Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, July 14, 2017

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

133. BACA

PERINTAH MEMBACA,
PERINTAH YANG AMAT PENTING
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Mengapa wahyu pertama Al-Quran yang berisi perintah “membaca” diturunkan kepada Nabi Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis? Profesor Quraish Shihab menjelaskan tentang turunnya wahyu pertama.
      Bulan Ramadan disebut juga “Bulan Iqra”. Karena diturunkan wahyu pertama “iqra” atau “perintah membaca”. Perintah membaca amat penting, sampai diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama.
      Al-Quran surah Al-Alaq. Surah ke-96 ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
      Kata “iqra” diambil dari “qara’a” yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Kata “Iqra” dapat diartikan “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu”.
      Malaikat Jibril turun menjumpai Nabi Muhammad. Menyampaikan wahyu dari Allah. Malaikat Jibril berkata, ”Iqra” artinya “Bacalah”. Nabi menjawab,”Ma, aqra.” Artinya,“ Apa yang harus saya baca?” 
      Tak ada penjelasan tentang “objek” atau “sesuatu” yang dibaca dalam perintah tersebut. Perintah “membaca” tidak dikaitkan dengan “objek” tertentu. Bisa disimpulkan objeknya bersifat umum. Mencakup segala sesuatu yang dapat dibaca.
     Perintah “Iqra” bisa bermakna “membaca, menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri segala sesuatu”. Termasuk membaca kitab suci, koran ,majalah, alam raya, masyarakat, dan apa pun. Tetapi, semuanya harus dikaitkan dengan “Bismi rabbika” atau “ Demi Allah”.
      Perintah “Iqra” atau “Bacalah” yang kedua dirangkaikan dengan “Warabbuka al-akram”. Yang bermakna “Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Siapa pun yang “membaca” karena Allah akan memperoleh anugerah kemurahan berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru meskipun objeknya sama.
      Dengan membaca Al-Quran selalu terdapat penafsiran dan pengembangan baru. Walaupun ayat Al-Quran yang dibaca tetap sama. Termasuk “membaca” alam raya akan selalu bermunculan ilmu dan penemuan terbaru.
    Perintah “membaca” merupakan perintah yang amat berharga yang pernah diterima umat manusia. Membaca adalah syarat utama dalam membangun peradaban. Suatu saat mungkin muncul istilah manusia adalah “makhluk membaca”, di samping “makhluk sosial” dan “makhluk berpikir”.
       Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Bagaimana minat baca dalam diri kita? Apakah sudah tersedia bacaan yang “baik” dan “bermutu?” Apakah kita masih sempat membaca?
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

138. SIM SIDOARJO

TEMPAT DAN WAKTU PELAYANAN SIM >>>>>>
Pelayanan Pengurusan SIM di Kantor Satpas Polres Sidoarjo Jl. Kombes Pol M. Duriat No. 45 Sidoarjo dan waktu pelayanan adalah :
1.       Senin s/d Jum'at  : Pukul 08.00 wib s/d 12.00 wib
2.       Sabtu : Pukul 08.00 wib s/d 11.00 wib
BIAYA PENGURUSAN SIM >>>>>>
1.       SIM C BARU : Rp. 100.000,-
2.       SIM C Perpanjangan : Rp. 75.000,-
3.       SIM A Baru : Rp. 120.000,-
4.       SIM A Umum : Rp. 120.000,-
5.       SIM A Perpanjangan : Rp. 80.000,-
6.       SIM BI Baru : Rp. 120.000,-
7.       SIM BI Umum : Rp. 120.000,-
8.       SIM BI Perpanjangan : Rp. 80.000,-
9.       SIM BII Baru : Rp. 120.000,-
10.   SIM BII Umum : Rp. 120.000,-
11.   SIM BII Perpanjangan : Rp. 80.000,-
12.   SIM D Baru : Rp. 50.000,-
13.   SIM D Perpanjangan : Rp. 30.000,-
JADWAL TETAP SIM CORNER POLRESTA SIDOARJO
1.       Senin - Sabtu
2.       Jam 10.00 - 13.00 WIB
3.       Lokasi DiSuncity Mall Lantai 2, Sidoarjo.
JADWAL TETAP SIM KELILING POLRESTA SIDOARJO
1.       Hari Senin, pukul 08.30 wib sampai 12.00 wib : Di depan Ramayana Krian
2.       Hari Selasa, pukul 08.30 wib sampai 12.00 wib : Di depan Pos Polisi Bakalan Balongbendo
3.       Hari Rabu, pukul 08.30 wib sampai 12.00 wib : Di Terminal Pasar Sukodono
4.       Hari kamis, pukul 08.30 wib sampai 12.00 wib : Di depan Ruko Sentra Tropodo Waru
5.       Hari Jumat, pukul 08.30 wib sampai 12.00 wib : Di depan kantor pemasaran Perum Puri Surya Jaya Gedangan
6.       Hari Sabtu, pukul 08.30 wib sampai 12.00 wib : Di depan dealer Honda Delta Sari Jl. A. Yani SDA

Wednesday, July 12, 2017

137. BUKTI

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti kebenaran Al-Quran.
     Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad disebut Al-Quran. Al-Quran bermakna “bacaan yang sempurna”. Meskipun orang yang menerima dan masyarakat pertama yang dijumpainya tak pandai membaca dan menulis.
      Hal tersebut dimaksudkan agar mereka dan generasi berikutnya mampu membacanya. Fungsi utama Al-Quran sebagai petunjuk. Hal ini dapat terlaksana dengan membaca dan memahaminya.
      Beberapa bukti kebenaran Al-Quran. Pertama, keindahan, keserasian, dan keseimbangan kata-katanya. Kata “yaum” yang bermakna “hari”, dalam bentuk tunggalnya terulang sebanyak 365 kali, sama dengan jumlah hari dalam setahun.
      Kata “yaum” yang bermakna “bulan” terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. Kata “panas” dan “dingin” diulangi sebanyak 6 kali. Kata “dunia” dan “akhirat”, “hidup” dan “mati”, “malaikat” dan “setan”, masih banyak yang lainnya. Semuanya seimbang  jumlahnya, serasi dengan tujuannya, dan indah kedengarannya.
      Kedua, pemberitaan gaib yang diungkapkan Al-Quran terbukti benar. Tahun 622 Masehi, pasukan Islam bergembira, karena menang dalam Perang Badar. Ternyata terbukti benar, pada tahun 624 Masehi, pasukan Kerajaan Romawi mengalahkan pasukan Kerajaan Persia.
      Al-Quran surah Ar-Rum. Surah ke-30 ayat 1-5. “Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”
     Berita keselamatan mayat Firaun yang tenggelam di Laut Merah ribuan tahun lampau terbukti benar. Al-Quran surah Yunus. Surah ke-10 ayat 92.
      “Pada hari ini, Kami selamatkan badanmu (Firaun), agar kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu. Sesungguhnya, kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”
      Pada tahun 1896 Masehi. Mayat Firaun ditemukan oleh Loret di Wadi Al-Muluk Thaba, di Mesir. Tahun 1907 Masehi pembalut mumi mayat Firaun dibuka oleh Eliot Smith. Terbukti benar itu mayat Firaun yang pernah tenggelam di Laut Merah ribuan tahun lalu.
     Ketiga, Isyarat ilmiah Al-Quran sangat mengagumkan para ilmuwan masa kini. Nabi Muhammad lahir di wilayah terbelakang, Nabi tak pandai membaca dan menulis. Tetapi, isyarat ilmiah Al-Quran sungguh luar biasa. Terbukti benar dan mengagumkan para ilmuwan modern.
      Semua Nabi dan Rasul diberi mukijizat oleh Allah untuk membuktikan kebenarannya. Hanya Nabi Muhammad yang membawa mukjizat yang logis, rasional, dan masuk akal.
      Al-Quran surah Al-Ankabut. Surah ke-29 ayat 50. “Dan orang-orang kafir Mekah berkata,”Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakan,”Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”.
Daftar Pustaka

1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

137. BUKTI

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Apakah buktinya Al-Quran benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Tolong tunjukkan bukti Al-Quran memang benar berasal dari Allah? Profesor Quraish Shihab menjelaskan beberapa bukti kebenaran Al-Quran.
     Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad disebut Al-Quran. Al-Quran bermakna “bacaan yang sempurna”. Meskipun orang yang menerima dan masyarakat pertama yang dijumpainya tak pandai membaca dan menulis.
      Hal tersebut dimaksudkan agar mereka dan generasi berikutnya mampu membacanya. Fungsi utama Al-Quran sebagai petunjuk. Hal ini dapat terlaksana dengan membaca dan memahaminya.
      Beberapa bukti kebenaran Al-Quran. Pertama, keindahan, keserasian, dan keseimbangan kata-katanya. Kata “yaum” yang bermakna “hari”, dalam bentuk tunggalnya terulang sebanyak 365 kali, sama dengan jumlah hari dalam setahun.
      Kata “yaum” yang bermakna “bulan” terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. Kata “panas” dan “dingin” diulangi sebanyak 6 kali. Kata “dunia” dan “akhirat”, “hidup” dan “mati”, “malaikat” dan “setan”, masih banyak yang lainnya. Semuanya seimbang  jumlahnya, serasi dengan tujuannya, dan indah kedengarannya.
      Kedua, pemberitaan gaib yang diungkapkan Al-Quran terbukti benar. Tahun 622 Masehi, pasukan Islam bergembira, karena menang dalam Perang Badar. Ternyata terbukti benar, pada tahun 624 Masehi, pasukan Kerajaan Romawi mengalahkan pasukan Kerajaan Persia.
      Al-Quran surah Ar-Rum. Surah ke-30 ayat 1-5. “Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”
     Berita keselamatan mayat Firaun yang tenggelam di Laut Merah ribuan tahun lampau terbukti benar. Al-Quran surah Yunus. Surah ke-10 ayat 92.
      “Pada hari ini, Kami selamatkan badanmu (Firaun), agar kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu. Sesungguhnya, kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”
      Pada tahun 1896 Masehi. Mayat Firaun ditemukan oleh Loret di Wadi Al-Muluk Thaba, di Mesir. Tahun 1907 Masehi pembalut mumi mayat Firaun dibuka oleh Eliot Smith. Terbukti benar itu mayat Firaun yang pernah tenggelam di Laut Merah ribuan tahun lalu.
     Ketiga, Isyarat ilmiah Al-Quran sangat mengagumkan para ilmuwan masa kini. Nabi Muhammad lahir di wilayah terbelakang, Nabi tak pandai membaca dan menulis. Tetapi, isyarat ilmiah Al-Quran sungguh luar biasa. Terbukti benar dan mengagumkan para ilmuwan modern.
      Semua Nabi dan Rasul diberi mukijizat oleh Allah untuk membuktikan kebenarannya. Hanya Nabi Muhammad yang membawa mukjizat yang logis, rasional, dan masuk akal.
      Al-Quran surah Al-Ankabut. Surah ke-29 ayat 50. “Dan orang-orang kafir Mekah berkata,”Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakan,”Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”.
Daftar Pustaka

1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.