Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, November 6, 2017

452. KADAR 1

MEMAHAMI MALAM “LAILATUL QADAR”
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Malam Lailatul Qadar  menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

      “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97 menurut urutan mushaf dalam Al-Quran diletakkan setelah surah Iqra, surah ke- 96, penempatan ini sesuai dengan petunjuk dari Allah, dan perurutan ini ditemukan keserasian yang mengagumkan.
      Al-Quran surah Iqra, surah ke-96 adalah perintah untuk “membaca”, maka wajar setelah surah Iqra, surah ke- 96 kemudian disusul surah Al-Qadar, surah ke-97 yang   berbicara tentang “turunnya Al-Quran” dan “lailatul qadar” (malam kemuliaan) yang terpilih sebagai malam “Nuzulul Quran”.
      Para ulama menjelaskan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97 diturunkan kepada Nabi  jauh sesudah turunnya surat Iqra, surah ke-96, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97  turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah, sedangkan surah Iqra, surah ke-96 adalah wahyu pertama yang turun di Mekah.  
       Kalau dalam surat Iqra, surah ke-96 Nabi dan umat Islam diperintahkan untuk “membaca” dan yang dibaca itu salah satunya adalah “Al-Quran”, sedangkan surah Al-Qadar, surah ke-97 menjelaskan tentang “bulan Ramadan” memiliki banyak  keistimewaan, salah satunya adalah malam “Lailatul Qadar” yaitu suatu malam yang dikatakan oleh Al-Quran “lebih baik daripada seribu bulan”.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
      Al-Quran surah Ad-Dukhan, surah ke-44 ayat 3-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

      “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul”.
      Kalaimat “Ma adraka?” (Tahukah kamu?) muncul 13 kali dalam Al-Quran, yang 10 mempertanyakan  tentang kehebatan yang berkait dengan hari akhir, seperti “Ma adraka ma  yaumul fashl”,  dan sebagainya, yang semuanya adalah hal yang sulit bahkan mustahil dijangkau oleh akal pikiran manusia.
     Sedangkan yang 3 kali dalam surah At-Thariq [86]: 2), surah Al-Balad [90]: 12), dan surah Al-Qadr [97]: 2).
      Al-Quran surah At-Thariq, surah ke-86 ayat 2.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ

      “Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?”
      Al-Quran surah Al-Balad, surah ke-90 ayat 12.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ

      “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”
      Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 2.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
      “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”
      Pemakaian kalimat “Ma adraka” (Tahukah kamu?) dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal yang sangat hebat, dan sulit  dijangkau  hakikatnya  secara  sempurna  oleh  akal pikiran manusia. 
     Para ulama   membedakan antara pertanyaan “Ma adraka” (Tahukah kamu?)  dengan “Ma yudrika” (Tahukah kamu?) yang dipakai Al-Quran dalam 3 ayat, yaitu dalam surah Al-Ahzab [33]: 63), surah Asy-Syura [42]: 17), dan surah Abasa [80]: 3).
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 63.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

      “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”.
      Al-Quran surah Asy-Syura, surah ke-42 ayat 17.

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

       “Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”
      Al-Quran surah Abasa, surah ke-80 ayat 3.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

      “Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
      Para ulama menjelaskan bahwa ayat yang ke-1 dan ke-2 mempertanyakan dengan “Ma yudrika” menyangkut “waktu kedatangan hari kiamat”, sedangkan ayat  ke-3 berkaitan dengan “kesucian jiwa manusia”, dan Ketiga  hal  tersebut tidak mungkin diketahui oleh manusia.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

452. KADAR 1

MEMAHAMI MALAM “LAILATUL QADAR”
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Malam Lailatul Qadar  menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

      “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97 menurut urutan mushaf dalam Al-Quran diletakkan setelah surah Iqra, surah ke- 96, penempatan ini sesuai dengan petunjuk dari Allah, dan perurutan ini ditemukan keserasian yang mengagumkan.
      Al-Quran surah Iqra, surah ke-96 adalah perintah untuk “membaca”, maka wajar setelah surah Iqra, surah ke- 96 kemudian disusul surah Al-Qadar, surah ke-97 yang   berbicara tentang “turunnya Al-Quran” dan “lailatul qadar” (malam kemuliaan) yang terpilih sebagai malam “Nuzulul Quran”.
      Para ulama menjelaskan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97 diturunkan kepada Nabi  jauh sesudah turunnya surat Iqra, surah ke-96, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97  turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah, sedangkan surah Iqra, surah ke-96 adalah wahyu pertama yang turun di Mekah.  
       Kalau dalam surat Iqra, surah ke-96 Nabi dan umat Islam diperintahkan untuk “membaca” dan yang dibaca itu salah satunya adalah “Al-Quran”, sedangkan surah Al-Qadar, surah ke-97 menjelaskan tentang “bulan Ramadan” memiliki banyak  keistimewaan, salah satunya adalah malam “Lailatul Qadar” yaitu suatu malam yang dikatakan oleh Al-Quran “lebih baik daripada seribu bulan”.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
      Al-Quran surah Ad-Dukhan, surah ke-44 ayat 3-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

      “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul”.
      Kalaimat “Ma adraka?” (Tahukah kamu?) muncul 13 kali dalam Al-Quran, yang 10 mempertanyakan  tentang kehebatan yang berkait dengan hari akhir, seperti “Ma adraka ma  yaumul fashl”,  dan sebagainya, yang semuanya adalah hal yang sulit bahkan mustahil dijangkau oleh akal pikiran manusia.
     Sedangkan yang 3 kali dalam surah At-Thariq [86]: 2), surah Al-Balad [90]: 12), dan surah Al-Qadr [97]: 2).
      Al-Quran surah At-Thariq, surah ke-86 ayat 2.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ

      “Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?”
      Al-Quran surah Al-Balad, surah ke-90 ayat 12.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ

      “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”
      Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 2.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
      “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”
      Pemakaian kalimat “Ma adraka” (Tahukah kamu?) dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal yang sangat hebat, dan sulit  dijangkau  hakikatnya  secara  sempurna  oleh  akal pikiran manusia. 
     Para ulama   membedakan antara pertanyaan “Ma adraka” (Tahukah kamu?)  dengan “Ma yudrika” (Tahukah kamu?) yang dipakai Al-Quran dalam 3 ayat, yaitu dalam surah Al-Ahzab [33]: 63), surah Asy-Syura [42]: 17), dan surah Abasa [80]: 3).
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 63.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

      “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”.
      Al-Quran surah Asy-Syura, surah ke-42 ayat 17.

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

       “Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”
      Al-Quran surah Abasa, surah ke-80 ayat 3.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

      “Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
      Para ulama menjelaskan bahwa ayat yang ke-1 dan ke-2 mempertanyakan dengan “Ma yudrika” menyangkut “waktu kedatangan hari kiamat”, sedangkan ayat  ke-3 berkaitan dengan “kesucian jiwa manusia”, dan Ketiga  hal  tersebut tidak mungkin diketahui oleh manusia.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

452. KADAR 1

MEMAHAMI MALAM “LAILATUL QADAR”
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Malam Lailatul Qadar  menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

      “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97 menurut urutan mushaf dalam Al-Quran diletakkan setelah surah Iqra, surah ke- 96, penempatan ini sesuai dengan petunjuk dari Allah, dan perurutan ini ditemukan keserasian yang mengagumkan.
      Al-Quran surah Iqra, surah ke-96 adalah perintah untuk “membaca”, maka wajar setelah surah Iqra, surah ke- 96 kemudian disusul surah Al-Qadar, surah ke-97 yang   berbicara tentang “turunnya Al-Quran” dan “lailatul qadar” (malam kemuliaan) yang terpilih sebagai malam “Nuzulul Quran”.
      Para ulama menjelaskan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97 diturunkan kepada Nabi  jauh sesudah turunnya surat Iqra, surah ke-96, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97  turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah, sedangkan surah Iqra, surah ke-96 adalah wahyu pertama yang turun di Mekah.  
       Kalau dalam surat Iqra, surah ke-96 Nabi dan umat Islam diperintahkan untuk “membaca” dan yang dibaca itu salah satunya adalah “Al-Quran”, sedangkan surah Al-Qadar, surah ke-97 menjelaskan tentang “bulan Ramadan” memiliki banyak  keistimewaan, salah satunya adalah malam “Lailatul Qadar” yaitu suatu malam yang dikatakan oleh Al-Quran “lebih baik daripada seribu bulan”.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
      Al-Quran surah Ad-Dukhan, surah ke-44 ayat 3-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

      “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul”.
      Kalaimat “Ma adraka?” (Tahukah kamu?) muncul 13 kali dalam Al-Quran, yang 10 mempertanyakan  tentang kehebatan yang berkait dengan hari akhir, seperti “Ma adraka ma  yaumul fashl”,  dan sebagainya, yang semuanya adalah hal yang sulit bahkan mustahil dijangkau oleh akal pikiran manusia.
     Sedangkan yang 3 kali dalam surah At-Thariq [86]: 2), surah Al-Balad [90]: 12), dan surah Al-Qadr [97]: 2).
      Al-Quran surah At-Thariq, surah ke-86 ayat 2.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ

      “Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?”
      Al-Quran surah Al-Balad, surah ke-90 ayat 12.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ

      “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”
      Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 2.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
      “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”
      Pemakaian kalimat “Ma adraka” (Tahukah kamu?) dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal yang sangat hebat, dan sulit  dijangkau  hakikatnya  secara  sempurna  oleh  akal pikiran manusia. 
     Para ulama   membedakan antara pertanyaan “Ma adraka” (Tahukah kamu?)  dengan “Ma yudrika” (Tahukah kamu?) yang dipakai Al-Quran dalam 3 ayat, yaitu dalam surah Al-Ahzab [33]: 63), surah Asy-Syura [42]: 17), dan surah Abasa [80]: 3).
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 63.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

      “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”.
      Al-Quran surah Asy-Syura, surah ke-42 ayat 17.

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

       “Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”
      Al-Quran surah Abasa, surah ke-80 ayat 3.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

      “Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
      Para ulama menjelaskan bahwa ayat yang ke-1 dan ke-2 mempertanyakan dengan “Ma yudrika” menyangkut “waktu kedatangan hari kiamat”, sedangkan ayat  ke-3 berkaitan dengan “kesucian jiwa manusia”, dan Ketiga  hal  tersebut tidak mungkin diketahui oleh manusia.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

451. ISTI

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

           Rukun Islam adalah tiang utama agama Islam, dan kelima rukun Islam itu adalah mengikrarkan “dua kalimat syahadat”, mendirikan salat, berzakat, berpuasa Ramadan, dan mengerjakan ibadah haji bagi yang mampu.
     Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Islam, yaitu kalender Hijriah, dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh sebanyak 29 atau 30 hari.
      Kalender Hijriah memuat 12 bulan, yaitu Muharam, Safar, Rabiul-Awal, Rabiul-Akhir, Jumadil-Awal, Jumadil-Akhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah.
      Kalender Hijriah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yang bertepatan dengan tahun 622 Masehi, dan perintah puasa Ramadan pertama kali turun pada bulan Syakban atau sebulan sebelum bulan Ramadan pada tahun ke-2 Hijriah ketika Nabi berada di Madinah.
      Penentuan awal dan akhir sebuah hari, termasuk penentuan sebuah tanggal, menurut kalender Masehi, berbeda dengan kalender Hijrah.
     Dalam sistem kalender Masehi, sebuah hari atau tanggal berakhir pada pukul 24.00 dan dimulai pukul 00.00 waktu setempat, sedangkan dalam sistem kalender Hijriah, sebuah hari atau tanggal berakhir ketika tenggelam matahari dan diawali saat Magrib waktu setempat.
      Dasar hukum berpuasa Ramadan adalah Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke- ayat  183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

     “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran ketika menjelaskan kewajiban berpuasa, tidak menegaskan perintah tersebut berasal dari Allah, karena redaksi yang digunakan berbentuk pasif,  “Diwajibkan atas kamu berpuasa”.
    Agaknya redaksi tersebut memang dipilih, yang mengisyaratkan bahwa kewajiban berpuasa tidak harus datang dari Allah, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkan dirinya sendiri, ketika menyadari manfaat dan kebaikan berpuasa.
      Penentuan awal bulan termasuk awal Ramadan ditentukan saat terjadinya hilal, yaitu munculnya bulan sabit yang berbentuk bulan melengkung menyerupai sabit yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah dalam tahun Hijriah.
      Metode “rukyat” adalah melihat munculnya bulan sabit dengan mata telanjang yang dalam praktiknya dilengkapi dengan alat teropong di lokasi tertentu yang tidak terhalang bangunan dan pepohonan, biasanya di sepanjang pantai tertentu, sedangkan metode “hisab” adalah melihat munculnya bulan sabit memakai perhitungan astronomi (Ilmu falak).
      Biasanya, Kementerian Agama Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) memakai metode “rukyatul hilal”, serta Muhammadiyah menggunakan metode “hisab hakiki wujudul hilal”, sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kombinasi “rukyat” dan “hisab”.
       Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan, dapat menghasilkan kesamaan dan perbedaan, artinya penentuan awal dan akhir bulan Ramadan bisa bersamaan dan dapat berlainan.
      Yang dimaksudkan berpuasa adalah menahan dari segala yang membatalkan selama satu hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat.
      Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadan adalah orang yang berakal, tidak gila, sudah akil Balig, mampu membedakan yang baik dan buruk, sudah dewasa, serta kuat berpuasa.
    Syarat sah berpuasa Ramadan adalah orang yang beragama Islam, mumayiz (dapat membedakan yang baik dan buruk), suci dari haid (keluar darah dari rahim wanita setiap bulan sebagai bagian siklus hidup biologisnya, datang bulan, menstruasi), suci dari nifas (darah yang keluar dari rahim wanita sesudah melahirkan), bukan hari yang dilarang berpuasa (misalnya, hari raya Idul-Fitri, hari raya Idul-Adha, dan hari tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah/bulan Haji).
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berniat setiap malam, sebelum berpuasa pagi harinya, dan menahan dari segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, sedangkan dalam puasa sunah, maka boleh berniat sebelum masuk salat Zuhur.
       Yang membatalkan puasa adalah sengaja makan atau minum, sengaja muntah (muntah yang tidak disengaja, tidak membatalkan puasa), bersetubuh suami istri pada siang hari (boleh berhubungan suami isteri pada malam hari, jika tertidur sampai masuk Subuh, segera mandi junub untuk salat Subuh, dan terus berpuasa Ramadan), keluar  darah haid atau nifas, gila, atau keluar “air sperma” karena terangsang lawan jenis pada siang hari (keluar air mani karena bermimpi, tidak membatalkan puasa).
     Para ulama berbeda pendapat tentang memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan seperti melalui lubang hidung, telinga, dan lainnya, sebagian ulama menganggap puasanya batal, karena “dikiaskan” dengan makan dan minum, sebagian ulama lain menganggap tidak membatalkan puasa, dan memasukkan obat yang tidak melalui mulut, misalnya, suntik tidak membatalkan puasa).
       Orang yang diizinkan tidak berpuasa Ramadan adalah orang yang sakit (jika berpuasa dikawatirkan bertambah parah, tetapi harus mengganti puasa pada hari lain), berusia lanjut (atau belum tua, tetapi kondisinya lemah, dan wajib membayar fidiah, yaitu memberi makanan seorang miskin), wanita Hamil atau menyusui (jika khawatir kesehatan bayinya, maka wajib mengganti puasa pada hari lain, dan  dianjurkan memberi makan seorang miskin), musafir (dalam perjalanan melebihi 81 km, boleh tidak berpuasa, harus mengganti pada hari lain).
      Yang disunahkan dalam puasa Ramadan adalah segera berbuka ketika Magrib, berbuka dengan kurma, minum air (atau suatu yang manis) ,berdoa (ketika berbuka), makan sahur, Mengakhirkan waktu makan sahur, memberi makanan kepada orang berpuasa, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak membaca, mengajar dan belajar Al-Quran.
      Hikmah puasa Ramadan adalah mensyukuri nikmat Allah yang tidak terbatas, melatih disiplin, empati, memahami perasaan orang yang lapar (sehingga gampang membantu orang miskin dan lemah), membuat tubuh sehat, membuat sehat fisik dan mental, serta menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
      Awal turunnya ayat Al-Quran adalah pada bulan Ramadan di malam “Lailatul-kadar” (malam kemuliaan), apabila seseorang beramal kebaikan pada malam “lalaitul kadar” akan berpahala berlipat-lipat yang setara dengan seribu bulan.
      Nabi Bersabda,“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
      Berpuasa Ramadan akan meningkatkan takwa, kesalehan hidup, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah, keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan Allah.
      Bulan Ramadan disebut “Syahrus Syiyam” (bulan berpuasa), karena adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh, Ramadan disebut “Syahrul Qiyam” (bulan Qiyamullail), karena disunahkan menghidupkan salat tarawih, memperbanyak membaca dan belajar Al-Quran, zikir, dan  iktikaf di Masjid, terutama dalam sepuluh malam terakhir.
      Ramadan diberi gelar “Syahrul Quran” (bulan Al-Quran), karena Al-Quran diturunkan pertama kali dalam bulan Ramadan, nama lain Ramadan adalah “Syahrul Infak” (bulan infak), karena pahala infak dan sedekah sangat besar, Nabi Muhammad memberi contoh meningkatkan kedermawanannya pada bulan Ramadan, serta Ramadan disebut “Syahrut Tarbiyah” (bulan pembelajaran), karena Nabi  Muhammad sering tadarus dengan malaikat Jibril dalam bulan Ramadan.    
      Ramadan dinamakan “Syahrul Jihad” (bulan jihad), karena banyak  peristiwa jihad yang terjadi dalam Ramadan, misalnya Perang Badar terjadi ketika Nabi Muhammad berusia 55 tahun, dan penaklukan Mekah ketika Rasulullah berusia 61 tahun bersama sekitar 10.000 pasukan muslim menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, serta masih banyak peristiwa sejarah umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadan.
       Termasuk kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi pada bulan Ramadan, dan bulan Ramadan memang istimewa.
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

451. ISTI

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

           Rukun Islam adalah tiang utama agama Islam, dan kelima rukun Islam itu adalah mengikrarkan “dua kalimat syahadat”, mendirikan salat, berzakat, berpuasa Ramadan, dan mengerjakan ibadah haji bagi yang mampu.
     Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Islam, yaitu kalender Hijriah, dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh sebanyak 29 atau 30 hari.
      Kalender Hijriah memuat 12 bulan, yaitu Muharam, Safar, Rabiul-Awal, Rabiul-Akhir, Jumadil-Awal, Jumadil-Akhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah.
      Kalender Hijriah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yang bertepatan dengan tahun 622 Masehi, dan perintah puasa Ramadan pertama kali turun pada bulan Syakban atau sebulan sebelum bulan Ramadan pada tahun ke-2 Hijriah ketika Nabi berada di Madinah.
      Penentuan awal dan akhir sebuah hari, termasuk penentuan sebuah tanggal, menurut kalender Masehi, berbeda dengan kalender Hijrah.
     Dalam sistem kalender Masehi, sebuah hari atau tanggal berakhir pada pukul 24.00 dan dimulai pukul 00.00 waktu setempat, sedangkan dalam sistem kalender Hijriah, sebuah hari atau tanggal berakhir ketika tenggelam matahari dan diawali saat Magrib waktu setempat.
      Dasar hukum berpuasa Ramadan adalah Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke- ayat  183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

     “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran ketika menjelaskan kewajiban berpuasa, tidak menegaskan perintah tersebut berasal dari Allah, karena redaksi yang digunakan berbentuk pasif,  “Diwajibkan atas kamu berpuasa”.
    Agaknya redaksi tersebut memang dipilih, yang mengisyaratkan bahwa kewajiban berpuasa tidak harus datang dari Allah, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkan dirinya sendiri, ketika menyadari manfaat dan kebaikan berpuasa.
      Penentuan awal bulan termasuk awal Ramadan ditentukan saat terjadinya hilal, yaitu munculnya bulan sabit yang berbentuk bulan melengkung menyerupai sabit yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah dalam tahun Hijriah.
      Metode “rukyat” adalah melihat munculnya bulan sabit dengan mata telanjang yang dalam praktiknya dilengkapi dengan alat teropong di lokasi tertentu yang tidak terhalang bangunan dan pepohonan, biasanya di sepanjang pantai tertentu, sedangkan metode “hisab” adalah melihat munculnya bulan sabit memakai perhitungan astronomi (Ilmu falak).
      Biasanya, Kementerian Agama Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) memakai metode “rukyatul hilal”, serta Muhammadiyah menggunakan metode “hisab hakiki wujudul hilal”, sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kombinasi “rukyat” dan “hisab”.
       Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan, dapat menghasilkan kesamaan dan perbedaan, artinya penentuan awal dan akhir bulan Ramadan bisa bersamaan dan dapat berlainan.
      Yang dimaksudkan berpuasa adalah menahan dari segala yang membatalkan selama satu hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat.
      Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadan adalah orang yang berakal, tidak gila, sudah akil Balig, mampu membedakan yang baik dan buruk, sudah dewasa, serta kuat berpuasa.
    Syarat sah berpuasa Ramadan adalah orang yang beragama Islam, mumayiz (dapat membedakan yang baik dan buruk), suci dari haid (keluar darah dari rahim wanita setiap bulan sebagai bagian siklus hidup biologisnya, datang bulan, menstruasi), suci dari nifas (darah yang keluar dari rahim wanita sesudah melahirkan), bukan hari yang dilarang berpuasa (misalnya, hari raya Idul-Fitri, hari raya Idul-Adha, dan hari tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah/bulan Haji).
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berniat setiap malam, sebelum berpuasa pagi harinya, dan menahan dari segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, sedangkan dalam puasa sunah, maka boleh berniat sebelum masuk salat Zuhur.
       Yang membatalkan puasa adalah sengaja makan atau minum, sengaja muntah (muntah yang tidak disengaja, tidak membatalkan puasa), bersetubuh suami istri pada siang hari (boleh berhubungan suami isteri pada malam hari, jika tertidur sampai masuk Subuh, segera mandi junub untuk salat Subuh, dan terus berpuasa Ramadan), keluar  darah haid atau nifas, gila, atau keluar “air sperma” karena terangsang lawan jenis pada siang hari (keluar air mani karena bermimpi, tidak membatalkan puasa).
     Para ulama berbeda pendapat tentang memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan seperti melalui lubang hidung, telinga, dan lainnya, sebagian ulama menganggap puasanya batal, karena “dikiaskan” dengan makan dan minum, sebagian ulama lain menganggap tidak membatalkan puasa, dan memasukkan obat yang tidak melalui mulut, misalnya, suntik tidak membatalkan puasa).
       Orang yang diizinkan tidak berpuasa Ramadan adalah orang yang sakit (jika berpuasa dikawatirkan bertambah parah, tetapi harus mengganti puasa pada hari lain), berusia lanjut (atau belum tua, tetapi kondisinya lemah, dan wajib membayar fidiah, yaitu memberi makanan seorang miskin), wanita Hamil atau menyusui (jika khawatir kesehatan bayinya, maka wajib mengganti puasa pada hari lain, dan  dianjurkan memberi makan seorang miskin), musafir (dalam perjalanan melebihi 81 km, boleh tidak berpuasa, harus mengganti pada hari lain).
      Yang disunahkan dalam puasa Ramadan adalah segera berbuka ketika Magrib, berbuka dengan kurma, minum air (atau suatu yang manis) ,berdoa (ketika berbuka), makan sahur, Mengakhirkan waktu makan sahur, memberi makanan kepada orang berpuasa, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak membaca, mengajar dan belajar Al-Quran.
      Hikmah puasa Ramadan adalah mensyukuri nikmat Allah yang tidak terbatas, melatih disiplin, empati, memahami perasaan orang yang lapar (sehingga gampang membantu orang miskin dan lemah), membuat tubuh sehat, membuat sehat fisik dan mental, serta menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
      Awal turunnya ayat Al-Quran adalah pada bulan Ramadan di malam “Lailatul-kadar” (malam kemuliaan), apabila seseorang beramal kebaikan pada malam “lalaitul kadar” akan berpahala berlipat-lipat yang setara dengan seribu bulan.
      Nabi Bersabda,“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
      Berpuasa Ramadan akan meningkatkan takwa, kesalehan hidup, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah, keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan Allah.
      Bulan Ramadan disebut “Syahrus Syiyam” (bulan berpuasa), karena adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh, Ramadan disebut “Syahrul Qiyam” (bulan Qiyamullail), karena disunahkan menghidupkan salat tarawih, memperbanyak membaca dan belajar Al-Quran, zikir, dan  iktikaf di Masjid, terutama dalam sepuluh malam terakhir.
      Ramadan diberi gelar “Syahrul Quran” (bulan Al-Quran), karena Al-Quran diturunkan pertama kali dalam bulan Ramadan, nama lain Ramadan adalah “Syahrul Infak” (bulan infak), karena pahala infak dan sedekah sangat besar, Nabi Muhammad memberi contoh meningkatkan kedermawanannya pada bulan Ramadan, serta Ramadan disebut “Syahrut Tarbiyah” (bulan pembelajaran), karena Nabi  Muhammad sering tadarus dengan malaikat Jibril dalam bulan Ramadan.    
      Ramadan dinamakan “Syahrul Jihad” (bulan jihad), karena banyak  peristiwa jihad yang terjadi dalam Ramadan, misalnya Perang Badar terjadi ketika Nabi Muhammad berusia 55 tahun, dan penaklukan Mekah ketika Rasulullah berusia 61 tahun bersama sekitar 10.000 pasukan muslim menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, serta masih banyak peristiwa sejarah umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadan.
       Termasuk kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi pada bulan Ramadan, dan bulan Ramadan memang istimewa.
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

451. ISTI

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

           Rukun Islam adalah tiang utama agama Islam, dan kelima rukun Islam itu adalah mengikrarkan “dua kalimat syahadat”, mendirikan salat, berzakat, berpuasa Ramadan, dan mengerjakan ibadah haji bagi yang mampu.
     Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Islam, yaitu kalender Hijriah, dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh sebanyak 29 atau 30 hari.
      Kalender Hijriah memuat 12 bulan, yaitu Muharam, Safar, Rabiul-Awal, Rabiul-Akhir, Jumadil-Awal, Jumadil-Akhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah.
      Kalender Hijriah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yang bertepatan dengan tahun 622 Masehi, dan perintah puasa Ramadan pertama kali turun pada bulan Syakban atau sebulan sebelum bulan Ramadan pada tahun ke-2 Hijriah ketika Nabi berada di Madinah.
      Penentuan awal dan akhir sebuah hari, termasuk penentuan sebuah tanggal, menurut kalender Masehi, berbeda dengan kalender Hijrah.
     Dalam sistem kalender Masehi, sebuah hari atau tanggal berakhir pada pukul 24.00 dan dimulai pukul 00.00 waktu setempat, sedangkan dalam sistem kalender Hijriah, sebuah hari atau tanggal berakhir ketika tenggelam matahari dan diawali saat Magrib waktu setempat.
      Dasar hukum berpuasa Ramadan adalah Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke- ayat  183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

     “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran ketika menjelaskan kewajiban berpuasa, tidak menegaskan perintah tersebut berasal dari Allah, karena redaksi yang digunakan berbentuk pasif,  “Diwajibkan atas kamu berpuasa”.
    Agaknya redaksi tersebut memang dipilih, yang mengisyaratkan bahwa kewajiban berpuasa tidak harus datang dari Allah, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkan dirinya sendiri, ketika menyadari manfaat dan kebaikan berpuasa.
      Penentuan awal bulan termasuk awal Ramadan ditentukan saat terjadinya hilal, yaitu munculnya bulan sabit yang berbentuk bulan melengkung menyerupai sabit yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah dalam tahun Hijriah.
      Metode “rukyat” adalah melihat munculnya bulan sabit dengan mata telanjang yang dalam praktiknya dilengkapi dengan alat teropong di lokasi tertentu yang tidak terhalang bangunan dan pepohonan, biasanya di sepanjang pantai tertentu, sedangkan metode “hisab” adalah melihat munculnya bulan sabit memakai perhitungan astronomi (Ilmu falak).
      Biasanya, Kementerian Agama Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) memakai metode “rukyatul hilal”, serta Muhammadiyah menggunakan metode “hisab hakiki wujudul hilal”, sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kombinasi “rukyat” dan “hisab”.
       Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan, dapat menghasilkan kesamaan dan perbedaan, artinya penentuan awal dan akhir bulan Ramadan bisa bersamaan dan dapat berlainan.
      Yang dimaksudkan berpuasa adalah menahan dari segala yang membatalkan selama satu hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat.
      Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadan adalah orang yang berakal, tidak gila, sudah akil Balig, mampu membedakan yang baik dan buruk, sudah dewasa, serta kuat berpuasa.
    Syarat sah berpuasa Ramadan adalah orang yang beragama Islam, mumayiz (dapat membedakan yang baik dan buruk), suci dari haid (keluar darah dari rahim wanita setiap bulan sebagai bagian siklus hidup biologisnya, datang bulan, menstruasi), suci dari nifas (darah yang keluar dari rahim wanita sesudah melahirkan), bukan hari yang dilarang berpuasa (misalnya, hari raya Idul-Fitri, hari raya Idul-Adha, dan hari tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah/bulan Haji).
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berniat setiap malam, sebelum berpuasa pagi harinya, dan menahan dari segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, sedangkan dalam puasa sunah, maka boleh berniat sebelum masuk salat Zuhur.
       Yang membatalkan puasa adalah sengaja makan atau minum, sengaja muntah (muntah yang tidak disengaja, tidak membatalkan puasa), bersetubuh suami istri pada siang hari (boleh berhubungan suami isteri pada malam hari, jika tertidur sampai masuk Subuh, segera mandi junub untuk salat Subuh, dan terus berpuasa Ramadan), keluar  darah haid atau nifas, gila, atau keluar “air sperma” karena terangsang lawan jenis pada siang hari (keluar air mani karena bermimpi, tidak membatalkan puasa).
     Para ulama berbeda pendapat tentang memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan seperti melalui lubang hidung, telinga, dan lainnya, sebagian ulama menganggap puasanya batal, karena “dikiaskan” dengan makan dan minum, sebagian ulama lain menganggap tidak membatalkan puasa, dan memasukkan obat yang tidak melalui mulut, misalnya, suntik tidak membatalkan puasa).
       Orang yang diizinkan tidak berpuasa Ramadan adalah orang yang sakit (jika berpuasa dikawatirkan bertambah parah, tetapi harus mengganti puasa pada hari lain), berusia lanjut (atau belum tua, tetapi kondisinya lemah, dan wajib membayar fidiah, yaitu memberi makanan seorang miskin), wanita Hamil atau menyusui (jika khawatir kesehatan bayinya, maka wajib mengganti puasa pada hari lain, dan  dianjurkan memberi makan seorang miskin), musafir (dalam perjalanan melebihi 81 km, boleh tidak berpuasa, harus mengganti pada hari lain).
      Yang disunahkan dalam puasa Ramadan adalah segera berbuka ketika Magrib, berbuka dengan kurma, minum air (atau suatu yang manis) ,berdoa (ketika berbuka), makan sahur, Mengakhirkan waktu makan sahur, memberi makanan kepada orang berpuasa, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak membaca, mengajar dan belajar Al-Quran.
      Hikmah puasa Ramadan adalah mensyukuri nikmat Allah yang tidak terbatas, melatih disiplin, empati, memahami perasaan orang yang lapar (sehingga gampang membantu orang miskin dan lemah), membuat tubuh sehat, membuat sehat fisik dan mental, serta menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
      Awal turunnya ayat Al-Quran adalah pada bulan Ramadan di malam “Lailatul-kadar” (malam kemuliaan), apabila seseorang beramal kebaikan pada malam “lalaitul kadar” akan berpahala berlipat-lipat yang setara dengan seribu bulan.
      Nabi Bersabda,“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
      Berpuasa Ramadan akan meningkatkan takwa, kesalehan hidup, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah, keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan Allah.
      Bulan Ramadan disebut “Syahrus Syiyam” (bulan berpuasa), karena adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh, Ramadan disebut “Syahrul Qiyam” (bulan Qiyamullail), karena disunahkan menghidupkan salat tarawih, memperbanyak membaca dan belajar Al-Quran, zikir, dan  iktikaf di Masjid, terutama dalam sepuluh malam terakhir.
      Ramadan diberi gelar “Syahrul Quran” (bulan Al-Quran), karena Al-Quran diturunkan pertama kali dalam bulan Ramadan, nama lain Ramadan adalah “Syahrul Infak” (bulan infak), karena pahala infak dan sedekah sangat besar, Nabi Muhammad memberi contoh meningkatkan kedermawanannya pada bulan Ramadan, serta Ramadan disebut “Syahrut Tarbiyah” (bulan pembelajaran), karena Nabi  Muhammad sering tadarus dengan malaikat Jibril dalam bulan Ramadan.    
      Ramadan dinamakan “Syahrul Jihad” (bulan jihad), karena banyak  peristiwa jihad yang terjadi dalam Ramadan, misalnya Perang Badar terjadi ketika Nabi Muhammad berusia 55 tahun, dan penaklukan Mekah ketika Rasulullah berusia 61 tahun bersama sekitar 10.000 pasukan muslim menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, serta masih banyak peristiwa sejarah umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadan.
       Termasuk kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi pada bulan Ramadan, dan bulan Ramadan memang istimewa.
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

451. ISTI

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

           Rukun Islam adalah tiang utama agama Islam, dan kelima rukun Islam itu adalah mengikrarkan “dua kalimat syahadat”, mendirikan salat, berzakat, berpuasa Ramadan, dan mengerjakan ibadah haji bagi yang mampu.
     Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Islam, yaitu kalender Hijriah, dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh sebanyak 29 atau 30 hari.
      Kalender Hijriah memuat 12 bulan, yaitu Muharam, Safar, Rabiul-Awal, Rabiul-Akhir, Jumadil-Awal, Jumadil-Akhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah.
      Kalender Hijriah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yang bertepatan dengan tahun 622 Masehi, dan perintah puasa Ramadan pertama kali turun pada bulan Syakban atau sebulan sebelum bulan Ramadan pada tahun ke-2 Hijriah ketika Nabi berada di Madinah.
      Penentuan awal dan akhir sebuah hari, termasuk penentuan sebuah tanggal, menurut kalender Masehi, berbeda dengan kalender Hijrah.
     Dalam sistem kalender Masehi, sebuah hari atau tanggal berakhir pada pukul 24.00 dan dimulai pukul 00.00 waktu setempat, sedangkan dalam sistem kalender Hijriah, sebuah hari atau tanggal berakhir ketika tenggelam matahari dan diawali saat Magrib waktu setempat.
      Dasar hukum berpuasa Ramadan adalah Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke- ayat  183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

     “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran ketika menjelaskan kewajiban berpuasa, tidak menegaskan perintah tersebut berasal dari Allah, karena redaksi yang digunakan berbentuk pasif,  “Diwajibkan atas kamu berpuasa”.
    Agaknya redaksi tersebut memang dipilih, yang mengisyaratkan bahwa kewajiban berpuasa tidak harus datang dari Allah, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkan dirinya sendiri, ketika menyadari manfaat dan kebaikan berpuasa.
      Penentuan awal bulan termasuk awal Ramadan ditentukan saat terjadinya hilal, yaitu munculnya bulan sabit yang berbentuk bulan melengkung menyerupai sabit yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah dalam tahun Hijriah.
      Metode “rukyat” adalah melihat munculnya bulan sabit dengan mata telanjang yang dalam praktiknya dilengkapi dengan alat teropong di lokasi tertentu yang tidak terhalang bangunan dan pepohonan, biasanya di sepanjang pantai tertentu, sedangkan metode “hisab” adalah melihat munculnya bulan sabit memakai perhitungan astronomi (Ilmu falak).
      Biasanya, Kementerian Agama Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) memakai metode “rukyatul hilal”, serta Muhammadiyah menggunakan metode “hisab hakiki wujudul hilal”, sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kombinasi “rukyat” dan “hisab”.
       Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan, dapat menghasilkan kesamaan dan perbedaan, artinya penentuan awal dan akhir bulan Ramadan bisa bersamaan dan dapat berlainan.
      Yang dimaksudkan berpuasa adalah menahan dari segala yang membatalkan selama satu hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat.
      Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadan adalah orang yang berakal, tidak gila, sudah akil Balig, mampu membedakan yang baik dan buruk, sudah dewasa, serta kuat berpuasa.
    Syarat sah berpuasa Ramadan adalah orang yang beragama Islam, mumayiz (dapat membedakan yang baik dan buruk), suci dari haid (keluar darah dari rahim wanita setiap bulan sebagai bagian siklus hidup biologisnya, datang bulan, menstruasi), suci dari nifas (darah yang keluar dari rahim wanita sesudah melahirkan), bukan hari yang dilarang berpuasa (misalnya, hari raya Idul-Fitri, hari raya Idul-Adha, dan hari tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah/bulan Haji).
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berniat setiap malam, sebelum berpuasa pagi harinya, dan menahan dari segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, sedangkan dalam puasa sunah, maka boleh berniat sebelum masuk salat Zuhur.
       Yang membatalkan puasa adalah sengaja makan atau minum, sengaja muntah (muntah yang tidak disengaja, tidak membatalkan puasa), bersetubuh suami istri pada siang hari (boleh berhubungan suami isteri pada malam hari, jika tertidur sampai masuk Subuh, segera mandi junub untuk salat Subuh, dan terus berpuasa Ramadan), keluar  darah haid atau nifas, gila, atau keluar “air sperma” karena terangsang lawan jenis pada siang hari (keluar air mani karena bermimpi, tidak membatalkan puasa).
     Para ulama berbeda pendapat tentang memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan seperti melalui lubang hidung, telinga, dan lainnya, sebagian ulama menganggap puasanya batal, karena “dikiaskan” dengan makan dan minum, sebagian ulama lain menganggap tidak membatalkan puasa, dan memasukkan obat yang tidak melalui mulut, misalnya, suntik tidak membatalkan puasa).
       Orang yang diizinkan tidak berpuasa Ramadan adalah orang yang sakit (jika berpuasa dikawatirkan bertambah parah, tetapi harus mengganti puasa pada hari lain), berusia lanjut (atau belum tua, tetapi kondisinya lemah, dan wajib membayar fidiah, yaitu memberi makanan seorang miskin), wanita Hamil atau menyusui (jika khawatir kesehatan bayinya, maka wajib mengganti puasa pada hari lain, dan  dianjurkan memberi makan seorang miskin), musafir (dalam perjalanan melebihi 81 km, boleh tidak berpuasa, harus mengganti pada hari lain).
      Yang disunahkan dalam puasa Ramadan adalah segera berbuka ketika Magrib, berbuka dengan kurma, minum air (atau suatu yang manis) ,berdoa (ketika berbuka), makan sahur, Mengakhirkan waktu makan sahur, memberi makanan kepada orang berpuasa, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak membaca, mengajar dan belajar Al-Quran.
      Hikmah puasa Ramadan adalah mensyukuri nikmat Allah yang tidak terbatas, melatih disiplin, empati, memahami perasaan orang yang lapar (sehingga gampang membantu orang miskin dan lemah), membuat tubuh sehat, membuat sehat fisik dan mental, serta menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
      Awal turunnya ayat Al-Quran adalah pada bulan Ramadan di malam “Lailatul-kadar” (malam kemuliaan), apabila seseorang beramal kebaikan pada malam “lalaitul kadar” akan berpahala berlipat-lipat yang setara dengan seribu bulan.
      Nabi Bersabda,“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
      Berpuasa Ramadan akan meningkatkan takwa, kesalehan hidup, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah, keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan Allah.
      Bulan Ramadan disebut “Syahrus Syiyam” (bulan berpuasa), karena adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh, Ramadan disebut “Syahrul Qiyam” (bulan Qiyamullail), karena disunahkan menghidupkan salat tarawih, memperbanyak membaca dan belajar Al-Quran, zikir, dan  iktikaf di Masjid, terutama dalam sepuluh malam terakhir.
      Ramadan diberi gelar “Syahrul Quran” (bulan Al-Quran), karena Al-Quran diturunkan pertama kali dalam bulan Ramadan, nama lain Ramadan adalah “Syahrul Infak” (bulan infak), karena pahala infak dan sedekah sangat besar, Nabi Muhammad memberi contoh meningkatkan kedermawanannya pada bulan Ramadan, serta Ramadan disebut “Syahrut Tarbiyah” (bulan pembelajaran), karena Nabi  Muhammad sering tadarus dengan malaikat Jibril dalam bulan Ramadan.    
      Ramadan dinamakan “Syahrul Jihad” (bulan jihad), karena banyak  peristiwa jihad yang terjadi dalam Ramadan, misalnya Perang Badar terjadi ketika Nabi Muhammad berusia 55 tahun, dan penaklukan Mekah ketika Rasulullah berusia 61 tahun bersama sekitar 10.000 pasukan muslim menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, serta masih banyak peristiwa sejarah umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadan.
       Termasuk kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi pada bulan Ramadan, dan bulan Ramadan memang istimewa.
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

451. ISTI

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

           Rukun Islam adalah tiang utama agama Islam, dan kelima rukun Islam itu adalah mengikrarkan “dua kalimat syahadat”, mendirikan salat, berzakat, berpuasa Ramadan, dan mengerjakan ibadah haji bagi yang mampu.
     Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Islam, yaitu kalender Hijriah, dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh sebanyak 29 atau 30 hari.
      Kalender Hijriah memuat 12 bulan, yaitu Muharam, Safar, Rabiul-Awal, Rabiul-Akhir, Jumadil-Awal, Jumadil-Akhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah.
      Kalender Hijriah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yang bertepatan dengan tahun 622 Masehi, dan perintah puasa Ramadan pertama kali turun pada bulan Syakban atau sebulan sebelum bulan Ramadan pada tahun ke-2 Hijriah ketika Nabi berada di Madinah.
      Penentuan awal dan akhir sebuah hari, termasuk penentuan sebuah tanggal, menurut kalender Masehi, berbeda dengan kalender Hijrah.
     Dalam sistem kalender Masehi, sebuah hari atau tanggal berakhir pada pukul 24.00 dan dimulai pukul 00.00 waktu setempat, sedangkan dalam sistem kalender Hijriah, sebuah hari atau tanggal berakhir ketika tenggelam matahari dan diawali saat Magrib waktu setempat.
      Dasar hukum berpuasa Ramadan adalah Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke- ayat  183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

     “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran ketika menjelaskan kewajiban berpuasa, tidak menegaskan perintah tersebut berasal dari Allah, karena redaksi yang digunakan berbentuk pasif,  “Diwajibkan atas kamu berpuasa”.
    Agaknya redaksi tersebut memang dipilih, yang mengisyaratkan bahwa kewajiban berpuasa tidak harus datang dari Allah, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkan dirinya sendiri, ketika menyadari manfaat dan kebaikan berpuasa.
      Penentuan awal bulan termasuk awal Ramadan ditentukan saat terjadinya hilal, yaitu munculnya bulan sabit yang berbentuk bulan melengkung menyerupai sabit yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah dalam tahun Hijriah.
      Metode “rukyat” adalah melihat munculnya bulan sabit dengan mata telanjang yang dalam praktiknya dilengkapi dengan alat teropong di lokasi tertentu yang tidak terhalang bangunan dan pepohonan, biasanya di sepanjang pantai tertentu, sedangkan metode “hisab” adalah melihat munculnya bulan sabit memakai perhitungan astronomi (Ilmu falak).
      Biasanya, Kementerian Agama Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) memakai metode “rukyatul hilal”, serta Muhammadiyah menggunakan metode “hisab hakiki wujudul hilal”, sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kombinasi “rukyat” dan “hisab”.
       Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan, dapat menghasilkan kesamaan dan perbedaan, artinya penentuan awal dan akhir bulan Ramadan bisa bersamaan dan dapat berlainan.
      Yang dimaksudkan berpuasa adalah menahan dari segala yang membatalkan selama satu hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat.
      Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadan adalah orang yang berakal, tidak gila, sudah akil Balig, mampu membedakan yang baik dan buruk, sudah dewasa, serta kuat berpuasa.
    Syarat sah berpuasa Ramadan adalah orang yang beragama Islam, mumayiz (dapat membedakan yang baik dan buruk), suci dari haid (keluar darah dari rahim wanita setiap bulan sebagai bagian siklus hidup biologisnya, datang bulan, menstruasi), suci dari nifas (darah yang keluar dari rahim wanita sesudah melahirkan), bukan hari yang dilarang berpuasa (misalnya, hari raya Idul-Fitri, hari raya Idul-Adha, dan hari tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah/bulan Haji).
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berniat setiap malam, sebelum berpuasa pagi harinya, dan menahan dari segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, sedangkan dalam puasa sunah, maka boleh berniat sebelum masuk salat Zuhur.
       Yang membatalkan puasa adalah sengaja makan atau minum, sengaja muntah (muntah yang tidak disengaja, tidak membatalkan puasa), bersetubuh suami istri pada siang hari (boleh berhubungan suami isteri pada malam hari, jika tertidur sampai masuk Subuh, segera mandi junub untuk salat Subuh, dan terus berpuasa Ramadan), keluar  darah haid atau nifas, gila, atau keluar “air sperma” karena terangsang lawan jenis pada siang hari (keluar air mani karena bermimpi, tidak membatalkan puasa).
     Para ulama berbeda pendapat tentang memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan seperti melalui lubang hidung, telinga, dan lainnya, sebagian ulama menganggap puasanya batal, karena “dikiaskan” dengan makan dan minum, sebagian ulama lain menganggap tidak membatalkan puasa, dan memasukkan obat yang tidak melalui mulut, misalnya, suntik tidak membatalkan puasa).
       Orang yang diizinkan tidak berpuasa Ramadan adalah orang yang sakit (jika berpuasa dikawatirkan bertambah parah, tetapi harus mengganti puasa pada hari lain), berusia lanjut (atau belum tua, tetapi kondisinya lemah, dan wajib membayar fidiah, yaitu memberi makanan seorang miskin), wanita Hamil atau menyusui (jika khawatir kesehatan bayinya, maka wajib mengganti puasa pada hari lain, dan  dianjurkan memberi makan seorang miskin), musafir (dalam perjalanan melebihi 81 km, boleh tidak berpuasa, harus mengganti pada hari lain).
      Yang disunahkan dalam puasa Ramadan adalah segera berbuka ketika Magrib, berbuka dengan kurma, minum air (atau suatu yang manis) ,berdoa (ketika berbuka), makan sahur, Mengakhirkan waktu makan sahur, memberi makanan kepada orang berpuasa, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak membaca, mengajar dan belajar Al-Quran.
      Hikmah puasa Ramadan adalah mensyukuri nikmat Allah yang tidak terbatas, melatih disiplin, empati, memahami perasaan orang yang lapar (sehingga gampang membantu orang miskin dan lemah), membuat tubuh sehat, membuat sehat fisik dan mental, serta menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
      Awal turunnya ayat Al-Quran adalah pada bulan Ramadan di malam “Lailatul-kadar” (malam kemuliaan), apabila seseorang beramal kebaikan pada malam “lalaitul kadar” akan berpahala berlipat-lipat yang setara dengan seribu bulan.
      Nabi Bersabda,“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
      Berpuasa Ramadan akan meningkatkan takwa, kesalehan hidup, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah, keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan Allah.
      Bulan Ramadan disebut “Syahrus Syiyam” (bulan berpuasa), karena adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh, Ramadan disebut “Syahrul Qiyam” (bulan Qiyamullail), karena disunahkan menghidupkan salat tarawih, memperbanyak membaca dan belajar Al-Quran, zikir, dan  iktikaf di Masjid, terutama dalam sepuluh malam terakhir.
      Ramadan diberi gelar “Syahrul Quran” (bulan Al-Quran), karena Al-Quran diturunkan pertama kali dalam bulan Ramadan, nama lain Ramadan adalah “Syahrul Infak” (bulan infak), karena pahala infak dan sedekah sangat besar, Nabi Muhammad memberi contoh meningkatkan kedermawanannya pada bulan Ramadan, serta Ramadan disebut “Syahrut Tarbiyah” (bulan pembelajaran), karena Nabi  Muhammad sering tadarus dengan malaikat Jibril dalam bulan Ramadan.    
      Ramadan dinamakan “Syahrul Jihad” (bulan jihad), karena banyak  peristiwa jihad yang terjadi dalam Ramadan, misalnya Perang Badar terjadi ketika Nabi Muhammad berusia 55 tahun, dan penaklukan Mekah ketika Rasulullah berusia 61 tahun bersama sekitar 10.000 pasukan muslim menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, serta masih banyak peristiwa sejarah umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadan.
       Termasuk kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi pada bulan Ramadan, dan bulan Ramadan memang istimewa.
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

451. ISTI

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

           Rukun Islam adalah tiang utama agama Islam, dan kelima rukun Islam itu adalah mengikrarkan “dua kalimat syahadat”, mendirikan salat, berzakat, berpuasa Ramadan, dan mengerjakan ibadah haji bagi yang mampu.
     Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam kalender Islam, yaitu kalender Hijriah, dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh sebanyak 29 atau 30 hari.
      Kalender Hijriah memuat 12 bulan, yaitu Muharam, Safar, Rabiul-Awal, Rabiul-Akhir, Jumadil-Awal, Jumadil-Akhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah.
      Kalender Hijriah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yang bertepatan dengan tahun 622 Masehi, dan perintah puasa Ramadan pertama kali turun pada bulan Syakban atau sebulan sebelum bulan Ramadan pada tahun ke-2 Hijriah ketika Nabi berada di Madinah.
      Penentuan awal dan akhir sebuah hari, termasuk penentuan sebuah tanggal, menurut kalender Masehi, berbeda dengan kalender Hijrah.
     Dalam sistem kalender Masehi, sebuah hari atau tanggal berakhir pada pukul 24.00 dan dimulai pukul 00.00 waktu setempat, sedangkan dalam sistem kalender Hijriah, sebuah hari atau tanggal berakhir ketika tenggelam matahari dan diawali saat Magrib waktu setempat.
      Dasar hukum berpuasa Ramadan adalah Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke- ayat  183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

     “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran ketika menjelaskan kewajiban berpuasa, tidak menegaskan perintah tersebut berasal dari Allah, karena redaksi yang digunakan berbentuk pasif,  “Diwajibkan atas kamu berpuasa”.
    Agaknya redaksi tersebut memang dipilih, yang mengisyaratkan bahwa kewajiban berpuasa tidak harus datang dari Allah, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkan dirinya sendiri, ketika menyadari manfaat dan kebaikan berpuasa.
      Penentuan awal bulan termasuk awal Ramadan ditentukan saat terjadinya hilal, yaitu munculnya bulan sabit yang berbentuk bulan melengkung menyerupai sabit yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah dalam tahun Hijriah.
      Metode “rukyat” adalah melihat munculnya bulan sabit dengan mata telanjang yang dalam praktiknya dilengkapi dengan alat teropong di lokasi tertentu yang tidak terhalang bangunan dan pepohonan, biasanya di sepanjang pantai tertentu, sedangkan metode “hisab” adalah melihat munculnya bulan sabit memakai perhitungan astronomi (Ilmu falak).
      Biasanya, Kementerian Agama Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) memakai metode “rukyatul hilal”, serta Muhammadiyah menggunakan metode “hisab hakiki wujudul hilal”, sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kombinasi “rukyat” dan “hisab”.
       Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan, dapat menghasilkan kesamaan dan perbedaan, artinya penentuan awal dan akhir bulan Ramadan bisa bersamaan dan dapat berlainan.
      Yang dimaksudkan berpuasa adalah menahan dari segala yang membatalkan selama satu hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat.
      Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadan adalah orang yang berakal, tidak gila, sudah akil Balig, mampu membedakan yang baik dan buruk, sudah dewasa, serta kuat berpuasa.
    Syarat sah berpuasa Ramadan adalah orang yang beragama Islam, mumayiz (dapat membedakan yang baik dan buruk), suci dari haid (keluar darah dari rahim wanita setiap bulan sebagai bagian siklus hidup biologisnya, datang bulan, menstruasi), suci dari nifas (darah yang keluar dari rahim wanita sesudah melahirkan), bukan hari yang dilarang berpuasa (misalnya, hari raya Idul-Fitri, hari raya Idul-Adha, dan hari tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah/bulan Haji).
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berniat setiap malam, sebelum berpuasa pagi harinya, dan menahan dari segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, sedangkan dalam puasa sunah, maka boleh berniat sebelum masuk salat Zuhur.
       Yang membatalkan puasa adalah sengaja makan atau minum, sengaja muntah (muntah yang tidak disengaja, tidak membatalkan puasa), bersetubuh suami istri pada siang hari (boleh berhubungan suami isteri pada malam hari, jika tertidur sampai masuk Subuh, segera mandi junub untuk salat Subuh, dan terus berpuasa Ramadan), keluar  darah haid atau nifas, gila, atau keluar “air sperma” karena terangsang lawan jenis pada siang hari (keluar air mani karena bermimpi, tidak membatalkan puasa).
     Para ulama berbeda pendapat tentang memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan seperti melalui lubang hidung, telinga, dan lainnya, sebagian ulama menganggap puasanya batal, karena “dikiaskan” dengan makan dan minum, sebagian ulama lain menganggap tidak membatalkan puasa, dan memasukkan obat yang tidak melalui mulut, misalnya, suntik tidak membatalkan puasa).
       Orang yang diizinkan tidak berpuasa Ramadan adalah orang yang sakit (jika berpuasa dikawatirkan bertambah parah, tetapi harus mengganti puasa pada hari lain), berusia lanjut (atau belum tua, tetapi kondisinya lemah, dan wajib membayar fidiah, yaitu memberi makanan seorang miskin), wanita Hamil atau menyusui (jika khawatir kesehatan bayinya, maka wajib mengganti puasa pada hari lain, dan  dianjurkan memberi makan seorang miskin), musafir (dalam perjalanan melebihi 81 km, boleh tidak berpuasa, harus mengganti pada hari lain).
      Yang disunahkan dalam puasa Ramadan adalah segera berbuka ketika Magrib, berbuka dengan kurma, minum air (atau suatu yang manis) ,berdoa (ketika berbuka), makan sahur, Mengakhirkan waktu makan sahur, memberi makanan kepada orang berpuasa, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak membaca, mengajar dan belajar Al-Quran.
      Hikmah puasa Ramadan adalah mensyukuri nikmat Allah yang tidak terbatas, melatih disiplin, empati, memahami perasaan orang yang lapar (sehingga gampang membantu orang miskin dan lemah), membuat tubuh sehat, membuat sehat fisik dan mental, serta menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
      Awal turunnya ayat Al-Quran adalah pada bulan Ramadan di malam “Lailatul-kadar” (malam kemuliaan), apabila seseorang beramal kebaikan pada malam “lalaitul kadar” akan berpahala berlipat-lipat yang setara dengan seribu bulan.
      Nabi Bersabda,“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
      Berpuasa Ramadan akan meningkatkan takwa, kesalehan hidup, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah, keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan Allah.
      Bulan Ramadan disebut “Syahrus Syiyam” (bulan berpuasa), karena adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh, Ramadan disebut “Syahrul Qiyam” (bulan Qiyamullail), karena disunahkan menghidupkan salat tarawih, memperbanyak membaca dan belajar Al-Quran, zikir, dan  iktikaf di Masjid, terutama dalam sepuluh malam terakhir.
      Ramadan diberi gelar “Syahrul Quran” (bulan Al-Quran), karena Al-Quran diturunkan pertama kali dalam bulan Ramadan, nama lain Ramadan adalah “Syahrul Infak” (bulan infak), karena pahala infak dan sedekah sangat besar, Nabi Muhammad memberi contoh meningkatkan kedermawanannya pada bulan Ramadan, serta Ramadan disebut “Syahrut Tarbiyah” (bulan pembelajaran), karena Nabi  Muhammad sering tadarus dengan malaikat Jibril dalam bulan Ramadan.    
      Ramadan dinamakan “Syahrul Jihad” (bulan jihad), karena banyak  peristiwa jihad yang terjadi dalam Ramadan, misalnya Perang Badar terjadi ketika Nabi Muhammad berusia 55 tahun, dan penaklukan Mekah ketika Rasulullah berusia 61 tahun bersama sekitar 10.000 pasukan muslim menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, serta masih banyak peristiwa sejarah umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadan.
       Termasuk kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi pada bulan Ramadan, dan bulan Ramadan memang istimewa.
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.