SALAT JAMAK QASAR
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang tata cara dan syarat salat jamak qasar?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Salat jamak adalah salat yang dilaksanakan dengan mengumpulkan dua salat wajib dalam satu waktu, seperti salat Zuhur dengan salat Asar dan salat Magrib dengan Isya, ketika dalam perjalanan.
Salat qasar adalah salat yang dilaksanakan dengan memendekkan jumlah rakaat, yaitu empat rakaat menjadi dua rakaat ketika dalam perjalanan, sedangkan salat jamak qasar adalah salat dengan mengumpulkan sekaligus memendekkan salat ketika sedang musafir.
Jarak perjalanan yang diizinkan oleh para ulama untuk mengerjakan salat jamak adalah sekitar 88,708 km atau dibulatkan 89 km, apabila diukur dengan ukuran zaman sekarang, meskipun jarak tersebut dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan dengan kendaraan sekarang.
Menurut mazhab Hanafi seseorang boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar apabila dia berniat bermukim atau bertempat tinggal selama kurang dari 15 hari, sedangkan apabila dia berniat bermukim lebih dari 15 hari maka dia mengerjakan salat secara normal.
Menurut mazhab Maliki dan mazhab Syafii apabila seseorang berniat bermukim dan menetap selama 4 hari, maka dia mengerjakan salat secara normal, karena Allah membolehkan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar dengan syarat dalam perjalanan, sehingga orang yang bermukim dan berniat bermukim dianggap bukan musafir.
Menurut mazhab Maliki ukuran kadar bermukim adalah sama dengan waktu 20 salat wajib, apabila kurang dari waktu tersebut, maka seseorang boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar.
Dalam mazhab Maliki dan mazhab Syafii tidak menghitung hari masuk dan hari berangkat dalam perjalanan, karena hari masuk dianggap hari untuk meletakkan barang bawaan dan yang kedua adalah hari keberangkatan, kedua hari tersebut hari kesibukan dalam perjalanan.
Menurut mazhab Hambali apabila seorang musafir berniat bermukim lebih dari 4 hari atau lebih dari 20 waktu salat wajib, maka dia mengerjakan salat secara normal.
Apabila seseorang dalam perjalanan yang tidak pasti berapa lama waktu yang diperlukan, maka menurut mazhab Maliki dan mazhab Hambali dia boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar meskipun waktunya berlangsung lama, asalkan dia tidak berniat bermukim.
Menurut mazhab Syafii seorang musafir dalam perjalanan yang berlangsung lama, maka dia boleh salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar selama 18 hari, tidak termasuk hari masuk dan hari keluar.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
Organisasi Profesi Guru
Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.
Tema Gambar Slide 2
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tema Gambar Slide 3
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Wednesday, January 3, 2018
611. JAMAK
611. JAMAK
SALAT JAMAK QASAR
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang tata cara dan syarat salat jamak qasar?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Salat jamak adalah salat yang dilaksanakan dengan mengumpulkan dua salat wajib dalam satu waktu, seperti salat Zuhur dengan salat Asar dan salat Magrib dengan Isya, ketika dalam perjalanan.
Salat qasar adalah salat yang dilaksanakan dengan memendekkan jumlah rakaat, yaitu empat rakaat menjadi dua rakaat ketika dalam perjalanan, sedangkan salat jamak qasar adalah salat dengan mengumpulkan sekaligus memendekkan salat ketika sedang musafir.
Jarak perjalanan yang diizinkan oleh para ulama untuk mengerjakan salat jamak adalah sekitar 88,708 km atau dibulatkan 89 km, apabila diukur dengan ukuran zaman sekarang, meskipun jarak tersebut dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan dengan kendaraan sekarang.
Menurut mazhab Hanafi seseorang boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar apabila dia berniat bermukim atau bertempat tinggal selama kurang dari 15 hari, sedangkan apabila dia berniat bermukim lebih dari 15 hari maka dia mengerjakan salat secara normal.
Menurut mazhab Maliki dan mazhab Syafii apabila seseorang berniat bermukim dan menetap selama 4 hari, maka dia mengerjakan salat secara normal, karena Allah membolehkan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar dengan syarat dalam perjalanan, sehingga orang yang bermukim dan berniat bermukim dianggap bukan musafir.
Menurut mazhab Maliki ukuran kadar bermukim adalah sama dengan waktu 20 salat wajib, apabila kurang dari waktu tersebut, maka seseorang boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar.
Dalam mazhab Maliki dan mazhab Syafii tidak menghitung hari masuk dan hari berangkat dalam perjalanan, karena hari masuk dianggap hari untuk meletakkan barang bawaan dan yang kedua adalah hari keberangkatan, kedua hari tersebut hari kesibukan dalam perjalanan.
Menurut mazhab Hambali apabila seorang musafir berniat bermukim lebih dari 4 hari atau lebih dari 20 waktu salat wajib, maka dia mengerjakan salat secara normal.
Apabila seseorang dalam perjalanan yang tidak pasti berapa lama waktu yang diperlukan, maka menurut mazhab Maliki dan mazhab Hambali dia boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar meskipun waktunya berlangsung lama, asalkan dia tidak berniat bermukim.
Menurut mazhab Syafii seorang musafir dalam perjalanan yang berlangsung lama, maka dia boleh salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar selama 18 hari, tidak termasuk hari masuk dan hari keluar.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
611. JAMAK
SALAT JAMAK QASAR
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang tata cara dan syarat salat jamak qasar?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Salat jamak adalah salat yang dilaksanakan dengan mengumpulkan dua salat wajib dalam satu waktu, seperti salat Zuhur dengan salat Asar dan salat Magrib dengan Isya, ketika dalam perjalanan.
Salat qasar adalah salat yang dilaksanakan dengan memendekkan jumlah rakaat, yaitu empat rakaat menjadi dua rakaat ketika dalam perjalanan, sedangkan salat jamak qasar adalah salat dengan mengumpulkan sekaligus memendekkan salat ketika sedang musafir.
Jarak perjalanan yang diizinkan oleh para ulama untuk mengerjakan salat jamak adalah sekitar 88,708 km atau dibulatkan 89 km, apabila diukur dengan ukuran zaman sekarang, meskipun jarak tersebut dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan dengan kendaraan sekarang.
Menurut mazhab Hanafi seseorang boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar apabila dia berniat bermukim atau bertempat tinggal selama kurang dari 15 hari, sedangkan apabila dia berniat bermukim lebih dari 15 hari maka dia mengerjakan salat secara normal.
Menurut mazhab Maliki dan mazhab Syafii apabila seseorang berniat bermukim dan menetap selama 4 hari, maka dia mengerjakan salat secara normal, karena Allah membolehkan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar dengan syarat dalam perjalanan, sehingga orang yang bermukim dan berniat bermukim dianggap bukan musafir.
Menurut mazhab Maliki ukuran kadar bermukim adalah sama dengan waktu 20 salat wajib, apabila kurang dari waktu tersebut, maka seseorang boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar.
Dalam mazhab Maliki dan mazhab Syafii tidak menghitung hari masuk dan hari berangkat dalam perjalanan, karena hari masuk dianggap hari untuk meletakkan barang bawaan dan yang kedua adalah hari keberangkatan, kedua hari tersebut hari kesibukan dalam perjalanan.
Menurut mazhab Hambali apabila seorang musafir berniat bermukim lebih dari 4 hari atau lebih dari 20 waktu salat wajib, maka dia mengerjakan salat secara normal.
Apabila seseorang dalam perjalanan yang tidak pasti berapa lama waktu yang diperlukan, maka menurut mazhab Maliki dan mazhab Hambali dia boleh mengerjakan salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar meskipun waktunya berlangsung lama, asalkan dia tidak berniat bermukim.
Menurut mazhab Syafii seorang musafir dalam perjalanan yang berlangsung lama, maka dia boleh salat jamak, salat qasar, atau salat jamak qasar selama 18 hari, tidak termasuk hari masuk dan hari keluar.
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online
610. DOA
BERDOA MENGANGKAT TANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang cara mengangkat tangan ketika berdoa?” Ustad Abdul Somad menjelaskannya.
Ketika berdoa dengan mengangkat kedua tangan ke atas terdapat dua model cara mengangkat tangan.
Pertama, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas dan punggung tangan berada di bawah.
Kedua, berdoa dengan mengangkat kedua tangan dengan cara kedua telapak tangan terbuka menghadap ke bawah dan punggung tangan berada di atas.
Imam Nawawi berkata berdasarkan hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan ketika beliau berdoa dalam berbagai kesempatan, bukan pada saat salat Istisqa’ saja.”
Ibnu Umar berkata,”Rasulullah mengangkat kedua tangan sambil berdoa,“Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan Khalid”. (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab berkata”Pada saat perang Badar, Rasulullah melihat dari kejauhan pasukan kaum musyrikin sejumlah 1000 orang, sedangkan para sahabat Rasulullah 300 orang, maka Rasulullah menghadap kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan dan berdoa,”Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan kaum muslimin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi.”
Rasulullah terus berdoa dengan menengadahkan kedua tangan menghadap kiblat hingga selendang beliau jatuh dari atas bahu, maka Abu Bakar mengambil selendang itu dan meletakkan di atas bahu Rasulullah.
Kemudian turun Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 9.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Para ulama menjelaskan bahwa apabila terdapat dua hadis yang kontradiktif, maka yang dipakai adalah, “Yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan.”
Anas berkata,”Ada seorang Arab Badui dari perkampungan datang kepada Rasulullah dan ia berkata,’Wahai Rasulullah, hewan ternak telah mati, keluarga telah binasa, orang banyak telah binasa”. Rasulullah mengangkat kedua tangan berdoa untuk meminta hujan, orang banyak juga mengangkat tangan mereka mengikuti Rasulullah.”
berdoa dengan mengangkat tangan memiliki beberapa cara. Pertama, dengan punggung telapak tangan berada di atas, berdasarkan hadis,“Sesungguhnya Rasulullah ketika salat istisqa’ untuk meminta turun hujan memberikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit (ke atas), dan telapak tangan menghadap ke bawah”. (HR. Muslim).
Kedua, berdoa dengan kedua telapak tangan membuka ke langit. Imam Nawawi berkata bahwa sekelompok ulama mazhab Syafi’i dan ulama lain berpendapat hukumnya sunah dalam setiap doa untuk menolak bala seperti kemarau panjang dan sejenisnya dengan cara mengangkat kedua tangan dengan punggung telapak tangan berada di atas, apabila berdoa untuk memohon sesuatu yang ingin dihasilkan, maka menjadikan kedua telapak tangan menghadap ke langit.
Umar bin Khaththab berkata,”Rasulullah apabila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, beliau menurunkan kedua tangan dengan mengusapkan kedua tangan ke wajah beliau.” (HR. Tirmidzi).
Kesimpulannya, dalam berdoa dengan mengangkat kedua tangan posisi tangan membuka ke atas apabila memohon untuk diberikan sesuatu, misalnya ketika berdoa,”Ya Allah, bahagiakan hidup kami di dunia dan akhirat.”
Sedangkan posisi kedua tangan dianjurkan membuka ke bawah apabila memohon untuk menolak sesuatu, misalnya berdoa,” Ya Allah, jauhkan kami siksa api neraka.”
Daftar Pustaka
1. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 77 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
2. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 99 Tanya-Jawab Seputar Salat, 2017.
3. Somad, Abdul. E-book Tafaqquh 37 Tanya-Jawab Masalah Populer, 2017.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online


