Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Saturday, February 3, 2024

32160. SEJARAH NASAKOM GABUNGAN PNI NU PKI TAHUN 1959

 


SEJARAH NASAKOM GABUNGAN PNI NU PKI TAHUN 1959

Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.

 

 

NASAKOM

Nasional, Agama, Komunis.

 

1)        Nasional.

Diwakili PNI.

 

2)        Agama.

Diwakili NU.

 

3)        Komunis.

Diwakili PKI.

 

Nasakom.

NasionalismeAgama, dan Komunisme.

Konsep politik Presiden Soekarno.

 

Tahun1959 - 1966.

 

Nasakom.

Menyatukan berbagai ideologi politik.

 

Nasakom.

Ide Soekarno sejak tahun 1927.

 

Tulisan Sukarno.

"Nasionalisme, Islam, dan Marxisme".

 

Tahun 1956.

Sukarno kritik

 

Sistem Demokrasi Parlementer.

Dianggap tak cocok bagi Indonesia.

 

Pada Februari 1956.

Soekarno usul Nasakom.

 

Berdasar 3 pilar utama.

Yaitu:

 

1)        Nasionalisme.

2)        Agama.

3)        Komunisme.

 

Presiden Soekarno.

Satukan 3 kekuatan politik.

Untuk memperkuat posisinya.

 

Ada 3 faksi utama.

Dalam politik Indonesia.

 

Yaitu:

1)        Partai Nasional Indonesia (PNI).

Berhaluan nasionalis

 

2)        Nahdlatul Ulama (NU).

Berhaluan agama.

 

3)        Partai Komunis Indonesia (PKI).

Berhaluan komunis.

 

Soekarno kampanye konsep Nasakom.

Dalam forum internasional.

 

Dalam Sidang Umum PBB.

Pada  30 September 1960.

Di New York.

 

Soekarno pidato.

 "To Build the World a New".

 

Konsep Nakasom

Akhirnya kandas.

 

Gerakan 30 September 1965.

Orde Lama diganti Orde Baru.

 

Presiden Suharto.

Sangat anti-komunis.

 

Ide Nasakom Bung Karno.

Berakhir kandas.

 

(Sumber wikipedia)

 

 

32159. POLITIK BELAH BAMBU DIANGKAT DIINJAK GILIRAN

 


POLITIK BELAH BAMBU   DIANGKAT DAN DIINJAK GILIRAN

Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.




 

Ketika seseorang.

Akan membelah sebuah bambu.

 

Biasanya belahan bambu yang satu.

Diangkat ke atas dengan tangan.

  

Dan belahan yang lain.

Diinjak ke bawah dengan kaki.

 

Pada giliran berikutnya.

 

Belahan bambu yang tadi diinjak.

Akan diangkat.

 

Dan belahan yang sudah diangkat .

Sekarang diinjak.

  

Untuk melanggengkan kekuasaan.

Suatu pemerintahan.

Bisa pakai Teori Belah Bambu.

  

Sebagian kelompok diinjak.

Dan sebagian kelompok lain diangkat.

  

Teori belah bambu.

Dipakai untuk melemahkan.

Pihak yang dianggap.

Membahayakan kekuasaan.

  

Teori ini dipakai.

Untuk melanggengkan kekuasaan.

 

 Kondisi warga yang cair.

Sangat mungkin melanggengkan kekuasaan.

Dengan segala cara.

 

 Misalnya.

Kelompok anti pemerintah.

Akan dilemahkan.

  

Bahkan partai politik.

Yang diharapkan bisa kritis.

Juga dilemahkan.

 

 

Jika ini  terjadi.

Sungguh kondisi menakutkan.

Bagi perbaikan bangsa.

  

Jika semua pihak lemah.

Maka tinggal keruk.

Semua kekayaan alam.

 

Dengan berbagai Keputusan.

Merugikan rakyat dan bangsa.

  

Politik belah bambu.

Yaitu politik membelah bambu.

 

 Yang semula terpadu dan menyatu.

Lalu dibelah.

  

Yang satu diangkat,

Dan lainnya diinjak.

  

Politik belah bambu.

Yaitu politik khas kolonial.

  

Era Yunani dan Romawi.

Juga begitu.

  

Politik menghewankan manusia.

Terjadi sejak zaman Batu.

  

Politik belah bambu.

Biasa dilakukan bangsa imperialis Eropa.

 

 

Sejak abad 15.

Bangsa penjajah Eropa .

Ekspansi dan aneksasi wilayah.

  

Dalam wilayah jajahannya.

Mereka pakai politik belah bambu.

  

Agar kelompok besar.

Dipecah-belah jadi kecil.

  

Sehingga mereka.

Tak mampu melawan.

Dengan politik dan militer.

  

Saat Belanda menjajah bangsa kita.

 

 

Belanda jaga ulama tertentu.

Dan berangus ulama lainnya.

 

 Ulama pejuang sejati ditindas.

Dan ulama su' diagungkan.

  

Dalam sejumlah riset sejarah.

  

Ada tokoh ulama dan bangsawan.

Dapat hak istimewa dari Belanda.

  

Para ulama dan tokoh.

Yang anti colonial.

Diburu dan dihukum.

  

Politik belah bambu.

Identik “devide et impera”.

Atau politik adu domba.

  

Antar 2 domba diadu.

 Semua jadi lemah.

Mudah dikuasai dan diatur.

 

 

(dari berbagai sumber)