CERITA PENDEK PENUH HIKMAH DAN AYAT QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM
A.
Lampu di Tengah Gelap
Malam itu, Hasan duduk termenung di
beranda rumahnya.
Usahanya bangkrut, doanya terasa
hampa, dan hidup seakan berjalan tanpa arah.
Ia bertanya dalam hati, “Mengapa Allah
diam?”
Saat listrik padam, rumah Hasan
benar-benar gelap.
Ia meraba-raba hingga menemukan sebuah
lampu minyak tua.
Ketika dinyalakan, cahayanya
kecil—namun cukup untuk menerangi langkahnya.
Hasan terdiam. Ia tersadar, hidupnya
pun seperti itu.
Ia menunggu cahaya besar, padahal
Allah telah memberinya cahaya kecil sejak lama: kesehatan, keluarga, dan iman.
Ia teringat firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)
Hasan bangkit. Ia mulai dari hal
kecil: salat tepat waktu, bekerja jujur, dan berhenti mengeluh.
Hari demi hari, hatinya menjadi lebih
lapang. Masalah belum hilang, tetapi ia tidak lagi merasa sendirian.
Dalam sujudnya, ia memahami satu
kebenaran penting:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Malam itu, listrik kembali menyala.
Namun Hasan tersenyum, karena ia tahu: terang sejati bukan berasal dari lampu,
tetapi dari hati yang percaya kepada Allah.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
B.
Cahaya Kecil Itu Penting
Adit merasa hidupnya berat. Nilai
ujiannya turun, ia sering dimarahi guru, dan doanya terasa belum dikabulkan.
Adit berpikir, “Kenapa hidupku begini?”
Suatu malam, listrik di rumah padam.
Rumah menjadi gelap. Ayah menyalakan senter kecil. Cahayanya tidak besar, tapi
cukup untuk berjalan.
Ayah berkata,
“Cahaya kecil tetap berguna kalau kita mau menggunakannya.”
Kata-kata itu membuat Adit berpikir.
Ia sadar, Allah sudah memberinya banyak hal: orang tua, sekolah, dan kesehatan.
Hanya saja, ia sering tidak bersyukur.
Adit teringat ayat Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka
sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)
Sejak itu, Adit mulai berubah. Ia
belajar lebih rajin, berdoa dengan sungguh-sungguh, dan tidak mudah mengeluh.
Nilainya belum langsung sempurna, tapi hatinya menjadi lebih tenang.
Ia juga mengingat firman Allah:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Adit akhirnya mengerti, masalah bukan
tanda Allah membenci, tetapi cara Allah mendidik.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Sumber
1)
Tafsir Quran Perkata DR M Hatta.
2)
ChatGPT.
3)
Copilot.
4)
Cici.
5)
Claude.
6)
Grok.
7)
Meta AI



.bmp)
.bmp)