Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Saturday, March 5, 2022

12712. ORANG SOMBONG MARAHNYA KASAR TAPI TAKUT ATASAN

 

 



ORANG SOMBONG  MARAHNYA KASAR TAPI TAKUT ATASAN

Oleh Drs. H.M. Yusron Hadi,MM

 

Caranya marah yang anggun

 

Banyak orang yang membiarkan harga dirinya turun

Karena dalam perasaan marah yang meliarkan diri.

 

Orang yang marah dengan cara liar.

 

Karena didorong oleh kesombongan.

 

Hanya orang yang sombong.

Yang bisa marah dengan kasar.

 

Orang yang sombong.

Merasa dirinya lebih berkuasa.

 

Dan lebih kuat daripada orang yang dimarahi.

 

Karena sombongnya.

Maka dia bisa menumpahkan marahnya dengan cara tak hormat.

 

Biasanya, dia tak berani marah kepada orang yang lebih berkuasa dibanding dirinya.

 

Mungkin dia hanya gerundel dalam hati.

 

Jadi, orang yang bisa marah dengan kasar.

Itu harus orang yang sombong.

 

Orang yang marah dengan kasar terhadap orang lain.

Karena dia merasa mampu melukai orang yang dimarahinya.

 

Tanpa ada risiko pembalasan kepada dirinya.

 

Cara menghindari marah dengan liar dan kasar

 

1.      Jangan sombong.

2.      Hormati diri sendiri.

 

3.      Hormati orang yang dimarahi.

4.      Usahakan orang yang dimarahi tak kehilangan rasa hormat.

5.      Membangun rasa hormat setelah dimarahi.

6.      Tujuannya menjadi orang yang lebih baik.

 

Contoh marah yang anggun

 

“Mas saya mengharapkan Anda bisa lebih mengerti daripada ini.”

 

Mengirim surat atau email kepada seseorang.

 

Yang namanya disebutkan dengan lengkap, maka itu marah.

 

Jika ada orang bercanda dan dia ikut tertawa.

Maka dia tak marah.

 

Tapi saat bercanda dan dia diam saja.

Maka itu marah.

 

Apalagi dia berkata,

“Maksudmu apa?”

 

Contoh A marah kepada B yang anggun.

 

A: “Karena Anda tak patuh.

Maka Anda libur saja 3 bulan.”

 

B: “Baik, terima kasih, Pak”

“Terus gaji saya bagaimana?”

 

A: “Ya, tidak menerima gaji.

Wong Anda tidak bekerja.”

 

B: “Jadi, saya tidak digaji, Pak?”

 

A: ”Ya, Anda tidak digaji, wong namanya diliburkan.”

 

B: “Terus, saya masuknya lagi bagaimana?”

 

A: “Ya, melamar pekerjaan lagi.”

 

Jika ingin bekerja lagi.

Maka dia harus melamar lagi.

Artinya dia diberhentikan.

 

Marah yang anggun seperti ini.

Memberi teguran kepada semua pihak.

Bahwa dia mampu berbuat seperti itu.

 

Jadi, tidak perlu marah dengan liar.

 

Sambil berteriak dengan keras,    

“Kamu, saya pecat, sekarang juga!”

Tapi tak pernah dipecat.

 

Ternyata hobinya hanya mengancam orang lain.

 

Marah yang anggun itu.

 

Yaitu marahnya orang yang menghormati dirinya.

Dan menghormati orang lain.

 

Misalnya, saya ditegur seorang teman,

“Orang beradab, kok marahnya seperti orang jahiliah?”

 

“Orang berpendidikan,  kok marahnya seperti orang tak pernah sekolah?”

 

Marah yang anggun itu tetap menghormati orang yang dimarahi.

 

Karena kita sesama manusia.

Pasti juga pernah salah.

 

Contoh cara menegur yang baik

 

“Katanya ingin menjadi orang yang bermanfaat di masa depan.

Kok cara belajarnya begini?”


Tapi, jika cara marahnya sambil membodohkan.

Atau sambil membandingkan dengan orang lain.

Maka bisa timbul sakit hati.

 

 

 

Hidup ini adalah ujian.

 

Al-Quran surah Al-Anbiya (surah ke-21) ayat 35.

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan.

 

 

(Sumber Mario Teguh)

 

 

12711. SURAH AL-ISRA AYAT 1 TENTANG ISRA BUKAN MIKRAJ

 

 




 

SURAH AL-ISRA AYAT 1 TENTANG ISRA BUKAN MIKRAJ

Oleh: Drs HM Yusron Hadi, MM

 

 

 

Gus Baha berpendapat.

Bahwa Aisyah, istri Rasulullah.

 

Yakin adanya lsra.

Tapi menolak terjadinya Mikraj.

 

 

Al-Quran surah Al-Isra (surah ke-17) ayat 1.

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

 

Orang yang ingkar “Mikraj” adalah Aisyah.

Yaitu istri Rasulullah.

 

KH Bahauddin Nur Salim.

Atau Gus Baha mengatakan.

 

Bahwa ulama Ahli Sunah meyakini.

 

Bahwa Rasulullah bertemu.

Dan melihat Allah.

Saat “Mikraj”.

 

Tapi Aisyah.

Yaitu istri Rasulullah.

 

Punya pandangan berbeda.

Tentang mikraj.

 

"Orang yang menolak adanya Mikraj.

Yaitu Siti Aisyah," ujarnya.

 

Siti Aisyah adalah istri Nabi.

Dan pendokumen hadis.

 

"Aisyah adalah ulama besar," tegasnya.

 

Tapi ada  fatwa Siti Aisyah.

Yang tidak diikuti ulama seluruh dunia.

Yaitu Aisyah yakin tidak terjadi Mikraj.

Tapi hanya lsra saja.

 

"Mikraj itu bahasa mubalig.

 

Yang ada adalah lsra saja," kata Gus Baha.

 

Menurut keyakinan Aisyah.

Nabi hanya lsra.

 

Tapi keyakinan ulama sedunia.

Nabi juga mengalami Mikraj.

 

Dan berdialog langsung dengan Allah SWT.

 

Nabi sempat melihat Allah di Sidratul Muntaha.

 

Muslim meriwayatkan.

Bahwa Aisyah berkata pada murid kesayangannya.

 

“Siapa yang meyakini.

Bahwa Nabi Muhammad pernah melihat Tuhannya.

 

Berarti dia dusta besar.

Atas nama Allah.”

 

Gus Baha istikharah.

Untuk menelaah mazhab Aisyiah ini.

 

"Aisyah punya kepentingan khas ulama.

Yaitu menjaga konstitusi agama."

 

"Jika kita yakin.

Bahwa Nabi Muhammad melihat Tuhannya.

 

Desain imajinasi kita.

Pasti Tuhan Allah bertahta.

Dan bertempat.

 

Aisyah tak ingin hal itu terjadi.

 

Lalu, imajinasi desain manusia.

Nabi ngobrol dengan Allah.

 

Di sana ada meja, ada kursi.

Hal itu menabrak kaidah keyakinan.

 

Bahwa Allah tidak bertempat.

 

Sehingga Aisyah berkata.

 

Bahwa tidak ada dialog.

Antara Nabi dengan Allah," jelas Gus Baha.

 

 

Aisyah ingin menjaga konstitusi agama.

 

Ada 2 ayat Al-Quran.

Untuk menguatkan pendapatnya, yaitu:

 

1.      Surah Al-Anam (surah ke-6) ayat 103.

2.      Surah As-Syura (surah ke-42) ayat 51.

 

 

Al-Quran surah Al-An’am (surah ke-6) ayat 103.

 

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

 

Dia Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

 

Sebagian ulama tafsir menilai.

Bahwa mengingkari Nabi melihat Allah dengan ayat ini.

Kurang tepat.

 

Karena yang ditolak dalam ayat di atas.

Yaitu al-idrak.

Artinya “meliputi”.

 

Tapi yang dibahas.

Yaitu ar-rukyah.

Artinya “melihat”.

 

Maka “melihat” berbeda dengan “meliputi”.

 

Al-Quran surah As-Syura (surah ke-42) ayat 51.

 

 

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

 

Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

 

 

 

Bukan hanya Aisyah.

Ada sahabat Nabi.

Yaitu Abu Dzar juga berpendapat demikian.

 

Dalam hadis Abu Dzar.

Bertanya kepada Nabi.

 

Apakah Nabi melihat Allah.

Saat lsra Mikraj?

 

Nabi bersabda,

“Ada cahaya.

Bagaimana aku bisa melihat Allah.”

 

Dalam riwayat lain.

 

Rasulullah bersabda,

“Aku melihat cahaya.”

 

Semua umat lslam sepakat.

Bahwa tidak ada seorang pun di dunia.

 

Yang bisa melihat Allah.

Dengan matanya sendiri.

 

Hadis sahih.

Rasulullah bersabda,

 

“Yakinlah bahwa tak ada seorang pun.

Yang bisa melihat Tuhannya.

Sampai dia mati.”

 

Ada 4 pendapat.

Apakah Nabi melihat Allah.

Saat lsra Mikraj.

 

1.      Nabi melihat Allah.

2.      Nabi melihat Allah dengan mata hati, bukan mata kepala.

 

3.      Nabi tak melihat Allah.

4.      Tak bersikap.

 

(Sumber Gus Baha)