MEMAHAMI MALAM “LAILATUL QADAR”
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Malam Lailatul Qadar menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
Para ulama menjelaskan bahwa secara gamblang Al-Quran dan hadis Nabi menyatakan bahwa Nabi tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, dan tidak pula mengetahui tentang perkara yang gaib apabila tidak diberitahu oleh Allah.
Pertanyaan “Ma yudrika” (Tahukah kamu?) digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui oleh Nabi, apalagi manusia lainnya, sedangkan “Ma adraka” (Tahukah kamu?) pada akhirnya Allah akan memberitahukan informasi lanjutannya kepada Nabi Muhammad, itulah perhedaan kedua kalimat tersebut.
Kata “qadar” paling tidak digunakan untuk tiga arti, yaitu yang pertama, kata “qadar” artinya “penetapan dan pengaturan”, sehingga “Lailatul Qadar” dapat dipahami sebagai “malam penetapan” oleh Allah bagi perjalanan hidup manusia, sebagian ulama membatasi penetapan ini berlaku selama setahun.
Al-Quran yang turun pada malam “Lailatul Qadar” dapat diartikan pada malam itu Allah mengatur dan menetapkan “khiththah” dan strategi bagi Nabi Muhammad dalam mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia secara individu dan kelompok.
Yang kedua, kata “qadar” artinya “kemuliaan”, maknanya pada malam itu adalah malam sangat mulia, karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran, dan menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.
Al-Quran surah Al-Anam, surah ke-6 ayat 91 kata “qadar” artinya “mulia”.
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا ۖ وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia”. Katakanlah,”Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah,”Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”.
Yang ketiga, kata “qadar” artinya “sempit”, maknanya pda malam itu adalah “malam yang sempit”, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Al-Quran surah Al-Qadr, surah ke-97 ayat 4.
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”.
Al-Quran surah Al-Ra’du, surah ke-13 ayat 26 kata “qadar” artinya “sempit”.
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)”.
Ketiga arti “qadar” yaitu “penetapan dan pengaturan”, “mulia”, dan “sempit” semuanya bisa benar, karena malam itu adalah “malam mulia”, yang bila mampu diraih maka akan dapat “menetapkan masa depan manusia”, dan malam itu adalah “malam yang sempit” karena banyaknya para malaikat yang turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa malam “Lailatul Qadar” hanya muncul sekali yaitu pada waktu turunnya Al-Quran wahyu pertama kepada Nabi Muhammad pada zaman dahulu.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa malam “Lailatul Qadar” turun setiap tahun pada bulan Ramadan berdasarkan teks Al-Quran dan hadis Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk menyambutnya, terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.
0 comments:
Post a Comment