Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Saturday, May 7, 2022

13134. SIFAT HEWAN PERCAYA ADA NERAKA JIKA SUDAH MELIHAT

 






SIFAT HEWAN PERCAYA ADA NERAKA JIKA SUDAH MELIHAT

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

MANUSIA BISA PERCAYA ADANYA SESUATU.

 

 MESKIPUN TAK MELIHAT DENGAN MATANYA SENDIRI.

  

ASALKAN BERASAL DARI

 ORANG YANG BISA DIPERCAYA.

 

 BEDANYA HEWAN DAN MANUSIA

 

HEWAN PERCAYA JIKA SUDAH MELIHATNYA.

 Hewan percaya adanya api jika hewan itu sudah melihatnya sendiri.

  

Hewan percaya adanya surga dan neraka jika hewan itu sudah melihat dengan matanya sendiri.

 

 Hewan percaya adanya akhirat  jika hewan itu sudah melihat dengan matanya sendiri.

   

Hal itu berbeda dengan manusia.

 Manusia bisa percaya adanya sesuatu.

  

Meskipun manusia tidak melihatnya secara langsung.

 

Asalkan berasal dari orang yang bisa dipercaya.

 

 Manusia bisa percaya terhadap suatu berita tertentu.

 

 Meskipun manusia tidak melihatnya sendiri dengan matanya secara langsung.

 

  Asalkan berita itu disampaikan oleh orang yang bisa dipercaya.

 

 Ada ungkapan,

  “Aku percaya saat aku melihatnya”.

 

 Manusia berkata,

 

 “Jika kamu tidak punya  sesuatu untuk ditunjukkan padaku, jangan buang waktuku.”

  

Aku tidak mau mendengar hal-hal tentang Quran ini.

 

 Aku baru akan percaya saat aku melihatnya.”

 

 Mahasiswa berkata,

  “Profesor, Aku suka Islam.

 Aku suka.

  Islam keren.

 

Tapi aku..

  Kau tahu, Aku belum melihat apa pun.

 

 Bisakah kamu membawakan kepadaku sesuatu seperti kepemilikan jin atau apa pun?

  

Jika aku dapat melihat sesuatu, aku akan menjadi baik.”

 

 KISAH MACET DI JALAN RAYA

  Profesor berkata,

  “Apakah berita di radio memberitahumu tentang masalah kemacetan?”

 

 Mahasiswa menjawab,”Ya.”

  Saat kamu mengendarai mobil di jalan raya.

 

 Dan tidak ada kemacetan sama sekali.

  

Bayangkan, itu pasti menakjubkan.

 

 

Tidak ada kemacetan.

  

Kamu melaju dan tidak melihat satu pun mobil di depanmu.

  

Kamu menyalakan radio.

 

Yang memberitakan beberapa  kilometer di depanmu terjadi kecelakaan.

  

Sehingga terjadi kemacetan sangat panjang.

 

 Berita radio mengabarkan.

 

 Jika kamu menemukan jalur keluar, maka keluarlah dari jalur yang  macet itu.

 

 Itu yang diberitakan di radio.

  Apakah kamu melihat kecelakaan itu?

 Tidak.

  

Kamu tidak melihat kecelakaan itu.

 

 Tapi, apakah kamu akan menghindari jalur macet itu?

 

Jika kamu mendengar radio.

 Yang memberitakan bahwa ada kecelakaan di depan jalanmu.

  

Dan terjadi macet sekitar 5 jam.

 

 Apakah kamu menghindari jalur tadi?

  Ya, kamu akan menghindari jalur macet tadi.”

  

Mungkin di Amerika.

  Kamu mendengar radio dan berkata, 

  

“Ah.. Aku tidak mendengarkan orang kafir.

 

Aku akan masuk ke kemacetan itu.”

 

 Tapi, saya yakin akan keluar dari jalur macet itu.

 

 Mengapa?

  

Karena berita itu datang dari sumber yang dapat dipercaya.

 

Reporter radio melihat sesuatu yang tidak kamu melihatnya.

 

Dan kamu percaya padanya.

  Kamu tidak berkata,

 

 “Ah.. Orang-orang radio ini.

 Aku akan percaya saat aku melihatnya.”

 

 Dan kamu melanjutkan lewat jalan itu.

 Dan benar terkena macet.

  

Dia terkena macet dan berkata,

 

 Ah, aku percaya sekarang benar-benar ada kecelakaan”.

 

 MANUSIA BISA BERPIKIR.

   TAPI HEWAN TIDAK BISA BERPIKIR.

  

Allah menciptakan manusia, alam semesta, dan semua isinya.

  

 Manusia bisa berpikir dan memahami sesuatu.

  

Meskipun mereka tidak melihatnya.

  Hewan tidak begitu.

   

Misalnya, ada pengumuman,

  

“Saudara dan saudari sekalian, silakan keluar dari gedung ini melalui pintu keluar A.”

 

 Maka manusia akan keluar meninggalkan gedung melalui pintu A.

 

 Tetapi berbeda jika ada seekor kucing di gedung itu.

 

 Jika ada lalat di gedung ini.

  Jika ada hewan apa pun.

 

 Maka hewan tadi tidak akan keluar lewat pintu A.

  

Mengapa?

 

  Karena hewan tidak paham perkataan.

 

 Tetapi jika hewan melihat api.

  Apakah hewan itu akan pergi?

 

 Saat hewan melihat bahaya, apakah ia akan pergi? 

   

Hewan hanya akan menunjukkan reaksi saat ia melihatnya langsung.

 

Jika ada manusia baru percaya setelah melihat surga dan neraka secara langsung dengan matanya.

 

 Maka manusia itu bersifat hewan.

 

 Padahal manusia diberi nikmat oleh Allah berupa akal untuk berpikir.

 

 Sehingga manusia dapat menunjukkan reaksinya saat ia mengerti.

  

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 118.

  

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۘ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ ۗ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

 

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.

  

Al-Quran surah Al-A’raf (surah ke-7) ayat 179.

  

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

 

 (Sumber Nouman Ali Khan)

 


13132. JUVENTUS VS GENOA (1-2)

13129. ISLAM DIANGGAP PRIMITIF SEBAB DI SURGA PESTA MINUM

 

 




 

ISLAM DIANGGAP PRIMITIF SEBAB DI SURGA PESTA MINUM

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Al-Quran menceritakan 3 cara minum penghuni surga.

 1.      Mengambil minuman sendiri.

 2.      Dilayani dengan diberi minuman.

 3.      Allah memberi memberi minuman.

  

KELAK DI SURGA DAPAT APA

 Orang non-muslim bertanya,

 

“Orang lslam kelak di surga akan mendapat apa?”

 

 

“Minum-minum,” jawab orang muslim.

 PESTA MODEL 1.

  

PESTANYA ORANG KAYA TAMUNYA AMBIL MINUMAN SENDIRI

  

Misalnya, ada acara istimewa yang dihadiri banyak orang.

  

Tuan rumahnya tak mampu menyiapkan banyak piring, sendok, gelas, dan sejenisnya.

  

Ruang tamu tidak cukup menampung banyak orang.

 

Tempat pertemuan untuk banyak orang dipindah ke ruang belakang yang luas.

  

Tuan rumah menyewa meja, kursi, alat makan, minum,  dan sejenisnya.

 

Disiapkan tempat minuman besar berisi minuman, sehingga para tamu bisa menuangnya sendiri.

  

Artinya pesta yang tamunya mengambil keperluan minumannya sendiri.

  

PESTA MODEL 2.

 PESTANYA ORANG SANGAT KAYA ADA PETUGAS BERKELILING  MEMBERI MINUMAN KEPADA PARA TAMU.

 

 

 

PESTA MODEL 3.

 PESTANYA ORANG ISTIMEWA TUAN RUMAH LANGSUNG MENUANGKAN MINUMAN KEPADA PARA TAMUNYA.

 

Al-Quran surah Al-Insan berkisah cara minum di surga dengan 3 model di atas.

  

MODEL KE-1 AMBIL MINUMAN SENDIRI

  

Al-Quran surah Al-Insan (surah ke-76) ayat 5.

  

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

  

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.

 

 Ayat di atas memberi kesan orangnya mengambil minuman sendiri dari tempat yang disiapkan.

 

 MODEL KE-2 MINUMNYA DILAYANI

  

Al-Quran surah Al-Insan (surah ke-76) ayat 17.

  

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا

 

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.

 

Ayat di atas memberi kesan orangnya TIDAK MENGAMBIL MINUMAN, TAPI DILAYANI DENGAN DIBERI MINUMAN.

  

Orientalis berpendapat karena orang Arab hidupnya di padang pasir, maka di surga yang dibicarakan Al-Quran adalah minum-minum.

  

Orientalis berpendapat bahwa Al-Quran adalah primitif.

 
Padahal pada zaman modern ini orang berkumpul pasti ada acara minum-minum.

  

MODEL KE-3 ALLAH MELAYANI MEMBERI MINUM

 

 

 

Al-Quran surah Al-Insan (surah ke-76) ayat 21.

  

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

  

Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberi mereka minuman yang bersih.

  

 (Sumber Nouman Ali Khan)