Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, May 6, 2022

13117. USTAZ KHALID IJTIHAD JANGAN SUNGKEM SEMBAH BOLEH IKUT BOLEH TIDAK

 

 



 

USTAZ KHALID IJTIHAD JANGAN SUNGKEM SEMBAH BOLEH IKUT BOLEH TIDAK

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Ustaz Khalid Basalamah berpesan.

Agar umat lslam menghindari tradisi sungkeman.

 

Ustaz Khalid Basalamah berpendapat.

 

Tradisi sungkeman pada orang tua.

Agar dihindari.

 

Karena ada gerakan rukuk dan sujud.

Seperti salat menyembah Allah.

 

Bersalaman dengan orang tua boleh.

 

Cium tangan dengan menundukkan kepala juga boleh.

 

Tapi menundukkan kepala sampai dekat kaki.

Sebaiknya dihindari.

Karena seperti menyembah.

 

 

Ada riwayat.

Rasulullah melarang sahabatnya sungkem pada beliau.

 

Hadis riwayat Bukhari.

 

Mu’ad bin Jabal kembali dari Yaman.

Dia ketemu Rasulullah di jalan.

 

Muad bin Jabal turun dari untanya.

Kemudian dia sujud di depan kaki Nabi.

 

Seperti tradisi sungkeman.

 

Rasulullah bersabda,

 

“Hai Mu’ad, kenapa kamu lakukan itu?

 

Muad bin Jabal menjawab,

 

“Ya Rasulullah.

Semua orang di Yaman.

 

Jika menokohkan seseorang.

Maka dia melakukan seperti itu.”

 

Rasulullah bersabda,

 

“Jangan lakukan itu.

 

Jika orang boleh sujud kepada selain Allah.

 

Maka akan suruh seorang istri sujud pada suaminya.”

 

Pengalaman penulis

 

Sebagian kelompok umat lslam.

Bersikap keras kepada apa pun.

 

Yang dianggap berbau syirik.

 

Karena dosa syirik tak akan diampuni oleh Allah.

Jika tak bertobat.

 

 

Misalnya di Mekah dan Madinah.

Saat mendoakan jenazah.

 

 

Mereka berdoa di kuburan.

Tak menghadap ke arah jenazah.

 

Tapi menghadap arah kiblat.

Karena takut berbuat syirik.

 

Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 48.

 

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa menyekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar.

 

 

 

(dari berbagai sumber)

 

 

13116. JAUHI SYUBHAT SEPERTI ORANG TAKUT DEKAT JURANG

 






 

JAUHI SYUBHAT SEPERTI ORANG TAKUT DEKAT JURANG

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

  

 

 ARTI SYUBHAT

Syubhat adalah ragu-ragu atau kurang jelas tentang sesuatu (apakah halal atau haram dan sebagainya) karena kurang jelas status hukumnya.

  

Syubhat adalah tidak terang (jelas) antara halal dan haram atau antara benar dan salahnya.

  

Dalam kamus munawir “wara” artinya menjauhkan diri dari dosa, maksiat, dan hal yang syubhat.

  

 Sikap wara’ artinya menjauhi yang syubhat karena takut tergelincir yang haram.

  

Sesuatu yang halal telah jelas hukumnya.

 

 Dan sesuatu yang haram juga jelas hukumnya.

  

Tapi yang syubhat masih samar-samar dan tidak jelas halal atau haramnya.

 

 Orang yang wirai pasti meninggalkan yang haram.

 

 Juga meninggalkan yang syubhat.

  

Menjauihi yang masih samar-samar, yang masih pro kontra, dan tidak jelas hukum halal atau haramnya.

  

 Salah satu rahmat Allah terhadap manusia Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.

 

 Yaitu Allah menjelaskan masalah halal dan haram dengan terang benderang dan terperinci.

 

Al-Quran surah Al-An’am (surah ke-6) ayat 119.

 

  

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

 Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

 

 

Masalah halal yang sudah jelas, maka boleh dikerjakan.

 

 Dan masalah haram juga sudah jelas, maka tidak ada keringanan  mengerjakannya.

  

Selama dalam keadaan normal.

 

 Tetapi, masih ada sesuatu di antara halal dan haram.

  

Yang disebut syubhat.

 

 Syubhat adalah suatu masalah yang tidak begitu jelas hukumnya antara halal dan haramnya bagi manusia.

  

Hal ini terjadi karena tasyabbuh (tidak jelasnya) dalil.

   

Dan tidak jelasnya jalan untuk menerapkan dalil yang ada terhadap suatu peristiwa.

  

Dalam masalah syubhat, Islam memberi  garis yang disebut sikap wara.

  

Sikap wara adalah mengambil sikap menghindari yang syubhat.

   

Karena ingin berhati-hati dan takut tergelincir dalam perbuatan haram.

  

 

Umat Islam agar berusaha menjauhkan diri dan menghindar dari masalah syubhat.

  

 Agar lebih aman dan tidak akan terseret berbuat haram.

   

Menghindari yang syubhat termasuk sikap menutup jalan.

  

Agar tidak terseret ke dalam perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah.

  

Rasulullah bersabda:

 

 1)    ”Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas.

 

 Di antara keduanya ada beberapa hal yang syubhat (belum jelas), apakah masuk bagian halal atau haram?”

 

 2)    “Barang siapa menjauhi  syubhat karena ingin membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat.”

 

 

 3)    “Barang siapa mengerjakan syubhat, maka ia hampir jatuh ke dalam haram.

 

 Seperti penggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir jatuh kepadanya.”

  

4)    “Ingatlah! bahwa setiap raja punya daerah larangan”.

 

 Ingat pula, bahwa daerah larangan dari Allah adalah semua hal yang diharamkan-Nya.”

 

  

 

Daftar Pustaka.

1.    Qardhawi, Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi. Halal dan Haram dalam Islam. Alih bahasa: H. Mu'ammal Hamidy. Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

2.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.    Tafsirq.com online.