Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, September 4, 2022

14768. BOTI BANTUAN TEMPAT IBADAH IDE ANIES BASWEDAN BAGI SEMUA AGAMA

 

 


BOTI BANTUAN TEMPAT IBADAH IDE ANIES BASWEDAN BAGI SEMUA AGAMA

Oleh Drs. HM Yusron Hadi,MM

 

 

 

BOTI.

Bantuan Operasional Tempat lbadah.

 

 Gagasan Orisinil.

 Anies Baswedan.

 

Bagi semua umat agama.

Di Jakarta

 

Pengamat politik Rocky Gerung.

 

Rocky Gerung menilai.

Anies Baswedan.

 

Seorang tokoh yang:

1)        Inklusif.

2)        Imparsial.

3)        Tak memihak kelompok apa pun.

 

 Para pembenci (haters).

 Anies Baswedan.

Selalu kampanye.

 

Bahwa  Gubernur DKI Jakarta.

Memakai isu agama.

Untuk kepentingan dirinya.

 

Anies digambarkan.

Sebagai seorang Islam.

 

Yang berjuang.

Untuk kepentingan Islam saja.

 

 

Mereka menghujat Anies.

Sebagai pemimpin.

 

Yang memainkan isu SARA.

Demi kepentingan politiknya.

 

Segala macam label dan stigma.

Untuk degredasi Anies.

 

Apalagi Anies berpeluang.

Jadi Presiden tahun 2024.

 

Mereka makin keras.

Membuat fitnah dan hoaks.

 

Bahwa jika Anies terpilih.

 

Maka kepentingan umat lain.

Akan dipinggirkan.

 

Benarkah demikian?

Pengamat politik dan sosial.

 

Rocky Gerung tertawa.

Dengan ide konyol.

 

Tidak berdasar.

Tak sesuai fakta dan data.

 

Rocky Gerung menilai.

Anies Baswedan.

 

Tokoh inklusif, imparsial.

Dan tidak memihak kelompok apa pun.

 

Jika banyak umat Islam.

Mendukung Aneis Baswedan.

 

Jangan anggap Anies.

Sebagai tokoh eksklusif.

Milik satu agama saja.

 

Sangat Inspiratif.

 

Anies Baswedan.

Membuktikan kualitasnya.

 

Jauh dari stigma.

Dan label kejam itu.

 

Dalam makalahnya.

Sangat inspirasif.

Dan penuh renungan mendalam.

 

Anies Baswedan.

Menulis pokok pikirannya.

 

Tentang cara seharusnya.

Pemimpin bersikap.

 

Atas masalah agama.

Di wilayah yang dipimpinnya.

 

Makalah berjudul:

“Simpang Temu Umat Beragama.”

Tanggal 14 Desember 2021.

 

Anies Baswedan.

Menyinggung dan menjamin.

Bahwa semua umat agama.

 

Bisa pakai ruang publik.

Di Jakarta.

 

Secara bergantian.

Sesuai hari besar agama.

 

Misalnya.

1.        Saat ldul Fitri.

 

Umat lslam bisa ekspresi gembira.

Setelah 1 bulan penuh berpuasa.

Dengan jalan takbir keliling.

 

2.        Saat Natal.

 

Di tepi jalan utama Jakarta.

Umat Nasrani menyanyikan lagu Natal.

 

Di Jalan Thamrin.

Pohon cemara besar mendomnasi.

 

Malah untuk pertama kalinya.

Di  ibu kota diadakan:


 Christmas Carol.

 

Yang bahkan tidak bisa dilakukan.

Oleh penguasa Jakarta.

 

Beragama Nasrani.

Sebelum merdeka.

 

3.        Saat Nyepi.

 

Umat Hindu bisa ekspresi gembira.

Pada hari raya Nyepi.

 

4.        Saat Waisak.

 

Umat Buddha bebas gembira.

Pada masa Waisak.

 

5.        Saat lmlek.

 

Warga China meriah.

Memperingati Imlek.

 

Bahkan lambang budaya China.

Baru diresmikan Anies.

Di Glodok. 

 

 Tidak ada bukti.

 Anies Baswedan.

 

Melakukan politik identitas.

Seperti dituduhkan.

 

BOTI

Kebijaksanaan orisinil.

Anies Baswedan.

 

Yang belum pernah dibuat.

Oleh pemerintah sebelumnya.

 

Yaitu Bantuan Operasional Tempat Ibadah (BOTI).

 

Semua pemuka agama.

Dan tempat ibadah.

Mendapat bantuan dari pemerintah.

 

Besar dan banyaknya bantuan.

Disetujui DPRD Jakarta.

 

Melalui BOTI.

Diharapkan tiap komunitas agama.

Bisa kolaborasi  membangun fasilitas agama.

 

Dan menggerakkan manusianya.

 

Yaitu para pegiat.

Dan komunitas umat agama.

 

Hal ini.

Pengejawantah  gagasan.

Bahwa ibukota milik semua.

 

Inklusif dengan pola interaksi.

Yang kolaboratif.

 

BOTI  memberi kepastian material.

Dalam kebersamaan. 

 

Prinsipnya sederhana.

Jika semua dibantu.

 

Tanpa pandang bulu.

Maka semua bahagia.

 

Hal ini menghilangkan cemburu.

Antar umat beragama.

 

Dalam segi apa para haters.

Menuduh Anies Baswedan.

 

Memainkan politik identitas?

 

“Hanya orang dungu.

Tidak berdasar data dan fakta.

 

Yang tetap benci kepada Anies,” kata Rocky Gerung. 

 

(sumber kba)

 

14767. JADI CAPRES CUMA UNTUK AMBIL SUARA RAKYAT ITU TERLALU

 

 


 

JADI CAPRES CUMA UNTUK AMBIL SUARA RAKYAT ITU TERLALU

Oleh Drs. HM Yusron Hadi,MM

 

 

Ustad Abdul Somad:

Dalam pemilu.

 

Yang menang.

Bukan yang banyak suara.

Tapi yang menghitung

 

Ustad Abdul Somad.

Memberi penjelasan.

 

Kenapa dia tidak mau.

Saat diminta Prabowo.

 

Jadi Calon Wakil Presiden.

Pada tahun 2019.

 

Ustaz Andul Somad menolak.

Dengan alasan:

 

1)        UAS ingin jadi presiden.

Bukan wakil presiden.

 

2)        Pemilu di lndonesia.

Seperti dikatakan Vladimir Lenin.

 

Bahwa yang menang pemilu.

Bukan yang banyak suaranya.

Tapi yang menghitung.

 

 “Ada konseptor komunis.

Vladimir Lenin.

 

Meskipun saya tidak suka komunis.

Tapi ucapannya ada benarnya.

 

Lenin berkata.

Bahwa dalam pemilu.

 

Yang menang bukan yang banyak suaranya.

Tapi siapa yang menghitung.

 

Yaitu pihak yang menguasai hitungan.

 

Saya yakin.

Pada waktu itu.

 

Banyak yang pilih saya.

Tapi bukan mereka.

Yang menghitung, “kelakar Abdul Somad.

 

Saat ditanya Rhoma Irama.

Dalam  Yotube.

Sabtu (27/8/2022).

 

Ustaz Abdul Somad menjelaskan.

Jika dia mau maju.

 

Bukan untuk Cawapres.

Tapi Capres.

 

 Ada 3 tahap ikut pemilu.

Yaitu:

 

1)        Ketemu pemilih.

2)        Mengawasi coblosan.

3)        Siapa yang menghitung.

 

Karena bisa dimanipulasi.

 

Menurutnya.

Ada 3 tahap untuk mempersiapkan.

 

Pertama.

Ketemu pemilih.

 

Kedua.

Pada hari coblosan harus diawasi.

 

Ketiga.

Siapa yang menghitung.

Karena bisa dimanipulasi.

 

Misalnya.

Hasilnya 18 jadi 180.

 

Mestinya 500 jadi 50.

Dan lainnya.

 

Karena bisa dimainkan.

 

Dan kita tidak punya uang.

Untuk bermain dan mengawasi.

 

Rasanya seperti tahun 2024, “candanya.

 

Ustaz Abdul Somad mengatakan.

 

Dia tidak ingin jadi calon presiden.

Hanya untuk mengambil suara.

 

Tapi setelah jadi.

Tak punya kuasa apa-apa.

 

Hal itu TERLALU..Pak Haji,“cetusnya.

 

Saat ditanya.

Politik identitas.

Pada tahun 2019.

 

Ustaz Abdul Somad mengatakan.

Perlu sadar politik agar dewasa.

 

Negara eropa.

Maju karena demokrasi .

Sebab terbangun sejak 500 tahun lalu.

 

Indonesia baru umur 77 tahun.

Hal itu masih muda.

 

 “Demokrasi kita masih proses pendewasaan.

 

Pemimpin harus punya konsep berkeadilan.

 

Ada 2 model pemimpin, yaitu:

 

1)        Pemimpin tak takut pada Tuhan.

Tapi cinta pada rakyatnya.

 

 

2)        Pemimpin tak takut Tuhan .

Dan tak cinta pada rakyat.

 

 

Contohnya.

 

1)        Fidel Castro.

Tak takut pada Tuhan.

Tapi cinta pada rakyatnya.

 

2)        Cie Guevara.

Komunis tak takut pada Tuhan.

Tapi sayang pada rakyatnya.

 

 

Jangan sampai memilih pemimpin.

1)        Tak takut pada Tuhan

2)        Tak cinta pada rakyat.

 

“Tapi ada pemimpin yang:

 

Tak takut pada Tuhan.

Dan tak cinta pada rakyat.

 

Maka lengkap menderitanya,” ungkap UAS.