud aslinya, Malaikat Jibril menggunakan baju kebesarannya yaitu semacam baju putih laksana mutiara yang elok dan rupawan dengan kekuatan dahsyat penuh mukzijat.
      Dalam kisah perjalanan Isra Mikraj, ketika tiba di “pos penjagaan” Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Nabi untuk terus naik menghadap kehadirat Allah.
     Malaikat Jibril berkata,”Aku tidak mampu lagi mendekati Allah, masih memerlukan waktu 60.000 tahun untuk terbang. Inilah jarak terakhir antara aku dengan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus naik ke atas, maka aku pasti hancur luluh”.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.

186. JIBRIL

BENTUK FISIK MALAIKAT JIBRIL
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Malaikat Jibril adalah salah satu dari tiga nama malaikat yang disebutkan dalam Al-Quran. Nama Malaikat Jibril disebutkan dua kali dalam Al-Quran, yakni pada surat Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97 - 98 dan At-Tahrim, surah ke-66 pada ayat 4.
    Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97-98. “Katakan,”Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”
      Al-Quran surah At-Tahrim, surah ke-66 ayat 4. “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan). Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”
     Wujud bentuk fisik dan rupa para malaikat dijelaskan dalam Al-Quran ada yang memiliki 2 sayap, 3 sayap, dan 4 sayap.
      Al-Quran surah Fathir, surah ke-35 ayat 1. “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Najm surah ke-53 ayat 13. “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.”
       Para malaikat tidak bertambah tua maupun muda, keadaan malaikat sekarang tetap sama persis ketika mereka diciptakan.
     Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain.
     Para malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Malaikat dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Malaikat tidak berjenis kelamin, malaikat bukan lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.
      Dikisahkan Malaikat Jibril mengunjungi Nabi Muhammad lebih dari 23.000 kali selama 23 tahun masa kenabian. Sejak Nabi berumur 40 tahun sampai wafat umur 63 tahun.
      Wujud bentuk fisik dan rupa malaikat tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena mata manusia tercipta dari “unsur tanah” tidak mampu melihat wujud  malaikat yang asalnya terbuat dari “unsur cahaya”.
      Nabi Muhammad disebutkan secara jelas melihat wujud bentuk fisik dan rupa asli Malaikat Jibril sebanyak dua kali. Malaikat Jibril sering mengunjungi Nabi berwujud fisik seperti manusia biasa.
    Nabi bersabda,”Ketika saya berada di Gua Hira, datang Malaikat Jibril dalam rupa seorang lelaki. Malaikat Jibril berkata,”Bacalah!” Nabi menjawab,”saya tidak bisa membaca”.
      Malaikat Jibril merangkul hingga Nabi merasa sesak. Nabi dilepaskan seraya berkata lagi,”Bacalah!” Nabi menjawab,” saya tidak bisa membaca.” Kemudian turun wahyu Al-Quran surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 1-5).
     “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia  menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
    Nabi menirukan bacaan ini dengan hati bergetar. Kemudian Nabi pulang menjumpai Khadijah, istrinya. Badan Nabi menggigil seperti demam lalu Khadijah membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya Khadijah.
     Waraqah bin Naufal seorang pendeta Nasrani yang sudah tua dan buta. Nabi menjelaskan kejadian yang dialaminya. Waraqah berkata,”Itu adalah Namus yang diutus Allah datang kepada Musa. Seandainya saya masih hidup akan menyaksikan kaummu mengusirmu”.
      Nabi melihat wujud fisik asli Malaikat Jibril pada saat turun wahyu kedua yakni surah Al-Muddatssir, surah ke-74. Dalam Sahih Bukhari dijelaskan bahwa ketika itu Malaikat Jibril terlihat duduk melayang di atas kursi di antara langit dan bumi.
      Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril menampakkan diri yang asli yang tingginya melewati batas ufuk, yaitu melewati batas penglihatan. Nabi bertanya, “ “Wahai Jibril, saya tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk yang sangat besar seperti bentukmu ini.”
       Malaikat Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, aku hanya membentangkan dua sayapku. Sesungguhnya aku memiliki 600 sayap, yang ukuran setiap sayapku seluas antara timur dan barat.”
       Malaikat Jibril berkata, “Allah menciptakan Malaikat Israfil, dia lebih besar dariku dan memiliki 600 sayap, yang setiap sayapnya seukuran seluruh sayapku. Sesungguhnya dia melipat sayapnya karena takut kepada Allah, dia melipatnya sekecil mungkin.”
      Pada saat bertemu dengan Nabi dalam wujud aslinya, Malaikat Jibril menggunakan baju kebesarannya yaitu semacam baju putih laksana mutiara yang elok dan rupawan dengan kekuatan dahsyat penuh mukzijat.
      Dalam kisah perjalanan Isra Mikraj, ketika tiba di “pos penjagaan” Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Nabi untuk terus naik menghadap kehadirat Allah.
     Malaikat Jibril berkata,”Aku tidak mampu lagi mendekati Allah, masih memerlukan waktu 60.000 tahun untuk terbang. Inilah jarak terakhir antara aku dengan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus naik ke atas, maka aku pasti hancur luluh”.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.

186. JIBRIL

BENTUK FISIK MALAIKAT JIBRIL
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Malaikat Jibril adalah salah satu dari tiga nama malaikat yang disebutkan dalam Al-Quran. Nama Malaikat Jibril disebutkan dua kali dalam Al-Quran, yakni pada surat Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97 - 98 dan At-Tahrim, surah ke-66 pada ayat 4.
    Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 97-98. “Katakan,”Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”
      Al-Quran surah At-Tahrim, surah ke-66 ayat 4. “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan). Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”
     Wujud bentuk fisik dan rupa para malaikat dijelaskan dalam Al-Quran ada yang memiliki 2 sayap, 3 sayap, dan 4 sayap.
      Al-Quran surah Fathir, surah ke-35 ayat 1. “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Al-Quran surah An-Najm surah ke-53 ayat 13. “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.”
       Para malaikat tidak bertambah tua maupun muda, keadaan malaikat sekarang tetap sama persis ketika mereka diciptakan.
     Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain.
     Para malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Malaikat dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Malaikat tidak berjenis kelamin, malaikat bukan lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.
      Dikisahkan Malaikat Jibril mengunjungi Nabi Muhammad lebih dari 23.000 kali selama 23 tahun masa kenabian. Sejak Nabi berumur 40 tahun sampai wafat umur 63 tahun.
      Wujud bentuk fisik dan rupa malaikat tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena mata manusia tercipta dari “unsur tanah” tidak mampu melihat wujud  malaikat yang asalnya terbuat dari “unsur cahaya”.
      Nabi Muhammad disebutkan secara jelas melihat wujud bentuk fisik dan rupa asli Malaikat Jibril sebanyak dua kali. Malaikat Jibril sering mengunjungi Nabi berwujud fisik seperti manusia biasa.
    Nabi bersabda,”Ketika saya berada di Gua Hira, datang Malaikat Jibril dalam rupa seorang lelaki. Malaikat Jibril berkata,”Bacalah!” Nabi menjawab,”saya tidak bisa membaca”.
      Malaikat Jibril merangkul hingga Nabi merasa sesak. Nabi dilepaskan seraya berkata lagi,”Bacalah!” Nabi menjawab,” saya tidak bisa membaca.” Kemudian turun wahyu Al-Quran surah Al-Alaq, surah ke-96 ayat 1-5).
     “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia  menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
    Nabi menirukan bacaan ini dengan hati bergetar. Kemudian Nabi pulang menjumpai Khadijah, istrinya. Badan Nabi menggigil seperti demam lalu Khadijah membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya Khadijah.
     Waraqah bin Naufal seorang pendeta Nasrani yang sudah tua dan buta. Nabi menjelaskan kejadian yang dialaminya. Waraqah berkata,”Itu adalah Namus yang diutus Allah datang kepada Musa. Seandainya saya masih hidup akan menyaksikan kaummu mengusirmu”.
      Nabi melihat wujud fisik asli Malaikat Jibril pada saat turun wahyu kedua yakni surah Al-Muddatssir, surah ke-74. Dalam Sahih Bukhari dijelaskan bahwa ketika itu Malaikat Jibril terlihat duduk melayang di atas kursi di antara langit dan bumi.
      Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril menampakkan diri yang asli yang tingginya melewati batas ufuk, yaitu melewati batas penglihatan. Nabi bertanya, “ “Wahai Jibril, saya tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk yang sangat besar seperti bentukmu ini.”
       Malaikat Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, aku hanya membentangkan dua sayapku. Sesungguhnya aku memiliki 600 sayap, yang ukuran setiap sayapku seluas antara timur dan barat.”
       Malaikat Jibril berkata, “Allah menciptakan Malaikat Israfil, dia lebih besar dariku dan memiliki 600 sayap, yang setiap sayapnya seukuran seluruh sayapku. Sesungguhnya dia melipat sayapnya karena takut kepada Allah, dia melipatnya sekecil mungkin.”
      Pada saat bertemu dengan Nabi dalam wujud aslinya, Malaikat Jibril menggunakan baju kebesarannya yaitu semacam baju putih laksana mutiara yang elok dan rupawan dengan kekuatan dahsyat penuh mukzijat.
      Dalam kisah perjalanan Isra Mikraj, ketika tiba di “pos penjagaan” Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak sanggup lagi mendampingi Nabi untuk terus naik menghadap kehadirat Allah.
     Malaikat Jibril berkata,”Aku tidak mampu lagi mendekati Allah, masih memerlukan waktu 60.000 tahun untuk terbang. Inilah jarak terakhir antara aku dengan Allah yang dapat aku capai. Jika aku terus naik ke atas, maka aku pasti hancur luluh”.
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.

Tuesday, August 8, 2017

185. ALAM

AL-QURAN DAN ALAM SEMESTA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana hubungan antara Al-Quran dengan Alam Semesta? Mohon dijelaskan hubungan antara Al-Quran dengan Jagat Raya atau Alam Semesta? Profesor Duaa Anwar, seorang penulis yang berasal Mesir dan tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab menjelaskannya
      Teori modern yang diterima mengenai asal usul alam semesta adalah teori “Big Bang” atau “Ledakan besar” yang dahsyat. Para ilmuwan masih meneliti teori ini, konsep letusan dahsyat ini telah dijelaskan secara garis besar dalam Al-Quran sejak 1.400 tahun lampau.
       Teori “Big Bang” menjelaskan terjadinya alam semesta dimulai dengan satu gumpalan besar, kemudian alam semesta meledak menjadi jutaan pecahan. Fenomena ini terjadi milyaran tahun lalu.
       Sejak saat itu, alam semesta meluas dan mengembang semakin besar sampai suatu saat akan berhenti berkembang dan alam semesta akan kembali menciut lagi. Itulah teori para ilmuwan tentang alam semesta yang agaknya sejalan dengan Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke 51 ayat 47. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
       Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 7. “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”
      Al-Quran surah Al-Mursalat, surah ke-77 ayat 8. “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan”.
      Para ilmuwan menyatakan bahwa pada saat terbentuknya alam semesta, maka ruang angkasa penuh dengan gas yang panas.  Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 11.
      “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”.
     Menurut para ilmuwan, kata asap merupakan penjelasan yang tepat mengenai gas ini. Kemudian Allah membagi langit menjadi tujuh lapis, seperti penjelasan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 12.
      “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikian ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
     Para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berumur sekitar 18 milyar tahun, sedangkan Al-Quran menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dalam “enam hari” atau “enam periode.” Sebagian ulama memprediksi umur alam semesta 18,3 tahun.
      Dua hari di sini bukan ukuran 24 jam standar manusia, tetapi diukur dengan standar yang berbeda. Al-Quran menyatakan sehari ukuran Allah sama dengan 1.000 tahun ukuran manusia, dalam keadaan tertentu sehari sama dengan 50.000 tahun.
      Al-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 4. “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”.
         Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 2. “Allah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
      Teori sains modern menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari ledakan sebuah gumpalan besar yang dahsyat, tetapi belum berhasil menentukan, “Bagaimana cara gumpalan besar itu terwujud dan bagaimana ruang angkasa berupa kekosongan dan kehampaan terbentuk?”
      Saat ini, beberapa ilmuwan sampai kepada kesimpulan tentang kemungkinan penciptaan alam semesta. Artinya, alam semesta terjadi karena ada yang menciptakannya.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 16-17. “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)”.
       Umat Islam yang patuh sangat yakin terhadap kebenaran Al-Quran, apa pun yang dikatakan Al-Quran pasti benar. Tidak perlu menunggu sampai Al-Quran membuktikan kebenarannya.
      Ketika ayat Al-Quran yang berkaitan dengan alam semesta ternyata terbukti benar secara ilmiah. Hal itu membantu mendukung bukti bahwa Al-Quran sebagai kalam Allah Yang Maha Tinggi.
Daftar Pustaka
1. Anwar, Duaa. Memahami Segalanya Tentang Al-Quran. The Everything Koran Book. Penerbit Karisma Publishing Group, Batam 2004.

185. ALAM

AL-QURAN DAN ALAM SEMESTA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana hubungan antara Al-Quran dengan Alam Semesta? Mohon dijelaskan hubungan antara Al-Quran dengan Jagat Raya atau Alam Semesta? Profesor Duaa Anwar, seorang penulis yang berasal Mesir dan tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab menjelaskannya
      Teori modern yang diterima mengenai asal usul alam semesta adalah teori “Big Bang” atau “Ledakan besar” yang dahsyat. Para ilmuwan masih meneliti teori ini, konsep letusan dahsyat ini telah dijelaskan secara garis besar dalam Al-Quran sejak 1.400 tahun lampau.
       Teori “Big Bang” menjelaskan terjadinya alam semesta dimulai dengan satu gumpalan besar, kemudian alam semesta meledak menjadi jutaan pecahan. Fenomena ini terjadi milyaran tahun lalu.
       Sejak saat itu, alam semesta meluas dan mengembang semakin besar sampai suatu saat akan berhenti berkembang dan alam semesta akan kembali menciut lagi. Itulah teori para ilmuwan tentang alam semesta yang agaknya sejalan dengan Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke 51 ayat 47. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
       Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 7. “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”
      Al-Quran surah Al-Mursalat, surah ke-77 ayat 8. “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan”.
      Para ilmuwan menyatakan bahwa pada saat terbentuknya alam semesta, maka ruang angkasa penuh dengan gas yang panas.  Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 11.
      “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”.
     Menurut para ilmuwan, kata asap merupakan penjelasan yang tepat mengenai gas ini. Kemudian Allah membagi langit menjadi tujuh lapis, seperti penjelasan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 12.
      “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikian ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
     Para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berumur sekitar 18 milyar tahun, sedangkan Al-Quran menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dalam “enam hari” atau “enam periode.” Sebagian ulama memprediksi umur alam semesta 18,3 tahun.
      Dua hari di sini bukan ukuran 24 jam standar manusia, tetapi diukur dengan standar yang berbeda. Al-Quran menyatakan sehari ukuran Allah sama dengan 1.000 tahun ukuran manusia, dalam keadaan tertentu sehari sama dengan 50.000 tahun.
      Al-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 4. “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”.
         Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 2. “Allah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
      Teori sains modern menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari ledakan sebuah gumpalan besar yang dahsyat, tetapi belum berhasil menentukan, “Bagaimana cara gumpalan besar itu terwujud dan bagaimana ruang angkasa berupa kekosongan dan kehampaan terbentuk?”
      Saat ini, beberapa ilmuwan sampai kepada kesimpulan tentang kemungkinan penciptaan alam semesta. Artinya, alam semesta terjadi karena ada yang menciptakannya.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 16-17. “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)”.
       Umat Islam yang patuh sangat yakin terhadap kebenaran Al-Quran, apa pun yang dikatakan Al-Quran pasti benar. Tidak perlu menunggu sampai Al-Quran membuktikan kebenarannya.
      Ketika ayat Al-Quran yang berkaitan dengan alam semesta ternyata terbukti benar secara ilmiah. Hal itu membantu mendukung bukti bahwa Al-Quran sebagai kalam Allah Yang Maha Tinggi.
Daftar Pustaka
1. Anwar, Duaa. Memahami Segalanya Tentang Al-Quran. The Everything Koran Book. Penerbit Karisma Publishing Group, Batam 2004.

185. ALAM

AL-QURAN DAN ALAM SEMESTA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana hubungan antara Al-Quran dengan Alam Semesta? Mohon dijelaskan hubungan antara Al-Quran dengan Jagat Raya atau Alam Semesta? Profesor Duaa Anwar, seorang penulis yang berasal Mesir dan tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab menjelaskannya
      Teori modern yang diterima mengenai asal usul alam semesta adalah teori “Big Bang” atau “Ledakan besar” yang dahsyat. Para ilmuwan masih meneliti teori ini, konsep letusan dahsyat ini telah dijelaskan secara garis besar dalam Al-Quran sejak 1.400 tahun lampau.
       Teori “Big Bang” menjelaskan terjadinya alam semesta dimulai dengan satu gumpalan besar, kemudian alam semesta meledak menjadi jutaan pecahan. Fenomena ini terjadi milyaran tahun lalu.
       Sejak saat itu, alam semesta meluas dan mengembang semakin besar sampai suatu saat akan berhenti berkembang dan alam semesta akan kembali menciut lagi. Itulah teori para ilmuwan tentang alam semesta yang agaknya sejalan dengan Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke 51 ayat 47. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
       Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 7. “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”
      Al-Quran surah Al-Mursalat, surah ke-77 ayat 8. “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan”.
      Para ilmuwan menyatakan bahwa pada saat terbentuknya alam semesta, maka ruang angkasa penuh dengan gas yang panas.  Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 11.
      “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”.
     Menurut para ilmuwan, kata asap merupakan penjelasan yang tepat mengenai gas ini. Kemudian Allah membagi langit menjadi tujuh lapis, seperti penjelasan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 12.
      “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikian ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
     Para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berumur sekitar 18 milyar tahun, sedangkan Al-Quran menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dalam “enam hari” atau “enam periode.” Sebagian ulama memprediksi umur alam semesta 18,3 tahun.
      Dua hari di sini bukan ukuran 24 jam standar manusia, tetapi diukur dengan standar yang berbeda. Al-Quran menyatakan sehari ukuran Allah sama dengan 1.000 tahun ukuran manusia, dalam keadaan tertentu sehari sama dengan 50.000 tahun.
      Al-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 4. “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”.
         Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 2. “Allah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
      Teori sains modern menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari ledakan sebuah gumpalan besar yang dahsyat, tetapi belum berhasil menentukan, “Bagaimana cara gumpalan besar itu terwujud dan bagaimana ruang angkasa berupa kekosongan dan kehampaan terbentuk?”
      Saat ini, beberapa ilmuwan sampai kepada kesimpulan tentang kemungkinan penciptaan alam semesta. Artinya, alam semesta terjadi karena ada yang menciptakannya.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 16-17. “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)”.
       Umat Islam yang patuh sangat yakin terhadap kebenaran Al-Quran, apa pun yang dikatakan Al-Quran pasti benar. Tidak perlu menunggu sampai Al-Quran membuktikan kebenarannya.
      Ketika ayat Al-Quran yang berkaitan dengan alam semesta ternyata terbukti benar secara ilmiah. Hal itu membantu mendukung bukti bahwa Al-Quran sebagai kalam Allah Yang Maha Tinggi.
Daftar Pustaka
1. Anwar, Duaa. Memahami Segalanya Tentang Al-Quran. The Everything Koran Book. Penerbit Karisma Publishing Group, Batam 2004.

185. ALAM

AL-QURAN DAN ALAM SEMESTA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana hubungan antara Al-Quran dengan Alam Semesta? Mohon dijelaskan hubungan antara Al-Quran dengan Jagat Raya atau Alam Semesta? Profesor Duaa Anwar, seorang penulis yang berasal Mesir dan tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab menjelaskannya
      Teori modern yang diterima mengenai asal usul alam semesta adalah teori “Big Bang” atau “Ledakan besar” yang dahsyat. Para ilmuwan masih meneliti teori ini, konsep letusan dahsyat ini telah dijelaskan secara garis besar dalam Al-Quran sejak 1.400 tahun lampau.
       Teori “Big Bang” menjelaskan terjadinya alam semesta dimulai dengan satu gumpalan besar, kemudian alam semesta meledak menjadi jutaan pecahan. Fenomena ini terjadi milyaran tahun lalu.
       Sejak saat itu, alam semesta meluas dan mengembang semakin besar sampai suatu saat akan berhenti berkembang dan alam semesta akan kembali menciut lagi. Itulah teori para ilmuwan tentang alam semesta yang agaknya sejalan dengan Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke 51 ayat 47. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
       Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 7. “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”
      Al-Quran surah Al-Mursalat, surah ke-77 ayat 8. “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan”.
      Para ilmuwan menyatakan bahwa pada saat terbentuknya alam semesta, maka ruang angkasa penuh dengan gas yang panas.  Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 11.
      “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”.
     Menurut para ilmuwan, kata asap merupakan penjelasan yang tepat mengenai gas ini. Kemudian Allah membagi langit menjadi tujuh lapis, seperti penjelasan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 12.
      “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikian ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
     Para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berumur sekitar 18 milyar tahun, sedangkan Al-Quran menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dalam “enam hari” atau “enam periode.” Sebagian ulama memprediksi umur alam semesta 18,3 tahun.
      Dua hari di sini bukan ukuran 24 jam standar manusia, tetapi diukur dengan standar yang berbeda. Al-Quran menyatakan sehari ukuran Allah sama dengan 1.000 tahun ukuran manusia, dalam keadaan tertentu sehari sama dengan 50.000 tahun.
      Al-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 4. “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”.
         Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 2. “Allah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
      Teori sains modern menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari ledakan sebuah gumpalan besar yang dahsyat, tetapi belum berhasil menentukan, “Bagaimana cara gumpalan besar itu terwujud dan bagaimana ruang angkasa berupa kekosongan dan kehampaan terbentuk?”
      Saat ini, beberapa ilmuwan sampai kepada kesimpulan tentang kemungkinan penciptaan alam semesta. Artinya, alam semesta terjadi karena ada yang menciptakannya.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 16-17. “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)”.
       Umat Islam yang patuh sangat yakin terhadap kebenaran Al-Quran, apa pun yang dikatakan Al-Quran pasti benar. Tidak perlu menunggu sampai Al-Quran membuktikan kebenarannya.
      Ketika ayat Al-Quran yang berkaitan dengan alam semesta ternyata terbukti benar secara ilmiah. Hal itu membantu mendukung bukti bahwa Al-Quran sebagai kalam Allah Yang Maha Tinggi.
Daftar Pustaka
1. Anwar, Duaa. Memahami Segalanya Tentang Al-Quran. The Everything Koran Book. Penerbit Karisma Publishing Group, Batam 2004.

185. ALAM

AL-QURAN DAN ALAM SEMESTA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana hubungan antara Al-Quran dengan Alam Semesta? Mohon dijelaskan hubungan antara Al-Quran dengan Jagat Raya atau Alam Semesta? Profesor Duaa Anwar, seorang penulis yang berasal Mesir dan tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab menjelaskannya
      Teori modern yang diterima mengenai asal usul alam semesta adalah teori “Big Bang” atau “Ledakan besar” yang dahsyat. Para ilmuwan masih meneliti teori ini, konsep letusan dahsyat ini telah dijelaskan secara garis besar dalam Al-Quran sejak 1.400 tahun lampau.
       Teori “Big Bang” menjelaskan terjadinya alam semesta dimulai dengan satu gumpalan besar, kemudian alam semesta meledak menjadi jutaan pecahan. Fenomena ini terjadi milyaran tahun lalu.
       Sejak saat itu, alam semesta meluas dan mengembang semakin besar sampai suatu saat akan berhenti berkembang dan alam semesta akan kembali menciut lagi. Itulah teori para ilmuwan tentang alam semesta yang agaknya sejalan dengan Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke 51 ayat 47. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
       Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 7. “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”
      Al-Quran surah Al-Mursalat, surah ke-77 ayat 8. “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan”.
      Para ilmuwan menyatakan bahwa pada saat terbentuknya alam semesta, maka ruang angkasa penuh dengan gas yang panas.  Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 11.
      “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”.
     Menurut para ilmuwan, kata asap merupakan penjelasan yang tepat mengenai gas ini. Kemudian Allah membagi langit menjadi tujuh lapis, seperti penjelasan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 12.
      “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikian ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
     Para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berumur sekitar 18 milyar tahun, sedangkan Al-Quran menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dalam “enam hari” atau “enam periode.” Sebagian ulama memprediksi umur alam semesta 18,3 tahun.
      Dua hari di sini bukan ukuran 24 jam standar manusia, tetapi diukur dengan standar yang berbeda. Al-Quran menyatakan sehari ukuran Allah sama dengan 1.000 tahun ukuran manusia, dalam keadaan tertentu sehari sama dengan 50.000 tahun.
      Al-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 4. “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”.
         Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 2. “Allah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
      Teori sains modern menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari ledakan sebuah gumpalan besar yang dahsyat, tetapi belum berhasil menentukan, “Bagaimana cara gumpalan besar itu terwujud dan bagaimana ruang angkasa berupa kekosongan dan kehampaan terbentuk?”
      Saat ini, beberapa ilmuwan sampai kepada kesimpulan tentang kemungkinan penciptaan alam semesta. Artinya, alam semesta terjadi karena ada yang menciptakannya.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 16-17. “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)”.
       Umat Islam yang patuh sangat yakin terhadap kebenaran Al-Quran, apa pun yang dikatakan Al-Quran pasti benar. Tidak perlu menunggu sampai Al-Quran membuktikan kebenarannya.
      Ketika ayat Al-Quran yang berkaitan dengan alam semesta ternyata terbukti benar secara ilmiah. Hal itu membantu mendukung bukti bahwa Al-Quran sebagai kalam Allah Yang Maha Tinggi.
Daftar Pustaka
1. Anwar, Duaa. Memahami Segalanya Tentang Al-Quran. The Everything Koran Book. Penerbit Karisma Publishing Group, Batam 2004.

185. ALAM

AL-QURAN DAN ALAM SEMESTA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana hubungan antara Al-Quran dengan Alam Semesta? Mohon dijelaskan hubungan antara Al-Quran dengan Jagat Raya atau Alam Semesta? Profesor Duaa Anwar, seorang penulis yang berasal Mesir dan tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab menjelaskannya
      Teori modern yang diterima mengenai asal usul alam semesta adalah teori “Big Bang” atau “Ledakan besar” yang dahsyat. Para ilmuwan masih meneliti teori ini, konsep letusan dahsyat ini telah dijelaskan secara garis besar dalam Al-Quran sejak 1.400 tahun lampau.
       Teori “Big Bang” menjelaskan terjadinya alam semesta dimulai dengan satu gumpalan besar, kemudian alam semesta meledak menjadi jutaan pecahan. Fenomena ini terjadi milyaran tahun lalu.
       Sejak saat itu, alam semesta meluas dan mengembang semakin besar sampai suatu saat akan berhenti berkembang dan alam semesta akan kembali menciut lagi. Itulah teori para ilmuwan tentang alam semesta yang agaknya sejalan dengan Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke 51 ayat 47. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
       Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 7. “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”
      Al-Quran surah Al-Mursalat, surah ke-77 ayat 8. “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan”.
      Para ilmuwan menyatakan bahwa pada saat terbentuknya alam semesta, maka ruang angkasa penuh dengan gas yang panas.  Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 11.
      “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”.
     Menurut para ilmuwan, kata asap merupakan penjelasan yang tepat mengenai gas ini. Kemudian Allah membagi langit menjadi tujuh lapis, seperti penjelasan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 12.
      “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikian ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
     Para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berumur sekitar 18 milyar tahun, sedangkan Al-Quran menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dalam “enam hari” atau “enam periode.” Sebagian ulama memprediksi umur alam semesta 18,3 tahun.
      Dua hari di sini bukan ukuran 24 jam standar manusia, tetapi diukur dengan standar yang berbeda. Al-Quran menyatakan sehari ukuran Allah sama dengan 1.000 tahun ukuran manusia, dalam keadaan tertentu sehari sama dengan 50.000 tahun.
      Al-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 4. “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”.
         Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 2. “Allah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
      Teori sains modern menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari ledakan sebuah gumpalan besar yang dahsyat, tetapi belum berhasil menentukan, “Bagaimana cara gumpalan besar itu terwujud dan bagaimana ruang angkasa berupa kekosongan dan kehampaan terbentuk?”
      Saat ini, beberapa ilmuwan sampai kepada kesimpulan tentang kemungkinan penciptaan alam semesta. Artinya, alam semesta terjadi karena ada yang menciptakannya.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 16-17. “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)”.
       Umat Islam yang patuh sangat yakin terhadap kebenaran Al-Quran, apa pun yang dikatakan Al-Quran pasti benar. Tidak perlu menunggu sampai Al-Quran membuktikan kebenarannya.
      Ketika ayat Al-Quran yang berkaitan dengan alam semesta ternyata terbukti benar secara ilmiah. Hal itu membantu mendukung bukti bahwa Al-Quran sebagai kalam Allah Yang Maha Tinggi.
Daftar Pustaka
1. Anwar, Duaa. Memahami Segalanya Tentang Al-Quran. The Everything Koran Book. Penerbit Karisma Publishing Group, Batam 2004.

185. ALAM

AL-QURAN DAN ALAM SEMESTA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana hubungan antara Al-Quran dengan Alam Semesta? Mohon dijelaskan hubungan antara Al-Quran dengan Jagat Raya atau Alam Semesta? Profesor Duaa Anwar, seorang penulis yang berasal Mesir dan tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab menjelaskannya
      Teori modern yang diterima mengenai asal usul alam semesta adalah teori “Big Bang” atau “Ledakan besar” yang dahsyat. Para ilmuwan masih meneliti teori ini, konsep letusan dahsyat ini telah dijelaskan secara garis besar dalam Al-Quran sejak 1.400 tahun lampau.
       Teori “Big Bang” menjelaskan terjadinya alam semesta dimulai dengan satu gumpalan besar, kemudian alam semesta meledak menjadi jutaan pecahan. Fenomena ini terjadi milyaran tahun lalu.
       Sejak saat itu, alam semesta meluas dan mengembang semakin besar sampai suatu saat akan berhenti berkembang dan alam semesta akan kembali menciut lagi. Itulah teori para ilmuwan tentang alam semesta yang agaknya sejalan dengan Al-Quran.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 30. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke 51 ayat 47. “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
       Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 7. “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”
      Al-Quran surah Al-Mursalat, surah ke-77 ayat 8. “Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan”.
      Para ilmuwan menyatakan bahwa pada saat terbentuknya alam semesta, maka ruang angkasa penuh dengan gas yang panas.  Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 11.
      “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”.
     Menurut para ilmuwan, kata asap merupakan penjelasan yang tepat mengenai gas ini. Kemudian Allah membagi langit menjadi tujuh lapis, seperti penjelasan dalam Al-Quran surah Fushshilat, surah ke-41 ayat 12.
      “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikian ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
     Para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berumur sekitar 18 milyar tahun, sedangkan Al-Quran menyatakan bahwa alam semesta diciptakan dalam “enam hari” atau “enam periode.” Sebagian ulama memprediksi umur alam semesta 18,3 tahun.
      Dua hari di sini bukan ukuran 24 jam standar manusia, tetapi diukur dengan standar yang berbeda. Al-Quran menyatakan sehari ukuran Allah sama dengan 1.000 tahun ukuran manusia, dalam keadaan tertentu sehari sama dengan 50.000 tahun.
      Al-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 4. “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”.
         Al-Quran surah Ar-Ra’du, surah ke-13 ayat 2. “Allah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
      Teori sains modern menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari ledakan sebuah gumpalan besar yang dahsyat, tetapi belum berhasil menentukan, “Bagaimana cara gumpalan besar itu terwujud dan bagaimana ruang angkasa berupa kekosongan dan kehampaan terbentuk?”
      Saat ini, beberapa ilmuwan sampai kepada kesimpulan tentang kemungkinan penciptaan alam semesta. Artinya, alam semesta terjadi karena ada yang menciptakannya.
      Al-Quran surah Al-Anbiya’, surah ke-21 ayat 16-17. “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)”.
       Umat Islam yang patuh sangat yakin terhadap kebenaran Al-Quran, apa pun yang dikatakan Al-Quran pasti benar. Tidak perlu menunggu sampai Al-Quran membuktikan kebenarannya.
      Ketika ayat Al-Quran yang berkaitan dengan alam semesta ternyata terbukti benar secara ilmiah. Hal itu membantu mendukung bukti bahwa Al-Quran sebagai kalam Allah Yang Maha Tinggi.
Daftar Pustaka
1. Anwar, Duaa. Memahami Segalanya Tentang Al-Quran. The Everything Koran Book. Penerbit Karisma Publishing Group, Batam 2004.