Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, May 8, 2022

13166. PEMIMPIN HASIL DEMOKRASI BUNUH NEGARA DEMOKRASI

 

 




 

PEMIMPIN HASIL DEMOKRASI  BUNUH NEGARA DEMOKRASI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

How Democracies Die

 

Buku yang dibaca Gubernur Jakarta.

Anies Baswedan,.

Tiba-tiba viral.

  

Buku yang berjudul How Democracies Die.

 (Bagaimana Demokrasi Mati),.

Ditulis Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.

Terbitan Crown Pablishing.

New York, 2018.

 

 Buku itu menarasikan.

Demokrasi akan mati.

Di tangan para pemimpin.

Yang dipilih secara demokratis.

 

 Dalam bab pendahuluan.

Diceritakan bagaimana demokrasi bisa mati.

  

Dan pembunuhnya.

Bukan para tiran, dictator.

Apalagi khilafah dan sosialis.

  

Pembunuhnya.

Yaitu penguasa yang terpilih.

Dalam sistem demokrasi itu sendiri.

  

It is less dramatic but equally destructive

  

(Ini tidak terlalu dramatis.

Tapi sama-sama merusak).

Kata penulisnya.

 

Mereka membeberkan banyak contoh.

  

Mulai dari pemimpin terpilih di:

1.        Georgia.

2.        Hungaria.

 

3.        Nicaragua.

4.        Peru.

 

5.        Filipina.

6.        Polandia.

 

7.        Russia.

8.        Sri Lanka.

 

9.        Turki.

10.   Ukraina.

 

11.   Dan tentu saja AS sendiri.

  

Semua pemimpin tadi.

Membunuh demokrasi secara pelan.

  

Steven dan Daniel mengatakan.

Bahwa tidak semua pemimpin terpilih.

Punya track record represif dan otoriter.

  

Memang ada yang sejak awal tampak otoriter.

 

Tapi banyak juga.

Yang awalnya berwajah polos dan lugu.

  

Kemudian menjadi represif dan otoriter.

Setelah memimpin.

  

Steven dan Daniel.

Memberi semacam litmus test.

 

Yang bisa dipakai.

Agar tidak tertipu para pemimpin.

 Serigala tapi berbulu domba.

  

Mereka menyebutnya:

Four Key Indicators of Authoritarian Behavior

  

Ada 4 Indikator Kunci Perilaku Otoriter, yaitu:

 1.      Menolak sendi-sendi demokrasi.

 2.      Menolak adanya oposisi.

 

 3.      Mendorong adanya aksi kekerasan.

 4.      Membungkam kebebasan sipil.

 

Penjelasannya

 

1.      Penolakan (atau lemah komitmen) terhadap sendi-sendi demokrasi.

  

Di antara Parameternya:

 Apakah mereka suka mengubah-ubah UU ?

 

Apakah mereka melarang organisasi tertentu ?

  

Apakah mereka membatasi hak politik warga negara ?

  

Do they banning certain organizations, or restricting basic civil or political rights ?

  

2.      Penolakan terhadap legitimasi oposisi.

  

Di antara Parameternya:

 

Apakah mereka menyematkan lawan politik mereka.

Dengan sebutan subversif ?

  

Mengancam asas dan ideologi negara ?

  

Apakah mereka mengkriminalisasi lawan politik.

Dengan berbagai tuduhan.

Yang mengada-ada ?

 

 3.      Mendorong adanya aksi kekerasan.

 

Di antara parameternya:

 Apakah mereka punya hubungan.

Dengan semacam organisasi paramiliter.

 

Yang cenderung pakai kekerasan.

Dan main hakim sendiri ?

  

4.      Kesiagaan untuk membungkam kebebasan sipil.

 

Di antara parameternya:

  

Apakah mereka mendukung (atau membuat) UU membatasi kebebasan sipil.

 

Terutama hak-hak politik.

Dan menyampaikan pendapat ?

  

Apakah mereka melarang tema tertentu ?

  

Jika jawaban  semua test litmus di atas.

Adalah: “ya”.

Maka rezim itu.

Termasuk otoriter dan represif.

  

Lalu apa dampaknya ?

 

Menurut Steven dan Daniel.

Tindakan represif mereka akan :

 

1.      Membunuh demokrasi.

 2.      Mengakibatkan polarisasi dalam  masyarakat.

 

 3.      Kemungkinan terburuknya bisa terjadi perang sipil.

  

Steven dan Daniel.

Mengungkapkan kegelisahannya.

  

Meskipun dulu negara demokrasi.

Khususnya AS terbukti bisa bertahan menghadapi:

1.         Perang Sipil.

2.        The Great Depression.

 

3.        Perang Dingin.

4.        Watergate.

  

Mereka ragu kali ini AS masih bisa bertahan.

Menghadapi ancaman polarisasi.

Yang ekstrim dalam masyarakat.

  

How Democracies Die

 Penasaran dengan isi buku yang dibaca Pak Anies hari ini.

  

Saya membaca beberapa tulisan resensinya.

  

Buku itu isinya.

Tentang bagaimana demokrasi mati secara perlahan.

 

Salah satunya.

Karena terpilihnya pemimpin otoriter.

Serta penindasan total terhadap oposisi.

  

Buku karya Steve Levitsky dan Daniel Ziblatt.

Menyoroti 3 pemimpin otoriter, yaitu:

 1.              Adolf Hitler.

2.              Hugo Chavez.

3.              Benito Mussolini.

  

Gaya kepemimpinan mereka.

Dinilai sama.

Yaitu menolak aturan main demokrasi.

Dalam  kata maupun perbuatan.

  

Tipe pemimpin ini juga menyangkal legitimasi lawan.

 

Dan pakai kekerasan dalam memimpin.

Serta membatasi kebebasan.

  

Tipe pemimpin semacam ini akan mudah:

1.        Membredel pers.

2.        Menahan para kritikus.

 

3.        Hingga mendeligitimasi panitia pemilu.

  

(Sumber FB)

 

13165. ADA 3 KODE SOPIR SAAT COPET AKAN BERAKSI DALAM BIS

  





 

ADA 3 KODE SOPIR KETIKA COPET AKAN BERAKSI DALAM BIS

Oleh:  Drs. HM. Yuron Hadi, MM

 

 

 

Ada 3 kode dari sopir bis.

Saat ada copet akan beraksi dalam bis, yaitu:

 

1.        Membunyikan musik dengan keras.

2.        Menyalakan lampu kabin.

3.        Mengendarai bis dengan zig-zag, goyang kanan kiri.

 

 

 

Para sopir bis biasanya.

Tahu saat ada copet dalam bis.

Dari kaca spion.

 

Sopir melihat dari gaya para penumpang.

Copet pasti berbeda.

 

Jika ada gelagat mencurigakan.

Maka sopir akan kirim kode kepada penumpang.

 

Tindakan pencopetan.

Tak hanya ada di bus-bus regular.

 

Atau bus non AC.

Tapi juga di bis mewah eksekutif.

 


Pada zaman dulu.

Copet hanya di bis tertentu.

 

Tapi sekarang tak pandang bisnya.

 

Copet zaman sekarang.

Mereka ikut beli tiket.

Dan menyamar mirip penumpang.

 

Tapi copet di bis sekarang.

 Jumlahnya relatif sedikit.

 

Jika berhasil mencopet.

Maka dia turun di tengah jalan.

Atau jauh dari tujuan akhir bis.

 

 

Dia beli tiket tujuan terjauh.

Tapi turun di tengah jalan.

 

Jika ada copet.

Maka sopir menyalakan musik dengan keras.

Agar penumpang terbangun.

 

Atau sopir membawa bis dengan zig-zag.

Agar copet dan penumpang tak nyaman.

 Sehingga terbangun dan tak tidur.

 

Atau lampu dalam dinyalakan terang.

Karena penumpang sulit tidur.

Dalam kondisi lampu terang.

 

Jika copet sudah melancarkan aksinya.

Dan diketahui oleh sopir atau kru bis.

 

Biasanya sampai di rumah makan.

Para penumpang tak boleh turun dulu.

 

Sopir dan kru akan bertanya.

Apakah ada yang kehilangan atau tidak.

 

 

(Sumber detik)






13164. AL QURAN MEMBAHAS GUNUNG WARNA PELANGI

 



 

AL-QURAN MEMBAHAS GUNUNG WARNA PELANGI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

 

 

 

Kota Zhangye, China, terkenal dengan gunung pelangi yang sangat indah.

  

Gunung warna pelangi ternyata tertulis dalam Al-Quran.  

  

Zhangye adalah kota kecil yang terletak di Provinsi Gansu.

  

Terletak di sebelah utara China.

 Ada gunung warna pelangi bagian dari Zhangye Danxia National Geological Park.  

 

Gunung pelangi ini telah dimasukkan dalam daftar warisan dunia pada 2009 oleh UNESCO.

  

Al-Quran surah Al-Fathir (surah ke-35) ayat 27.

 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

 

 Tidakkah kamu melihat bahwa Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.

 

 Untuk melihat gunung pelangi dengan jelas.

Pengunjung harus mendaki ke atas bukit.

  

 Sebelum sampai di atas bukit.

Pengunjung disuguhi pemandangan indah.

Di kanan dan kiri jalan.

 

 Kawasan gunung pelangi.

Luasnya sekitar 300 hektare.  

  

"Gunung ini sangat indah, kami sangat menikmati pemandangan ini," ujar Helen, wisatawan asal Amerika.  

 

 

Warna-warna di gunung pelangi.

Terbentuk sejak 24 juta tahun lalu.

  

Warna itu berasal dari campuran pasir merah dan mineral.

  

Warna gunung makin mencolok.

Dengan banyaknya air hujan dan angin.

  

Pola warna dapat terlihat berbeda.

Tergantung kondisi cuaca.

 

Daftar Pustaka

1.      Naik, Zakir. Miracles of Al-Quran and Sunnah. Penerbit Aqwam, Jakarta. 20