UBAH NASIB RAKYAT KECIL BUKAN HANYA FOTO SAJA
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Haedar Nashir.
Pemimpin Merakyat.
Harus Mampu Ubah Nasib Rakyat.
Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Haedar Nashir jelaskan.
Bangsa Indonesia.
Mudah terkecoh.
Soal pemimpin merakyat.
1)
Lewat retorika.
2)
Model narasi.
Padahal rekam jejaknya.
Tak memadai.
Tak ada bukti nyata.
Dia bela rakyat.
Hal itu.
Contoh pikiran:
1)
Komunal
irasional.
2)Pikiran serba goyah.
3)Mudah termakan isu kulit.
Bukan
isi pokok.
Bukan
soal utama.
Lalu
ganti isu lain.
Tanpa
solusi.
Tanpa
jawab apa pun.
"Di
era medsos.
Orang
tak berbuat apa-apa.
Dia
masuk pasar.
Hanya
jual tampang saja.
Dia
kebetulan tokoh.
Disebut
merakyat.
Padahal
cuma lewat.
Dia
tak berdayakan orang di pasar.
Agar
lebih baik.
Agar
berubah naik kelas.
Agar
kelas UMKM.
Naik
jadi kelas menengah.
Atau
kelas atas," kata Haedar.
Senin
(24/7/2023).
Dia
cuma lewat.
Atau
mampir beli nasi pecel.
Tapi
dia.
Tak
ubah nasib penjual nasi pecel.
Penjual
nasi pecel.
Nasibnya
tetap menderita.
Dalam
glamor tokoh.
Atau
siapa pun.
Tokoh
dapat untung.
Dari
gambar kemiskinan," tambahnya.
Haedar
sayangkan.
Pemimpin
tampak merakyat.
Tapi
dia tak ubah.
Nasib
rakyatnya.
Agar
lebih sejahtera.
"Tapi orang Indonesia.
Suka
model begitu.
Lalu
terkesan.
Wah
dia tokoh merakyat.
Mestinya.
Tokoh
merakyat.
Harus
bisa ubah nasib rakyat .
Agar
lebih sejahtera," ungkapnya.
Jika
bangsa Indonesia.
Bisa
keluar.
Dari
model.
Pikuiran
komunal irasional
Didukung
pengembangan.
Pusat
keunggulan mumpuni.
Maka
daya saing bangsa Indonesia.
Bisa
naik kelas.
Mulai
layak promosi.
Gagasan
ke dunia luar.
"Selain
ubah pola pikir.
Komunal
irasional.
Kepada
cara berpikir:
1)
Lebih
rasional.
Masuk
akal sehat.
2)
Objektif .
Apa
adanya.
3)
Meritokrasi.
Sesuai
bidang ahlinya.
4)
Berbasis
sistem good governance.
Pemerintahan
yang baik.
Muhammadiyah.
Insya Allah siap.
Masuk sistem seperti ini.
Tapi
jika pakai sistem.
Gontok-gontokan.
Pakai
otot, bukan otak.
Kuat-kuatan.
Diskusi
kasar.
Tak
bisa diskusi.
Dengan
cara baik.
Maka
kita.
Tak
pernah naik kelas.
Sebagai
bangsa.
Dan
sebagai umat," jelasnya.
(Sumber
sindo)
0 comments:
Post a Comment