Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, July 11, 2017

134, KAFIR

MENGAPA ORANG NON-MUSLIM DISEBUT KAFIR?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Mengapa umat Islam “menghina” orang non-muslim sebagai kafir? Mengapa umat Islam mengolok-olok dan memberi “gelar” kafir kepada orang non-Islam? Dr. Zakir Naik menjelaskan masalahnya.
     “Kafir” (menurut KBBI V) ialah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kafir harbi” adalah “orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi”.
      “Kafir muahid” merupakan “orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku”.
      “Kafir zimi” yaitu “orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewaijian membayar pajak bagi yang mampu dan mendapatkan perlindungan dari pmerntahan Islam”.
      “Kafir” berarti “orang yang menolak’. “Kafir” berasal dari kata ‘kufr’ yang berarti “menyembunyikan” atau “menolak”. Dalam istilah Islam, ‘kafir’ berarti “orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran agama Islam”.
      Seseorang yang menolak agama Islam dalam bahasa Inggris disebut non-Muslim. Jika seorang non-Muslim merasa bahwa sebutan ‘non-Muslim’ atau ‘kafir’ yang dilekatkan pada mereka sebagai sebuah penghinaan, mengolok-olok, cacian, atau makian berarti mereka salah paham terhadap Islam.
     Mereka sebaiknya mulai belajar memahami Islam dan istilah dalam Islam lewat sumber yang benar. Sehingga mereka tidak merasa dihina oleh umat Islam. Namun, menghargai Islam dari sudut pandang yang benar.
     Tetapi, juga harus diingat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tidak semua umat selain Islam adalah kafir. Sebagian dari mereka layak masuk surga, asalkan mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan berbuat kebaikan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh. Mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

134. KAFIR

MENGAPA ORANG NON-MUSLIM DISEBUT KAFIR?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Mengapa umat Islam “menghina” orang non-muslim sebagai kafir? Mengapa umat Islam mengolok-olok dan memberi “gelar” kafir kepada orang non-Islam? Dr. Zakir Naik menjelaskan masalahnya.
     “Kafir” (menurut KBBI V) ialah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kafir harbi” adalah “orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi”.
      “Kafir muahid” merupakan “orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku”.
      “Kafir zimi” yaitu “orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewaijian membayar pajak bagi yang mampu dan mendapatkan perlindungan dari pmerntahan Islam”.
      “Kafir” berarti “orang yang menolak’. “Kafir” berasal dari kata ‘kufr’ yang berarti “menyembunyikan” atau “menolak”. Dalam istilah Islam, ‘kafir’ berarti “orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran agama Islam”.
      Seseorang yang menolak agama Islam dalam bahasa Inggris disebut non-Muslim. Jika seorang non-Muslim merasa bahwa sebutan ‘non-Muslim’ atau ‘kafir’ yang dilekatkan pada mereka sebagai sebuah penghinaan, mengolok-olok, cacian, atau makian berarti mereka salah paham terhadap Islam.
     Mereka sebaiknya mulai belajar memahami Islam dan istilah dalam Islam lewat sumber yang benar. Sehingga mereka tidak merasa dihina oleh umat Islam. Namun, menghargai Islam dari sudut pandang yang benar.
     Tetapi, juga harus diingat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tidak semua umat selain Islam adalah kafir. Sebagian dari mereka layak masuk surga, asalkan mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan berbuat kebaikan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh. Mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

134. KAFIR

MENGAPA ORANG NON-MUSLIM DISEBUT KAFIR?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Mengapa umat Islam “menghina” orang non-muslim sebagai kafir? Mengapa umat Islam mengolok-olok dan memberi “gelar” kafir kepada orang non-Islam? Dr. Zakir Naik menjelaskan masalahnya.
     “Kafir” (menurut KBBI V) ialah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kafir harbi” adalah “orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi”.
      “Kafir muahid” merupakan “orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku”.
      “Kafir zimi” yaitu “orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewaijian membayar pajak bagi yang mampu dan mendapatkan perlindungan dari pmerntahan Islam”.
      “Kafir” berarti “orang yang menolak’. “Kafir” berasal dari kata ‘kufr’ yang berarti “menyembunyikan” atau “menolak”. Dalam istilah Islam, ‘kafir’ berarti “orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran agama Islam”.
      Seseorang yang menolak agama Islam dalam bahasa Inggris disebut non-Muslim. Jika seorang non-Muslim merasa bahwa sebutan ‘non-Muslim’ atau ‘kafir’ yang dilekatkan pada mereka sebagai sebuah penghinaan, mengolok-olok, cacian, atau makian berarti mereka salah paham terhadap Islam.
     Mereka sebaiknya mulai belajar memahami Islam dan istilah dalam Islam lewat sumber yang benar. Sehingga mereka tidak merasa dihina oleh umat Islam. Namun, menghargai Islam dari sudut pandang yang benar.
     Tetapi, juga harus diingat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tidak semua umat selain Islam adalah kafir. Sebagian dari mereka layak masuk surga, asalkan mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan berbuat kebaikan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh. Mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

134. KAFIR

MENGAPA ORANG NON-MUSLIM DISEBUT KAFIR?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Mengapa umat Islam “menghina” orang non-muslim sebagai kafir? Mengapa umat Islam mengolok-olok dan memberi “gelar” kafir kepada orang non-Islam? Dr. Zakir Naik menjelaskan masalahnya.
     “Kafir” (menurut KBBI V) ialah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kafir harbi” adalah “orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi”.
      “Kafir muahid” merupakan “orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku”.
      “Kafir zimi” yaitu “orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewaijian membayar pajak bagi yang mampu dan mendapatkan perlindungan dari pmerntahan Islam”.
      “Kafir” berarti “orang yang menolak’. “Kafir” berasal dari kata ‘kufr’ yang berarti “menyembunyikan” atau “menolak”. Dalam istilah Islam, ‘kafir’ berarti “orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran agama Islam”.
      Seseorang yang menolak agama Islam dalam bahasa Inggris disebut non-Muslim. Jika seorang non-Muslim merasa bahwa sebutan ‘non-Muslim’ atau ‘kafir’ yang dilekatkan pada mereka sebagai sebuah penghinaan, mengolok-olok, cacian, atau makian berarti mereka salah paham terhadap Islam.
     Mereka sebaiknya mulai belajar memahami Islam dan istilah dalam Islam lewat sumber yang benar. Sehingga mereka tidak merasa dihina oleh umat Islam. Namun, menghargai Islam dari sudut pandang yang benar.
     Tetapi, juga harus diingat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tidak semua umat selain Islam adalah kafir. Sebagian dari mereka layak masuk surga, asalkan mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan berbuat kebaikan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh. Mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

134. KAFIR

MENGAPA ORANG NON-MUSLIM DISEBUT KAFIR?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Mengapa umat Islam “menghina” orang non-muslim sebagai kafir? Mengapa umat Islam mengolok-olok dan memberi “gelar” kafir kepada orang non-Islam? Dr. Zakir Naik menjelaskan masalahnya.
     “Kafir” (menurut KBBI V) ialah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kafir harbi” adalah “orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi”.
      “Kafir muahid” merupakan “orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku”.
      “Kafir zimi” yaitu “orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewaijian membayar pajak bagi yang mampu dan mendapatkan perlindungan dari pmerntahan Islam”.
      “Kafir” berarti “orang yang menolak’. “Kafir” berasal dari kata ‘kufr’ yang berarti “menyembunyikan” atau “menolak”. Dalam istilah Islam, ‘kafir’ berarti “orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran agama Islam”.
      Seseorang yang menolak agama Islam dalam bahasa Inggris disebut non-Muslim. Jika seorang non-Muslim merasa bahwa sebutan ‘non-Muslim’ atau ‘kafir’ yang dilekatkan pada mereka sebagai sebuah penghinaan, mengolok-olok, cacian, atau makian berarti mereka salah paham terhadap Islam.
     Mereka sebaiknya mulai belajar memahami Islam dan istilah dalam Islam lewat sumber yang benar. Sehingga mereka tidak merasa dihina oleh umat Islam. Namun, menghargai Islam dari sudut pandang yang benar.
     Tetapi, juga harus diingat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tidak semua umat selain Islam adalah kafir. Sebagian dari mereka layak masuk surga, asalkan mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan berbuat kebaikan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh. Mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

134. KAFIR

MENGAPA ORANG NON-MUSLIM DISEBUT KAFIR?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Mengapa umat Islam “menghina” orang non-muslim sebagai kafir? Mengapa umat Islam mengolok-olok dan memberi “gelar” kafir kepada orang non-Islam? Dr. Zakir Naik menjelaskan masalahnya.
     “Kafir” (menurut KBBI V) ialah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kafir harbi” adalah “orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi”.
      “Kafir muahid” merupakan “orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku”.
      “Kafir zimi” yaitu “orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewaijian membayar pajak bagi yang mampu dan mendapatkan perlindungan dari pmerntahan Islam”.
      “Kafir” berarti “orang yang menolak’. “Kafir” berasal dari kata ‘kufr’ yang berarti “menyembunyikan” atau “menolak”. Dalam istilah Islam, ‘kafir’ berarti “orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran agama Islam”.
      Seseorang yang menolak agama Islam dalam bahasa Inggris disebut non-Muslim. Jika seorang non-Muslim merasa bahwa sebutan ‘non-Muslim’ atau ‘kafir’ yang dilekatkan pada mereka sebagai sebuah penghinaan, mengolok-olok, cacian, atau makian berarti mereka salah paham terhadap Islam.
     Mereka sebaiknya mulai belajar memahami Islam dan istilah dalam Islam lewat sumber yang benar. Sehingga mereka tidak merasa dihina oleh umat Islam. Namun, menghargai Islam dari sudut pandang yang benar.
     Tetapi, juga harus diingat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tidak semua umat selain Islam adalah kafir. Sebagian dari mereka layak masuk surga, asalkan mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan berbuat kebaikan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh. Mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

134. KAFIR

MENGAPA ORANG NON-MUSLIM DISEBUT KAFIR?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Mengapa umat Islam “menghina” orang non-muslim sebagai kafir? Mengapa umat Islam mengolok-olok dan memberi “gelar” kafir kepada orang non-Islam? Dr. Zakir Naik menjelaskan masalahnya.
     “Kafir” (menurut KBBI V) ialah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kafir harbi” adalah “orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi”.
      “Kafir muahid” merupakan “orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku”.
      “Kafir zimi” yaitu “orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewaijian membayar pajak bagi yang mampu dan mendapatkan perlindungan dari pmerntahan Islam”.
      “Kafir” berarti “orang yang menolak’. “Kafir” berasal dari kata ‘kufr’ yang berarti “menyembunyikan” atau “menolak”. Dalam istilah Islam, ‘kafir’ berarti “orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran agama Islam”.
      Seseorang yang menolak agama Islam dalam bahasa Inggris disebut non-Muslim. Jika seorang non-Muslim merasa bahwa sebutan ‘non-Muslim’ atau ‘kafir’ yang dilekatkan pada mereka sebagai sebuah penghinaan, mengolok-olok, cacian, atau makian berarti mereka salah paham terhadap Islam.
     Mereka sebaiknya mulai belajar memahami Islam dan istilah dalam Islam lewat sumber yang benar. Sehingga mereka tidak merasa dihina oleh umat Islam. Namun, menghargai Islam dari sudut pandang yang benar.
     Tetapi, juga harus diingat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tidak semua umat selain Islam adalah kafir. Sebagian dari mereka layak masuk surga, asalkan mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan berbuat kebaikan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh. Mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

134. KAFIR

MENGAPA ORANG NON-MUSLIM DISEBUT KAFIR?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Mengapa umat Islam “menghina” orang non-muslim sebagai kafir? Mengapa umat Islam mengolok-olok dan memberi “gelar” kafir kepada orang non-Islam? Dr. Zakir Naik menjelaskan masalahnya.
     “Kafir” (menurut KBBI V) ialah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kafir harbi” adalah “orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi”.
      “Kafir muahid” merupakan “orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku”.
      “Kafir zimi” yaitu “orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewaijian membayar pajak bagi yang mampu dan mendapatkan perlindungan dari pmerntahan Islam”.
      “Kafir” berarti “orang yang menolak’. “Kafir” berasal dari kata ‘kufr’ yang berarti “menyembunyikan” atau “menolak”. Dalam istilah Islam, ‘kafir’ berarti “orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran agama Islam”.
      Seseorang yang menolak agama Islam dalam bahasa Inggris disebut non-Muslim. Jika seorang non-Muslim merasa bahwa sebutan ‘non-Muslim’ atau ‘kafir’ yang dilekatkan pada mereka sebagai sebuah penghinaan, mengolok-olok, cacian, atau makian berarti mereka salah paham terhadap Islam.
     Mereka sebaiknya mulai belajar memahami Islam dan istilah dalam Islam lewat sumber yang benar. Sehingga mereka tidak merasa dihina oleh umat Islam. Namun, menghargai Islam dari sudut pandang yang benar.
     Tetapi, juga harus diingat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, tidak semua umat selain Islam adalah kafir. Sebagian dari mereka layak masuk surga, asalkan mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan berbuat kebaikan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh. Mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.

133. PECAH

MENGAPA UMAT ISLAM TERPECAH BELAH?
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Semua umat Islam mengikuti Al-Quran yang sama, tetapi mengapa terdapat aliran dan beberapa pemikiran yang berbeda? Dr. Zakir Naik mencoba menjelaskannya.
      Pertama, Al-Quran memerintahkan semua umat Islam bersatu. Jangan bercerai berai. Semua umat Islam wajib bersatu. Saat ini umat Islam terpecah-belah menjadi beberapa kelompok.
       Kejadian ini bukan disebabkan ajaran Islam. Karena Islam ingin menyatukan semua para pengikutnya. Islam melarang berpecah belah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3  ayat 103. “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, Allah mempersatukan hatimu, karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara. Kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu. Allah menerangkan ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
      Ayat Al-Quran ini memerintahkan seluruh umat Islam bersatu di jalan Allah dan melarang berpecah-belah.     
      Barangsiapa melepaskan diri atau mengambil jalan lain selain jalan Allah, maka dia yang memisahkan diri dari jamaah umat Islam dan berarti dia yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
      Al-Quran surah An-Nisa. Surah ke-4 ayat 59. “Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
      Allah menyerukan kepada orang beriman untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri. Ulil amri ialah pemegang kekuasaan atau pemimpin mereka sebagai wujud keimanan kepada Allah dan hari akhir.  
     Al-Quran surah Al-An’am. Surah ke-6 ayat 159. “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
      Ketika ada orang bertanya kepada seorang Islam,“Siapakah Anda?”. Jawaban yang umum adalah “Saya seorang Suni,” atau “Saya seorang Syiah”. Beberapa orang menyebut diri sendiri sebagai pengkut 4 mazhab terbesar. “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
     Nabi Muhammad seorang muslim. “Muslim” bermakna “orang yang berserah diri kepada Allah”. Ketika ada yang bertanya,”Siapakah Nabi Muhammad? Apakah beliau seorang Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali?” Jawabnya, “Nabi Muhammad  seorang muslim”. Sebagaimana semua Nabi dan Rasul Allah sebelumnya.
      Al-Quran menyatakan Nabi Isa seorang muslim.  Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 52-53. “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia,”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab,”Kami penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikan sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri (muslim).”
      “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.
      Al-Quran menjelaskan Nabi Ibrahim seorang muslim. Muslim artinya seorang yang berserah diri kepada Allah. Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Nasrani.
     Al-Quran surah Ali Imran. Surah ke-3 ayat 67. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      Jika seseorang bertanya kepada orang Islam, maka dia harus menjawab “Saya orang Islam” atau “Saya seorang muslim”. Bukan menjawab, “Saya  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali”.
      Al-Quran surat Fusilat. Surah ke-41 ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk orang muslim, yaitu orang yang berserah diri?"
         Nabi Muhammad mengirim surat kepada para raja non-Islam dan para penguasa mengajak mereka masuk Islam. Dalam surat tersebut, Nabi menyebutkan Al-Quran surah Ali Imran ayat 64.
      “Katakan, Wahai Ahli Kitab, mari (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakan kepada mereka, “Saksikan, kami adalah orang muslim, yaitu orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
      Semua umat Islam harus menghormati semua ulama besar Islam. Umat Islam  harus menghormati semua kiai atau ulama besar Islam, termasuk empat Imam mazhab. Yaitu Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali. Semoga Allah merahmati mereka.
      Mereka semuanya ulama besar. Semoga Allah membalas segala amal baik dan kerja keras penelitian mereka. Kita boleh mengikuti pendapat dan riset yang dilakukan Imam  Hanafi, Maliki, Syafii, atau Hambali.  
     Tetapi, jika dihadapkan pada pertanyaan,“Siapakah Anda?” Jawaban yang semestinya, “Saya seorang muslim” atau, “Saya orang Islam”.
      Nabi bersabda,”Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan”. Nabi memprediksi terpecahnya umat menjadi 73 golongan. Nabi tidak menyebutkan umat Islam harus membagi dirinya menjadi 73 golongan.
      Nabi bersabda, “Umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan”. Sahabat bertanya, “Golongan manakah yang masuk surga?” Nabi menjawab, “Golongan yang mematuhi Allah dan Rasul-Nya”.
     Ulil Absar Abdalla berpendapat perpecahan dalam agama dimulai dari masalah politik. Para pemimpin politik berebut jumlah pemilih. Para tokoh politik ingin menambah jumlah anggotanya. Untuk kepentingan pemilihan umum.
      Para pemimpin politik ingin merebut “harta, tahta, dan wanita” menggunakan aneka cara. Kadang kala mereka “menghalalkan” segala cara.
      Sebaiknya para pemimpin kelompok Islam pada tingkatan apa pun. Para pemimpin umat Islam, di mana pun mereka berada. Mereka harus saling melengkapi untuk menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia.
     Sebaiknya sesama umat Islam jangan saling menyindir, menghina, dan merendahkan. Jangan saling “mengafirkan”, dan jangan “membid’ahkan” sesama Islam. Jangan gampang diadu domba. Sesama umat Islam harus rukun.
    Tidak ada manusia sempurna. Tidak ada kelompok yang sempurna. Tidak ada golongan yang sempurna. Mereka harus saling melengkapi.
      Semua umat Islam harus saling “menyempurnakan” dan menutupi “kekurangan” lainnya, guna menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh penjuru dunia. Semoga kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Amin.
 Daftar Pustaka.

1.    Naik, Zakir Abdul Karim. “Answer to non-muslim common question about Islam”. Jawaban Berbagai Pertanyaan Mengenai Islam.