PINDAH DARI SUNAH KE SUNAH LAIN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

A. Ngelmu.co – Melalui bincang
santai, Ahad (29/3) malam, Aa
Gym dan
Ustad Abdul Somad (UAS), membahas soal polemik salat berjemaah di masjid atau
di rumah, saat pandemi virus Corona (COVID-19) melanda.
1. Aa Gym: Ustad, saat ini kita mendengar polemik antara salat berjamaah di masjid
dan di rumah, saat wabah Corona. Bagaimana pendapat Ustad?
Jawaban Ustad Abdul Somad:
1) Kita ini diposisikan pada kalimat: Meninggalkan
masjid.
2) Kalimat meninggalkan masjid itu yang melukai hati
kita.
3) Padahal sebenarnya, kita sedang berpindah dari satu
sunah ke sunah yang lain.
4) Jangan dikatakan kita meninggalkan masjid, bukan
begitu.
5) Kita sedang berpindah dari sunah ketika aman,
dengan sunah Rasulullah, ketika sedang dalam masa wabah.
6) Dalam masa aman, sunahnya memakmurkan masjid, dalam
masa kondisi sekarang (masa wabah) sunahnya kita lebih memilih keselamatan.
7) Maka yang kita lakukan sekarang ini adalah sunah.
8) Rasulullah bersabda,“Lari-lah engkau dari orang
yang terkena penyakit menular, seperti engkau lari menjauh dari singa.”
9) Jadi hari ini kita sedang melarikan diri dari orang
yang terkontaminasi penyakit, seperti larinya dari singa, ini juga sunah.
10) Kita tidak tahu siapa yang membawa penyakit di masjid
itu, bisa orang lain, bisa juga kita sendiri.
11) Istilah sangat berpengaruh.
12) Jangan bicara meninggalkan masjid, itu keliru.
13) Yang benar kita pergi dari sunah ke sunah Rasulullah
yang lain.
2. Aa Gym: Tapi ada juga yang mengatakan begini Ustaz, “Kami tidak takut sama
virus, kami hanya takut pada Allah”, maka tetaplah dia ke Masjid. Bagaimana
Ustad?
Jawaban Ustad Abdul Somad:
1) Itu dalam satu sisi ada sifat sombongnya.
2) Virus sangat
berbeda dengan singa.
3) Singa kelihatan,
tetapi virus tidak tampak.
4) Misalnya,
singa lepas di kebun binatang.
5) Petugas
bilang,”Pak hati-hati ada singa lepas.”
6) Dia
menjjawab,”Aku hanya takut kepada Allah, aku tidak takut kepada singa”.
7) Hal
itu ada sifat kesombongan.
8) Ahli
sunah wal jamaah diajarkan ikhtiar untuk menjauh dari singa dan menjauh dari
wabah.
9) Jika
setelah berusaha masih terjadi, maka itu takdir Allah.
10) Kita
beriman terhadap takdir baik dan buruk, tetapi sebelum itu kita harus berusaha
maksimal.
11) Berusaha
itu termasuk sunah Rasulullah.
12) Saat
ini pesawat terbang dari Kuala Lumpur masuk 2 kali sehari ke Riau.
13) Kita
tidak tahu siapa yang membawa virus penyakit.
14) Jika
pembawa virus masuk ke masjid bersalaman, salat, dan bergaul dengan para
jemaah, maka para jemaah lain akan tertular.
15) Kecuali kita sudah lockdown, yang buka hanya
kantor polisi, tentara, petugas saja, dan tempat belanja yang sudah dicek sehat
semua.
16) Jika
semua pintu masjid dipasang detektor yang bunyi saat ada virus, maka salat
jamaah dan Jumat bisa dilakukan.
17) Sekarang
kita tidak tahu siapa yang membawa virus, termasuk saya sendiri tidak yakin
steril.
18) Jadi saat ini kita lari menjauh dari penyakit,
seperti lari menjauh dari singa.
19) Hal
ini juga sunah Rasulullah.
3. Bagaimana
ustad tentang keyakinan Jabariyah, Qadariyah dan Ahli Sunah.
Jawaban
ustad Abdul Somad.
1) Orang yang
selama ini mengaku Ahli Sunah justru kelihatan, dia menganut paham Jabariah
atau Qadariyah.
2) Ahli
Sunah harus ikhtiar dan usaha.
3) Jabariyah
adalah paham teologi Islam yang meyakini alur hidup manusia adalah ketentuan
mutlak Allah.
a. Jabariyah
berkeyakinan setiap manusia terpaksa oleh takdir Allah tanpa memiliki pilihan
dan usaha dalam perbuatannya.
b. Semua
tindakan manusia sudah ditentukan oleh Allah.
c. Manusia
tidak berdaya sedikit pun untuk mengatur dirinya sendiri.
d. Paham Jabariyah
mengajarkan kepasrahan.
4) Qadariyah
adalah paham teologi yang berpendapat semua yang terjadi pada diri manusia
adalah kehendak bebas manusia itu sendiri.
a. Qadariyah
meyakini semua perbuatan makhluk berada di luar kehendak Allah dan tanpa campur
tangan Allah.
b. Para
makhluk berkehendak bebas menentukan perbuatannya sendiri.
c. Makhluk
sendiri yang menciptakan amal dan perbuatannya sendiri tanpa andil dari Allah.
d. Aliran
ini dipegang kalangan Muktazilah yang menempatkan akal pada posisi tertinggi,
lebih tinggi dibanding wahyu.
e. Paham
ini berpendapat semua perbuatan manusia sepenuhnya tanggung jawab manusia itu
sendiri.
5) Aliran
Ahli Sunah berkeyakinan kehendak manusia dan Allah terdapat porsinya
tersendiri.
a. Secara
sederhana, aliran Asy’ariyah berpedoman,“Manusia berencana, tetapi Allah yang
menentukan.”
b. Paham
ini berusaha menempuh jalan tengah antara Qadariyah dan Jabariyah.
c. Asy’ariyah
menghargai kehendak bebas manusia, tetapi akhirnya yang menentukan adalah
Allah.
d. Manusia
mempunyai pilihan bebas, tetapi tetap Allah yang menentukan.
e. Rasulullah
bersabda kepada orang Badui,”Ikatlah untamu, baru tawakal kepada Allah.”
f. Rasulullah
bersabda,“Jika kamu mendengar wabah melanda sebuah daerah, maka janganlah kamu
memasukinya. Tetapi jika wabah itu melanda sebuah daerah dan kamu berada di
dalamnya, maka janganlah kamu keluar darinya.”
g. Ahli
Sunah yakin dengan takdir Allah, tetapi manusia harus tetap berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk mencapai tujuannya.
h. Yang
akan dinilai oleh Allah adalah usaha manusia, bukan hasilnya.
i. Manusia
harus berusaha dan berdoa dengan serius, tetapi Allah yang akan menentukan
hasilnya.
4. Kita sebagai ahli sunah wal jamaah, harus ada
ikhtiar. Jika tetap terjadi, maka kita beriman kepada rukun iman ke-6, yakni
takdir baik dan tak buruk. Tetapi sebelum itu, kita ada usaha atau ikhtiar, dan
usaha itu adalah sunah.
Aa Gym: Bagaimana kepatuhan umat kepada ulama, ya
Ustad?
Jawaban
Ustad Abdul Somad:
1) Selama ada wabah, kita tidak berjamaah ke masjid,
tidak rugi sama sekali.
2) Niat sudah dapat pahala.
3) Orang yang biasa ke masjid lalu salat di rumah,
tetap dapat pahala berjamaah.
4) Menjauh dari mudharat, kita mendapat pahala.
5) Tidak mencelakakan orang lain, kita mendapat pahala.
6) Patuh kepada ulama, dapat pahala.
7) Kita ini beragama terkadang pakai perasaan.
8) Padahal dalam beragama ini harus berilmu.
9) Sekarang ini, banyak orang beragama modalnya
perasaan.
10) Misalnya, perasaan saya tidak enak kalau tidak ke masjid.
11) Kalau perasaan dipakai terus, akan timbul perasaan
was-was.
12) “Wah rasanya gak enak tayamum, kalau tidak pakai
wudu.”
13) “Wah gak enak kalau salatnya dijamak qasar, karena
pakai perasaan.”
14) Padahal yang benar beragama pakai ilmu, bukan pakai
perasaan.
15) Jadi, selama
ada wabah viru sini, tolong tinggal di rumah.
16) Kita
pasti rindu kembali ke masjid untuk berjamaah.
17) Maka diam
di rumah agar wabah ini cepat berlalu, dan kita bisa beraktivitas, beribadah
seperti biasa.
18) Semoga
Ramadan nanti, kita sudah bisa kembali ke rumah Allah.
(Sumber:
internet)
0 comments:
Post a Comment