Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, July 21, 2017

142. UMUR

Ada yg kirim tulisan sangat bagus

*BERAPA UMURMU..?*
*SUDAH 50 TAHUN?*

Firman Allah SWT : *"...Bukankah Kami telah memberimu umur sehingga kamu sempat mengingat bagi sesiapa yang mau mengingat?"* _(Fathir : 37)_

*"Allah tidak lagi memberi alasan bagi siapa yang telah dipanjangkan umurnya hingga 50 tahun"* _(HR.Bukhari)_

Al-Khattabi berkata : *"Maknanya, orang yg Allah panjangkan umurnya hingga 50 tahun, tidak diterima lagi keuzuran/alasan. Karena usia 50 tahun merupakan usia yang dekat dgn kematian,* maka inilah kesempatan untuk memperbanyak taubat, beribadah dgn khusyuk, dan *bersiap2 bertemu Allah."*
_(Tafsir al-Qurthubi)_

Fudhail bin Iyadh berkata kepada seseorang yang telah mencapai umur 50 tahun, Maka nasihat Fudhail kepadanya : *"Berarti sudah 50 tahun kamu berjalan menuju Tuhanmu, sekarang hampir sampai... Lakukan yang terbaik pada sisa usia senja-mu, lalu akan diampuni dosa2mu yang lalu. Tapi jika engkau masih berbuat dosa di usia senjamu, kamu pasti dihukum akibat dosa masa lalu dan masa kini sekaligus..!"*

Maka para alim ulama memberi nasihat cara menjalani umur yang sudah mencapai 50 tahun :

*🌿Jangan banyak bergurau dan terjebak dalam hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.*

*🌿Jangan berlebihan berhias, bersolek, dan berpakaian.*

*🌿Jangan berlebihan makan, minum, dan berbelanja barang yg kurang diperlukan utk mendukung amal shalih.*

*🌿Jangan berkawan dengan orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal.*

*🌿Jangan banyak berjalan dan melancong ke sana sini tanpa manfaat yg dapat mendekatkan diri pada kehidupan akhirat.*

*🌿Jangan gelisah, berkeluh kesah, dan kesal dengan kehidupan sehari-hari. Selalu penuhi diri dg rasa sabar dan bersyukur.*

*🌿Perbanyak doa mengharap keridha-an Allah agar Husnul Khatimah dan dijauhkan dari Su'ul Khatimah.*

*🌿Tambahkan ilmu agama, perbanyak mengingat kematian, dan bersiap menghadapinya.*

*🌿Siapkan wasiat dan lakukan pembahagian harta.*

*🌿Kerapkan menjalin silaturahim dan merekatkan hubungan yang renggang sebelumnya.*

*🌿Minta maaf dan berbuat baik terhadap pihak yang pernah dizalimi.*

*🌿Tingkatkan amal soleh terutama amal jariah yang dapat terus memberi pahala dan syafa'at setelah kita mati.*

*🌿Maafkan kesalahan orang kepada kita walau seberat apapun kesalahan itu.*

*🌿Bereskan segala hutang yang ada dan jangan buat hutang baru walaupun untuk menolong orang lain.*

*🌿Berhentilah dari semua maksiat !*

*mata, berhentilah memandang yg tidak halal bagimu*

*tangan, berhentilah dari meraih yg bukan hak mu*

*mulut, berhentilah makan yg tidak baik dan yg tidak halal bagimu, berhentilah dari ghibah, fitnah, dan berhentilah menyakiti hati orang lain*

*telinga, berhentilah mendengar hal2 haram dan tak bermanfaat*

*🌿Berbaik sangka lah kepada Allah atas segala sesuatu yg terjadi dan menimpa*

*🌿penuhi terus hati dan lisan kita dg istighfar & taubat utk diri sendiri, orang tua, dan semua orang beriman, di setiap saat dan setiap waktu.*

Semoga bermanfaat bagi kita semua, walaupun Anda belum 50 tahun.

karena...

*KEMATIAN TIDAK MENGENAL UMUR.*

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

141. SAINS

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan hubungan Al-Quran dengan sains modern? Bagaimanakah kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskan kebenaran ilmiah Al-Quran dan hubungannya dengan sains modern.
      Ilmiah (menurut) KBBI V ialah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat kaidah ilmu pengetahuan. Kebenaran merupakan keadaan yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada.
     Kebenaran ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar ada yang sesuai dengan    kaidah ilmu sains modern. Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dan dipelajari.
       Salah satu ciri khas sains ialah tidak bersifat kekal. Sesuatu yang dianggap salah di masa lampau, dapat diakui kebenarannya apabila memang terbukti benar sesuai syarat kaidah ilmiah modern.
        Kebenaran ilmiah bersifat relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas. Bagaimanakah caranya membandingkan sains modern dengan ayat-ayat Allah yang absolut, abadi, dan pasti benar?
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
      Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia, penjelasan, dan pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Apabila demikian, bagaimana hubungan Al-Quran dengan sains modern?
       Sebaiknya, dalam membahas hubungan antara Al-Quran dengan sains modern  tidak melihat apakah “teori relativitas” terdapat dalam Al-Quran? Tetapi, dengan memperhatikan apakah terdapat ayat Al-Quran menghalangi kemajuan sains modern? Apakah ada satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah modern yang telah mapan?
       Al-Quran memerintahkan manusia mempergunakan akal pikirannya.  Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 43-44.
    “Kami tidak mengutus sebelum kamu, selain orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah Al-Qasas, surah ke-28 ayat 72. Katakan,”Terangkan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
     Para psikolog menjelaskan tiga tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau gagasan.
      Tahap pertama, seseorang menilai baik atau buruknya suatu gagasan atau ide dengan ukuran alam kebendaan atau materi berdasarkan pancaindera.
     Tahap kedua, seseorang menilai ide atau gagasan berdasarkan contoh teladan sang idola. Sesuatu bernilai baik atau buruk berdasarkan penilaian seorang tokoh panutannya.
     Tahap ketiga, yaitu fase kedewasaan. Suatu penilaian suatu ide atau gagasan berdasarkan nilai yang terdapat pada unsur ide atau gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh faktor eksternal.
      Sejarah awal Islam, penilaian sekelompok umat Islam terhadap nilai gagasan atau ide yang dibawa Al-Quran, berdasarkan diri pribadi Nabi Muhammad.
     Contohnya, Nabi Muhammad diisukan wafat dalam Perang Uhud. Sekelompok pasukan Islam langsung meninggalkan medan pertempuran, karena percaya Nabi meninggal dunia. Sikap yang salah ini terjadi, karena mereka baru sampai tahap kedua, yaitu menganggap nilai suatu ide atau gagasan berdasarkan tokoh idolanya. Mereka belum mencapai tingkat dewasa.
      Al-Quran menginginkan umat Islam sampai tahap dewasa. Yaitu bisa menilai suatu ide atau gagasan berdasarkan ide atau gagasan itu sendiri. Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Muhammad wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
      Ayat Al-Quran ini melepaskan belenggu yang dapat menghambat kemajuan sains dan teknologi.  Al-Quran mendorong berkembangnya sains dan teknologi  modern. Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.
      “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung atau orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan,”Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
     Ayat A-Quran ini merupakan kritik terhadap orang yang berbicara atau membantah suatu persoalan tanpa adanya data objektif dan ilmiah. Ayat Al-Quran semacam ini yang akan mendorong kemajuan sains dan teknologi modern.
      Muncul para ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya. Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan ilmu Matematika Aljabar.
      Tanpa penemuan tersebut, ilmu teknologi dan sains modern akan  merangkak dalam kegelapan. Tanpa adanya iklim yang mendorong tumbuhnya perkembangan sains, para ahli akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya.
      Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan sains modern, Al-Quran mendorong manusia mengoptimalkan akal pikirannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

Wednesday, July 19, 2017

139. MUSHAF

SEJARAH PEMBUKUAN MUSHAF AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

 
      Beberapa orang bertanya,”Zaman Nabi Muhammad belum ditemukan “ballpoint” dan kertas seperti sekarang, mohon dijelaskan bagaimana sejarah pembukuan penulisan mushaf Al-Quran?” profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      Pertama, Zaman Nabi Muhammad. Al-Quran merupakan sumber utama agama Islam yang diwahyukan Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad secara mutawatir ketika terjadi suatu peristiwa.
       Mutawatir ialah  sifat hadis yang memiliki banyak sanad, yang diriwayatkan banyak perawi pada sanadnya. Sehingga mustahil mereka bersepakat berdusta atau memalsukan hadis.
      Sanad merupakan rentetan rawi hadis kepada Nabi Muhammad yang dapat dipercayai. Perawi ialah orang yang meriwayatkan hadis Nabi Muhammad.
     Nabi menghafalkan ayat Al-Quran secara pribadi dan mengajarkan kepada para sahabat untuk dipahami, dihafalkan, dan dilaksanakan.
      Ketika wahyu turun Nabi menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya agar mudah dihafal para sahabat.  Zaid bin Tsabit salah seorang sahabat yang sangat cerdas.
      Zaid bin Tsabit diperintah Nabi belajar bahasa asing, agar Nabi bisa mengirimkan surat kepada para pemimpin bangsa lain. Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa asing dengan amat cepat.
       Para sahabat secara rutin menulis teks Al-Quran untuk dimilikinya sendiri. Para sahabat selalu menyodorkan Al-Quran kepada Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan untuk diperiksa kebenarannya.
    Zaman Nabi alat tulis menulis amat terbatas. Para sahabat menuliskan naskah tulisan teks Al-Quran pada pelepah kurma, lempengan batu dan kepingan tulang hewan, dan lainnya. Zaman Nabi naskah teks Al-Quran sudah tertuliskan, tetapi masih berserakan. Tidak terkumpul dalam sebuah buku atau mushaf.
      Zaman Nabi sengaja dibentuk dengan hafalan  dan penulisan teks Al-Quran para sahabat.  Karena Nabi masih menunggu wahyu berikutnya. Sebagian ayat Al-Quran ada yang “nasikh” dan “mansukh”.
      Ayat “Nasikh” ialah ayat Al-Quran yang dihapuskan, dibatalkan, atau ditiadakan. Sedangkan ayat “Mansukh” adalah ayat yang menghapuskan, membatalkan, atau meniadakan. Ayat yang “dimansukh” adalah ayat yang “diganti”, sedangkan ayat yang “dinasikh” ayat yang “mengganti”.
       Zaman Nabi Al-Quran belum dibukukan, karena wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril masih terus turun kepada Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan dan menerangkan suatu kejadian atau peristiwa.
      Kedua, Zaman Khalifah Abu Bakar. Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi  Khalifah. Tahun 632 Masehi terjadi Perang Yamamah. Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan menumpas pemberontak yang dipimpin Musailamah al-Kazzab yang mengaku sebagai nabi.  Khalid bin Walid, komandan pasukan Islam berhasil menumpas pemberontak.
     Banyak sahabat Nabi penghafal Quran yang gugur. Umar bin Khattab gelisah. Lalu mengusulkan agar tulisan Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah buku. Khalifah Abu Bakar pada awalnya ragu melakukannya. Karena Nabi tidak pernah melakukannya.
    Umar bin Khattab berhasil meyakinkan Khalifah Abu Bakar untuk membukukan Al-Quran. Lalu dibentuk “Tim Pengumpulan” Al-Quran. Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu pada zaman Nabi, diberi tugas sebagai ketua tim.
    Zaid bin Tsabit menerima tugas tersebut, meskipun awalnya menolak. Tim Penyusun pembukuan Al-Quran melaksanakan tugasnya. Khalifah Abu Bakar memerintahkan semua sahabat mengumpulkan naskah tulisan Al-Quran di Masjid Nabawi.
      Beberapa syarat yang harus dipenuhi para penyetor naskah tulisan Al-Quran. Pertama, naskah tulisan yang dikumpulkan harus sesuai dengan hafalan para sahabat yang lain.
      Kedua, naskah tulisan ayat Al-Quran memang diperintah Nabi dan dituliskan dihadapan Nabi.  Beberapa sahabat menulis naskah atas inisiatif sendiri. Ketiga, naskah tulisan harus dibuktikan dengan dua saksi.
      Tim Penyusun Mushaf Al-Quran berhasil melaksanakan tugasnya. Zaid bin Tsabit menyerahkan hasilnya kepada Khalifah Abu Bakar. Ketika Abu Bakr wafat buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Umar Bin Khattab.
      Zaman Khalifah Umar Bin Khattab. Tidak terjadi penyusunan dan permasalahan mushaf Al-Quran. Naskah mushaf Al-Quran sudah selesai, semua sahabat sepakat, dan tidak terjadi perselisihan.
    Khalifah Umar bin Khattab konsentrasi penyebaran Islam ke seluruh wilayah. Umar bin Khattab wafat, buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Usman bin Affan.
      Zaman Khalifah Usman Bin Affan. Wilayah Islam semakin luas. Beragam suku bangsa yang masuk Islam. Terjadi perbedaan logat, dialek, aksen, dan cara membaca Al-Quran. 
     Khalifah Usman Bin Affan membentuk Tim Lajnah Al-Quran. Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dengan anggota  Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash, dan Abdurahman bin Harits.
      Usman Bin Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit mengambil mushaf di rumah Hafsah binti Umar, dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek. Menjadi dialek Nabi Muhammad,  yakni dialek suku Quraisy. 
      Usman Bin Affan memperbanyak menjadi 6 mushaf. Lima mushaf dikirimkan ke Mekah, Kuffah, Basrah dan Syria, yang satu mushaf disimpan sendiri. Mushaf tersebut dikenal dengan nama “Mushaf Usmani”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

139. MUSHAF

SEJARAH PEMBUKUAN MUSHAF AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

 
      Beberapa orang bertanya,”Zaman Nabi Muhammad belum ditemukan “ballpoint” dan kertas seperti sekarang, mohon dijelaskan bagaimana sejarah pembukuan penulisan mushaf Al-Quran?” profesor Quraish Shihab mencoba menjelaskannya.
      Pertama, Zaman Nabi Muhammad. Al-Quran merupakan sumber utama agama Islam yang diwahyukan Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad secara mutawatir ketika terjadi suatu peristiwa.
       Mutawatir ialah  sifat hadis yang memiliki banyak sanad, yang diriwayatkan banyak perawi pada sanadnya. Sehingga mustahil mereka bersepakat berdusta atau memalsukan hadis.
      Sanad merupakan rentetan rawi hadis kepada Nabi Muhammad yang dapat dipercayai. Perawi ialah orang yang meriwayatkan hadis Nabi Muhammad.
     Nabi menghafalkan ayat Al-Quran secara pribadi dan mengajarkan kepada para sahabat untuk dipahami, dihafalkan, dan dilaksanakan.
      Ketika wahyu turun Nabi menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya agar mudah dihafal para sahabat.  Zaid bin Tsabit salah seorang sahabat yang sangat cerdas.
      Zaid bin Tsabit diperintah Nabi belajar bahasa asing, agar Nabi bisa mengirimkan surat kepada para pemimpin bangsa lain. Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa asing dengan amat cepat.
       Para sahabat secara rutin menulis teks Al-Quran untuk dimilikinya sendiri. Para sahabat selalu menyodorkan Al-Quran kepada Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan untuk diperiksa kebenarannya.
    Zaman Nabi alat tulis menulis amat terbatas. Para sahabat menuliskan naskah tulisan teks Al-Quran pada pelepah kurma, lempengan batu dan kepingan tulang hewan, dan lainnya. Zaman Nabi naskah teks Al-Quran sudah tertuliskan, tetapi masih berserakan. Tidak terkumpul dalam sebuah buku atau mushaf.
      Zaman Nabi sengaja dibentuk dengan hafalan  dan penulisan teks Al-Quran para sahabat.  Karena Nabi masih menunggu wahyu berikutnya. Sebagian ayat Al-Quran ada yang “nasikh” dan “mansukh”.
      Ayat “Nasikh” ialah ayat Al-Quran yang dihapuskan, dibatalkan, atau ditiadakan. Sedangkan ayat “Mansukh” adalah ayat yang menghapuskan, membatalkan, atau meniadakan. Ayat yang “dimansukh” adalah ayat yang “diganti”, sedangkan ayat yang “dinasikh” ayat yang “mengganti”.
       Zaman Nabi Al-Quran belum dibukukan, karena wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril masih terus turun kepada Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan dan menerangkan suatu kejadian atau peristiwa.
      Kedua, Zaman Khalifah Abu Bakar. Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi  Khalifah. Tahun 632 Masehi terjadi Perang Yamamah. Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan menumpas pemberontak yang dipimpin Musailamah al-Kazzab yang mengaku sebagai nabi.  Khalid bin Walid, komandan pasukan Islam berhasil menumpas pemberontak.
     Banyak sahabat Nabi penghafal Quran yang gugur. Umar bin Khattab gelisah. Lalu mengusulkan agar tulisan Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah buku. Khalifah Abu Bakar pada awalnya ragu melakukannya. Karena Nabi tidak pernah melakukannya.
    Umar bin Khattab berhasil meyakinkan Khalifah Abu Bakar untuk membukukan Al-Quran. Lalu dibentuk “Tim Pengumpulan” Al-Quran. Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu pada zaman Nabi, diberi tugas sebagai ketua tim.
    Zaid bin Tsabit menerima tugas tersebut, meskipun awalnya menolak. Tim Penyusun pembukuan Al-Quran melaksanakan tugasnya. Khalifah Abu Bakar memerintahkan semua sahabat mengumpulkan naskah tulisan Al-Quran di Masjid Nabawi.
      Beberapa syarat yang harus dipenuhi para penyetor naskah tulisan Al-Quran. Pertama, naskah tulisan yang dikumpulkan harus sesuai dengan hafalan para sahabat yang lain.
      Kedua, naskah tulisan ayat Al-Quran memang diperintah Nabi dan dituliskan dihadapan Nabi.  Beberapa sahabat menulis naskah atas inisiatif sendiri. Ketiga, naskah tulisan harus dibuktikan dengan dua saksi.
      Tim Penyusun Mushaf Al-Quran berhasil melaksanakan tugasnya. Zaid bin Tsabit menyerahkan hasilnya kepada Khalifah Abu Bakar. Ketika Abu Bakr wafat buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Umar Bin Khattab.
      Zaman Khalifah Umar Bin Khattab. Tidak terjadi penyusunan dan permasalahan mushaf Al-Quran. Naskah mushaf Al-Quran sudah selesai, semua sahabat sepakat, dan tidak terjadi perselisihan.
    Khalifah Umar bin Khattab konsentrasi penyebaran Islam ke seluruh wilayah. Umar bin Khattab wafat, buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Usman bin Affan.
      Zaman Khalifah Usman Bin Affan. Wilayah Islam semakin luas. Beragam suku bangsa yang masuk Islam. Terjadi perbedaan logat, dialek, aksen, dan cara membaca Al-Quran. 
     Khalifah Usman Bin Affan membentuk Tim Lajnah Al-Quran. Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dengan anggota  Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash, dan Abdurahman bin Harits.
      Usman Bin Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit mengambil mushaf di rumah Hafsah binti Umar, dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek. Menjadi dialek Nabi Muhammad,  yakni dialek suku Quraisy. 
      Usman Bin Affan memperbanyak menjadi 6 mushaf. Lima mushaf dikirimkan ke Mekah, Kuffah, Basrah dan Syria, yang satu mushaf disimpan sendiri. Mushaf tersebut dikenal dengan nama “Mushaf Usmani”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.